Reuni Demi Nyali

Tanpa reuni, Soundrenaline tahun ini hanya akan jadi festival musik yang basi tanpa nyali

Sejak kali pertama dihelat di Parkir Timur Senayan, Jakarta pada tahun 2002 silam, Soundrenaline telah menjadi kiblat bagi penyelenggaraan festival musik di tanah air. Konsistensi untuk mempertahankan nama-nama lokal menjadi unsur pembeda disaat festival-festival musik lain yang belakangan hadir dipenuhi musisi-musisi mancanegara sebagai headliner penarik massa.

Selama satu dekade, industri musik Indonesia bergerak begitu cepat. Yang kemudian menjadi pertanyaan, meminjam tagline gelaran tahun 2003, masihkah Soundrenaline jadi aksi musik yang bernyali?

Gelaran pertama tahun 2002 adalah saat panen raya industri musik Indonesia. Nama-nama seperti Dewa 19, Padi, Sheila On 7, /rif, sampai Cokelat sedang menikmati kegemilangan karir mereka. Belum lagi kemunculan bibit-bibit baru seperti Ungu, Peterpan, Tic Band, sampai Utopia.

Sekarang, situasinya berubah. Mereka yang mereguk madu penjualan album fisik sekarang harus putar otak untuk sekedar bertahan menjaga asap dapur. Nama-nama baru memang bermunculan, tapi dalam sekejap pula sudah tak ketahuan lagi jejaknya.

Terlebih lagi kalau bicara soal kualitas. Bagian ini sebetulnya subyektif, tidak bisa dijadikan patokan umum, tapi cobalah masuk ke laman YouTube kemudian putar videoklip-videoklip musisi lokal medio 2000an. Seperti koor massal, komentar-komentarnya sebagian besar menganggap musik Indonesia kala itu justru lebih bagus ketimbang hari ini. Tak terkecuali, saya.

Soundrenaline adalah festival musik yang sudah punya karakter kuat sejak kemunculannya. Menyerahkan nama besar Soundrenaline ke band-band yang muncul cuma sekali di acara musik pagi bagi saya adalah tindakan bunuh diri dengan cara konyol. Soundrenaline harus tetap digelar namun line up-nya jelas tak bisa sembarangan.

***

Maguwo Calling (Foto: @masjaki)Siapapun yang punya ide menghadirkan reuni di Big Bang Soundrenaline 2013 di Yogyakarta tempo hari, saya harus berikan aplaus paling meriah. Hadirnya GIGI dengan seluruh personil mereka (Armand Maulana, Dewa Budjana, Thomas Ramdhan, Gusti Hendy, Aria Baron, Opet Alatas, Budhy Haryono, dan Ronald Fristianto), Slank dengan Pay dan Indra Qadarsih (sayang Bongky tak ikut) dalam Potlot Jamming, dan Dewa 19 yang membawa kembali Ari Lasso dan Tyo Nugros, adalah jaminan mutu gelaran Soundrenaline yang ketiga kalinya digelar di Yogya ini bakal sukses.

Dari segi bisnis, konser reuni adalah mesin uang untuk musisi. The Rolling Stones meraup 24 juta poundsterling pada konser reuni tahun 2012 dan sementara The Police mendapat pemasukan 131,9 juta dollar. Dalam perjalanan pulang dari Maguwo, venue acara, saya mendapat informasi konser ini dipadati lebih dari 60 ribu orang. Dan semuanya membayar karcis masuk seharga 25 ribu. Maka tidak berlebihan kalau Armand Maulana di sela-sela penampilannya mengatakan, “Yang bikin bangga, beribu-ribu orang nonton disini dan semuanya bayar,”

Pun diluar hitung-hitungan bisnis tadi, saya puas dengan keseluruhan acara. Jadwal yang tepat waktu dan flow artist yang lancar, tata cahaya dan tata suara yang memukau (saya pernah datang ke festival musik rock berskala internasional yang rutin diadakan di Ancol, tapi soal lighting apa yang saya lihat di  Soundrenaline unggul di depan), dan ini yang paling penting: saya bisa nonton konser dengan tenang.

