Kita Tak Sendiri: The Pure Saturday Story [EDITOR’S CUT]

Sebetulnya ini adalah naskah lama yang dimuat di situ Jakartabeat.net pada tahun 2012 silam. Liputan panjang ketiga saya setelah Lokananta dan Bangkutaman. Setelah itu sampai sekarang saya belum pernah membuat tulisan panjang lagi hehehe.

Naskah ini saya tampilkan lagi untuk mengingat rekam jejak Pure Saturday sebelum dua personel mereka, Adhitya Ardinugraha dan Yudhistira Ardinugraha, mundur pada akhir bulan Januari kemarin.

Saya pribadi sebagai penggemar mereka tentu berharap band ini tetap ada, meski konsekuensi ada lubang kosong yang menganga. Seperti yang mereka tuliskan dalam “Pulang”. Terus dan terus berjalan…Tanpa ada waktu menoleh ke belakang. 

***

KITA TAK SENDIRI: THE PURE SATURDAY STORY

Oleh: Fakhri Zakaria

Pertengahan Mei lalu kehebohan kecil terjadi di scene musik independen Indonesia. Nama yang sudah sejak lama dinantikan kehadirannya akhirnya benar-benar turun gunung setelah lima tahun dalam pertapaan. Layaknya menyambut tamu agung sebuah konser megah digelar di lokasi yang prestisius sejak zaman kolonial Belanda. Gedung Kesenian Jakarta.

Gedung yang pembangunannya berawal dari Herman Willem “Mas Galak” Daendels ini didirikan tahun 1821. Berlokasi di kawasan elit Weltevreden yang sekarang merujuk ke ruas Gambir-Lapangan Banteng-Pasar Baru. Gedung ini awalnya bernama Theater Schouwburg Weltevreden.

Dalam sejarah perjuangan Indonesia,  gedung ini jadi saksi sejarah Kongres Pemuda Pertama tahun 1926 serta rapat pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat pada 29 Agustus 1945 yang jadi cikal bakal DPR/MPR.

Sementara di dunia musik Indonesia, GKJ adalah tempat bertuah. Setidaknya KLa Project pernah merasakan saat mereka menggelar konser pada Maret 1996 yang kemudian menghasilkan double album Klakustik. Juga Naif saat menggelar Naif: A Night At Schouwburg pada September 2008 yang kemudian direkam dalam album A Night at Schouwburg. Album KLakustik  kemudian dicatat oleh majalah Hai sebagai 40 Album Indonesia Terbaik 1997-2007. Sedangkan A Night At Schouwburg masuk dalam 15 Album Indonesia Terbaik Dekade 2000-2010 oleh Jakartabeat.net.

Dan kali ini giliran Pure Saturday yang mendapat kehormatan untuk merilis album terbarunya, Grey. Tempat yang sudah sepantasnya untuk band yang mendapat predikat sebagai Indonesian indie darling band ini. Yang punya gagasan adalah Ferry Dermawan beserta jajaran G Production. Pihak yang bertanggungjawab atas festival musik tahunan Djakartartmosphere.

Hanya perlu tiga hari untuk menghabiskan tiket pertunjukan yang dijual sebanyak 400 lembar. Beberapa kawan harus menelan kekecewaan karena tidak bisa jadi salah satu penyaksi konser yang bertitel Grey Concert tersebut.

Selama tiga jam, Pure Saturday memberikan suguhan konser yang hangat dan intim. Selain membawakan seluruh nomor dalam album, mereka juga memainkan lagu-lagi lawas, termasuk nomor “Labyrinth” berdurasi tujuh menit lebih itu. Sebagai bintang tamu malam itu adalah virtuoso Yockie Suryoprayogo, yang juga mengisi bebunyian magis dalam lagu “Horsemen” dan “Albatross” di album, serta Cholil Mahmud vokalis Efek Rumah Kaca dan Rektivianto Yuwono dari The S.I.G.I.T.

Wajah-wajah penuh senyum terlihat di lobi setelah pertunjukan selesai. Tidak ada yang tidak puas. Tidak ada yang kecewa, selain tentunya mereka yang tidak kebagian tiket. Pertunjukan ini layak dicatat sebagai salah satu konser terbaik tahun 2012.

