Kisah Klasik di Bogor

WP_20150418_007

Cah-cah akeh sing rung iso mlebu. Dowo banget antrian tiket e (Anak-anak banyak yang belum bisa masuk. Antriannya panjang banget) ,” kata Deni Setiawan, road manager Sheila On 7 saat saya datang di kamarnya di Hotel Salak, Bogor pada Sabtu petang lalu.

Akhir pekan kemarin Brian, Eross, Duta, dan Adam diundang untuk tampil di sebuah pentas seni SMA Negeri 3, Bogor. Bersama Sore dan The S.I.G.I.T, mereka akan memanaskan GOR Pajajaran. Tempat ini menjadi saksi kali pertama Sheila On 7 menyambangi Kota Hujan hampir 15 tahun silam dalam rangkaian tour yang digagas oleh salah satu promotor kenamaan pada saat itu, Deteksi Production dan A Mild Live.

Bersama Padi, saat itu Sheila On 7 yang masih diperkuat gitaris Saktia Ari Seno dan drummer Anton Widiastanto baru saja meluncurkan album Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Aksi dua band paling panas di industri musik Indonesia saat itu berhasil membuat GOR Pajajaran pecah. Pecah dalam arti sebenarnya karena saat itu banyak rombongan tak bertiket yang memaksa untuk masuk dan melampiaskan kekesalannya dengan melempar kaca-kaca samping GOR .

“Tiketmu di dol wae. Mangkat bareng seko kene (Tiketmu dijual saja. Berangkat bareng dari sini),” kata Deni. Saya sebelumnya memang sudah membeli tiket. Sudah kebiasaan tiap  menonton konser musisi idola. Deni lalu kembali sibuk menyusun setlist untuk repertoar malam itu. Susunan lagunya menurut saya “standar panggung pensi”. Ada 12 lagu, campuran dari album Musim Yang Baik, Kisah Klasik Untuk Masa Depan, Pejantan Tangguh, 07 Des, Menentukan Arah, sampai OST. 30 Hari Mencari Cinta.

***

“Aku wis males saiki nonton AC Milan. Direwangi tangi mbengi mung kalah (Aku sudah malas nonton AC Milan. Bangun malam cuma kalah),” sungut Duta sembari mencari koneksi internet untuk menonton pertandingan tenis dari laptopnya.

Duta adalah Milanisti. Di sampul album 07 Des dan Pejantan Tangguh ada potongan terima kasihnya untuk Carlo Ancelotti, serta Andrii Shevchenko dan Filippo Inzaghi yang saat itu menjadi pelatih serta duo andalan lini depan klub kebanggan kota Milano dan Italia itu.

Jare saiki Milan golek pelatih anyar yo? (Katanya Milan sedang cari pelatih baru ya?),tanyanya pada saya. Duta tahu saya juga Milanisti. Milanisti yang disebutnya jarang karena saya juga mendukung Manchester United. “Biasane wong seneng MU ki dukung Juventus.”

Iyo mas. Jurgen Klopp ketoke cocok. Tapi masalah e de’e meh disilih po piye? (Iya. Jurgen Klopp sepertinya cocok. Tapi apa mau dipinjam juga?),” jawab saya, menyesuaikan kebijakan transfer Milan yang efisien kalau tidak mau disebut pelit.

“Hahahaha pelatih silihan kok piye. Unai  Emery cocok sakjane (Pelatih kok pinjaman. Unai Emery sebetulnya juga cocok),” katanya menyebut pelatih yang sukses membawa Sevilla juara Liga Eropa tahun lalu.

Masih ada satu jam lagi sebelum mereka harus berangkat ke venue. Sesuai jadwal dari panitia, Sheila On 7 akan menjadi penutup acara. Mereka akan naik panggung pukul 20.20 WIB dan berakhir satu jam kemudian. Kami lalu ngobrol ngalor ngidul. Obrolan yang disebut Duta sebagai obrolan konco udu obrolan jurnalis.

Banyak hal jadi topik perbincangan kami. Saya menceritakan  irinya istri saya kepada Adelia Lontoh, istri Duta, karena selalu dibuatkan lagu oleh Duta sejak album Pejantan Tangguh.  “Lha inspirasine mung kuwi je (Inspirasinya cuma dia),” kata Duta sambil tertawa. Karena obrolan konco tadi maka saya tidak akan mengumbar semuanya disini.

Jarum jam semakin mendekati jadwal berangkat. Duta bergegas mandi. Dia meminta Deni menyiapkan perangkat speaker portable untuk dibawa masuk ke kamar mandi. “Bapak nek pemanasan vokal cen ngono (Bapak kalau pemanasan memang begitu),” kata Deni.

Deni bersama kru panggung Sheila On 7 memanggil Duta dengan sebutan Bapak atau Baba, yang kemudian diikuti oleh puluhan ribu Sheila Gank. Tentunya pengecualian buat saya yang tetap memanggilnya mas. Bruno Mars dan John Mayer jadi instruktur untuk sesi malam itu.

Duta lalu menyiapkan diri untuk malam itu. Setelah menjamak sholat Maghrib dan Isya’, dia memamerkan pada saya treatment khusus untuk dirinya yang mengidap hernia, seperti pernah ditulis oleh Hasief Ardiasyah dalam liner notes untuk album Menentukan Arah. “Maklum wis tuo, kudu koyo ngene (Sudah tua, harus seperti ini),” katanya.

