Agung Rahmadsyah: “Harusnya Band Sidestream Gak Banyak Ketergantungan Sama Media”

Setelah mas Widiasmoro memberi respon atas wawancara saya dengan Duta di Rolling Stone Indonesia, tanggapan berikutnya datang dari Agung Rahmadsyah. Sosok yang telinganya sudah distempel hak milik oleh Pink Floyd ini memberikan perspektif mengenai konsep major label dan indie, yang menurut dia lebih tepat sebagai mainstream dan sidestream, lewat pengalamannya di demajors Independent Music Industry (DIMI) selama kurun waktu 2013 hingga 2014.

Pure Saturday dan Efek Rumah Kaca adalah beberapa nama yang masuk di katalog perusahaan rekaman yang sedang mengembangkan diri sebagai pusat kreativitas yang mencakup toko, tempat pergelaran, radio online, dan studio rekaman ini.  Selama di demajors, Agung pernah menangani promosi Endah n Rhesa, White Shoes and The Couples Company, Superglad, Morfem, sampai Tulus.

Kepada saya, Agung berusaha meluruskan konsep indie dan major, pentingnya promosi di radio daerah, juga hal yang perlu dipersiapkan untuk band yang akan memilih jalur indie, eh maksud saya, sidestream.

***

Agung (A) : Aku tanya duluan ya. Kenapa Duta pikirannya masih indiemainstream ? Untuk seorang frontman Sheila On 7, sekte yang notabene punya banyak pengikut, harusnya lebih peka buat mengeluarkan istilah itu. Apalagi jaman sekarang ya. Itu aja sih yang aku sayangkan dari statement-nya. Bisa-bisa bikin kondisi musik jalan ditempat dan sibuk membahas indie-mainstream. Kudunya lebih sering nongkrong bareng Zoo, Senyawa, atau minimal Shaggydog biar perspektifnya luas. Jogja gudangnya band-band gila.

Saya (S) : Biar dia yang jawab soal itu. Kalau konsep indie dan  major itu sebenernya bagaimana selama kamu ada di entitas distribusi musik independen itu?

Pada dasarnya sama aja. Gak ada istilah indie-major. Semuanya menuntut perjuangan. Cuma istilah ini dipakai buat ngebedain mana band yang bisa diputer di radio dan mana yang enggak. Contohnya kala lagu-lagunya Death Vomit bisa diputer di Gen FM ,aku cukup yakin kalau mereka akan radio visit.

Jadi lebih ke akses media ya? Bukan melulu soal pola kerja atau malah merujuk ke genre?

Sejauh ini bukannya di Indonesia begitu? Sekarang NET TV  lewat Indonesia Morning Show ada beberapa band yang so-called indie dikasih kesempatan dan mereka menyambut dengan baik. Inget kasus Radio Show di TV One kan? Apa coba namanya kalo mereka gak butuh perhatian media mainstream ? Jadi aku lebih suka nyebutnya ini habitat sidestream dan mainstream. Persoalan selanjutnya adalah yang pengen ambil jalur sidestream atau mainstream itu belum tau atau males cari tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa hidup,

Menurutmu masih ada yang salah kaprah soal indie?

Hahaha. Kowe (kamu) ngertilah indie iku kan kependekan dari independent. Nah,harusnya usaha buat independent yang digedein bukan ngecapnya. Akeh (banyak) kok band2 yang so-called indie tapi masih heran kalau lagunya gak diputer di radio FM. Beda alam bos. Harusnya ngertilah hukumnya kalau mau diputer di radio FM di Indonesia. Itu baru radio, belum TV. Intinya sih sekarang harusnya band sidestream gak banyak  ketergantungan sama media, tapi gimana caranya bikin diri lu keren tanpa motivasi keren-kerenan. Ntar kalau udah banyak yang mengakui lu keren, media bakalan latah kok.

Menurutmu apa menjadi sidestream artinya bisa bebas seratus persen dari sistem konvensional?

Maksudnya sistem konvensional yang ada di Indonesia saat ini? Itu kan sistem mainstream.

Mungkinkah buat bikin sistem sendiri dan hidup serta besar dari situ?

Bisa banget. Aku ambil contoh Seringai ya. Mereka bikin CD dan ada Pajak Pertambahan Nilai. Itu masuk sistem. Distribusi juga ikut sistem yang ada, tapi cuma sebatas itu aja. Sisanya mereka sibuk dengan berkegiatan yang membuat mereka keren. Bikin event, piringan hitam, merchandise, dan lain-lain.

