Lagu-lagu yang Sebaiknya Didengar Sebelum Memutuskan Putus dengan Pacarmu

Saya minta maaf sebelumnya kalau nanti dianggap sok tahu. Maklum, begini-begini saya belum pernah putus dengan pacar wong sekalinya pacaran terus berlanjut ke pernikahan hehehe. Tapi kalau nyaris putus sih kayaknya sering. Jadi tempat sampah teman-teman yang baru putus juga lumayan.

Buat yang hubungan bilateral dengan pacar sedang dalam tahapan vivere peri closo, ada baiknya dengar lagu-lagu berikut sebelum ketok palu.

2 D – Masih Ada

Kalau dari liriknya, “Masih Ada” berada dalam masa reses saat pasangan sama-sama mengambil jarak  untuk mengambil keputusan. Melanjutkan hubungan cinta atau memilih bubar jalan saja. Rupanya salah satu pihak gak betah kalau harus terus berjauhan dan karena gengsi dalam hati  bersenandung, ” Ada bayanganmu di mataku. Dan senyummu membuatku rindu.”

Tapi setinggi-tingginya gengsi, akhirnya luluh juga kalau urusannya sudah soal hati.

Haruskah kuteteskan air mata di pipi

Haruskan kucurahkan segala isi di hati

Oh haruskah kau kupeluk dan tak kulepas lagi

Agar tiada pernah ada kata berpisah du…du…du…du…du…du

KLa Project – Gerimis

Saya selalu suka dengan lirik-lirik KLa. Satu sisi, KLa sangat elegan dengan penggunaan metafor diantara begitu banalnya lirik lagu-lagu Indonesia, terutama saat ini. Tapi bagusnya, keeleganan KLa ini tidak membuat ada jarak dengan pendengar. Salah satunya di lagu “Gerimis”  ini.

“Gerimis” adalah gambaran prahara dalam hubungan cinta (jiluk, omonganku soyo ra ceto koyo selebtweet adol buku!). Ada tangis bagai gerimis setelah sekejap badai datang mengoyak kedamaian (habis putus mungkin?). Tapi mosok hubungan yang sudah dibina bertahun-tahun harus amblas cuma gara-gara soal sepele? Kalo kata mbak-mbak kantoran Sudirman sih, gak worth it banget deh…

Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua
Dan bukan menyerah untuk berpisah…

Oh ya, yang jadi model videoklipnya Dian Sastrowardoyo.

Sheila On 7 – Dan

“Sebagai perempuan, saya merasa  “Dan” berhasil menurunkan ego laki-laki yang biasanya kegedean gengsi,” Lidwina Mutia, dalam Sheila On 17

Ada semacam ilmu pasti dalam pacaran yang penuh dinamika. Bisa dikatakan semacam siklus rantai makanan. Kira-kira begini: Bikin salah – Nggak sadar-sadar – Hampir putus – Baru nyadar – Bikin salah lagi.

Dalam fase kritis Hampir Putus itu, Duta bernyanyi pilu sekali, sepertinya sudah menyadari kekhilafannya. “Dan bukan maksudku, bukan inginku melukaimu sadarkah kau disini ku pun terluka?”

Tapi mungkin kesalahan yang dibuat sudah fatal. Kekasihnya sudah tinggal mengetok palu. Sepertinya sudah tak ada harapan, kecuali dengan merelakan untuk dilupakan dan dicaci maki.

Lupakanlah saja diriku bila itu bisa membuatmu

Kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala

Caci maki saja diriku bila itu bisa membuatmu

Kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala

Rita Effendi – Telah Terbiasa

Gagal move on kalau kata anak gaul Indomaret. Ya gimana mau move on kalau rem nya sudah terlalu pakem?

Bibir yang bisu telah terbiasa memanggil namamu

Lengan yang beku telah terbiasa memeluk dirimu

Pun kalau dipaksakan move on, malah bisa putus tali rem. Bukankah ada ungkapan putus cinta  sudah biasa, putus rokok merana, putus rem matilah kita ?

Toh, sudah susah-susah nyari malah mau putus. Memang situ sanggup buat nyari yang baru lagi?

Lama aku mencarimu

Cinta yang selalu kudamba

Jangan pernah lepas, berpaling lagi

Karena ku telah terbiasa…mencintaimu

 

Jadi selamat memutuskan untuk….putus…atau lanjut hehe

 

 

 

 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>