“Sepertinya Pure Saturday memang hobi ya berlama-lama mengeluarkan materi baru,” tanya saya. Jelas. Di saat banyak band-band baru bermunculan, dengan materi baru dan jadwal manggung padat sampai berkesempatan mencicipi panggung di luar negeri, Pure Saturday yang sekarang diawaki oleh Satria “Iyo” Nur Bambang (vokal, gitar), Ade Purnama (bass), Arief Hamdani (gitar), serta si kembar Adhitya Ardinugraha (gitar) dan Yudhistira Ardinugraha (drum) tampak tenang-tenang saja.

“Yah kenapa harus buru-buru juga ?,” tanya Ade sambil tertawa. Ade mengaku sampai sekarang mereka masih menganggap Pure Saturday adalah taman bermain bagi mereka. Sarana untuk bersenang-senang. “Kita bikin Pure Saturday emang buat seneng-seneng di musik. Jadi ya kebawa nyantai. Kita manggung juga dandanannya sama aja kalo mau beli rokok ke warung,” ujar Adhi.

“Tidak iri melihat band-band baru justru sudah pernah manggung di luar negeri,” selidik saya. “Iri mah ada. Kalo orang gak punya rasa iri ya mati aja. The S.I.G.I.T udah pernah ke Australia, kita ke Medan aja belum,” kata Ade disambung dengan tawa deras. “Sirik asal ga ngerugiin orang lain ya gak apa-apa. Kita berusaha terus cari link tapi ya belum jodoh aja sekarang mah,”.

Tahun 1998 silam, mereka sebetulnya sudah ditawari untuk manggung di Boston, Amerika Serikat di private party cucu pejabat tinggi Orde Baru. Pure Saturday akan berbagi panggung dengan bandnya Billy Corgan. Ya, Smashing Pumpkins. Sayang, seminggu sebelum tanggal keberangkatan acara mendadak dibatalkan. Si pejabat tadi harus lengser, imbas dari gerakan reformasi.

***

Jauh sebelum tampil di gedung bergaya neo-renaissance ini, Pure Saturday hanyalah sekumpulan pemuda yang mengisi waktu luang menunggu pengumuman Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri dengan bermain musik di sebuah gudang di bilangan jalan Mohammad Ramdan, Bandung.

Gudang tersebut dinamai Gudang Coklat. Berlokasi di pabrik gitar Genta, usaha milik keluarga Suar Nasution, vokalis pertama mereka. “Lokasinya pinggir jalan raya. Sehari gak dibersihin pasti ketutupan debu sampai alat-alat musik warnanya jadi coklat,” kenang Suar. Sempat memakai nama cukup absurd, Tambal Band, sebelum akhirnya sadar bahwa mereka adalah pria kesepian di malam minggu dengan memilih nama Pure Saturday.

“Dulu inget pas awal-awal ngeluarin album. Kita main di Jogja, di Kridosono. Ditempatin sama panitia di rumah penduduk deket situ. Sambil nunggu dipanggil anak-anak main gaple. Lalu dipanggil manggung aja, begitu beres dilanjut lagi main gaple. Yang nonton waktu itu Duta sama Eross sebelum mereka bikin Sheila On 7,” kenang Udhi kala saya menemuinya saat Pure Saturday manggung di Yogyakarta beberapa bulan lalu.

Mereka pernah punya pengalaman lumayan menegangkan di Yogyakarta . Nyaris berada dalam batas hidup dan mati saat gempa besar meluluhlantakkan Yogya, 26 Mei tahun 2006 silam.

Malam sebelum gempa mereka manggung di salah satu kampus swasta di Kota Pelajar tersebut. Dua tahun kemudian, saat manggung bulan November tahun 2008 sehari sebelumnya angin puting beliung baru saja mengamuk sehingga mengakibatkan kerusakan cukup parah terutama di wilayah kampus Universitas Gadjah Mada.

