Puncak Abadi Para Dewa

Sulit rasanya untuk menolak nama Dewa 19 masuk dalam jajaran hall of fame musik Indonesia, kalau ada. Pun meski kini nasibnya tidak jelas, setidakjelas lagu-lagu baru ciptaan Ahmad Dhani, Dewa 19 tetaplah dewa.

Dari sembilan album studio yang ada dalam diskografi mereka, menurut saya album Pandawa Lima adalah tempat tinggal yang sebenarnya untuk Dewa 19. Khayangan bagi Ahmad Dhani, Andra Junaedi, Ari Lasso, Erwin Prasetya serta Aksan Sjuman yang saat itu mengisi formasi album rilisan tahun 1997 ini.

Ibarat blender, album ini mencampurkan semua referensi musikal dari tiap-tiap personil Dewa 19 menjadi sebuah sajian yang menyegarkan bagi pendengaran. Semuanya diberi porsi seimbang, setelah sebelumnya corak fusion begitu merajalela dan aroma classic rock ala Queen yang begitu pekat di dua  album setelahnya. Pun masih dibubuhi bumbu-bumbu jazzy dari Aksan Sjuman yang saat itu baru resmi didapuk jadi drummer tetap setelah sebelumnya Dewa 19 sibuk gonta-ganti posisi antara Rere (Grass Rock, ADA Band, kini Blackout) dan Ronald Fristianto (GIGI, dr.pm) sepeninggal Wawan Juniarso.

Jika menilik pada line-up lagu, sebetulnya ada nomor maha catchy “Kamulah Satu-Satunya”. Toh “Kirana” yang akhirnya dipilih terlebih dulu jadi hits single. Erwin Prasetya menunjukkan kelas sebagai salah satu sidekick yang punya potensi lain, selain bayang-bayang nama besar Dhani, Andra, juga Ari Lasso. Kirana” yang gelap dari aransemen musik dan lirik, tapi justru “Kirana” yang jadi jalan penerang bagi Dewa 19 di tengah jejalan pop manis ala Kahitna dan Java Jive.

Sebelas  lagu yang jadi amunisi memberikan pengalaman baru. Setelah “Kirana”, ada “Aku Disini Untukmu” dan “Satu Sisi” yang masih menyisakan aura gelap-gelapan. Juga sebuah nomor balada cantik dengan sound drum klasik dari Aksan, “Sebelum Kau Terlelap”. Di “Petuah Bijak”, mereka mengangkat kembali beat-beat ala “Cukup Siti Nurbaya” dan “Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi” di katalog sebelumnya. Bagian akhir lagu ini sekilas terdengar seperti “Under Pressure milik Queen.

Tapi yang jadi highlight bagi saya adalah lagu berjudul “Aspirasi Putih”. Bukan apa-apa, lagu ini (tentu juga berikut albumnya) hadir beberapa saat sebelum Pemilu 1997, pemilu yang disebut-sebut sebagai Pemilu paling curang sepanjang sejarah penyelenggaraan Pemilu di Indonesia.

Pemilu yang sempat diwarnai penolakan penandatanganan PPP Kabupaten Sampang di Madura, tempat dimana pemilu harus diulang di 65 TPS, serta aksi Ketua Umum PDI saat itu, Soerjadi yang tidak datang di acara penandatanganan hasil Pemilu. Pemilu yang kembali mengukuhkan rezim Orde Baru sebelum beberapa saat kemudian rontok digulung gelombang reformasi.

Dewa seperti jadi megaphone yang meneriakkan kemuakan kalangan muda atas stagnasi serta degradasi elit-elit politik. Sebuan tonjokan keras dihantamkan lewat lirik

Tak tertahan berdiam diri… sakit
Sementara jiwa meronta
Meratapi…

 

Penat di kepala
Mulut terbungkam, tangan terbelenggu,
Pikiran terisolasi, ingin muntahkan
Dan memuntahkan… kemuakan…

 

Reff:
Beri kami satu ruang
‘Tuk katakan yang benar
Kuburkan yang salah
Biarkan kami tumpahkan
Aspirasi putih kami

 

Semakin banyak orang pilihan
Yang nyata – nyata semakin rakus
Bangun istana ‘tuk dinastinya
Atas nama rakyat jelata

 

Tak tertahan berdiam diri…
Meratapi

 

Disini harusnya ada ruang dimana
Tak ada pedang memotong lidah
Bebas bicara tentang makna
Keadilan, pembagian kekuasaan,
Kemunduran, partai – partai,
Monopoli, kartel, trust dan sebagainya

“Aspirasi Putih” kemudian menjadi embrio sebelum Ahmad Dhani memberikan pukulan yang lebih bertenaga melalui “Distrosi: yang ada dalam diskografi Ahmad Band, supergroup bentukannya bersama Bimo Sulaksono ex. Netral serta mantan punggawa Slank, Pay Siburian dan Bongky Marcell.

Fakta yang menggembirakan, Harmoko tak ambil pusing soal lirik ini. Buktinya album ini tetap beredar dengan angka penjualan menembus 800 ribu kopi. Jumlah yang tentu masih diperdebatkan. Namun yang jelas angka tersebut menunjukkan bagaimana industri musik Indonesia kala itu menikmati dengan lahap karya “seberat” Pandawa Lima.

