Upaya Pongki Menyegarkan Diri

Daur ulang jadi semacam upaya menyegarkan karya dengan situasi hari ini, juga bagian dari bertahan hidup. Bicara album daur ulang, tribute, atau konsep yang sejenis dengan itu, pemilihan artist pendukung adalah hal krusial.

Saya melihat ada 2 pola dalam pemilihan artist pendukung. Pertama, kontrol sepenuhnya ada di tangan si musisi, dari pemilihan sampai produksi. Poin plusnya, keluaran lagu sejalan dengan apa yang dimau oleh si musisi. Kekurangannya, karakter artist pendukung tak bisa dikeluarkan maksimal.

Pola kedua, negosiasi musisi dengan label. Tentunya ini ada hitung-hitungan bisnis. Label biasanya memilih nama-nama yang sedang terkenal. Kelebihannya, tentu gampang dijual. Nilai minusnya, keluaran lagu seringkali mengecewakan, termasuk hilangnya signature lagu tersebut. Contoh yang masih segar adalah album Anugerah Terindah dari Sheila On 7.

Pongki Barata, sepertinya memilih pola pertama untuk album Pongki Barata Meet The Stars. Sebelas artist pendukung yang ambil bagian, sebagian besar menginterpretasikan ulang karya-karya Pongki dibawah kendali ex.frontman Jikustik yang sekarang memperkuat The Dance Company ini. Hasilnya, tidak mengecewakan. Beberapa malah memberikan nafas baru yang lebih segar.

Memilih dan menempatkan Tulus menyanyikan “1000 Tahun Lamanya” adalah strategi jitu. Tulus kini sedang menjadi kesayangan penikmat musik Indonesia pasca kesuksesan album Gajah. Tulus membuat “1000 Tahun Lamanya” yang genit menjadi begitu hangat dan kaya lewat sound Motown yang jadi cetak biru musiknya.

Begitu juga dengan penampilan girl band Blink yang menyanyikan kembali “Seindah Biasa” yang secara mengejutkan menginterprestasi dengan baik lagu yang aslinya diciptakan untuk Siti Nurhaliza tersebut . Maklum, saya agak trauma dengan kehadiran girlband atau boyband di album tribute.

Track kedua kembali mengambil karya Pongki di era Jikustik. “Bahagia Melihatmu Dengannya” adalah salah satu lagu Jikustik kesukaan saya. Lebih ke alasan personal sih karena waktu itu saya baru saja ditinggal kabur bribikan. Oke kembali ke topik. Tidak banyak yang berubah, kecuali tentu vokal Astrid. Itu saja. Juga saat Endah N Rhesa membawakan “Untuk Dikenang”. Kecuali gaya beryanyi Endah yang seperti bercerita, selebihnya biasa saja.

“Aku Bukan Pilihan” terlalu datar saat dinyanyikan Rio Febrian. Memang susah membawakan lagu yang sebelumnya dibawakan penyanyi berkarakter kuat seperti Iwan Fals. Kehadiran Pongki yang ikut bernyanyi juga tidak banyak membantu mengangkat emosi lagu ini.

Ada cerita lucu di lagu “Seperti Yang Kau Minta”. Lagu ini aslinya ada di album Dekade milik Chrisye. Saat lagu ini dirilis tahun 2002 silam, saya yang waktu itu masih kelas 2 SMA di kota kecil Muntilan tidak tahu siapa penciptanya. Lalu saat di televisi ada acara tribute to Chrisye, Jikustik membawakan lagu tersebut. Pongki cs. begitu menjiwai lagu tersebut, tidak seperti performer lainnya. Begitu membaca credit title-nya saya cuma bisa tertawa geli sembari menepuk jidat, “Pantes!”. Ketika Pongki kali ini membawakannya sendiri, tidak ada yang berubah. Justru makin ada tambahan energi dari kompatriotnya di The Dance Company, Baim, yang bertanggungjawab di departemen gitar.

Selain reuni sesama ex. Jikustik di “Pandangi Langit Malam Ini”, Pongki juga menghadirkan kembali  sound khas Jikustik: harmonisasi vokal, aransemen pop akustik yang sedikit-sedikit dibubuhi distorsi gitar, keyboard yang cukup dominan, juga lirik yang, meminjam istilah pak Singo, romantic-tragic.

