Musik yang Baik

Strategi hidup bertahan lewat panggung ke panggung adalah pilihan paling logis saat industri musik masih dipenuhi berbagai macam problem klasik. Perubahan pola konsumsi yang tidak didukung dengan infrastruktur teknologi yang memadai, masalah kepastian dan penegakan hukum yang tak kunjung beres, absurdnya pola-pola penjualan album rekaman, dan sebagainya, dan seterusnya.

Album bukan lagi jadi tujuan akhir. Album adalah batu loncatan untuk pertanggungjawaban sebenarnya di panggung. Sebening serta semulus apapun kualitas rekaman album, tidak ada artinya jika performa di panggung tidak lebih baik dari musisi Inbox dan Dahsyat.

Memegang gelar tidak resmi sebagai “Raja Pensi” dalam beberapa tahun terakhir membuat Sheila On 7 punya tanggung jawab besar untuk album terbaru mereka. Musim Yang Baik, album ke-8 dalam diskografi mereka, akhirnya mengembalikan Duta Modjo, Eross Candra, Adam Subarkah, dan Brian Kresnoputro ke khittah-nya sebagai all around easy listening band.

Tidak ada lagi guyuran adonan orkestrasi megah bak album 07 Des, eksplorasi sound dan aransemen gila-gilaan ala Pejantan Tangguh, atau banyaknya dempul overdub untuk menutupi bagian yang hilang pasca hengkangnya gitaris Saktia Ari Seno seperti di album Menentukan Arah dan Berlayar.

Di Musim Yang Baik, Sheila On 7 meneruskan tradisi di album-album sebelumnya: nomor pembuka yang baik. Jika Kisah Klasik Untuk Masa Depan (2000) memiliki “Sahabat Sejati”, Menentukan Arah (2008) memasang “Betapa”, sampai album paling suram 507 (2006) pun dengan gagah memamerkan “Radio” sebagai set pembuka, kali ini “Selamat Datang” meneruskan tongkat estafet tersebut.

Diawali dengan sound gitar khas Eross yang jadi intro, kemudian siulan yang mengingatkan pada siulan Axl Rose di pembuka balada cantik milik Guns N’ Roses, “Patience”. Eross menulis lirik dengan sangat kuat. Nukilan jangan mengeluh jadilah tangguh adalah yang terbaik setelah kita selalu berpendapat kita ini yang terhebat di “Sahabat Sejati”. Bassline Adam yang dominan diseimbangkan oleh isian gitar Eross. Tambahan bunyi harmonika dan brass section menjadikan lagu ini begitu kaya dalam rupa yang bersahaja. Tidak perlu waktu lama untuk menjadikannya sebagai track favorit saya di album ini. Kudos.

“Satu Langkah” punya modal kuat untuk jadi langganan dalam setlist konser Sheila On 7. Hentakan tenaga badak dari drummer Brian Kresnoputro, riff-riff gitar Eross yang menyalak, dijaga dengan rapi oleh pondasi yang dibangun Adam. Sayang liriknya justru sangat biasa kalau tidak mau dibilang cheesy. Sayang cobalah lihatlah aku seluruh tubuhku inginkan kamu, when I say I love you, please baby say you love me too. Padahal Adam pernah membuat lirik campuran yang bagus pada “Have Fun” di album Berlayar (2011).

Track “Buka Mata Buka Telinga” awalnya sangat genit untuk ukuran Sheila On 7. Seperti ingin memutar kembali “Radio” namun dalam kadar yang penuh bling-bling. Tapi part gitar Eross kembali menyelamatkan.  Duta memberikan pemaknaan yang luas pada potongan lirik ada alasan mengapa kita diciptakan.

