Titip Surat Buat Bapak

Assalamu’alaikum, Pak

Sebetulnya semalam saya ingin ngobrol panjang soal hajatan tanggal 9. Tapi karena saya keburu ngantuk setelah kena macet Jakarta yang semakin ambyar, niatan tadi menguap bagi iler. Lebih baik saya tulis saja apa yang ingin saya sampaikan karena saya ingat sekali bapak pernah memuji kemampuan menulis saya di depan murid-murid bapak.

Setelah saya nikah kita memang jarang ngobrol panjang. Memang agak aneh juga ya relasi kita ini ya pak. Dulu sebelum nikah saya sering sekali berselisih paham dengan bapak. Hal apa saja ujung-ujungnya ribut. Sekarang setelah saya menikah dan pindah rumah, ibu justru sering bilang ke saya kalau bapak tiap Sabtu datang selalu menanyakan saya pulang ke Darul Fallah jam berapa.

Mungkin kali terakhir kita ngobrol panjang waktu kita dan ibu pulang ke Muntilan menghadiri acara keluarga bulan Mei kemarin. Istri saya tak ikut saat itu karena urusan pekerjaan. Sepertinya memang perjalanan itu sudah diatur supaya kita bisa kembali ngobrol panjang sebagai bapak dan anak.

Untuk kesekian kali kita bicara soal kondisi terakhir negara. Saya ingat bapak tiap Pemilu lebih memilih diam di rumah nonton siaran tinju ketimbang datang ke TPS. Saya agak heran waktu Pemilu Legislatif kemarin bapak justru sudah punya pilihan calon wakil rakyat. Dan saya kaget saat bapak ternyata juga sudah punya pilihan calon presiden.

Bapak memilih Prabowo

Saya sadar, pilihan hak tiap orang. Termasuk bapak dan saya. Tapi maaf pak kalau kali ini saya harus sedikit menentang pilihan bapak. Kalaupun penentangan ini dianggap sebagai bentuk kedurhakaan anak pada orang tuanya, biar saya sendiri yang tanggung dosanya.

Saya masih bisa menerima kalau alasan bapak memilih Prabowo adalah karena ada ikatan emosional bapak sebagai anak petani, kemudian sempat bertani, dan sekarang menjadi guru di sebuah pesantren pertanian.

Dan saya ingat alasan lain bapak memilih Prabowo adalah keyakinannya akan membela kepentingan umat Islam.

Pak, saya masih ingat waktu ada seorang pengasuh pesantren yang mempersoalkan pemakaian celana jeans. Saya ingat bapak enteng saja menanggapi usul konyol tadi dan memberi contoh saya dan adik-adik saya malah selalu memakai celanan jeans di berbagai kesempatan.

Saya ingat bapak justru tak suka kalau ibu memakai kerudung ekstra besar dan baju gamis seperti akhwat-akhwat itu dengan alasan menyusahkan saat dibonceng.

Dan yang paling membuat saya bangga, bapak justru mengenalkan nama-nama seperti Koes Plus, Panbers, ketimbang Raihan, Snada atau Justice Voice. Paling yang membuat saya sebal kalau bapak berulang kali menyuruh saya mengecilkan volume speaker saat saya sedang memutar kaset Queen.

Kelupaan pak, saya juga ingat bapak memberi pesan supaya saya menyeimbangkan kesenangan nonton konser musik dan pergi ke bioskop dengan frekuensi kedatangan saya ke pengajian bulanan tiap Minggu pagi di masjid.

Dan ketika bapak memilih Prabowo, ketakutan saya muncul. Bukan sekedar bapak akan menyuruh saya memakai celana bahan ngatung dan meminta adik-adik dan istri saya meninggalkan celana jeans. Tapi juga ketakutan cerita masa kecil yang sering ibu ceritakan akan terulang lagi.

Ibu, dengan rasa bangganya, bercerita kalau sejak saya masih bayi merah sudah sering ditinggal bapak tiap malam untuk membina umat di kampung bapak di Sawangan, di lereng gunung Merapi di Magelang sana. Sampai sekarang kebanggaan itu masih ada karena setiap saya pulang sendiri mengunjungi kampung bapak, orang-orang selalu bertanya kapan bapak pulang lagi dan kembali menetap disini.

Tapi yang paling saya ingat bahwa cerita ibu kalau bapak pernah dipanggil aparat terkait aktivitas keagamaan bapak. Bagaimana bapak, juga pakdhe, buru-buru mengubur buku-buku agama saat ada yang mengabarkan aparat sebentar lagi akan menyisir rumah.

Bapak juga pernah cerita kan bagaimana tengiknya kelakuan aparat saat bapak dipanggil rapat di kantor kecamatan Ciampea?

Saya selalu mendoakan supaya hal itu tak terjadi lagi pada bapak. Bapak harusnya menikmati masa tua dengan tenang. Melanjutkan hobi menanami lahan kosong sambil nggendong cucu yang sampai sekarang sedang saya usahakan kehadirannya. Mohon doanya saja pak.

Tapi waktu bapak bilang akan memilih Prabowo, sepertinya saya harus berdoa lebih banyak dari biasanya.

Bapak tentu ingat bagaimana Soeharto dulu di awal membangun rezim menggandeng umat Islam tapi saat dia semakin empuk di kursi kekuasaan, satu demi satu disikat. Tentu saja saya tak perlu menjelaskan panjang lebar karena bapak sendiri juga pernah merasakannya.

Dan maaf pak, saya lihat kecenderungan yang sama ada di calon pilihan bapak. Saya tak bisa membayangkan calon yang didukung oleh koruptor berkedok ustadz dan tukang gebuk bertopeng sorban akan membela kepentingan Islam seperti yang bapak inginkan.

Karena saya percaya bapak bukanlah bagian dari kelompok yang menjual nama Allah demi recehan.

Karena saya percaya bapak tetaplah bapak yang lebih suka Koes Plus daripada nasyid.

Karena saya percaya bapak tetaplah bapak yang saya banggakan.

Tapi saya tetap menghormati pilihan bapak sambil tak lupa mengucapkan permohonan maaf. Maaf pak, saya nyoblos Jokowi.

Salam dua jari dari saya, istri, dan adik-adik.

Oh ya pak, ini bukan surat terbuka anaknya Amien Rais, jadi tak perlu dibalas. Besok pagi saya pulang kok.

Wasalamu’alaikum

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>