5 Album Pop Indonesia Terbaik 2014

Tahun 2014 dicatat sebagai tahun paling gaduh di Indonesia, tak terkecuali di ranah industri musik. Ajang Pemilu 2014 menjadikan musisi mulai berani untuk menunjukkan afiliasi politiknya. Beberapa memilih untuk tetap menerima tawaran manggung dari dua kandidat atas nama profesionalisme.

Kegaduhan di panggung kampanye tadi untungnya diimbangi dengan gaduhnya studio rekaman. Meski masih didominasi pemain-pemain lama, album-album rekaman yang dirilis pada tahun ini memudahkan saya untuk memilih lima album pop Indonesia terbaik tahun 2014. Ini pilihan saya:

5. Pongki Barata Meet The Stars (Pongki Barata & various artist)

Pongki adalah salah satu penulis lirik bahasa Indonesia kesukaan saya. Signature Pongki adalah tidak pernah ada kata “cinta” di semua lagu bertema cinta yang ditulisnya. Jikustik yang ditinggalkannya pada Maret 2011 silam seperti “menyerah” dan mulai menyisipkan kata “cinta” di album pasca  Pongki pamit mundur.

Sebelas artist pendukung yang ambil bagian mulai dari Tulus hingga girband Blink, sebagian besar menginterpretasikan ulang karya-karya Pongki untuk Jikustik serta solois lain seperti Iwan Fals dan Siti Nurhaliza langsung di bawah kendalinya. Hasilnya, tidak mengecewakan. Beberapa malah memberikan nafas baru yang lebih segar. Pongki juga menghadirkan kembali  sound khas Jikustik: harmonisasi vokal, aransemen pop akustik yang sedikit-sedikit dibubuhi distorsi gitar, keyboard yang cukup dominan.

 4Let It Be My Way (Andien)

Andien Aisyah untuk kali pertama keluar dari kenyamanan jazz dan mencoba untuk bermain di ranah pop. Beberapa masih memakai jurus lama yakni menyanyikan ulang beberapa lagu pop Indonesia popular. Nomor cover version seperti “Kasih Putih”, “Rindu Ini”, hingga “J.A.P” dibawakan kembali dengan kemasan yang lebih segar tanpa merusak karakter asli lagu tersebut. Cover version “J.A.P’ oleh Andien adalah yang terbaik dari semua cover version lagu-lagu Sheila On 7.

Sementara nomor-nomor baru seperti menunjukkan Andien sudah lama mendiami dan mendalami ranah ini. Melly Goeslaw memberi dua lagu ciptaannya. “Let It Be My Way” masih tetap dengan aransemen Melly pasca album OST. Ada Apa Dengan Cinta,  yang diselamatkan dengan bumbu pop ala Mika serta tambahan dosis swing yang pas. Sedang “Masih Bebas” seperti menjadikan Andien vokalis baru  Potret dan semakin menguatkan doa saya bahwa Melly sebaiknya pensiun pasca album soundtrack fenomenal tadi. Favorit saya? Jelas “…Dan Di Radio” ciptaan Eross Candra. Masih ada warna Sheila On 7 yang kuat tanpa membuat Andien harus menjadi “vokalis baru” Sheila On 7.

3. Musik Pop (Maliq & D’Essentials)

Masih tentang mencoba ranah baru. Album ini sejajar dengan Terbaik Terbaik dari Dewa 19. Enough said.

2. Musim Yang Baik (Sheila On 7)

Album studio kedelapan dari Duta Modjo, Eross Chandra, Adam Subarkah, dan Brian Kresnoputro ini bukanlah album yang masuk jajaran album terbaik Sheila On 7. Beberapa lagu seperti terlalu “santai” untuk merekam energi kreatif mereka. Tapi inilah album yang paling jujur dari semua rilisan yang mereka keluarkan sejak tahun 1999. Tidak ada lagi guyuran adonan orkestrasi megah bak album 07 Des, eksplorasi sound dan aransemen gila-gilaan ala Pejantan Tangguh, atau banyaknya dempul overdub untuk menutupi bagian yang hilang pasca hengkangnya gitaris Saktia Ari Seno seperti di album Menentukan Arah dan Berlayar. Beberapa part gitar bahkan seperti sengaja dikosongkan.