Nomor “Bertanya-tanya” mengingatkan pada “Melupakanmu” di album Malam , penutup dari babak kedua trilogi album Jikustik sekaligus momen terakhir Pongki bersama band yang didirikannya tahun 1996 silam. Sedangkan “Ada Aku Disini” dari segi lirik dan aransemen sedikit mengingatkan pada “Menyelamatkanmu” yang ada di album Kumpulan Terbaik.

Sejujurnya, saya awalnya malas membeli album ini karena distribusinya secara ekskusif dilakukan oleh jaringan restoran cepat saji KFC. Lucunya, ketika saya menulis kritikan pada model penjualan album semacam ini, respon yang paling bagus adalah argumen dari…Pongki!

Album Pongki ini kemudian menjadi album kedua yang saya beli sambil memesan ayam goreng tepung, setelah Seperti Seharusnya dari NOAH. Alasan kuatnya, karena Pongki adalah salah satu penulis lirik bahasa Indonesia kesukaan saya.

Signature Pongki adalah tidak pernah ada kata “cinta” di semua lagu bertema cinta yang ditulisnya. Jikustik yang ditinggalkannya pada Maret 2011 silam seperti “menyerah” dan mulai menyisipkan kata “cinta” di album pasca  Pongki pamit.

Sayang, album yang merangkum kekuatan Pongki dalam menulis lirik ini tidak dibungkus dengan kemasan yang layak. Saya yang kebetulan hanya membeli album saja tanpa beli paket ayam goreng, sama dengan yang saya lakukan saat membeli album NOAH, hanya mendapat sekeping CD yang dibungkus dengan desain sampul yang terlalu biasa.

Tidak ada liner notes apik yang menceritakan secara singkat namun padat kisah-kisah dibalik lagu seperti di album Perjalanan Panjang, atau desain minimalis menyejukkan mata di album Pagi. Dua album yang menjadi catatan diskografi Pongki di Jikustik.

Bagi saya, ini PR besar untuk musisi-musisi yang merilis album lewat KFC. Sudah susah payah membuat album mosok bungkusnya tak lebih gurih dari sepotong dada ayam goreng Original Recipe. Kriukkk…

Track list:

  1. Tulus – 1000 Tahun Lamanya
  2. Astrid – Bahagia Melihatmu Dengannya
  3. Mike Mohede – Setia
  4. Endah N Rhesa – Untuk Dikenang
  5. Pongki Barat ft. Baim on guitars – Seperti Yang Kau Minta
  6. Lea Simanjuntak – Menangis Semalam
  7. Rio Febrian ft. Pongki Barata – Aku Bukan Pilihan
  8. Kotak – Selamat Malam Dunia
  9. Pongki Barat ft. Aji Mirza Hakim – Pandangi Langit Malam Ini
  10. Blink – Seindah Biasa
  11. Pongki Barata – Ada Kamu Disini
  12. Pongki Barata dan Sophie Navita – Stay Close
  13. Pongki Barata – Bertanya-tanya
  14. Pongki Barata dan Sophie Navita – Setia

11 Comments

  1. singolion Reply

    lagu Ada Kamu Di Sini dan Bertanya-tanya mempertegas kegemaran Pongki akan lagu bergenre country. Pongki cerdas dengan tak memainkan genre itu dengan “telanjang”, nuansa pop masih kental di sana. Album solonya, Sunrise (2011) lebih terasa suasana country-nya. Mungkin juga karena di album Pongki Meets The Stars ini hanya 2 lagu jadi tidak terasa.
    Sebenarnya, saya sudah memahami ini tapi tak menuliskannya di review yang saya buat. ndak mengko kedawan, aku diarani crigis. hahahahaha

    1. masjaki Reply

      Kalo yang “telanjang” malah di Jikustik ya Pak? Dari jaman “Hutan”, ada fusi sedikit dengan musik etnik Kalimantan, sampai yang paling kentara menurut saya ya di “Kawan Aku Pulang”.

      1. FINDO Reply

        setuju sih, “Aku Bukan Pilihan” terlalu datar saat dinyanyikan Rio Febrian. tapi saya masih suka, haha.
        kenapa Lea nggak disinggung? menurut saya itu salah satu lagu yang kuat di album ini, karena suaranya keren juga sih.
        terus yang Astrid saya paling nggak suka

        ini pandangan awam aja sih mas, 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>