07 Des dan Akhir Sebuah Episode Sheila On 7

Tanggal 7 Desember, 13 tahun lalu, adalah hari pertama Sheila On 7 masuk ke studio untuk merekam materi album yang jadi sebuah penanda berakhirnya satu episode musikal mereka. 07 Des.

Selama kurun waktu 1999 hingga 2001, Sheila On 7 adalah Goliath yang sulit disaingi oleh puluhan David. Hanya perlu dua album studio, masing-masing album s/t yang jadi debut tahun 1999 disusul Kisah Klasik Untuk Masa Depan, untuk menggenggam dan melanggengkan predikat prestisius one million copies band. Dewa 19 perlu menunggu hingga album Bintang Lima (2000), sementara Jamrud baru bisa mencatatkan diri di album ke-3, Ningrat (2000).

Album 07 Des kemudian menjadi rangkuman dari pencapaian dua album sebelumnya. Pun meski angka penjualannya tidak sebanyak Kisah Klasik Untuk Masa Depan yang mencapai 1,7 juta kopi, 07 Des berhasil menjadi stempel tanda sah predikat band sejuta kopi dengan raihan penjualan 1,3 juta kopi.

Angka penjualan yang stabil juga berkorelasi dengan materi lagu yang tak banyak berubah. Meski demikian, ada beberapa track yang patut untuk disimak karena menjadi pembeda selain kenyataan bahwa semua personil menulis dan menyumbangkan suara di lagu ciptaannya (kecuali Adam yang “hanya” menulis “Bapak-Bapak”).

“Seberapa Pantas” yang didapuk menjadi hits single punya semua syarat menjadi mesin pencetak angka penjualan. Lick gitar gurih dan renyah, reffrain yang langsung menempel, juga balutan string section yang jadi formula jitu sejak album pertama.

Semuanya kemudian “dirusak” oleh bangunan alur lagu yang tak tertebak. Balada tenang di awal lagu, lalu pelan-pelan tempo dinaikkan sampai klimaksnya saat Eross menyayat gitarnya dengan gila selama 35 detik. Setelah itu tempo distel agak kendor, kemudian dihajar kembali sampai akhir lagu.

Kejutan datang lagi saat mereka menyisipkan nafas country di “Saat Aku Lanjut Usia”. Lagu ini cukup memberi penyegaran mengingat 6 track di (((SIDE-A))) dominan dengan isian string section, kecuali lagu ciptaan Eross ini serta “Buat Aku Tersenyum” yang ditulis Sakti.

Sedangkan “Mari Bercinta” yang diciptakan Anton Widiastanto adalah salah satu komposisi terindah Sheila On 7 selain “Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki”. Denting gitar dipadu string section yang lamat-lamat yang jadi intro seperti menjadi penegasan. Bagian interlude-nya sangat khas Sheila On 7, kemudian ditimpali dengan string section yang diaransir oleh Erwin Gutawa.

Secara lirik, Anton bisa mengubah kekecewaannya terhadap wanita yang sering memberi harapan menjadi susunan lirik penuh petuah bijak. “Tentukan yang utama yang satu tercinta, ‘kan jadi teman hidup yang setia”. Ada kata yang tak biasa untuk lirik musik Indonesia arus utama, ejawantah. Saya sampai cari artinya di kamus.

Nomor “Tentang Hidup” mood-nya mengingatkan pada “Dan” di album pertama. Lirik awal akhirnya semua terjadi juga yang ku takutkan yang ku elakkan menggambarkan penyesalan akan kesalahan yang tak diinginkan seperti yang ada  di “Dan”. Namun jika sebelumnya Eross sebagai penulis bersedia untuk di-caci maki dan di-lupakan agar tokoh kamu kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala, maka disini ia tak ingin meredup dan membeku lewat bertahan dengan doa dan bertanya pada Tuhan.