“Pure Saturday itu sesuatu yang beda. Mereka sebagai pionir,” ujar Arian 13, vokalis band rock oktan tinggi, Seringai. Arian bersama bandnya terdahulu, Puppen, adalah bagian dari pusaran penting dalam perkembangan gerakan musik bawah tanah Indonesia pertengahan 1990-an, khususnya Bandung. Lingkaran pertemanan yang kuat antara PAS Band, Puppen juga Pure Saturday akhirnya membuat ketiganya jadi sorotan publik tanah air saat itu.

PAS Band yang saat itu digawangi Yuki (vokal), Bengbeng (gitar), Trisno (bass) dan Richard Mutter (drum) baru saja dikontrak Aquarius Musikindo untuk album In (No) Sensation tahun 1995 setelah sebelumnya mencuri perhatian di mini album Four Through The Sap. Sisa jatah rekaman berpuluh-puluh shift diberikan pada dua koleganya tadi.

“Gue kenal mereka waktu Puppen rekaman dari managernya PAS Band waktu itu. Secara pribadi sih gue suka musiknya. Mereka berbeda dan memainkan musik bagus,” kenangnya. Kebetulan Arian dan Adhi adalah teman sekampus di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.

Nasib Pure Saturday sedikit lebih moncer dari Puppen. Kejelian Denny MR yang saat itu menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah Hai membuat mereka mendapat exposurebesar-besaran di majalah yang pada saat itu boleh dibilang jadi satu-satunya referensi musik tanah air. Tahun 1996 album debut self-titled diedarkan lewat mail order. Laku hingga 1.000 kopi sehingga mereka dilirik oleh Tantowi Yahya, bos dari Ceepee Production.

“Sempet iri dulu. Ya waktu masih kecil kita kan biasa barengan tapi kok sekarang suksesnya sendirian ya. Ya yang gitu-gitu aja lah. Pure Saturday kan lebih pop, lebih gampang dapet exposure,” ujar Arian.

Kondisi scene independen Bandung kala itu memang didominasi oleh musik-musik keras seperti metal dan grunge, tidak terkecuali PAS Band dan Puppen. “Yah kalo kata Morissey sih, we hate it when our friend become successful, “ kata Arian sambil tertawa.

Pure Saturday makin melesat. Aquarius Musikindo memutuskan mengikat kontrak untuk album kedua kedua Utopia pada tahun 1999. Secara musikal, Pure Saturday terdengar lebih gelap dan murung. Dari sisi bisnis, ini pengalaman baru. “Ternyata anak-anak lebih cocok kerja sendiri,” ujar Ade. Komunikasi yang tidak berjalan baik, terutama soal angka pasti penjualan album, membuat mereka akhirnya kembali ke habitat awal.

Tapi mau tidak mau Pure Saturday akhirnya harus menghadapi “kutukan” band yang tumbuh dalam pertemanan masa sekolah. Awal tahun 2000 mereka akhirnya harus berhadapan dengan tuntutan pekerjaan sebagai sumber penghidupan. Arief menjadi bankir di sebuah bank milik negara. Adhi dan Suar mendapat pekerjaan di Jakarta. Sementara Ade harus merantau hingga Selandia Baru. Pure Saturday saat itu masih bisa berjalan meski situasinya penuh ketidakjelasan.

Saat itu, Suar, Adhi dan Udhi membentuk side project The Jonis yang sama sekali jauh dari image Pure Saturday yang kalem dan santun. Pernah lihat pentas band dengan vokalis berdandan bak atlet lari dan membawa setengah lusin cheerleaders ke panggung?.

Selain Iyo, Suar, Adhi dan Udhi, juga ada nama David Tarigan di line-up band yang bagian proyek kompilasi Ticket To Ride untuk menggalang dana pembuatan skate park di Bandung

Dari The Jonis-lah sosok Iyo ditemukan. Kawan sekampus Adhi yang kelak berperan penting dalam kelanjutan nafas hidup Pure Saturday.

“Saya jadi fans Pure Saturday dari jaman SMA,” ujar Iyo. Jika ada adagium yang mengatakan manajer band terbaik adalah fans band tersebut, maka Iyo salah satu bukti nyatanya. Tahun 2002 Iyo resmi menjadi manajer.