Melalui album ini, Dewa 19 sukses meraih enam penghargaan di Anugerah Musik Indonesia 1997, untuk “Lagu Alternatif Terbaik”, “Lagu Terbaik Umum”, “Duo/Grup Alternatif Terbaik”, “Album Rhythm & Blues Terbaik” serta “Sampul Album Terbaik”.

Sayang, formasi Pandawa Lima akhirnya terhenti setelah Ari Lasso dan Erwin Prasetya dicoret dari formasi  karena ketergantungan narkotika. Sedangkan Aksan Sjuman harus hengkang karena Dhani menganggap pukulan drummer yang kini mengisi line up Potret ini terlalu nge-jazz,

Dalam sebuah wawancara, pemecatan Ari Lasso karena narkotika hanyalah jawaban Dhani untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan media karena sebetulnya jika Ari Lasso ingin bersolo karier dan mundur sekalipun Dhani tak akan melarang. Saat itu juga Dewa 19  mendapatkan sosok Elfonda Mekel a.k.a Once.  Dhani sebetulnya ingin membuat Dewa 19 memiliki dua vokalis, Ari Lasso dan Once. Lagunya pun sudah siap. Tapi Ari menolak dan memutuskan menyerahkan mic pada Once.

Pandawa Lima akhirnya tinggal menyisakan Dhani dan Andra. Diselingi proyek gila Ahmad Band serta sebuah album the best yang memajang vokal Ari Lasso untuk kali terakhir di lagu “Elang” dan “Persembahan Dari Surga”, Dewa 19 dengan formasi Dhani, Andra, Once serta penggebuk drum teranyar Tyo Nugros, Dewa 19 akhirnya turun kembali lagi ke langit lewat album Bintang Lima yang mencatat sejarah penjualan tertinggi. Menembus angka 1,7 juta kopi.

Pandawa Lima

Artist : Dewa 19

Aquarius Musikindo, 1997

  1. “Kirana”
  2. “Aku Disini Untukmu”
  3. “Bunga”
  4. “Suara Alam”
  5. “Sebelum Kau Terlelap”
  6. “Satu Sisi”
  7. “Aspirasi Putih”
  8. “Cindi”
  9. “Petuah Bijak”
  10. “Selatan Jakarta”
  11. “Kamulah Satu-Satunya”

Note: Judul diambil dari nukilan lirik lagu Mahameru milik Dewa 19 yang terdapat dalam album Format Masa Depan rilisan tahun 1994.

9 Comments

  1. rikigede Reply

    yang pasti dua-duanya dibuat dengan tingkat kesadaran 10%, bahkan kurang hahaha..

    well, gue pribadi suka pandawa lima karena merata semua lagu bagus, sedangkan di terbaik terbaik masih kuat pengaruh toto sama queennya.

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Yap, memang susah betul buat nentukan mana yang terbaik. Tapi saya sependapat kalo di Pandawa Lima distribusi “bagus”nya merata hehehe. Terima kasih sudah berkunjung :)

  2. Iwan Awaluddin Yusuf Reply

    Wah, waktu SMA saya sampai beli album ini 2 biji. Satu didengarkan dan buat jaga2 kl dipinjam teman, satunya disimpan buat koleksi. Salah satu lagu yang paling nendang adalah “Satu Sisi” (lagu pertama side B). Benar-benar mencerminkan curhat perih Ari Lasso saat terjerat narkoba.
    Yang benar2 kerasa beda dari album-album Dewa sebelum dan setelah Pandawa Lima adalah gebukan drum Wong Aksan yang kerasa jazzy.

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Wahahahaha sampe bela-belain beli 2 kaset ???.

      Efek masuknya Aksan menurut saya kerasa betul di Cindi sama Sebelum Kau Terlelap. Kerasa banget jazz-nya. Kalo lagu lain sih samar-samar. Sayangnya ya si Dhani akhirnya nendang Aksan gara-gara terlalu jazzy tadi.

      Sebetulnya Pandawa Lima sama album sebelumnya, Terbaik Terbaik itu sama kerennya. Tapi yang bikin Pandawa Lima beda ya itu tadi. Semua referensi musikal tiap personel dapat porsi seimbang.

  3. Tio Pradana Reply

    Saya sendiri bingung menentukan antara Pandawa Lima atau Terbaik Terbaik sebagai album terbaik Dewa, tp secara pribadi sy lebih suka lagu2 di album Pandawa Lima karena lebih merata bagusnya dan easy listening, apalagi lagu Kirana yg menurut saya jadi lagu Dewa dengan kualitas lirik terbaik..Tp sayangnya pengamat musik cenderung lebih memilih Terbaik-Terbaik sebagai yg terbaik dari Dewa (masuk posisi 26 versi Rolling Stone klo ga salah 😀 )…Toh terlepas dari semua itu, Pandawa Lima memang pantas jadi masterpiece-nya Dewa yang tentu akan sulit terulang di era sekarang

  4. Pingback: Reuni demi Nyali | Warung Masjaki

  5. Baiq Nadia Yunarthi Reply

    Terlepas Dhani lagi narsis apa enggak, aku pribadi lebih kecantol sama Bintang Lima, mungkin karena lagu-lagunya dipake di FTV SCTV, mbuh lah sampe obsessed waktu itu tingkatnya! *mamaku sampe lelah karena kasetnya diputer berulang-ulang di mobil hahaha*

    Mungkin pas Pandawa Lima aku belum suka dengerin musik anak gede.

    Welcome back papa rock n roll! Sering-sering bagi playlist parenting ya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>