Entah disengaja atau tidak part aransemen string section pada bagian bridge setelah reff menjadi melodi gitar Eross yang jadi intro “Hari Bersamanya” di album Berlayar delapan tahun kemudian. Silakan simak pada menit 3:12.

Sementara “Percayakan Padaku” adalah nomor balada cantik. Versi penyempurnaan “Temani Aku” di album sebelumnya. Aransemennya lebih manis dengan pengaruh “Blackbird”-nya The Beatles serta “Road Trippin’” milik Red Hot Chili Peppers yang kental. Jika sebelumnya hanya meminta untuk temani aku selamanya, kali ini berharap tumbuh jadi pendamping.

Penutup semuanya adalah “Waktu Yang Tepat Untuk Berpisah”. Durasi enam menit tiga belas detik adalah coda untuk semua aransemen kesuksesan album-album sebelumnya. Dari string section megah ala “Anugerah terindah Yang Pernah Kumiliki”, lirik perpisahan nan getir tapi menyimpan ruang akan harapan seperti ‘Sebuah Kisah Klasik”, juga sound gitar terbaik dari semua lagu di diskografi Sheila On 7,  setidaknya sampai hari ini. Ketika Duta mengeluarkan semua kemampuan vokalnya di bagian akhir lagu, sebuah episode musikal Sheila On 7 diakhiri dengan sempurna dan indah.

Setelahnya, semuanya tak lagi sama.

***

Bisa dibilang, musik Indonesia sudah mulai memasuki taraf kejenuhan dengan Sheila On 7. Ajang AMI Awards 2002 menjadi bukti sahih dominasi mereka. Mulai dari Penata Rekaman Terbaik, Produser Rekaman Terbaik, Album Pop Terbaik, sampai penghargaan prestisius Album Rekaman Terbaik Terbaik semua disabet

Seperti biasa, selalu ada yang tidak suka. Dari sekedar kasak-kusuk, sampai yang frontal seperti Eddi Brokoli yang memakai kaos FUCK SHEILA ON 7. Karirnya di MTV langsung kena skak mat. Panggung Soundrenaline 2003 di Bandung menjadikan Sheila On 7 sebagai samsak hidup berbagai misil terbang dari penonton.

Mei 2004  mereka kembali dengan Pejantan Tangguh. Album eksperimental yang sepertinya terlalu dini untuk dikeluarkan. Duta, Eross, Sakti, Adam, dan Anton, membakar semua resep rahasia satu juta kopi.

Pendengar tidak siap untuk sebuah perubahan yang begitu drastis meski album ini masih bisa menggenggam Album Pop Terbaik dan Album Terbaik Terbaik di AMI Award 2004. Angka penjualan kemudian melorot. Di saat bersamaan, diam-diam sekumpulan anak muda Bandung tengah menyalakan sirine tanda kehadiran.

***

Setelah Taman Langit yang mencatat angka penjualan 650 ribu kopi, Peterpan langsung mengkudeta posisi Sheila On 7 lewat Bintang Di Surga pada Agustus 2004. Celah kosong yang ditinggalkan Duta dkk. langsung diakusisi dengan cerdik oleh Ariel dan kompatriotnya lewat “Ada Apa Dengamu”, “Mungkin Nanti” sampai “Ku Katakan Dengan Indah”.

Hanya perlu seminggu untuk membukukan angka penjualan satu juta kopi. Hanya satu minggu. Rekor baru kemudian dicatat. Album ini tembus sampai…3 juta kopi.

Dalam pentas seni berskala kampung, tiga dari sepuluh band yang manggung membawakan lagu Peterpan. Di panggung musik sekolah, semua vokalis menjadikan Ariel sebagai referensi vokal sampai gaya memegang mic!. Jangan tanya kalau masuk pasar atau terminal. Tidak ada lapak CD bajakan yang tidak memutar lagu Peterpan.