Sebetulnya ada kekhawatiran antara kombinasi tiket murah dan nama-nama besar tadi, terutama Slank. Saya sudah menurunkan ekspektasi akan konser yang nyaman tanpa misil-misil sendal, botol, bahkan batu berterbangan, juga tiang-tiang bambu bendera kebesaran Slank yang akan berkibar menutupi panggung. Saya sudah siap kemungkinan terburuk penonton yang tak kebagian tiket akan meringsek masuk. Nyatanya, sampai Slank menyudahi set dengan “Kamu Harus Pulang” tak ada satupun botol berterbangan, tak ada penonton yang merangsek masuk, semuanya berjalan tertib.

Saya berkata pada kawan baik saya Nuran Wibisono, “Paling setengah set Slank pintu bakal dibuka nih” Tapi begitu saya menengok kebelakang, Slankers yang ada di luar menonton tanpa berulah macam-macam. Pengamanan dengan tiga lapis barikade yang dijaga polisi sampai keamanan internal Slank juga “kebaikan” panitia yang tidak menutup venue dengan pembatas tinggi membuat kekhawatiran saya tak terbukti. Salut untuk semuanya.

Pengamanan yang Oke (Foto: @masjaki)Kembali lagi ke soal reuni. Mungkin ini berlebihan, namun reunilah yang “menyelamatkan” Soundrenaline tahun ini. Tanpa reuni, Soundrenaline tak ubahnya jadi sekedar festival musik tahunan yang semakin basi. Sebelum berangkat ke venue saya sempat ngobrol dengan Andre “Opa” Sumual dari majalah Trax. Kata dia, kunci kesuksesan festival musik adalah line-up pengisi acara. Pun kalau dirunut ke belakang, acara puncak Soundrenaline tahun lalu yang diadakan di Bumi Serpong Damai juga menghadirkan kembali si anak hilang, Peterpan yang bermalih rupa menjadi NOAH.

Dari tiga reuni yang digelontorkan di Big Bang Soundrenaline 2013, yang paling saya antisipasi adalah Dewa 19. Reuni GIGI sudah pernah saya lihat saat konser ulang tahun ke-17 mereka di Istora Senayan tahun 2011, sedangkan Slank saya tidak terlalu dalam menikmati musik-musik mereka. Tapi kalau saya boleh beri penilaian, reuni yang paling “dapet” adalah reuni GIGI. Mungkin karena mereka sudah sering konser reuni jadi komunikasinya begitu cair di panggung. Soal skill tentu tak usah ditanya, namun bagaimana mereka membawa kehangatan di panggung, mereka juaranya.

***

Sambil menunggu Armand cs. menyelesaikan kewajibannya, saya mengingat lagi kenangan saya akan Dewa 19. Saya mulai tekun menikmati Dewa 19 sejak era album Pandawa Lima dan sayangnya harus diakhiri saat mereka merilis album Laskar Cinta. Saya tidak sanggup menerima perubahan corak musik yang begitu drastis dari si master mister Ahmad Dhani.

Dari siaran MTV, saya menjadikan “Kirana”, “Aku Disini Untukmu” dan tentunya nomor maha catchy Kamulah Satu-satunya”. Saya belum boleh beli kaset saat itu karena kata bapak saya itu lagu cinta-cintaan untuk orang dewasa. Waktu itu saya masih SD kelas 4. Baru saat kedatangan paman saya yang mondok di rumah orang tua saya di Bogor selama dia kuliah di Universitas Indonesia saya bisa intens mendengarkan Dewa 19. Dia membawa koleksi-koleksi kasetnya dari Muntilan, termasuk album Bintang Lima dan Cintailah Cinta.