Sheila On 7 membawa kembali nafas “Pejantan Tangguh”  pada “Musim Yang Baik”. Masih ada isian brass section, namun aransemennya dibuat lebih simpel. Sulit untuk tidak memasukkan ciptaan Eross ini ke setlist konser mereka. Semua elemen punya potensi untuk mengundang sing along seisi venue konser. Terus terus mencari dan terus terus terus mencari. Terus terus mencari dan terus go…go…go..go…go. Paling tidak Sheila Gank bisa berteman baik dengan Wota JKT 48.

Di “Belum”, Duta dengan sangat baik memotret perjuangan para mahasiswa cheapbastard Yogyakarta dalam mencari bribikan. Perut mual walau bukan waktunya, motor pun ikut tak mau menyala. Sarapan dan makan siang disatukan di pukul 11, makan siang dan malam di-jamak jam 5 sore, demi pengiritan. Bensin hanya mampu beli seliter demi seliter, beresiko tinggi mogok di Ring Road Utara. Seperti sebuah kisah klasik yang kembali diceritakan di masa depan.

Penutupnya adalah “Sampai Jumpa”. Adam berhasil membuat lirik perpisahan tanpa harus terjebak dalam ratapan tak berkesudahan. Dalam kesedihan, masih ada ruang untuk harapan. Tuhan yang aku cinta mudahkan jalan dia, Tuhan yang aku cinta sambut kehadirannya. Tapi namanya Sheila On 7, mereka selalu punya cara maha kejam untuk membuat air mata makin menetes: gesekan cello. Sama seperti yang pernah mereka lakukan lebih dari satu dekade silam di “Sebuah Kisah Klasik”.

Album ini dikemas dengan artwork dari Farid Stevy Asta yang tercatat sebagai frontman dari kuartet almost rock barely art dari Yogyakarta, FSTVLST. Setiap lagu dibuat interpretasinya oleh Farid dengan tetap menjaga tema besar. Favorit saya adalah artwork untuk lagu “Lapang Dada” dan “Buka Mata Buka Telinga”. Meski sampul terbaik album Sheila On 7 favorit saya adalah Berlayar yang digarap oleh Wok The Rock, namun Farid berhasil menerjemahkan konsep Musim Yang Baik.

Pada akhirnya Musim Yang Baik adalah album paling jujur dari semua album yang digelontorkan di katalog diskografi mereka. Sekaligus menjadi episode penutup yang baik dari 16 musim menjadi band yang berada di naungan label rekaman raksasa Sony Music Indonesia.

Musim Yang Baik

Sheila On 7

Sony Music Entertainment Indonesia, 2014

  1. Selamat Datang
  2. Satu Langkah
  3. Buka Mata Buka Telinga
  4. Canggung
  5. My Lovely
  6. Beruntungnya Aku
  7. Lapang Dada
  8. Belum
  9. Musim yang Baik
  10. Sampai Jumpa

20 Comments

  1. AMYunus Reply

    Wow, ulasan yang apik! Menurut Mas Jaki, second hits single apa ya dari Sheila On 7 setelah Lapang Dada? Sepertinya Canggung punya potensi besar untuk itu.

  2. agung rahmadsyah Reply

    Aku penasaran karo nada-nada cello di lagu sampai jumpa, apakah sebengis pola permainan caroline dale. Soal ulasan musik pop, saya percaya denjak lebih futuristik ketimbang densak. Asolole!

  3. ahmad Reply

    hello bung zak,salam kenal yak. saya jg salah satu sheila gank,hehe, dan sering berkunjung kesini untuk check postingan baru tantang sheila on 7. :)

    sy suka ulasannya bung. album ini so7 terdengar lebih dewasa, dan percaya diri. format 4 piecenya memang sangat menonjol dan cukup solid. sound dan permainan gitar eross terasa pas disemua lagu,tak lebih dan tak kurang. bluesnya masih kentara, meskipun sy punya ekspektasi eross bisa bikin riff kayak di “seberap pantas” lagi :). bassnya adam lebih melodis dan berasa. sound drumnya mulai mirip di era anton. bagi saya ini adalah album yg lebih baik dibanding “berlayar”. komposisi musim yg baik nampaknya memberi sinyal bahwa album kedepan secara musikal akan menjanjikan.

