Bergaya dalam Bencana

Kamis (13/2) malam gunung Kelud di Jawa Timur bergolak. Abu vulkanik imbas erupsi terbawa ke angin ke arah barat, dan mulai menghujani langit Jogjakarta dan sekitar pada Jum’at (14/2) dinihari.

Jumat, seperti biasanya, adalah hari para pelancong untuk berlibur akhir pekan. Mencari suasana baru di kota lain yang tak terlalu jauh jaraknya untuk kembali lagi di Minggu malam. Dan akhir pekan kemarin tak seperti biasanya. Jogja, salah satu destinasi liburan akhir pekan favorit, jadi lautan debu vulkanik.

Bagi warga Jogja dan sekitar ini sudah biasa karena hidup mereka yang dekat dengan Merapi. Untuk para pelancong, ini mungkin pengalaman kali pertama sehingga perlu untuk mendokumentasikan kejadian langka ini.

***

Kita sampai pada era dimana konsep aku menjadi fokus utama dalam interaksi. Saya menduga ini terkait dengan kenaikan tingkat kesejahteraan yang ditandai dengan kemunculan kelas menengah baru. Konsep Hierarchy of Needs Abraham Maslow bisa menjadi pisau analisis yang berguna. Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, apalagi yang dibutuhkan kalau bukan aktualisasi diri?

Meski demikian, konsep Maslow tadi juga menimbulkan pertanyaan saat mereka yang belum terpenuhi kebutuhan akan keterikatan dan cinta (belongingness and love needs, baca: jomblo, bujang lapuk, apalah itu) juga sibuk mengaktualisasikan diri. Tapi saya sedang malas bicara soal cinta-cintaan dulu hehe.

Kebutuhan aktualisasi diri ini kemudian dijembatani dengan baik oleh keberadaan media sosial. Media sosial seperti menjadi liga kompetisi aktualisasi diri. Perolehan poin didapat dari jumlah like di Facebook dan Instagram, retweet di Twitter, atau repath di Path. Sayang, sampai sekarang saya masih belum menemukan siapa badan otoritas semacam PSSI atau FA di ranah sepakbola yang bisa menentukan juara di masing-masing liga.

***

Saat hujan abu di Jogja, saya sedang bersiap pulang ke Muntilan untuk menjenguk nenek saya yang sedang sakit. Akhir pekan pun saya habiskan di rumah sakit, toh kalaupun bisa keluar untuk sekedar cari angin yang didapat adalah tamparan abu vulkanik. Minggu (16/2) malam saya pulang menumpang kereta malam Bima dari stasiun Tugu, Jogjakarta.

Di Tugu saya melihat pemandangan khas Minggu malam. Wajah-wajah perantau rombongan PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad) dan pelancong akhir pekan. Yang disebut terakhir mudah saya kenali. Tas punggung, baju casual, tentengan oleh-oleh (biasanya Bakpia), dan aksen bicara luar daerah (yang terbanyak gue elu ala Jakarta dan sekitar)

Saya terpikir untuk mengetahui apa yang mereka lakukan di liburan akhir pekan yang tak biasa ini. Dan kemudian muncul ide riset selo yang dikerjakan dengan bimbingan dari Bandung Bondowoso Institute for Sistem Kebut Semalam.

***

Saya mencari foto-foto selfie para pelancong. Supaya mudah, pencarian saya batasi hanya di ranah Twitter (nek arep luwih akeh kene njaluk duite). Metode saya adalah melakukan pencarian dengan hashtag #jogja #tugu #malioboro #vacation dan #traveling.

Pola ini memudahkan dalam pencarian karena ini yang umum digunakan pelancong dalam mengunggah foto di akun Twitter mereka yang biasanya juga terhubung ke Instagram. Tugu dan Malioboro sendiri  adalah salah satu destinasi populer pelancong, yang hanya dibatin oleh warga Jogja dengan halah kene ki mbendino liwat kono mas.

Setelah mendapat obyekan (jilak bosoku koyo tukang ojek) saya melakukan verifikasi dengan melihat bio Twitter. Saya memastikan yang obyek riset ini adalah benar-benar pelancong, atau apes-apesnya ya yang baru sekali lihat hujan abu.

Beberapa tangkapan saya bisa disimak dibawah ini. Nama akun sengaja saya tutupi cat ireng dop meling-meling biar hidupnya tenang :

Asal                        : Tangerang Selatan

Lokasi foto             : Malioboro

12

 

Asal                        : Samarinda-Banjarnegara-Bali

Lokasi foto          :  Tugu

3

 

Asal                        : Wetan (East Indonesia)

Lokasi foto             : Malioboro

4

Asal                          : Balikpapan

Lokasi foto              : Tugu

5

Asal                        : Samarinda

Lokasi foto              : Jalan Solo (bedo dewe ki, indie!)

6

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>