“Suatu band butuh motor dan Iyo orangnya,” ujar Arian yang juga kawan sekampus Iyo. Arian tidak sedang memuji temannya. Iyo saat itu seperti berhadapan dengan raksasa pemalas yang sedang tidur panjang. “Setahun saya membangunkan mereka. Mereka udah hilang percaya diri untuk ngeband. Gak percaya kalo “Coklat” dan “Kosong” ditunggu orang. Mereka gak percaya bisa seperti itu,” ujar Iyo. Akhirnya setelah pembicaraan tiga jam dalam perjalanan Jakarta – Bandung lewat Puncak, Iyo berhasil meyakinkan mereka.

***

“Pekerjaan ini membuat saya mengundurkan diri. Waktu itu schedule pekerjaan gak jelas. On call,” ujar Suar. Pekerjaanya sebagai penguji sumur minyak di perusahaan minyak dan gas multinasional  membuat Suar harus pergi ke sumur-sumur minyak baru sampai di Jazirah Arab sana.

Tahun 2003 sebuah keputusan tidak populer akhirnya harus diambil oleh Suar. “Saya mengundurkan diri untuk kemajuan mereka. Kalau masih di sana mungkin Pure Saturday gak akan semaju sekarang,” tuturnya saat saya temui di backstage selepas perhelatan Grey Concert.

Jika sedang pulang ke Indonesia saat libur dari pekerjaan, Suar hampir dipastikan selalu datang ke panggung-panggung Pure Saturday. “Sampai sekarang saya masih support. Nunjukkan ke teman-teman saya gak memutuskan hubungan. Mengabdikan diri untuk band yang saya rintis. Saya bangga pernah jadi bagian dari mereka.”

Saat itu Pure Saturday tengah disibukkan dengan penggarapan album ketiga, Elora. Bukan pekerjaan mudah mencari pengganti Suar yang karakternya sudah melekat di lagu-lagu Pure Saturday. “Saya bikin audisi berkali-kali sampai minta orang gak ada yang mau,” ujar Iyo.

Semua nama yang ikut audisi tak ada satupun yang lolos. Saat-saat latihan sambil menunggu vokalis baru yang tak juga kunjung  datang, Iyo sering menjadi vokalis dadakan.  “Itu sisi arogansi saya sebenarnya,” katanya sambil tertawa. Yang jelas pada saat itu situasinya serba tidak jelas.

“Akhirnya anak-anak bilang, ya udah elu aja lah yang nyanyi,” ujar Iyo. Sesederhana itu sebuah keputusan krusial ditetapkan oleh sebuah band besar. “Anak-anak gak akan mingle sama orang yang gak punya kedekatan emosional. Gak bisa sama orang baru karena awalnya kita dari pertemanan,” kata Suar.

Meski sudah kenal dekat dengan Pure Saturday, publik tetap melihat Iyo datang dari dunia lain. Cercaan terus datang bagai misil. Terlebih Iyo saat itu belum bisa bermain gitar. Toh Iyo tak ambil pusing. “Saya anak jalan. Gak segampang itu buat kalah. Saya lebih sakit hati kalo ada masalah sama anak-anak ketimbang sama orang lain,” ujar Iyo.

Bagamanapun juga Iyo sadar, Pure Saturday adalah band besar. “Saya harus peduli fans. Mengerti dan menjawab mereka. Gak boleh bikin sakit hati mereka.” Dia kemudian berinisiatif mengasah kemampuan vokal dengan menyewa guru vokal.

Dia juga belajar bermain gitar. Gurunya adalah gitaris Pure Saturday sendiri, Adhi.  “Iyo bisa nerima beban dengan sangat baik. Dia fast learner.  Itu yang saya salut. Dia udah layak untuk jadi frontmandi band seperti Pure Saturday,” aku Suar.

