Yang Terlewatkan

Album paling tangguh  yang terlewatkan

Berbicara Sheila On 7 kita dihadapkan pada nama yang merngubah wajah industri musik Indonesia, terutama untuk ranah musik pop. Lima pemuda  tanggung dari Jogja. Datang dengan aransemen musik sederhana dan lirik lugas, yang kemudian menyodok dominasi “pop rumit” ala KLa Project atau Dewa 19.

Hasilnya, hattrick penjualan diatas satu juta kopi untuk album self-titled (1999), Kisah Klasik Untuk Masa Depan (2000), dan 07 Des (2002). Harap dicatat, itu angka penjualan album fisik resmi.

Bulan Juni tahun 2004, Sheila On 7 yang saat itu masih dengan formasi Duta (voc), Eross dan Sakti (gitar), Adam (bass) dan Anton (drum), mencoba keluar dari zona aman lewat album eksperimental Pejantan Tangguh. Ada perubahan drastis di departemen musik dan lirik. Unsur brass section serta organ Hammond  nan kental menggantikan string section yang dominan, terutama di album 07 Des.

Liar. Itu yang terasa. Terutama track berjudul  Brilliant 3X. Lagu yang,kata Duta si vokalis dalam suatu kesempatan, sulit membayangkan untuk kembali membuat lagu seperti ini. Atau nikmati solo gitar Eross selama 50 detik di Jangan Beritahu Niah. Ah sekilas saya teringat raungan Slash di November Rain.

Di sektor lirik lebih bahaya lagi. Kalau dulu terbiasa dengan lirik seperti  “Jadikanlah aku pacarmu ‘kan kubingkai selalu indahmu…” atau “kami adalah pria-pria kesepian, jauh dari rumah dan ditinggalkan cinta…”  mungkin akan sedikit kaget dengan potongan lirik ini.

Aku mulai bosan berbicara dengan dinding kamar…” (Ketidakwarasan Padaku)

Ku bekerja siang dan malam agar istriku bahagia. Semoga kelak anak kita hidup selayaknya…” (Generasi Patah Hati)

“Akulah pendosa yang sedang menunggu kebebasan menantimu kejahatanku” (Pendosa)

Sebuah pengalaman musikal,khususnya untuk saya pribadi,yang sangat maksimal. Rasanya sulit untuk mengulangi keliaran dan kegilaan yang ada di album ini.

Hasilnya, lima penghargaan untuk berbagai kategori yakni sebagai duo/grup terbaik kategori pop alternatif, lagu terbaik (Pejantan Tangguh), album terbaik  kategori pop alternatif serta  Best Album  disabet di ajang AMI Awards 2004. Album ini juga di “ekspor” ke Malaysia dan Singapura . Karena masalah persepsi bahasa, titel Pejantan Tangguh diganti menjadi Pria Terhebat.

Tapi segala penghargaan tadi tidak berpengaruh banyak di segi penjualan yang “hanya” sanggup mencatatkan angka 800.000 kopi. Sebetulnya angkanya tak pasti. Sudah rahasia umum data seperti ini susah diakses publik.

Untuk skala tahun 2004 yang pembajakan belum segila sekarang, angka tersebut jelas penurunan. Terlebih lagi disaat yang bersamaan Peterpan yang mulai menapaki kejayaan pasca album Taman Langit  merilis album Bintang Di Surga. Album itu  terjual 350.000 kopi dalam waktu 2 minggu setelah rilis pada Agustus 2005. Pada awal Januari 2005 penjualan telah mencapai 1,7 juta kopi. Catatan terakhir, Ariel cs. membukukan penjualan 3 juta kopi . Sekali lagi 3 juta kopi album fisik.

Di luar sisi musikal, album ini juga menjadi penanda personal bagi Sheila On 7. Saat saya mewawancarai mereka beberapa waktu lalu, album ini adalah saat dimana Sheila On 7 diuji menjadi lebih “dewasa”  menghadapi masalah. Titik puncaknya terlihat saat Anton sang drummer  keluar karena masalah disiplin. Posisinya digantikan Brian yang sebelumnya memperkuat Tiket, band bentukan Opet Alatas ex. bassis Gigi. Petikan wawancaranya bisa disimak disini.

Setelah rilis album ini, Sheila On 7 sempat mengeluarkan album The Very Best of Sheila On 7 pada tahun 2005 dengan tambahan nomor baru Jalan Terus, Bertahan Disana dan Sekali Lagi. Lagu Bertahan Disana sendiri adalah track yang sebetulnya ada dalam demo album Kisah Klasik Untuk Masa Depan namun tak lolos seleksi oleh Artist & Repertoire Sony Music Indonesia.

Tahun 2006 gitaris Sakti memutuskan keluar ditengah penggarapan album 507. Efeknya sangat terasa. Album ini begitu datar kalau tidak bisa dibilang membosankan. Personil yang tersisa, Duta, Eross, Adam dan Brian, kemudian melakukan penebusan di album Menentukan Arah pada tahun 2008. Album dimana Sheila On 7 kembali pada khittah-nya dan semakin dewasa lewat rilisan teranyar, Berlayar.

Well, bagi saya inilah album paling tangguh dari pejantan-pejantan asal Jogja itu.

9/5/2012 16:05

17 Comments

  1. coratcoretadiitoo Reply

    jaman jaman saya SMP, lagu SO7 adalah “lagu wajib” yang harus dibawakan setiap kali ngumpul bareng temen-temen sambil gitaran. Terakhir kali nonto S07 secara LIVE di acaranya Global TV, Made In Indonesia. Mereka ramah-ramah, khas masyarakat Jogja.

    Peterpan juga begitu.

    Pokoknya, band2 terdahulu itu ga ada yang bisa menggesernya.

  2. yidmilan Reply

    Orang-orang ramah yang bermusik dengan jujur dan sederhana.
    Hasilnya adalah musik yg apa adanya dan cenderung mudah diterima (setidaknya mudah diterima kupingku ^^)

    Thanks a lot for a very nice review..

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Terima kasih udah mampir :)

      Iya, justru yang bikin Sheila On 7 jadi sebesar sekarang adalah jujur dan sederhana dalam bermusik. Hasilnya adalah lagu yang sederhana tapi “kena”…

  3. Wahyu Cahyono Reply

    baru nemu artikel ini…sumpah, “Sgt. Peppersnya” Sheila nih…nggak ngebosenin semua tracknya…haha..good luck…!!!

  4. Pingback: 5 Album Pop Indonesia Terbaik 2014 - Masjaki

  5. Pingback: Hasief Ardiasyah: “07 Des itu Puncak” - Masjaki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>