Kesuksesan Peterpan juga ditambah kenyataan bahwa secara visual Ariel lebih gagah daripada Duta, juga Uki lebih macho ketimbang Eross. Kawan saya bahkan mengatakan tampang Eross seperti tukang jualan bakso tusuk yang mangkal di depan SD!

Kaos kutung dan tas pinggang yang jadi outfit Ariel jadi inspirasi remaja tanggung untuk bergaya. Itu pun masih ditambah rambut belah tengah dan tatapan mata yang di-sendu-sendu-kan. Lebih dari itu, Peterpan kemudian membuka jalan bagi kemunculan band-band epigonnya. Mulai dari Hijau Daun sampai D’ Bagindaz. Apakah Sheila On 7, GIGI, Dewa 19, atau bahkan Slank punya versi “bajakan” dalam bentuk band? Silahkan kabari saya kalau ketemu.

Belum cukup sampai disitu, Anton Widiastanto mundur dari kursi drummer. Setahun berselang, Sheila On 7 berusaha merangsek dengan mengeluarkan album the best. Langkah yang terlalu terburu-buru.

Tahun 2006 akhirnya dicatat sebagai titik nadir karir Sheila On 7. Saktia Ari Seno memutuskan menarik diri dari dunia hiburan untuk meniti jalan dakwah. 507 keluar dengan nafas yang tinggal setengah meski masih menyisakan sisa kelezatan aransemen seperti “Radio”, “Ingin Pulang”, serta “Terlalu Singkat”.

Situasi global industri musik kemudian berkembang makin cepat dan tak terduga. Ring Back Tone mendadak jadi Messiah saat angka penjualan album fisik resmi mulai megap-megap karena praktek pembajakan yang menggila.

Saat band-band baru seperti Samsons atau Wali menikmati manisnya angka aktivasi RBT dan jadi miliuner dadakan, Sheila On 7 menolak tunduk.  “RBT bukan jalan selamat bagi band, itu jalan buat industri,” kata Duta saat saya wawancarai pada satu kesempatan.

Peterpan kemudian sempat redup selepas konflik internal yang berujung keluarnya dua personil mereka. Tapi celah tadi dengan cepat diisi band-band yang melabeli diri sebagai pengususng aliran Pop Melayu seperti Radja, Wali, dan sebagainya.

***

Era one million copies band secara hampir bersamaan juga masuk museum. Kemajuan teknologi membuat akses untuk menikmati musik makin mudah, termasuk lewat cara ilegal. Pola konsumsi bergeser. Satu juta kopi bukan lagi suatu pencapaian. Sheila On 7 kemudian memilih “pulang”.

Sulit menemukan Duta, Eross, Adam serta Brian tampil di acara musik pagi atau jadi narasumber dadakan infotainment. Sebaliknya, begitu mudah menemukan mereka di panggung pentas musik kampus dan sekolah. Sheila On 7 hampir tidak pernah dilupakan panitia pensi, terutama di pulau Jawa, untuk jadi headliner.

Saya pernah menemui mereka selepas manggung di Bogor. Hanya istirahat sebentar mereka langsung beranjak karena sudah ditunggu jadwal manggung ke kota lain di pulau Jawa. “Gak naik pesawat mas?,” tanya saya pada Eross. “Yo ora lah. Mesakke sing ngundang mengko kelarangen  (Ya nggak lah. Kasihan yang ngundang nanti kemahalan”. Dia dan rombongannya lalu pergi dengan dua buah minibus, versi keren untuk menyebut Daihatsu Luxio.

Jogja akhirnya menjadikan Sheila On 7 lepas dari rock star syndrome. Menempatkan mereka sebagai orang-orang biasa dengan kehidupan yang biasa. “Sik yo aku ngeterke anakku latian badminton sik (sebentar ya aku ngantar anakku latihan badminton),” kata Duta pada saya selepas satu sesi wawancara sambil membonceng motor  salah satu krunya untuk mengantar ke pangkalan taksi tumpangan.