Album Elora yang dirilis pada tahun 2005 adalah pembaptisan Iyo sebagai vokalis. Bagi Pure Saturday, album ini adalah album perubahan. “Elora berubah di pola kerja. Based on Fruity Loops. Sebetulnya kalau bicara soal album eksperimen sih mulai dari Utopia. Utopia dari pola dan sound. Lebih banyak main efek. Kalau Elora ke pola kerja,” ujar Ade panjang lebar. Penjelasan Ade ini juga memberi gambaran bahwa eksperimen Pure Saturday bukan hanya baru kali ini di album Grey saja.

TIba-tiba pada bulan Desember 2005 Iyo memutuskan mundur. “Kondisinya gak enak waktu itu. Saya cabut, “ ujar Iyo. Yang jelas saat itu memang ada sedikit riak antara Iyo dengan personel Pure Saturday yang lain. “Faktor internal. Saat itu Iyo baru, ada beberapa hal yang anak-anak ga bisa terima. Tapi mereka bisa bicara itu,” jelas Suar.

“Kalo konflik mah pasti ada ya. Aneh lah kalo ada band gak ada konflik. Dulu sering gontok-gontokan. Perang ego. Mulai Elora kita belajar maintain konflik. Sekarang sih lebih ke berbagi energi positif,” ujar Udhi.

Si kembar Adhi dan Udhi sering disebut sebagai penyulut sumbu. Udhi sempat terdiam agak lama ketika saya mengkonfirmasi hal tersebut. “Lebih ke proses kreatif sebenarnya. Lagu udah jadi sama saya dan Adhi diobrak-abrik lagi. Rombak sana-sini.”

Lagi-lagi karena ikatan pertemanan yang sudah sebegitu kuatnya, Iyo kembali lagi berada di belakang microphone. “Pengen cari pengganti Iyo tapi gak dapet-dapet juga. Kita mesti latihan, mesti manggung supaya band bisa jalan. Ya udah saya kembali lagi.”

Sesederhana itu, lagi-lagi. Bahkan akhirnya publik mengenal vokalis Pure Saturday adalah Suryo, akronim dari Suar dan Iyo. Formasi ini tampil dalam album retrospektif Time For A Change Time To Move On yang dirilis 5 tahun silam.

***

Armand Maulana vokalis GIGI pernah berkata tanda keawetan sebuah band adalah bila mereka sanggup melewati album keempat dengan formasi sama. Sayang, teori Armand kali ini  tak berlaku untuk Pure Saturday. “Band ini pernah ditinggal kabur personil-personilnya,” kata Ade sambil tertawa. “Dulu waktu saya balik dari New Zealand saya tanya sama Adhi, si Pure Saturday teh masih ada? Kata dia diterusin hayu, engga juga ga apa-apa,” kenang Ade.

“Apa yang kemudian membuat band ini bisa bertahan?” tanya saya. “Passion. Kalo kita main dengan passion, spirit  ada terus,” beber Ade. “Band ini masih ada karena passion-nya ada,” sambung Udhi.

Itu pula yang membuat mereka bisa terus bertahan dengan semangat yang sama selama hampir dua dekade. Konsekuensinya, mereka harus bekerja untuk menghidupi musik mereka. Iyo dan Ade bekerja di sebuah clothing line ternama, Adhi bekerja di bidang desain grafis sedangkan Udhi di desain interior. Sementara Arief di bank milik negara. “Si Arief mah di bank juga kalo pas lagi luang ngeband sama temen-temen kantornya,” kata Ade.

“Realistis aja. Di Indonesia dengan musik seperti kita agak susah. Sektoral. Butuh proses. Gak semua pendengar bias masuk,” ujar Udhi. Toh dirinya mengaku sudah cukup puas dengan kondisi seperti ini. “Sama-sama penting lah porsinya. Yang ini buat dapur, yang ini buat passion.”

Mereka justru takut jika musik dijadikan sebagai sumber penghidupan. “Kalo jadi kerja takutnya nanti malah nurunin bobot musik kita. Tapi ya gak menutup juga kalau nanti keadaan sudah membaik dari segala sisi. Hak cipta, royalti, juga apresiasi pendengar,” ungkap Arief.