    setuju dgn kritikan diatas, potongan lirik bahasa inggris agak mengganggu, bahkan bisa dibilang cenderung dipaksakan,heheh. so7 imo butuh produser yang cakap.sy sih maunya indra qadarsih atau ramondo gascaro jadi produser mereka kelak.

    btw,adam kembali membuktikan bahwa ia penulis lagu yg baik. konsisten memproduksi lagu bagus sejak album pertama. underrated nih mas adam,heheh.

    track favorit sy di album ini : lapang dada,selamat datang, satu langkah, dan sampai jumpa.

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Wah terima kasih ya sudah meluangkan waktu buat baca.

      Kalo ngomong produser sih saya gak bisa gak sepakat buat pilihan Indra Qadarsih. Yah bukan apa-apa sih, walau roots-nya pop tapi sound-sound-nya So7 kan cenderung ke blues. Dan Indra Q ya orang yang paling tepat buat itu. Belum lagi kalo kita nostalgia sama sentuhan-sentuhan Midas-nya di Slank. Intermezzo juga, dulu waktu Rolling Stone Indonesia bikin edisi Immortal, Eross nulis tentang Slank.

      Kalo buat saya sih album ini ya definisi sebernarnya dari konsep easy listening-nya So7. Semuanya sesuai takaran, mesti di beberapa sisi ada ekspektasi kita yang belum kesampaian ya hehe

  4. Fikreatif Reply

    Lagi ngerti ono blog iki mas Jaki. Ulasan2e apik.
    Denger single Lapang Dada sy seneng dg reff nya.
    Tp pas intro nya kok rasany kurang ya.

    Tp blm ndengerin lagu2 yg lain sih.

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Terima kasih ya sudah meluangkan waktu buat baca.

      Iya, intro-nya terlalu generik karena pake drum machine. Mungkin di versi live mereka tetap pakai sound drum asli. Belum pernah nonton versi live-nya soalnya.

  5. Anggara Reply

    Assalamu’alaikum mas Zaki. Salam kenal. Walau tidak tergabung resmi sebagai Sheilagank, saya adalah penggemar berat Sheila On 7 dari tahun 1999 saat dirilisnya “Dan” di masa SMP sampai sekarang sudah jadi suami dan ayah seorang putra. Seperti mas Ahmad di atas,saya juga sering mampir ke sini untuk baca postingan mas tentang S07 yang buat saya “top notch” :-). Tulisan pertama mas Fahri yang saya baca kalau tidak salah mengenai anniversary band ini yang ketujuh belas dan saya langsung suka dengan gaya tulisannya :-).

    Seperti tulisan mas di artikel sebelumnya yang mengatakan bahwa album 07 Des adalah penutup dari sebuah episode Sheila On 7, entah kenapa saya merasakan hal yang sama dengan album ini. Bukan hanya karena kerja sama dengan SMI yang akan berakhir, tapi juga karena album ini tampaknya ingin mengatakan “sudah cukup” pada episode dan tahun- tahun suram. Seperti kata mas album ini sangat jujur. Para personelnya tampak lepas dan sudah “mengikhlaskan” ketiadaan Sakti, perginya duo Anton, album dan single yang tak lagi jadi “raja”, penjualan yang tidak se-spektakuler sebelum2nya, dan posisi puncak yang harus direlakan kepada band lain. Ini juga tergambar dari konsep “four pieces” yang kini mereka usung. Sheila On 7 (khususnya Eross) kini sudah pede tampil dengan format berempat tanpa harus memaksakan “menghadirkan” Sakti. Tapi buat saya ini tidak berarti jelek. Aransemennya malah terasa lebih fresh dan menyenangkan. Sekali lagi, lepas. Tanpa beban.

