Saya dan Lokananta

Hari ini saya membuka kembali lembaran majalah Rolling Stone Indonesia edisi Mei 2010 yang mulai berdebu. Saya membaca kembali sebuah tulisan panjang berjudul Lokananta: Menyelamatkan Musik Indonesia. Tulisan yang saya buat bersama teman seperguruan dari Kemah Menulis Tempo Institute 2009, Ayos Purwoaji. Salah satu mimpi saya  ada di tulisan lima halaman itu . Menulis artikel panjang untuk majalah Rolling Stone Indonesia.

Disela-sela padatnya acara Kemah Menulis, saya berbincang dengan Ayos. Berbincang tentang cita-cita menulis Lokananta. Label rekaman yang saya kenal dari sampul album-album tembang Jawa koleksi almarhum kakek saya. Saya hanya tahu Lokananta adalah label milik pemerintah dan saya merasa ini penting untuk ditulis. Di media massa manapun. Ayos saat itu hanya bilang dia punya teman kontributor Rolling Stone di Surabaya.

Ide tadi kemudian menguap. Acara selesai, saya dan Ayos kembali pada kesibukan masing-masing. Saya kembali ke Yogya mengejar jadwal ujian skripsi sedang Ayos meneruskan perjalanan ke sudut-sudut Indonesia sembari mengembangkan travel institute Hifatlobrain di Surabaya.

Awal Januari 2010. Siang itu saya sedang di perpustakaan kampus bersama salah satu teman baik saya. Tiba-tiba ada SMS masuk dari Ayos. Isinya mengejutkan. “Mas Adib menerima proposal tulisan Lokananta. Kita siap utk liputan”. Begitu kira-kira isinya. Adib yang dimaksud adalah Adib Hidayat, Editor In Chief Rolling Stone Indonesia. Saya sudah tahu untuk siapa tulisan ini. Pradah, naman teman baik saya tadi memberikan selamat. Tak lupa pacar saya yang di Bogor yang setiap hari saya curhati mimpi-mimpi saya. Orang tua? Mereka masih tidak percaya saya menulis untuk majalah musik mengingat saya tidak bisa memainkan alat musik hehe.

Berbekal surat tugas dari Ampera 16, saya dan Ayos masuk ke episentrum musik Indonesia. Merasakan kembali sayup-sayup komposisi musisi-musisi besar negeri ini seperti Gesang, Waldjinah, Jack Lesmana, Buby Chen, Sam Saimun sampai Idris Sardi memenuhi langit-langit studio Lokananta yang besar. Membuka lembar demi lembar perjalanan panjang sejarah industri rekaman di negara yang dipimpin oleh presiden yang gemar menyanyi. Ayos berkesempatan mewawancarai virtuoso jazz Buby Chen yang meninggal pada 16 Februari 2012. Saya sendiri bisa sowan ke sang maestro Waldjinah.

Semua tumpukan data, rekaman wawancara beserta literatur pustaka kami olah di Surabaya. Ada dua momen yang saya ingat disini. Pertama adalah perjumpaan saya dengan Nuran Wibisono, penulis muda berbakat teman Ayos dari kampungnya, Jember. Sekarang saya dan Nuran dipersatukan dalam sekte pengikut Sandi Macan. Kedua, saya kena serangan diare dua kali dalam tiga hari karena kalap makan sambal bebek dan belut goreng yang naudzubillah pedasnya.

Kami berdebat arah tulisan, kami tulis, pelototi lagi, tambahi data lagi, tulis lagi, pelototi lagi, tambahi data lagi, tulis lagi, pelototi lagi, begitu seterusnya selama tiga hari. Akhirnya naskah tadi kami kirim ke Ampera 16. Akhir bulan April, Ayos mengabari saya bulan depan artikel kami terbit.