Pada akhirnya Sheila On 7 hari  ini  bukanlah band nasional yang jadi langganan tampil di layar kaca. Mereka adalah band Jogja yang dicintai penggemarnya di manapun berada.

***

Post-scriptum: “Lindung Bumi”, artwork ciptaan Rudi Mantofani yang menjadi sampul album 07 Des. Secara khusus, sampul 07 Des adalah sampul album Sheila On 7 favorit saya selain sampul album Berlayar ciptaan Woto Wibowo a.k.a Wok The Rock. Dalam liner notes-nya, Rudi Mantofani menuliskan deskripsi karyanya sebagai berikut:

“Karya ini terilhami oleh suasana kebersamaan mewujudkan imajinasi pribadi akan situasi yang mengalir tenang, karena saya percaya bahwa setelah sebuah masa kehancuran datanglah titik balik. Cahaya penuh daya yang dahulu hilang kini bersinar kembali. Akan ada hijau setelah merah, akan ada bunga setelah tumbangnya keganasan, akan ada payung kecil untuk selalu berusaha memberi naungan. Bumi akan tetap bulat sebagai wujud kesetiaan pada setiap generasi yang telah lahir. Ia memang akan selalu menaungi setiap generasi yang datang, generasi yang juga akan memayungi bumi itu sendiri.”

07 Des

  1. Tunjukkan Padaku
  2. Hingga Ujung Waktu
  3. Seberapa Pantas
  4. Seandainya
  5. Buat Aku Tersenyum
  6. Saat Aku Lanjut Usia
  7. Mari Bercinta
  8. Terimakasih Bijaksana
  9. Takkan Pernah Menyesal
  10. Tentang Hidup
  11. Bapak-Bapak
  12. Percayakan Padaku
  13. Pria Kesepian
  14. Waktu Yang Tepat Untuk Berpisah

19 Comments

  1. arda Reply

    setuju banget mas karo tulisane. maca marai sedih yoan hehe kaya semua karyane dientekne neng 07 des sebelum njajal album eksperimental “pejantan tangguh”. bab “mari bercinta”, juga sependapat, kepengen banget nonton lagu kuwi neng live konser. oiya mas, tampilan blogmu sek saiki nek dibuka neng opera mini kadang-kadang ra iso.. ngapunten lho nganggo basa jawa hehe

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Soal tampilan blog ta’ teruskan ke webmaster-nya ya. Terima kasih untuk komentarnya. Emang sudah seharusnya sih mereka jajal bikin album eksperimental, pendengarnya aja yang masih prematur. Secara band, mereka udah punya syarat buat melepas semua kenikmatan kok. Kalopun dipaksakan main di formula yang sama, justru Sheila On 7 jadi gak punya pembeda.

      1. arda Reply

        karena udah nggak main di formula yang sama itu, jadi Sheila On 7 udah layak mengeluarkan album The Best ya mas?

  2. sanji Reply

    tulisannya keren mas. merinci ke hal yg kecil tapi jg ga bikin kita nya susah nyerna. aku udah ngikutin sheila on 7 dr album pertama sampe sekarang jd aku tahu bgt di bagian mana sheila mulai jatuh dan bangkit lg. sebuah band haruslah punya harga diri musikalitas mereka. dalam hal ini karena 3 album sebelumnya musik mereka dikritik terlalu simpel . maka di album ke 4 mereka buktiin ke orang2 kualitas bermusik mereka, dan buat orang2 yg memang penggemar sejati mereka pasti jg kaget dan salut dengan kualitas musik yg mereka bisa buat. kesalahan sheila hanya di album ke 5 dimana mereka seperti lupa musik mereka sebelum album ke 4 atau memang karena kepalang tanggung terus berinovasi. tapi buat aku karya2 mereka sekarang ini hanya tidak sesuai selera kebanyakan.

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Terima kasih ya sudah meluangkan waktu buat baca. Album kelima itu apa ya, kayak missing link diantara album-album yang lain. Mungkin karena faktor kondisi band yang udah gak sehat tapi dipaksakan harus rilis album. Jadinya ya album yang “sekedar” beresin kewajiban.