Karena sudah terbiasa dan memang diniatkan untuk terbiasa dengan situasi seperti ini, masalah membagi waktu antara pekerjaan dengan band sudah tidak lagi menjadi the big thing. “Dari dulu juga udah. Antara manggung dengan kuliah ato ujian. Pilihannya dua. Manggung ato enggak sekalian,” ujar Ade.

Mereka lebih baik menolak tawaran manggung ketimbang cari pengganti. “Saya bisa bilang Pure Saturday gak pernah maen pake pengganti. Udhi pernah itupun waktu dia sakit. Pernah pas di main di Bali si Arief ga bisa. Yang ganti siapa? Suar.”

Bahkan kolaborasi antara Pure Saturday dengan Yockie Suryoprayogo di Djakartartmosphere 2011 lalu nyaris gagal. Arief mendadak tidak bisa ikut karena istrinya sakit. “Berat. Kita gak biasa maen dengan satu gitaris. Udah lah ga usah jadi aja. Tapi kapan lagi maen sama mas Yockie? Kita maen gak enak yang denger juga gak enak,” aku Ade.

Mereka juga dikelilingi oleh orang-orang yang tidak berhenti memberi dukungan. Mulai keluarga, teman-teman di scene, juga teman kerja yang mengerti tiap kali mereka bolos bahwa mereka punya tanggung jawab sebagai musisi. “Pure People udah pasti. Mereka bagian dari band,” ujar Ade.

***

Pure People yang dimaksud adalah kumpulan penggemar Pure Saturday. Yang membuat berbeda dengan fanbase sejenis adalah inisiatif pembentukannya bukan datang dari band. Melainkan dari penggemarnya yang sebelumnya aktif di milis dan sering bertemu di setiap gigs Pure Saturday.

“Sebenernya kita malah cenderung takut sendiri diidolakan. Kalo udah kayak The Cure atau Rush tuh baru layak diidolakan,” ujar Udhi. Mereka merasa konsep fans club justru terdengar menggelikan.”Ya kalo seneng mah seneng. Tapi bingung juga karena kita juga ngidolain orang lain,” “Tapi selama masih ada yang dengerin kita, passion kita bakal ada terus.”

“Tapi adanya fans menandakan bahwa musik Pure Saturday diparesiasi secara positif bukan?” tanya saya. “Ya memang awalnya kita gak niat buat jadi idola. Awalnya pengen kita sama posisinya. Tapi itu bisa pas dulu banget, waktu yang nonton kita cuma 20 orang. Sekarang udah ga bisa secara personal. Kami makin ke sini akhirnya makin tau posisi juga,” ungkap Ade. Sebagai gambaran, tercatat ada 14 ribu pengikut di laman Twitter mereka dan 1.234 orang menyukai di fanpage Facebook.

Saat perhelatan Grey Concert kemarin, Pure People juga hadir. Mayoritas sudah berusia dua puluh tahun lebih. Mereka kompak mengenakan kaus ”identitas” yang desainnya dikerjakan langsung oleh Udhi.

Allex Aromatica, yang menjadi pendengar setia Pure Saturday sejak era album pertama bahkan membawa serta istri dan bayinya. “Lagu-lagu Pure Saturday dulu jadi modus buat PDKT. Kasih Desire langsung deh kelepek-kelepek,” katanya sambil tertawa.

Kaus nampaknya jadi sarana komunikasi bagi Pure People. Bukan sekali ini saja. Saat konser dalam rangka launching album Elora di Asia Africa Cultural Complex tahun 2005 silam mereka membuat kaos bergambar Iyo dan Suar dengan tulisan We Are Brother. “Kaos ini nunjukin kita support sama Iyo sebagai vokalis barunya Pure Saturday,” ujar kata Adam Sundana yang sejak SMP sudah menaruh album pertama Pure Saturday di rak koleksi kasetnya.

Pure Saturday Nite yang diselenggarakan pada 2006 di Vicky Sianipar Music Center, Jakarta adalah hari lahir mereka. “Waktu itu kami patungan. Pokoknya gimana caranya acara ini harus jadi,” kata Adam. Selain membuat hajatan bagi band favoritnya, Pure People juga mengundang band-band yang terinspirasi oleh Pure Saturday seperti My Secret Identity, The Sweaters, Whisper Desire dan Ballads of the Cliché.