    Tracks favorit saya di album ini adalah Lapang Dada. Simple tapi membunuh dengan kata-kata, “seperti aku bisa merasakan, getaran jantung dan langkah kakimu”. Merinding, apalagi setelah mendengar background dibuatnya lagu ini. Kedua dan ketiga favorit saya justru tidak dibahas oleh Mas Fahri yaitu Beruntungnya Aku dan My Lovely. Yang pertama karena lagunya terasa sangat tulus menceritakan sebuah relationship yang terkadang “terbakar” oleh ego, tapi dari situlah kita belajar bersyukur atas kebaikan Tuhan memberikan pasangan yang bisa mengerti dan terus melangkah menuju arah yang lebih baik. Suara Duta terasa sangat jujur dan indah, diiringi dengan petikan gitar akustik Eross yang terasa agak beda tapi tetap “membunuh” seperti biasanya. Lagu My Lovely simply menjadi favorit selanjutnya karena mengingatkan pada anak saya yang autis dan perjuangannya saat ini untuk sembuh dengan menjalani diet ketat dan terapi, padahal usianya belum genap 3 tahun. Tapi saya yakin bahwa sakit hari ini akan menjadi cahaya dalam tiap langkahnya kelak,

    Kekuatan lagu- lagu di album ini membuat saya pribadi berpendapat bahwa album ini mungkin album terbaik mereka setelah album Sheila On 7 (self-titled) dan Kisah Klasik Untuk Masa Depan, Walaupun album terfavorit saya tetaplah Pejantan Tangguh, tapi album ini “so close” untuk menggeser posisi tersebut..hehehehe..

    Antusiasme Sheilagank dan penikmat musik Indonesia yang tinggi pada album ini (sempat menjadi most wanted di Itunes) mungkin bisa menjadi bantahan terhadap kata-kata mas Widi Asmoro bahwa fans S07 sudah bosan dengan lagu-lagu baru dan hanya sekedar “menjual” nostalgia. Gelar tidak resmi “Raja Pensi” dan undangan ke sekolah2 juga kampus2 dalam dan luar negeri (salah satunya Australia) semakin menguatkan, banyak penggemar baru yang terjaring. Saya cukup kagum, lha wong secara usia mungkin pertama kali S07 muncul mereka masih sangat muda tau bahkan belum lahir. Layaknya batu yang dilempar ke air, riak-riak kecil seperti ini bisa jadi kelak menjadi gelombang besar yang membawa band ini kembali ke puncak industri musik. Walllahua’lam.

    Kembali ke album, meski mungkin belum sempurna dan masih banyak ekspektasi yang belum tercapai, Musim Yang Baik adalah penutup sekaligus pengantar bagi S07 menuju episode baru. Lepas semua beban, dan tidak ada lagi ketakutan dan penyesalan. Dimulai dari saat mereka Menentukan Arah untuk kembali ke khitah warna musiknya, kemudian Berlayar dengan materi-materi lagu yang semakin baik, hingga akhirnya matang dan bersemi di Musim Yang Baik.

    Apapun itu, setidaknya saya pribadi merasa sangat puas. Sheila On 7 sudah benar- benar pulang.

    PS: Maaf ya mas Fahri jadi panjang banget tulisannya..hehehe..Artikelnya menarik sih, jadi bikin pengen bales panjang lebar :-)

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Terima kasih ya mas Anggara sudah menyempatkan untuk baca.

      Musim Yang Baik memang tidak masuk dalam jajaran album terbaik Sheila On 7 (saya masih kekeuh bahwa pejantan tangguh adalah yang terbaik hehe), tapi ini adalah album terjujur dari semua album mereka. Beberapa part gitar Eross memang akhirnya “kosong”. Ada isian yang hilang. Tapi pada akhirnya inilah sound gitar Eross yang sebenarnya.

      Satu hal yang saya suka dari Sheila On 7 adalah mereka berhasil untuk mengajak pendengarnya untuk sama-sama beranjak dewasa. Ini yang tidak saya temui di beberapa band dewasa ini. Jadi ya dari dulu musiknya begitu-begitu saja.