Satu hal yang perlu dicatat, Sheila On 7 adalah sedikit band yang mengajak penggemarnya untuk bersama-sama beranjak dewasa. Kita mungkin tidak akan lagi menemui teenagers love song macam “J.A.P”, tapi kita akan tetap terwakili dengan lagu sesuai fase usia kita saat ini, seperti pada nomor “Lapang Dada” atau “Buka Mata Buka Telinga”. Musim Yang Baik akhirnya mengembalikan Sheila On 7 ke khittah-nya sebagai all around easy listening band. Juga episode penutup yang baik dari 16 musim menjadi band yang berada di naungan label rekaman raksasa Sony Music Indonesia.

1. Gajah (Tulus)

Selesai mendengar track terakhir album  ini pada bulan April lalu, beban saya untuk memilih album pop terbaik Indonesia tahun ini berkurang drastis.  Gajah adalah jalan mulus bagi Tulus untuk merusak dominasi solois pop Indonesia yang tak bisa lepas dari stigma berkepanjangan: pretty boy dengan bekal lirik dan aransemen yang hanya bisa membuat leleh ibu-ibu muda atau mbak-mbak lajang usia matang.

Tulus memang masih menyimpan potensi untuk menjadi penyanyi model pretty boy tadi. Gajah mempunyai amunisi lebih dari cukup untuk membuat mereka, juga pasangannya yang gagah-gagah, umer. Tapi Tulus sepertinya enggan untuk bermain aman. Dia memberikan lebih. Ya di musik, ya di lirik.

“Baru” adalah penggoda yang kuat untuk kita menganggukkan kepala, menjentikkan jari, atau menggoyangkan kaki dari sejak intro. Gitaris Anto Arief seperti baru saja lulus cum laude di Penataran P4 sebagai gitaris yang mengamalkan prinsip demokrasi Pancasila: kebebasan yang bertanggungjawab. Anto mengeluarkan segala antusiasmenya akan Motown disini tanpa terjebak ego pribadi. Dia memang bermain genit tapi tak terdengar norak, seperti kocokan gitarnya di detik ke-22. Sementara permainan bass Rudy Zulkarnain dan drum Ari Renaldi menjadi semacam penjaga yang tegas tapi tidak intimidatif.

Di “Bumerang” Tulus membuka mata saya bahwa dirinya patut dicatat sebagai salah satu penulis lirik berbahasa Indonesia terbaik. Tulus memang masih bermain di tema-tema patah hati, namun prinsip man behind the gun diamini dengan baik oleh dirinya.

Tulus tidak terjebak pada ratapan berbalut kalimat-kalimat puitis sok tegar padahal aslinya hancur tak karuan. Tulus berbicara dengan metafor namun disampaikan begitu lugas. Seperti memberikan semangat untuk para kekasih yang ditinggal kabur namun di saat bersamaan juga seperti air garam yang diguyurkan ke luka. Sekilas saya melihat ada kemiripan penulisan lirik antara Tulus dengan Eross Chandra dari Sheila On 7. Tulus sedikit lebih kalem, Eross sedikit “galak” (mungkin karena dia dulu dikenal sebagai playboy).

Seperti tidak memberikan kesempatan untuk jeda, Tulus kembali menendang dengan “Sepatu”. Sampai sekarang saya masih berpikir dari mana Tulus bisa mendapat perumpamaan yang sangat manis untuk kisah cinta yang begitu tragis. “Kita adalah sepasang sepatu. Selalu bersama tak bisa bersatu.” Ide untuk menambah instrumen gesek patut dicatat sebagai kejahatan terbesar yang pernah dilakukan Tulus untuk mereka yang baru putus. Sungguh menggores perasaan.

Sementara “Gajah” adalah masterpiece. Perpaduan lirik yang juara sekaligus aransemen yang  aduhai indahnya. Tulus merekam kenangan masa kecilnya dengan baik dan diterjemahkan lewat lirik yang runut.

6 Comments

  1. Indri Juwono Reply

    wah, ternyata nomer satunya Tulus. padahal aku pernah nonton Tulus nggak sengaja di PRJ, dah gitu bareng seseorang yang nggak tahu lagu2 Tulus itu gimana. trus jadi nggak romantis blas gitu. (seperti pasangan2 yang lain di kiri dan kanan) 😐

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>