Soal radio. Radio daerah itu lebih berani mengambil varian “kudapan” ketimbang radio-radio kota besar. Istilahnya radio di kota besar sibuk berebut donat J.Co sekotak. Nah radio daerah asik aja bisa milih lemper bahkan tumpeng. Jadi radio-radio di daerah itu perlu diperhatikan juga kalau bicara soal sistem konvensional. Emang mau lagu lu kedengeran cuma Jakarta, Bandung, atau Jogja aja? Itu kota udah sama-sama penat. Gak mau gitu piknik ke Bunaken atau Pulau Weh? Indonesia bukan Jawa aja bro. Pulau-pulau lain masih banyak

Pulau Biru juga bisa. Oke balik ke topik. Band sidestream menurutmu mending hidup dari  jualan album apa manggung dan bikin merch keren?

Semuanya perlu. Manggung itu pertanggung jawaban mereka sebagai penampil dan album itu adalah pendokumentasian karya mereka. Sebenernya soal album itu gak ada keharusan. Balik lagi ke musisi atau bandnya. Mereka mau apa enggak. Bandnya Syd Barrett setelah Pink Floyd, namanya Stars. Itu jadi urband legend di Inggris. Tapi Syd Barrett gak mau rekaman dan manggung cuma tiga kali. Gak bisa dipaksa. Semua balik lagi ke kebutuhan senimannya.

Kalau pilihan Sheila On 7 keluar dari major label lalu jadi band sidestream menurutmu sudah tepat?

Kalau yang aku baca dari wawancaramu, mereka ada unsur sakit hati ya? Bener gak?

Ya mungkin ibarat sudah puncak kekecewaan ya. Kasus album tribute itu juga jadi salah satunya. Apalagi kemudian muncul pilihan untuk gak gabung sama major label lagi…

Nah itu, susah dibahas kalau udah urusan hati. Apalagi buat mereka itu semacam hal prinsipil. Kalau mereka gak nyaman ya jangan diterusin. Aku gak tau apa yang membuat mereka “trauma” sama mainstream. Barangkali mereka dapet cerita dari temen label mainstream tetangga kalau kondisi disana juga gak jauh beda hehehe.

Menurutmu apa yang membuat pilihan jadi band sidestream itu sebagai harapan buat bertahan?

Wah ini pertanyaan oke. Mereka harus berjuang buat mereka sendiri. Mostly,band-band  sidestream itu learning by doing. Dan pengalaman yang bikin mereka ngerti apa yg harus dilakukan buat beradaptasi dan bertahan karena mereka berjuang buat diri mereka sendiri. Sementara itu di habitat mainstream,para seniman itu gak dikasih pengalaman buat mengetahui apa yang terjadi di sana.

Aku sempet ngobrol sama Udet “Neo” soal pengalaman dia di tahun 90-an. Jaman-jaman single “Borju” jaya. Ibarat raja wis kabeh wis dicepakno (semua sudah disiapkan). Sekarang Neo gabung ke demajors. Dia bingung harus gimana. Temen-teman di radio FM gak ada yg bisa bantu banyak karena sistemnya begitu. Sistem mainstream kacrut.

Apa kesalahan yang  sering kamu temuin di band-band  yang baru mencemplungkan diri sebagai band sidestream? Terutama yang dulu pernah di posisi mainstream

Manja dalam mengurus diri sendiri. Kalo udah bisa tegas dan keras sama diri sendiri sebenernya mereka akan lebih pinter. Karena pengalaman mainstream itu harusnya jadi poin lebih,terutama segi popularitas.

Ada yang agak lucu. GIGI sudah lama gak di major label. Sekarang jalan dengan manajemen sendiri. Tapi publik masih bilang mereka band mainstream.

Haha, itu karena mereka terlanjur sering diberitain. Solusinya menurutku adalah bikin dokumenter dan menjelaskan kalau mereka bukan band mainstream lagi,sekaligus jelasin apa alasannya. Persoalannya,mereka mau apa enggak menyisakan waktu buat bikin itu? Kan mending bikin biopic yg ngehe,hahaha.

Benar segi distribusi yang harus dikuasai?

Semuanya harus dikuasai. Terlepas mainstream atau sidestream, harus terus belajar tentang apa yg terjadi. Beradaptasi dalam perubahan. Itu yang penting menurutku. Kalau soal distribusi itu sih macem petani menyerahkan barang ke tengkulak aja,Kalau dirasa gak memberatkan ya monggo (silahkan). Tapi kalau gak suka,ya cabut aja bikin jalur distribusi sendiri atau gabung ke yang sreg.

Nek kowe isih kontak-kontakan karo Duta (Kalau kamu masih kontak-kontakan dengan Duta), coba minta dia dateng ke Indonesian Netaudio Festival di IFI Bandung mulai Jum’at sampai Sabtu besok.