      Kita mungkin tidak akan lagi menemui teenagers love song macam “J.A.P”, tapi kita akan tetap terwakili dengan lagu sesuai fase usia kita saat ini. Contohnya ya “Lapang Dada” (saya agak kecewa karena secara aransemen Sheila On 7 bermain “biasa saja” untuk lagu yang punya lirik kuat ini hehe).

      Sheila On 7 mungkin tidak memberikan semua kemampuan terbaiknya untuk menutup sebuah episode mereka. Tapi mereka memberikan sebuah ucapan pamitan yang sangat jujur.

      Terima kasih ya mas sudah memberikan komentar yang lengkap. Saya sangat terkesan kalau ada yang memberikan komentar “sepanjang” ini hehe. Salam untuk keluarga dan si kecil 😉

      1. Anggara Reply

        Matur nuwun mas untuk replynya.Yah,ibarat pemanasan mungkin mas album ini,mudah2an untuk eksplorasi maksimal di album berikutnya..hehe..entah dengan go indie atau masuk major label lainnya. Sudah ada bisik2 dengan Pak Jan mungkin?..hehehehe..

        PS: Kalo kurang puas, bisa coba dengerin Lapang Dada versi LIVE yang lebih nge-ROCK mas 😀

        1. Fakhri Zakaria Reply

          Kalo obrolan tentang album ke Pak Jan kayaknya gak mungkin deh. Pak Jan sekarang kalo gak salah di Universal Music Indonesia. Dan secara hubungan bisnis mereka sudah gak ada kontak lagi, entah kalau yang sifatnya personal.

          Versi live “Lapang Dada” saya baru liat rekamannya di YouTube. ya masih penasaran sih sama aslinya. Belum ada kesempatan saja hehe

  6. Adiitoo Reply

    Lama tidak main ke blog ini. Ulasannya Mas Jaki bikin gw ngebacanya sambil mendengarkan satu per satu lagunya di Youtube.

    Jadi pengen beli albumnya mereka.

  7. jendri Reply

    siang mas jaki,

    terjma kasih dah ngasih ulasan yang bagus tentang album Musim Yang Baik ini.
    Puad baca nya. Gak kelewat 1 kata pun, sampai semua koment pun terbaca habis.

    gak terlalu ngerti sih tentang musik, cuma bisa jadi penikmat nya saja terutam music sheila on 7 yang sudah saya dengar sejak saya kecil. hehe

    tapi kalau favorite saya di album MYB ada 2. Beruntungnya Aku dan My Lovely.
    Gak tau alesan nya kenapa yang jelas tiap saya dengar lagu ini semakin saya suka. Hehe.

    over all, terima kasih bijksana mas Jaki atas bacaan nya ini.
    (y)

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Wah terima kasih sudah mau menyempatkan baca. Iya nih setelah saya denger-denger “My Lovely” bagus juga ya. Liriknya dewasa, tanpa harus kehilangan pakem sound ala Sheila On 7 hehe

  8. iqbal Reply

    menurut saya di single ke 2 menjagokan musim yg baik.beat nya asik lirik nya asik hehe
    kaya nya eros masih berhubungan baik dengan pak jan.karena eros masih menggunakan jasa pak jan untuk menentukan single jitu.waktu itu temen saya yg bekerja di universal musik indonesia pernah lihat eros dateng menemui pak jan.entah indie label atau major label saya akan mendengar kan lagu2 yg di ciptakan musisi hebat ini (so7) hehe

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Ohh kalau Eross ke Universal itu urusannya untuk band yang dia produseri, The Finest Tree. Kalau secara personal, mereka masih berhubungan baik dengan Pak jan karena saat konser ulang tahun ke-16 tahun 2012 lalu, Pak Jan diundang dan hadir

Leave a Reply to jendri Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>