      Khusus album 07 Des ini menurutku secara sound dan aransemen juga sudah masuk titik “jenuh”. Pilihannya ya tetep main aman tapi akhirnya ga ada pendewasaan, atau ya hajar sekalian setelahnya. Sheila On 7 mungkin karena timing-nya juga gak pas, akhirnya ya harus rela “ilang” penggemar. Yang sukses dengan album so -called eksperimentalnya sepengamatan saya sih baru Dewa 19 di Terbaik Terbaik sama Peterpan di “Hari Yang Cerah”

  3. Pingback: 5 Album Pop Indonesia Terbaik Tahun 2014 - Masjaki

  4. Sirom Reply

    Kendornya kualitas lagu2 setelah album ke-4 menurut saya dikarenakan faktor kejenuhan ide & psikologis yang terguncang pasca keluarnya Anton. Tahun 2004-2005 waktu itu mereka masih tergolong muda dan kurang siap untuk menghadapi konflik.

    Alhasil di album2 selanjutnya, nada, lirik lagu & aransemen menjadi berbeda dibanding album 1-4, walau masih bisa dibilang baik tetapi tidak lebih baik.

    Walaupun mungkin SO7 mencari pengganti drummer yg mempunyai skill yang lebih baik, tetapi tetan –> sound drum Sheila on 7 ada di Anton, ibarat sound gitarnya Guns n’ Roses ada di Slash.

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Kalau sudah baca artikel terakhir tentang mereka di Rolling Stone, keluarnya Anton cuma sebagian kecil dari segala macam masalah yang numpuk. Betul kata anda, mereka masih muda. Konflik dibiarkan, tidak pernah diselesaikan karena menganggapnya semua berangkat dari hubungan pertemanan. Pejantan Tangguh adalah awal yang klimaksnya di album 507.

      Saya sendiri melihat Sheila On 7 sebagai band yang berkembang. Kita tidak akan menemukan kembali teenage love song seperti “J.A.P” karena secara usia mereka sudah tidak lagi muda serta sudah berkeluarga.

      Tentang Anton, saya sendiri sepakat dia mempunyai ciri khas permainan drum sendiri. Begitu juga dengan karakter permainan drum Brian. Keduanya tidak bisa dibandingkan. Sejauh ini, saya baru melihat band yang bisa mengubah karakter musik sesuai karakter personilnya adalah Dewa 19.

      Anyway, terima kasih untuk meluangkan waktu buat baca :)

  5. Pingback: Hasief Ardiasyah: “07 Des itu Puncak” - Masjaki

  6. Adi Ankafia Reply

    Mas.. tulisanmu ini punya potensi untuk dijadikan skrip film tentang Sheila On 7… selain informatif juga ada sisi drama nya.. membacanya serasa sedang menikmati karya2 Sheila On 7 itu sendiri.

    oiya.. sorry, bicara tentang lagu Bintang Di Surga itu (menurut saya yang awam ini) sangat identik dengan lagu The Masterplan-nya Oasis.. pernah coba dengerin secara bersama dalam satu playlist?

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Bintang Di Surga-nya Peterpan? Saya baru intes dengerin mereka di album Hari Yang Cerah dan seterusnya, jadi belum bisa kasih penilaian. Thanks sudah baca dan mengapresiasi :)

  7. elzamzami cory Reply

    coba liat sheila on 7 sekarang,masih tetap eksis dari pada band yang lain yg banyak bubar karna kasus internal

  8. Nadia Reply

    Sya g tau ilmu musik sih cuma penikmat aja. Mungkin krn off air nya banyak ya, jd fansnya malah nambah kyaknya. Anak sma sekarang ada yg tau lagu so7 juga. Mereka juga bersahaja jd banyak yg suka. Sampe skrg sya juga masih dengerin lagu2nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>