Beberapa hari setelah artikel tadi terbit, saya ke Ampera 16 bermaksud bertemu dengan mas Wendi Putranto yang jadi penghubung antara saya dan Ayos dengan mas Adib saat penulisan.  Sekaligus juga “melamar” sebagai kontributor website Rolling Stone Indonesia yang dia jaga hehe. Kata mas Wendi, ”Mas Adib suka tulisan kalian. Terutama saat Waldjinah cerita ada dua penonton mati kena peluru aparat”

Sudah lewat dua tahun artikel itu terbit. Sampai beberapa bulan lalu saya kenal mbak Intan Anggita di kandang kicauan 140 karakter. Jumlah pengikut pemilik nama akun @badutromantis itu lumayan banyak. Saya penasaran mengetahui lebih jauh. Ternyata dia sudah lama berkecimpung di industri musik. Saat itu, mbak Intan sedang memaparkan kondisi Lokananta. Saat itu Glenn Fredly baru saja meluncurkan album DVD Live From Lokananta. Saya memberi beberapa tambahan informasi. Ternyata mbak Intan juga kenal dengan mas Wendi. Klop.

Mbak Intan tahu-tahu datang dengan ide brilian untuk Lokananta. Sahabat Lokananta. Untuk detailnya silahkan mention yang bersangkutan. Namun yang jelas ini adalah upaya lintas generasi untuk mengangkat kembali Lokananta sebagai jejak sejarah penting dalam perkembangan industri musik Indonesia.

Serangkaian kegiatan sudah disiapkan. Dari diskusi bersama pegiat musik dan pihak Lokananta serta pentas musik di studio Lokananta yang legendaris, sampai pemutaran film dokumenter Lokananta di berbagai kota di Indonesia.

Hal pertama yang kami lakukan adalah membuat ­artikel kami dalam bentuk e-book agar setiap orang mudah mengakses mengingat artikel kami tadi hanya ada dalam versi majalah. Sayang saya tak berkesempatan ke Solo saat Sahabat Lokananta dideklarasikan Minggu (28/10) kemarin karena tiket yang sudah gila-gilaan. Saya juga tidak bisa datang Senin ini ke Borneo Beerhouse di Cipete, Jakarta untuk diskusi dan pemutaran film gara-gara jadwal lembur dari kantor.

Saya dan Ayos menyambut gerakan  ini dengan optimisme akan kelahiran kembali potensi-potensi label rekaman lokal, sesuatu yang dirintis oleh Lokananta.Label-label rekaman lokal merupakan kekayaan ditengah dominasi dari label-label besar di Jakarta. Saya pernah membaca ulasan di majalah Tempo. Label rekaman lokal punya potensi yang tak terlihat. Mereka punya basis konsumen yang loyal. Ayos bercerita, adiknya baru saja pulang dari SMedan. Dukungan dari komunitas adat dan gereja untuk label rekaman lokal begitu kuat.

Saya terlibat diskusi seru dengan Ayos tentang gerakan ini. Kami berdua sepakat gerakan ini jangan hanya jadi hype yang kemudian hilang setelah tanggal 29 Oktober, hari berdirinya Lokananta. Sesuatu yang acapkali ditemui di kampanye sosial berbasis sosial media.

Saya dan Ayos mencapai satu kesimpulan. Sekarang yang terpenting adalah informasi sebanyak-banyaknya kepada publik tentang Lokananta secara simultan. Ini penting untuk membangun kesadaran publik terhadap keberadaan Lokananta. Jika publik sadar dan tergugah, ini akan menjadi energi yang luar biasa dalam gerakan ini. Saya pribadi sudah mengatakan kepada mbak Intan siap membantu Sahabat Lokananta sesuai kemampuan yang saya punya.

Selamat ulang tahun Lokananta. Semoga suaramu kembali membahana.

Artikel Lokananta: Menyelamatkan Musik Indonesia dimuat ulang RollingStone.co.id dalam rangka menyambut ulang tahun Lokananta ke-56 yang jatuh pada 29 Oktober , bisa dibaca disini. Versi e-book bisa diakses lewat sini

5 Comments

  1. Pria Biru Reply

    saya sempat browsing di Google tentang Lokananta…ternyata lokanannta yang sekarang semakin terpuruk bahkan para pegawainya diceritakan mendapat gaji yang sangat minim sehingga untuk menutupi biaya operasinya dibuatlah lapangan futsal yang disewakan untuk umum ditanah yang tak terpakai disekitar lokananta. yang saya bingung, apa yang mas fakhri cari dari kebesaran lokananta yang memudar. terlepas dari historinya lokannanta sudah kalah bersaing dengan studio yang semakin menjamur dinegara ini. Btw…salut dengan semangatnya…semoga sakses…Amin.