Di Pandawa Lima, saya menikmati keseimbangan selera musik tiap personel, Erwin yang fusion, Aksan yang jazzy, juga Dhani yang Queen-ey. Di dua album selepas Ari Lasso keluar, Bintang Lima dan Cintailah Cinta, aroma classic rock ala Queen begitu pekat. Saya tak masalah, wong saya suka Queen hehehe. Tapi setelahnya, telinga saya tidak bisa beradaptasi dengan unsur musik elektronik yang begitu pekat. Kau buat remuk seluruh hatiku, kira-kira begitu reaksi saya.

Meski demikian, Dewa19 tetap saya tempatkan sebagai salah satu nama besar. Ahmad Dhani dengan segala ketengilan dan kesombongannya (well, saya masih merasakan aura itu saat datang di konferensi pers sesaat sebelum mereka manggung) tetap saya anggap sebagai jenius di industri musik meski belakangan saya sering bingung dengan karya-karya terbaru bos Republik Cinta ini.

Saking antusiasnya, begitu mendapat tawaran untuk hadir ke Big Bang Soundrenaline 2013 sebagai perwakilan dari (ehm…) blogger, saya pamit sebentar ke istri untuk pulang ke rumah orang tua mengambil CD album Pandawa Lima, album Dewa 19 favorit saya. Harapannnya, supaya album tadi dilegalisir oleh yang berwenang dan sudah pasti hadir di Yogya, Ari Lasso, Andra Ramadhan dan tentunya Ahmad Dhani. Sayangnya, saya cuma dapat tanda tangan Andra.

Legalisir (Foto: @masjaki)

Begitu GIGI menyudahi penampilannya, saya beranjak mencari posisi yang nyaman untuk menonton di sekitar meja FOH. Konon inilah lokasi untuk mendapatkan sound yang maksimal. Sebetulnya saya punya akses untuk masuk ke barikade dan menonton di snake pit. Tapi atas nama pengalaman sebagai penonton (selama ini saya kebanyakan datang atas nama tugas) saya memutuskan tetap di posisi semula.

Momen pembuka reuni Dewa dibuat begitu dramatis. Dari permainan laser, kemudian kepulan asap dry ice, masih pula ditambahi dengan sayup-sayup musik koor (saya lupa judulnya, tapi sering dipakai di adegan perkelahian di film-film ber-setting jaman Romawi). Sebelumnya, Ari Lasso dan Lilo Radjadin dari KLa Project membawakan long lasting hits single dari KLa, Yogyakarta. Lilo beberapa kali sempat tampil di album Dewa 19 dengan menjadi vokal latar. Kalau saya tak salah ingat di lagu “Cukup Siti Nurbaya” dan “Kirana”.

Begitu segala gimmick tadi rampung, nomor “Pangeran Cinta” langsung digeber. Ah, pembukanya saja sudah mengecewakan buat saya. Jangan-jangan nanti porsi Ahmad Dhani bakal dominan di sepanjang durasi yang “cuma” satu jam. Maklum saja, Laskar Cinta dan seterusnya kan proyek narsisnya Ahmad Dhani.

Tapi begitu lagu kedua, saya tersenyum bahagia. Pun dengan Nuran. “Asu Restoe Boemi cuk!” kata kami hampir berbarengan. Untuk menghindari salah paham saja, ungkapan asu tak melulu umpatan, tapi bisa jadi suatu bentuk kekaguman yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa. Termasuk momen menikmati “Restoe Boemi” secara live. Ini salah satu lagu magis Dewa 19 selain “Kirana”.

Ari Lasso (Foto: Dimas Ario)Ari Lasso masih sanggup menjangkau nada-nada tinggi yang nyaris memenuhi sepanjang lagu. Saya berusaha mengikuti. Tapi yang ada saya batuk-batuk sampai tiga kali dan berkali-kali meneguk air mineral botolan yang saya bawa. Padahal sebelum berangkat, di kamar hotel saya memutar lagu ini untuk pemanasan.

Saya pernah ngobrol dengan Budi Warsito, pengelola perpustakaan Kineruku dan kolektor musik, salah satu kejeniusan Dhani adalah dia bisa membuat lagu berdasar karakter suara tiap vokalis Dewa 19. Saya pernah mendengarkan versi lagu ini yang dinyanyikan oleh Once di album live Atas Nama Cinta I. Vokal Once, seperti biasa, memang prima, tapi tidak dengan daya magisnya.

