Rock Setelah Rokok

Selama lebih dari tiga dekade, rokok selalu berada dibalik gemerlapnya panggung musik rock tanah air. Mulai dari konser setingkat lapangan kecamatan, festival musik rock tahunan berskala nasional seperti Festival Rock bentukan Log Zhelebour yang didanai oleh Gudang Garam, yang kemudian menelurkan nama-nama seperti El Pamas dan Grass Rock, Soundrenaline yang disponsori oleh brand Sampoerna A Mild, sampai festival musik rock berkaliber internasional seperti Java Rockin’land yang didukung oleh Gudang Garam.

Bahkan rokok juga menjadi penyokong utama grup musik rock asal Malang, Bentoel Band. Dari namanya, grup asal Malang yang pernah diperkuat oleh Ian Antono ini disponsori oleh perusahaan rokok Bentoel.

Namun per tahun 2013 ini , rokok harus pelan-pelan menghilang. Adalah PP Tembakau Nomor 109 yang diteken oleh Presiden SBY pada 24 Desember 2012. Salah satu pasalnya mengatur pembatasan rokok untuk sponsor kegiatan.

Banyak perdebatan tentang bagaimana posisi rokok dalam pertunjukan musik, utamanya musik rock. Saya sendiri bukan perokok dan setuju kalau rokok harus dibatasi. Tapi sebagai penikmat musik saya merasakan “manfaat” yang tak sedikit dari keberadaan rokok. Bayangkan, saya bisa melihat aksi The Cranberries, God Bless, /rif, sampai Komunal hanya dengan 200 ribu rupiah saja. Juga nama-nama seperti Dewa 19, Slank, sampai Netral bisa saya tonton di Soundrenaline bulan Juni kemarin cukup merogoh 25 ribu rupiah saja.

Serba salah memang, namun yang jelas pelaku dunia showbiz musik rock harus mencari alternatif sponsorship lain selain rokok. Beberapa yang bisa dijajaki adalah:

Bir

Bir dan musik rock ibarat teman akrab. Bir seperti menjadi peneguh image bad boy para musisi pengusung musik rock. Beberapa merk bir mempunyai agenda musik tahunan. Seperti bir hitam asal Irlandia Guinness yang memiliki Guinness Arthur Day yang merupakan perayaan ulang tahun Arthur Guinness, pencipta ramuan bir hitam tersebut.

Di Indonesia, Guinness Arthur Day diinisiasi mulai tahun 2009 lalu dengan menyelenggarakan konser-konser musik di berbagai kota di Indonesia sebagai perayaan 250 tahun Guinness. Pada tahun 2010, Guinness membawa band pengusung musik rock asal Amerika, Lifehouse. Tahun 2011, band asal Irlandia, The Script tampil di Jakarta. Sementara band asal Amerika, Mr. Big menyapa  Medan, Makassar, dan Surabaya. Tahun berikutnya giliran Creed untuk tampil di Surabaya, Jakarta, Makassar, dan Medan.

Langkah serupa juga dilakukan oleh bir asal Indonesia, Bintang lewat ajang Bersama Kita Bintang.  Beberapa musisi yang ikut meramaikan ajang tersebut diantaranya Andra and The Backbone, KLa Project, Superman Is Dead, Sheila On 7, sampai proyek jamming yang menghadirkan Ari Lasso, Elfonda Mekel, Candil, Ridho Hafiedz,Aria Baron, Badai, dan Yoyo.

Tapi dengan situasi disini yang masih sensitif untuk minuman beralkohol, bir tentu tak bisa semasif rokok untuk jor-joran promo.

Minuman Ringan

Produsen minuman ringan paling populer sekolong jagad, Coca Cola, pada tahun 2010 pernah membuat festival musik Soundburst yang memajang 58 band dan solois yang digelar di 9 kota di Indonesia mulai dari Bandung, Jakarta, Balikpapan, Palembang, Manado, Denpasar, Medan, Yogyakarta dan Surabaya. Acara puncak yang diadakan di pantai Kenjeran, Surabaya mendatangkan bintang tamu band asal Denmark, Mew.

Sementara itu, produk lokal seperti Sosro lewat merk Tebs menjadi sponsor untuk festival musik yang digelar oleh Java Festival Production seperti Java Rockin’land, Java Jazz Festival, dan Soulnation.

Belakangan jejak tersebut diikuti oleh kopi. Yang paling fenomenal tentu pendatang baru, Top Coffee yang mengontrak living legend Iwan Fals. Lewat kerjasama tersebut, Iwan Fals akhirnya bisa kembali melakukan tur panjang dan merilis album terbarunya, Raya.

Sepeda Motor

Sekitar tahun 2004 sampai 2005 pabrikan motor asal Jepang, Yamaha, mengontrak Dewa 19 yang saat itu diperkuat oleh Elfonda Mekel, Ahmad Dhani, Andra Ramadhan, Yuke, dan Tyo Nugros sebagai brand ambassador. Yamaha juga menyiapkan gelaran tur ke kota-kota seluruh Indonesia, termasuk Yogyakarta. Saya ingat, pemilik motor Yamaha (berapapun tahunnya) cukup menunjukkan STNK motornya di dealer-dealer Yamaha terdekat untuk ditukarkan sebagai tiket masuk.

Telco

Ketika masa bulan madu ring back tone, perusahaan telco seolah jadi pesaing serius perusahaan rokok untuk urusan jor-joran promosi acara musik. Telkomsel yang mendirikan LangitMusik sebagai toko layanan musik digital, aktif mengadakan konser di berbagai kota di Indonesia.

Saya sendiri pernah datang saat LangitMusik mengadakan konser perayaan ulang tahun kedua yang digelar di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta, pada tahun 2011 lalu. Beberapa nama yang jadi pengisi acara antara lain The Trees and The Wild, Endah & Rhesa, The Milo,dan Pure Saturday. Rupanya ini kali pertama dan terakhir saya datang ke festival musik yang diadakan oleh perusahaan telco karena pada bulan Oktober tahun yang sama pemerintah lewat Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia mencabut layanan Jasa Premium, termasuk didalamnya adalah layanan ring back tone.

Bakery

Diam-diam, perusahaan roti mulai mencoba ranah showbiz. Adalah Amanda Brownies menjajal peruntungan dengan menggandeng grup Air Supply, yang beken dengan hits single “Good Bye”, untuk pentas di tiga kota, yakni Pekanbaru, Bandung, dan Balikpapan, pada akhir Maret kemarin.

Sebelumnya, perusahaan roti yang beken dengan produk brownies kukusnya ini pada akhir tahun 2012 menggelar konser artis internasional lainnya, katanya sih begitu. Iya betul, Agnes Monica…

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>