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Jawaban pertanyaan mas sebetulnya ada di artikel saya dan Ayos tadi. Secara garis besar ada dua alasan kenapa Lokananta penting.

      Pertama, aspek historis. Lokananta adalah label rekaman milik pemerintah. Bukti bahwa pemimpin terdahulu punya perhatian tinggi pada bidang seni. Selain itu, Lokananta adalah bagian dari perjalanan para virtuoso seperti Buby Chen. Gesang, Waldjinah, Jack Lesmana, Sam Saimun, sampai Idris Sardi.

      Secara teknis, Lokananta jelas kalah dengan studio rekaman zaman sekarang yang berlimpah piranti canggih. Tapi aspek historis tadi yang membuat Lokananta berbeda. Mirip dengan studio Abbey Road.

      Jangan salah mas, meski sudah tua, untuk beberapa segi Lokananta unggul. Lokananta punya ruang studio besar dengan akustik apik untuk rekaman live. Pola rekaman yang jadi “ujian” kematangan secara musisi.

      Waktu saya wawancara Waldjinah, dari semua studio rekaman yang pernah dia coba, Lokananta masih yang terbaik.

      Mixer di studio Lokananta juga cuma ada 2 di dunia, satu lagi di studio BBC, London.

      Faktor kedua adalah koleksi Lokananta yang sangat berharga. Mulai dari lagu daerah semua provinsi, karya-karya para virtuoso yang tadi saya sebut, lagu Indonesia Raya Tiga Stanza, sampai master rekaman teks proklamasi kemerdekaan RI. Sebagian besar dalam kondisi mengenaskan karena kurangnya fasilitas.

      Padahal kalau dirunut Lokananta “cuma” pabrik piringan hitam yang kemudian jadi label rekaman. Bukan lembaga pengarsipan resmi seperti film yang punya Sinematek Indonesia.

      Sekarang mas bayangin deh, presiden kita hobi nyanyi dan punya empat album rekaman. Tapi nasib Lokananta sedemikian mengenaskannya. Ironis? Jelas.

      Semoga bisa menjawab kebingungannya. Sori kalo panjang :)

      1. Pria Biru Reply

        Mungkin memang suatu saat saya harus mampir juga kesana, kalau dari sejarah saya kagum membacanya, semoga saja kedepan pemerintah kita lebih peduli dengan aset yang bernilai histori seperti ini. yang membuat saya tertarik adalah koleksi yang Mas Fakhri sebutkan di lokananta diatas…mungkin memang kita sendiri yang harus menjaganya dengan sebaik-baiknya ya…oke terima kasih dan salam blogger. Semoga sakses.

  2. sanggam Reply

    Artikel mengenai rekaman lagu daerah, kayaknya minim — padahal selain lagu Melayu yang memang dominan di tahun 1960-an kebawah itu, lagu daerah juga ada, sebelum Kus Bersaudara dan Rahmat Kartolo muncul.
    Orkes Gumarang misalnya yg membawakan lagu daerah Minang, tetapi mencoba menghindar dari pengaruh Melayu — dengan mengadopsi irama Amerika Latin. Apakah orkes Gumarang pernah merekam di Lokananta ?
    Demikian juga Paul Hutabarat, kalau tak salah punya PH lagu Tapanuli, disinikah rekamannya, atau di luar negeri ?

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Orkes Gumarang sepengetahuan saya pernah rekaman di Lokananta,saya lupa ada berapa album. Namun setelah rekaman di Lokananta mereka pindah label ke Irama. Untuk Paul Hutabarat saya tidak tahu mengenai jejak rekamannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>