Perkataan Budi tadi menemui kebenarannya. Saat Ari Lasso memainkan repertoar yang sebelumnya dibawakan Once, yakni “Arjuna” dan “Roman Picisan” saya merasakan ada “pemaksaan” karakter suara.

Saya juga ingat ada pengalaman lucu soal lagu ini. Saya pernah baca sebuah majalah yang menyasar segmen muslimah. Disitu ada sebuah surat pembaca, isinya memprotes lirik “Restoe Boemi” yang katanya vulgar dan berpotensi mengajak seks bebas karena liriknya yang berbunyi, ” Sewangi bunga mawar tubuhmu menghampar di permadani. Mengetuk hasrat ‘tuk menjamah surgamu…” Mungkin kalau saat itu sudah ada Twitter, Felix Siauw akan memenuhi linimasa dengan ajakan para muslimah untuk memboikot lagu ini dengan tagar #UdahBoikotAja

Saya masih sempat-sempatnya berpikiran andai saja malam itu Dewa 19 tampil dengan komposisi terbaiknya: Ari Lasso, Ahmad Dhani, Andra Ramadhan, Erwin Prasetya, dan Aksan Sjuman. Tapi begitu “Cukup Siti Nurbaya” meluncur, saya sudah cukup bersyukur. Bersyukur difasilitasi nonton Dewa 19 untuk kali pertama, dan bersyukur masih bisa menonton mereka. Nasib kita selanjutnya siapa yang tahu? Ough !

Dua nomor balada cantik turut dibawakan malam itu. “Satu Hati” dan “Cinta ‘Kan Membawamu”. Semuanya dari album Terbaik Terbaik . Sayang, segala momen romantis-romantisan yang ada di lagu itu dirusak kenyataan kalau saya nonton bukan bersama istri saya, tapi dengan Nuran Wibisono.

Setelahnya, Dhani bernyanyi sendirian. Saya sebetulnya malas kalau Dhani sedang kumat narsisnya. Sebelumnya dia sudah menyalurkan nafsunya di “Sedang Ingin Bercinta”. Tapi malam itu dia sepertinya ingin penonton melihat Dewa 19. Dhani menyanyikan “Pupus” hanya dengan denting bunyi piano dari keyboard, tanpa segala musik ajep-ajep yang jadi hobinya belakangan ini . Memang seharusnya Dhani diberi mainan yang begini saja, atau sekalian bikin super group macam Ahmad Band.

 Dan “Pupus” kemudian terdengar lebih menyakitkan. Bukan karena faktor vokal Dhani yang memang agak mengganggu, tapi denting piano tadi sungguh brengsek sekali. Kalau saya sedang patah hati mungkin saya bisa menggali tanah lapangan Maguwo dan minta dikuburkan saat itu juga. Untungnya momen-momen tadi sudah lewat dari kehidupan saya.

Saya masih menunggu “Kangen” dimainkan. Kurang afdhol  reuni tanpa kangen-kangenan. Begitu intro khas lagu debut Dewa 19 dua dekade silam itu dimainkan Andra, puluhan ribu orang bersorak termasuk saya. Dhani mengambil beberapa bendera logo Dewa 19 yang dibawa oleh Baladewa. Lalu dikalungkan ke Ari Lasso. Sepertinya ini semacam kode kalau Dhani kangen Ari Lasso. Sepertinya Dhani ingin mengajak Ari Lasso balen. Dhani juga melakukan hal yang sama ke Andra. Sepertinya dia memberi pesan supaya Andra tak keasyikan dengan mainan barunya di Andra & The Backbone. Dan sepertinya  sesi reuni Dewa 19 akan segera berakhir.

Saya menebak lagu apa yang akan dijadikan penutup. Pastinya harus dari album-album era Ari Lasso. “Cukup Siti Nurbaya” jelas sudah dimainkan, “Aku Milikmu” menurut saya kurang gagah untuk jadi penutup bagusnya ditaruh di tengah set, “Kirana” terlalu muram untuk keriaan malam itu.