Apa yang perlu disiapkan band yang akan memulai terjun di ranah per-sidestream-an?

Pertanyaan pertama: seberapa merasuknya musik ke dalam diri lu? Sisanya: buktikan. Ini gak berlaku buat habitat mainstream atau sidestream. Ini menurutku rumus general. E=mc2. Talk is cheap,honey.

2 Comments

  1. widiasmoro Reply

    mas Agung ini lucu.

    gak ngebolehin Duta ngomong indie-mainstream.. tapi disini menekankan pentingnya sidestream-mainstream. padahal sih gak perlu kotak-kotakan. radio atau media cuma cari lagu yang bakalan disenengin orang banyak dan sesuai dengan segmen programnya. common-sense. ini demi mendapatkan kualitatif pendengar agar dikonversikan menjadi income dari jualan iklan. gak peduli mau indie, mainstream, sidestream atau stream stream yg lain. tapi gimana konten musik dapat ngebantu bisnis mereka.

    tapi gue setuju kalo artis harus lebih paham tentang industrinya

  2. agung rahmadsyah Reply

    Halo mas Widi, selamat siang. Ini aku kasih tanggapan ya? Tapi mungkin agak panjang, cenderung ngoceh dan memuakkan.

    Pertama saya sama sekali gak ada obrolan gak ngebolehin mas Duta buat ngomong itu, cuma menyayangkan aja kenapa dia gak peka kalau isu tersebut sebenernya gak asik untuk dibicarakan. Aslinya saya juga males kalau di ranah ini itu bahas indie-major atau sidestream-mainstream atau alternatif-utama. Karena buat saya lagu itu murni soal selera. Kaya makanan aja, enak atau enggak, doyan apa enggak. Maaf gak pakai istilah musik, soalnya saya agak berhati-hati menggunakan istilah musik, bunyi dan suara setelah merujuk beberapa referensi.

    Cuma kalau diambil benang merahnya semuanya adalah dagang dan cara dagang kan beda-beda, mau produk apapun itu. Itu sebabnya kenapa saya lebih suka istilah mainstream & sidesteram, buat menyederhanakan segmentasi pasar sekaligus metode apa yang (sekiranya) cocok buat calon konsumen mereka. Misalkan mas Widi gak suka sama istilah saya atau merasa keberatan ya gak apa-apa juga.

    Selama pengalaman di label mas Widi pasti ngalamin soal durasi lagu yang bisa diputer, terus soal lagu “berat”, belum lagi sesi hearing yang berujung di amplop. Aku sih gak mau tutup mata karena emang sistem media mainstream kita kaya gitu kan? Sehinga menurt saya itu kacrut. Saya gak paham ya kalau diluar negeri seperti apa, pergaulan masih belum sampai sana soalnya. Hehe

    Yang sebenernya lebih saya sayangkan adalah kenapa seniman olah bunyi yang merasa tidak terfasilitasi oleh media mainstream (dan mungkin label mainstream) kemudian merasa heran, kaget bahkan sampai kesal? Haha, menurut saya kurang pas aja. Salah habitat nampaknya, belum atau gak paham aturan mainnya barangkali?

    Permasalahan selanjutnya kan musisi yang di habitat sidestream itu kan punya kelebihan berwujud ego (baca: kendali) yang tinggi atas karya mereka, sementara media massa mainstream gak butuh itu.

    Nah ketimbang mikirin gimana caranya nembus chart radio, lebih baik energinya dipakai buat yang lain toh? Yang sekiranya bisa bikin mereka keren dengan karya bukan rumor, meskipun kalau dalam dunia dagang itu rumor ibarat bumbu. Poin ini sih yang sebenarnya saya tekankan dalam obrolan sama denjak (nama pena bawah tanah dari masjaki).

    Maaf mas Widi kalau bahasannya nggelambyar (kemana-mana) soalnya saya berpikir kalau ranah kesenian itu gak akan bisa lepas dari aspek kehidupan yang lainnya, mungkin kalau ada waktu silahkan baca bukunya Pierre Boudieu yang judulnya “Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste” https://archive.org/details/Ebooksclub.orgDistinctionASocialCritiqueOfTheJudgementOfTaste

    Tapi, saya suka sama konten blognya mas Widi. Karena sangat informatif khusunya soal dinamika industrinya, barangkali banyak teman teman seniman olah bunyi yang belum baca blognya mas Widi jadi mereka semacam linglung. Dan apa yang dibahas bareng Aulia Naratama, Robin Malau, dan kawan lainnya di komunitas Musik Kewirausahaan & Teknologi” (Music Entrepreneurship & Technology) itu sungguh mencerahkan. Salut!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>