KPR dan Kenyamanan Hakiki Lelaki

Kebutuhan akan rumah bagi pasangan-pasangan baru menikah seperti saya bukan cuma sekedar fungsinya untuk tempat tinggal. Sebagai lelaki, rumah adalah perwujudan tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga. Tanggung jawab mengayomi baik secara lahir (dalam bentuk fisik rumah) juga batin.

Keberadaan rumah juga menjadi jawaban akan kebutuhan menjadi independen. Poin ini sangat krusial untuk mereka yang harus menumpang di rumah mertua karena beberapa alasan, termasuk saya. Saya sendiri selepas menikah tinggal di rumah mertua selama hari kerja dengan pertimbangan akses yang lebih dekat ke stasiun kereta atau pangkalan bus yang jadi andalan saya untuk berangkat kerja.

Hidup bersama mertua tentu jadi tantangan untuk para suami. Di satu sisi sebagai kepala keluarga mereka punya kewenangan atas keluarga barunya. Tapi di lain sisi, rumah mertua sudah punya patokan-patokan pakem tertentu. Ini yang kemudian membuat hubungan para mantu yang numpang di rumah mertua penuh tarik ulur disana-sini

Selepas menikah, saya memang tidak segera berusaha mencari rumah. Alasan utamanya keuangan saya belum mencukupi.  Baru setelah berjalan beberapa bulan, saya dan istri saya mulai mencari-cari hunian mana yang cocok untuk kami.

Bagi mereka yang hidup dalam sistem kekerabatan Jawa, urusan rumah bukan hanya soal selera pribadi. Tapi juga selera orang tua dan mertua. Tak jarang hal-hal seperti ini mengundang friksi. Beberapa kali kami mengalami hal ini, tapi sejauh ini kami sudah membereskannya. Lebih tepatnya, nekad jalan terus karena rumah yang kami incar rupanya ikut aliran Agung Podomoro. Bulan depan harga naik.

Untuk kami yang tidak dilimpahi warisan kekayaan berlebih seperti anak cucu Bakrie, KPR adalah solusi paling solutif untuk memiliki rumah. Bukankah hidup adalah proses? Dan KPR adalah perwujudan paling hakiki tentang hidup. Cicilan demi cicilan yang kita bayar ke bank adalah tentang bagaimana berproses *macak filsuf

Ketika kita mau menjalani KPR, kita harus sadar bahwa akan ada 5, 10, 15, atau 20 tahun yang akan mengubah hidup kita. Percayalah akan ada lompatan besar setelah tanda tangan kita dibubuhkan di lembar akad kredit. Lompatan pertama tentu saja kebanggan sebagai kepala keluarga. Bukti sahih kepada mertua bahwa kita bertanggungjawab terhadap anak perempuannya.

Lompatan kedua adalah bagaimana KPR mengubah pola konsumsi kita yang pada akhirnya akan mengubah pola pikir. Saya biasanya jarang pikir panjang untuk membeli sesuatu, biasanya CD musik, buku atau pakaian. Sekarang setelah resmi jadi anggota Klub KPR saya jadi sangat hati-hati tiap masuk toko. Selektif. Dan perlahan pola pikir itu mulai merasuki saya……

Tapi yakinlah, dibalik itu semua sesungguhnya rumah (nyicil) sendiri adalah kenyamanan hakiki bagi seorang lelaki. Kenyamanan akan kebebasan yang sulit untuk ditemukan saat hidup menumpang. Dan ingatlah petuah God Bless dalam Rumah (KPR) Kita

Haruskah kita di rumah mertua yang penuh dengan tanya….Lebih baik disini, rumah nyicil sendiri”

Untuk yang mau ber-KPR sila pantau tagar #DemiKPR yang berseliweran di waktu-waktu selo tak terduga. Pengalaman saya ngurus KPR bisa disimak disini

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>