Bukan Selo Biasa (Pengantar Selo untuk #ngosngosan)

Kenapa kita harus selo?

Jawaban saya adalah mengapa anda selo sekali menanyakan hal selo seperti itu? Tapi karena saya selo sudah pasti saya akan menjawab pertanyaan nan selo itu.

Semakin hari, semakin bertambah usia, ke-selo-an kini jadi kemewahan. Pagi bekerja, siang bekerja, malam masih bekerja. Kerja, kerja dan terus bekerja. Akhirnya muncul  mata kuliah Hubungan Kerja dimana saya dapat nilai A di mata kuliah yang dosen dan mahasiswanya selo sekali . Ah selo sekali saya bisa bercerita hingga kesana. Pak Prapto, anda sungguh selo sekali dapat promo gratis di warung saya. Catat itu pak!

Begitu nikmatnya selo membuat kita memimpikan hidup yang selo. Tapi apalah daya kita bung?. Pagi-pagi buta berangkat kerja. Pulang ke rumah di waktu hansip-hansip sudah mulai ronda dan banci-banci was-was nunggu razia. Bagaimana kita bisa selo bung?

Makanya, di hari Seloso yang disebut sebagai hari selo-selo nya menungso (manusia yang ingin selo), saya dengan selo mencari nama-nama yang cukup selo untuk ngobrol selo-seloan semalaman. Karena saya selo saya menamakan kegiatan nan selo ini dengan #ngosngosan , ngobrol selo-seloan. Buat apa? Karena kita ingin menjawab pertanyaan nan selo tadi.
Karena dan hanya karena  selo anda bisa dapat nilai A dan lulus cum laude…..
*Selo adalah kondisi saat Siti Tuti Susilawati Sutisna dengan selonya mengganti nama menjadi Sania dan bernyanyi dengan selo ,” santai….santai saja..a..masih banyak  waktu tersisa….”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>