Pure People banyak memegang peranan penting saat band idola mereka tengah berada dalam masa hiatus. “Kita sering banget cerewet nanyain kapan album baru keluar. Secara gak langsung nyemangatin mereka,” ujar Aditya. “Lagu mereka nemenin hari-hari saya. Apalagi “Buka” yang ada lirik kita tak sendiri. Udah kayak theme song-nya Pure People,”

“Kalian sepertinya cukup sabar menggemari band malas seperti Pure Saturday ya?” kata saya. “Justru itu yang bikin momen nonton Pure Saturday jadi berkesan,” kata Dapit Budi, salah satu inisiator pembentukan Pure People. “Dulu waktu konser tunggal di Bandung tahun 2009 saya masih ada kerjaan di Jakarta. Akhirnya biar cepet naik motor, ujan-ujanan lewat Puncak,” kata Dapit. “Ada juga yang besoknya ujian skripsi malah nonton.”

Arie Dharmawan Romli malam itu juga hadir sepulang kerja. Padahal sebelumnya dia ketar-ketir mengingat durasi konser yang mepet dengan jadwal kereta terakhir ke Bogor, kediamannya bersama istri dan anak-anaknya.

Salah seorang anaknya bernama Elora, sesuai salah satu judul lagu Pure Saturday. “Ngefans sama Pure Saturday pastinya. Sekarang udah 2,5 tahun. Ternyata anaknya Suar juga namanya Elora. Setelah tau arti Elora kayaknya bagus banget kalau jadi nama anak ku,” ujarnya. Elora berarti sinar yang terang dalam bahasa Yunani.

Arie mengenal Pure Saturday sejak zaman masih kuliah di Bandung, dari majalah Hai. ”Dulu almarhumah ibunya Adhi dan Udhi dosen aku lho. Beliau pernah cerita kalau bangga banget sama mereka,” kenang Arie. Kebetulan kampus Arie saat itu dekat lokasinya dengan Jalan Nilem di daerah Buah Batu yang jadi base camp Pure Saturday.

***

Bagi sebuah band, usia yang mencapai nyaris dua dekade adalah bukti mereka layak masuk kategori legenda. Tak terkecuali bagi Pure Saturday yang mampu bertahan di rimba industri musik Indonesia dengan semangat yang tak berubah sejak pertamakali terbentuk. Meski, lagi-lagi, mereka ogah disebut legenda. “Iya kami legenda. Legenda dari Kota Legenda, Cibubur,” ujar Ade seraya tertawa.

“Band yang bagus itu yang mampu menginspirasi generasi selanjutnya. Bukan bikin band yang lebih lebih bagus , tapi lebih ke gue pengen ngeband gara-gara Pure Saturday. Sama kayak Puppen waktu liat ROXX,” ujar Arian 13.

Selama dua puluh tahun, mereka telah meletakkan pondasi penting dalam bermusik yang seringkali dilupakan oleh musisi-musisi yang sekedar ingin tenar. Bersenang-senang. Bersenang-senang bersama tepatnya. Karena mereka sadar bahwa mereka tak pernah sendiri.

Ada keluarga, kawan, juga penggemar yang terus menjaga agar api semangat itu terus menyala. Seperti yang mereka torehkan dalam “Buka”, yang kebetulan juga adalah salah satu Pure Saturday favorit saya. Ya anda benar. Saya juga penggemar mereka.

Hai kawan masihkah kita ada di jalan yang sama
Setelah sekian lama
Seperti dulu kita bersama
Menempuh banyak cara dan rintangan
Kita tak sendiri…
Tiada pernah kita lupakan
Selalu terbuka
Selalu lepas tertawa
Banyak cerita dikisahkan
Telah kita dapatkan bersama
Kita tak sendiri…
Datanglah…
Kita ‘kan s’lalu terbuka
Raihlah tangan terbuka
Kita tak sendiri…
Kita tak sendiri…
Terbuka…

1 Comment

  1. Pingback: 5 Album Kompilasi Penting di Industri Musik Indonesia - Masjaki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>