Setelah membiarkan Dhani memberi intro ajep-ajep, inilah pamungkasnya. “Kamulah Satu-satunya”. Nomor penutup di album Pandawa Lima. Saya selalu suka setiap vokal latar (belakangan saya tahu mereka adalah Maia Ahmad, Pinkan Mambo, dan Oppie Andaresta) melafalkan u..la..la..la. Dan malam itu saya bisa ber u…la..la..la langsung bersama penyanyinya sendiri!

Segala puing-puing ingatan saya akan album ini dipugar kembali. Ingatan menunggu lagu ini diputar saban pagi di MTV sembari menunggu berangkat sekolah siang. Ingatan memplesetkan lirik “Kirana” menjadi Kirana solat jumat dua rokaat. Dan juga ingatan saya bermusuhan dengan teman yang meminjamkan kaset album dimana lagu ini ada karena lupa memberi bocoran soal ulangan harian. Dan juga, ingatan keisengan Dhani memasukkan suara Ari Lasso yang memerintahkan dia untuk mengecek hasil take vokalnya. Cek, Dhan!

Tanpa mengecilkan band-band lain yang jadi pengisi acara, reuni menjadi the biggest bang di Big Bang Soundrenaline 2013 kemarin. Dari reuni hangat ala GIGI, kembalinya sentuhan magis Indra Qadarsih dan Pay di Slank lewat Potlot Jamming, dan tentunya reuni Dewa 19 yang paling saya antisipasi. Reuni membuat Soundrenaline tahun ini masih bernyali!

 

15 Comments

  1. Erfina Oktaviani (@ochaoch) Reply

    Menurutku, denting pianonya Dhani sudah mengoyak-ngoyak hati sejak Cinta Kan Membawamu Kembali. Tapi ketika Pupus rasanya memang sungguh brengsek sekali, yah…meski kau takkan pernah tau. Berbahagialah momen-momen patah hatimu sudah lewat, jek :)) Dan kayaknya ada pesan terselubung dalam dentingan piano outro, jarene, “Modaro…”

  2. Deddy Arwan Sihite (@DEddyarWAn_S) Reply

    sangat disayangkan DEWA 19 Feat. ARI LASSO pas di SOUNDREANALINE JOGJA gak bawain track spt : Kirana, Aku Disini Untukmu, Manusia Biasa, Selamat Pagi, Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi padahal pas konser Pakde berulang kali membunyikan intro Selamat Pagi justru bawain track Roman Picisan, Separuh Nafas, Arjuna, Pangeran Cinta dimana menurutku di lagu ini hanya Once lah yg terbaik menyanyikannya..hehe

  3. Krilianeh Reply

    Baca tulisan lo bikin gw ngerasa jadi balik lagi berdiri di snake pit terus nyanyi bareng sambil mantauin ‘anak-anak’ wartawan gw supaya nggak ilang serta tidak lupa utk cepat sadar jika dapat panggilan dari HT.
    -Balada Crew Konser-

      1. Krilianeh Reply

        Pas di hotel pada mencar semua. Macam mana saya mau jagainnya. Mana saya jaganya ga pake shift, pak. Tolonglah pak, saya orang kecil. Ibu saya di kampung….
        (laaah knp jadi curhat kaya satpam galau gini…)

  4. Arda Reply

    Nah! Aku sendiri baru sadar kalau konser ini ada reuninya waktu di venue -__- 3 band terkahir bener-bener gila menurut ku. Total semua mas. Penontonnya juga tertib, sing a long di setiap lagu, lighting&sound istimewa (kecuali community stage, kayaknya emang agak beda yang ini. Entah sebabnya apa)/ Mungkin hanya 1 hal yang kurang. Sheila On 7 nya nggak jadi. Kalau reuni kan, SO7 juga bisa mengundang Salman Sakti atau pun Anton sebagai mantan personil hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>