Definisi Bercinta dari Sheila

Lupakan soal judulnya. Percayalah ini komposisi terindah yang pernah dibuat oleh Sheila On 7

07 Des adalah penanda hattrick satu juta kopi dari Duta, Eross, Sakti, Adam dan Anton setelah dua album sebelumnya, album debut selftitled dan album sophomore Kisah Klasik Untuk Masa Depan membawa cah-cah Jogja itu menjadi the big thing di industri musik Indonesia.

Banyak penilaian untuk album produksi tahun 2002 ini. Hasief Ardiasyah menyatakan album ini adalah keseimbangan yang pas antara kepentingan komersial dan eksperimental. Kawan saya, Nuran Wibisono yang eksponen hair metal tulen menyebut lagu “Seberapa Pantas” yang jadi salah satu hit single album ini, sebagai lagu terbaik Sheila On 7 karena emosi lagunya yang naik turun.

Bagi saya album ini adalah pelepasan segala formula satu juta kopi. Indikasinya jelas, setelah album ini mereka membuat album eksperimental Pejantan Tangguh yang membanting semua persepsi publik akan kiprah mereka yang “hanya” bermodal lagu-lagu easy listening.

Lepas dari perdebatan tadi, 07 Des adalah album “pemberdayaan” bagi personel Sheila On 7. Peran dominan Eross di dua album awal, sedikit-sedikit didistribusikan ke kompatriotnya. Adam menciptakan “Bapak-Bapak”, sementara Sakti membuat “Buat Aku Tersenyum”. Kelak saat Sakti memutuskan gantung gitar, dia mengaku heran kenapa bisa menciptakan lagu tersebut. Dan, drummer Anton menyusun “Mari Bercinta” yang ditempatkan diurutan bontot di side A (silahkan cek kaset masing-masing!)

Lupakan soal judulnya yang sangat stensil, “Mari Bercinta” adalah definisi keindahan dari Sheila On 7. Intronya saja sudah menegaskan hal itu. Denting gitar dipadu string section yang lamat-lamat. Entah kenapa, setiap mendengar intro khasnya, saya selalu ingat Jogja dan kampung saya, Muntilan. Lagu ini adalah lagu wajib yang saya putar tiap saya pulang kampung. Rasanya tentram betul. Sangat berbeda dengan “Mari Bercinta” milik Aura Kasih atau Vicky Shu yang membuat panas dingin.

Bagian interlude-nya sangat khas Sheila On 7,kemudian ditimpali dengan string section yang diaransir oleh Erwin Gutawa (pantes!). Kadar pekatnya string section mirip dengan apa yang ada di “Anugerah Terindah Yang pernah Kumiliki”. Well, inilah perpisahan manis untuk unsur gesek sebelum mereka beralih ke unsur tiup di album berikut.

Secara lirik, Anton bisa mengubah kekecewaannya terhadap wanita yang sering memberi harapan (menurut pengakuannya di Hai Klip yang saya lupa edisi berapa) menjadi susunan lirik penuh petuah bijak. “Tentukan yang utama yang satu tercinta, ‘kan jadi teman hidup yang setia”. Ada kata yang tak biasa untuk lirik musik Indonesia arus utama, ejawantah. Saya sampai cari artinya di kamus.

Kalau saja bukan karena kesalahan operator tata suara di resepsi pernikahan saya kemarin, lagu ini pasti sudah berkumandang. Masa iya saya kudu ngulang resepsi lagi.

Saat kau peroleh rasa
Dalam makna cinta
Tak hiraukan semua angkara

Hanya satu buah titah
Yang kami ejawantah
Terlalu banyak cintakan binasa

Yang indah kau rasa
Yang manis kau beri
Walau itu hanya sementara

Lihat dirimu
Semakin jauh mengayuh
Lewati segala tujuan hidup yang mungkin kau tempuh

Tentukan yang utama
Yang satu tercinta
Kan jadi teman hidup yang setia

 

5 Comments

  1. Tio Pradana Reply

    Versi accoustic dari lagu ini juga ga kalah keren di album ost 30 hari mencari cinta…

  2. Wening Reply

    Yang pertama buat jatuh hati adalah bagian refrainnya. Kesoktauanku bilang sepertinya karena sedikit-sedikit ada rasa minor dalam kord mayor. Campuran yang gila.

  3. Dany Wahyu Parditya Reply

    Sama aku juga ngerasain gitu klo dengerin lagu mari bercinta jdi inget kampungku di kebumen & jadi setelan wajib setiap pulkam 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>