Saat konser di Yogyakarta pada bulan Februari lalu, dia terpaksa harus berhenti sejenak di tengah konser. Komando lalu diambil alih sementara oleh Eross.  Sebetulnya tahun 2000 silam dia diharuskan menjalani operasi. Konsekuensinya Duta mesti cuti manggung selama 9 bulan. Sementara jadwal tour Sheila On 7 saat itu sedang menggila. “Jadi cuma 2 bulan istirahat terus lanjut buat tour. Sekarang harus pintar jaga kondisi,” jelasnya.

***

“Siapkan air putih panas dua gelas di backstage” kata Deni kepada panitia lewat sambungan telepon genggam. Sebagai road manager, dia harus memastikan semua kebutuhan personil terpenuhi. Pukul setengah delapan lewat, kami turun ke lobi hotel. Eross, Adam, dan Brian sudah tiba lebih dulu. Jemputan dari panitia sudah siap. Adam, Deni, saya, juga dua orang teman dekat personel masuk ke salah satu mobil.

Jarak dari hotel ke venue cukup dekat, sekitar tiga kilometer. “Mobil kru sudah disana? Akses untuk parkir mobil sudah disiapkan?,” tanya Deni kepada panitia yang menjemput. Mereka sedikit gugup, mungkin karena masih SMA. Mungkin karena saking gugupnya mobil yang membawa kami sempat salah jalur saat masuk venue dan kesulitan untuk putar balik karena akses masuk penuh oleh mobil yang diparkir. “Mobilmu mundur dulu, tenang saja,” kata Adam.

Sampai backstage sudah ada Rekti Yuwono, Farri Icksan, Aditya Bagja, dan Donar Armando Ekana dari The S.I.G.I.T yang baru saja menyelesaikan panggung mereka. Eross terlihat asik berbincang dengan mereka sampai tiba-tiba Deni datang dengan kabar kalau pihak polisi mempermasalahkan durasi konser. Padahal sesuai kesepakatan dengan panitia, konser akan berlangsung sampai pukul 10 malam. Dia lalu membawa salinan surat izin kepolisian dari panitia untuk memfotonya. “Buat bukti,” kata Deni.

Duta tampak kesal. Dalam beberapa bulan terakhir, sudah dua kali aksi panggungnya dihentikan paksa. Pertama di Alun-Alun Yogyakarta, bulan Agustus tahun lalu. Seorang polisi tiba-tiba ngloyor ke atas panggung mendekati Duta yang saat itu sedang memimpin koreografi penonton di lagu “Pemuja Rahasia”.

Kejadian kedua saat Sheila On 7 tampil di festival nostalgia di Bandung bulan Februari lalu. Setlist dipotong karena kebijakan jam malam yang diterapkan Kepolisian Kota Bandung. “Sing paling ngeselke ki ning Bandung. Soale sing nonton kan wis mbayar tiket larang (yang paling menjengkelkan di Bandung karena penonton sudah beli tiket mahal),” kata Ferry Kurniawan, additional keyboardist Sheila On 7. Bakal jadi hattrick kalau malam ini polisi berulah lagi, batin saya.

Duta meminta kalau memang durasi harus dikurangi, polisi sendiri yang menjelaskan ke penonton. “Jelaskan sendiri di atas panggung, di depan penonton.” Entah bagaimana kesepakatannya, Deni memastikan semuanya sudah aman. “Biasalah, panitia kadang ra tanggap situasi (Biasalah, kadang panitia gak peka sama situasi),” ujarnya dengan senyum penuh arti. MC sudah memanggil-manggil nama Sheila On 7. Waktunya sudah tiba.

***

Saya merasakan keanehan lagi malam itu. Sebagian besar penonton adalah remaja-remaja yang saat nomor-nomor seperti “Sahabat Sejati” dan “Seberapa Pantas” hadir, mereka masih balita atau bahkan belum lahir. Tapi sing along mereka malam itu jadi vokal latar selama satu jam.

“Selamat Datang” dipasang sebagai nomor pembuka. Lagu yang paling saya nantikan versi live-nya. Nomor-nomor di Musim Yang Baik menurut saya punya amunisi lebih jika dibawakan di panggung. Saya ingin melihat Duta memainkan harmonika, sesuatu yang dilakukannya saat rekaman album kedelapan Sheila On 7 ini.

“Sahabat Sejati” Kemudian digelontorkan. GOR Pajajaran semakin panas. Tapi justru ada sedikit perasaan sentimentil bagi saya. Lagu ini ditulis oleh Eross untuk mengingat momen-momen mereka kala mulai menetapkan Sheila On 7 sebagai pilihan hidup. Potongan dengan kotak sejuta mimpi aku datang menghampirimu merujuk pada Sakti yang saat itu sudah punya gitar dengan kualitas baik karena kondisi ekonomi keluarganya yang paling makmur.

Mungkin ini juga karena di dalam lift menuju lobi, Duta tiba-tiba bertanya pada saya bagaimana kesan kala mewawancarai Sakti saat saya dan kawan-kawan menggarap film dokumenternya enam tahun silam. “Sakti memang gak pernah berubah,” ujarnya.

WP_20150418_031

Setelah kembali menjadi pemandu koreografi pada “Pemuja Rahasia”, suhu sedikit diturunkan lewat “Yang Terlewatkan”. Sebelum saya terjebak terlalu lama dalam sesi curhat colongan tadi, situasi berhasil diselamatkan lewat “Seberapa Pantas”.

Saya berada persis di depan speaker monitor Eross. Tepat saat Eross akan mulai menyayat gitarnya dengan gila dalam sesi solo, saya mundur. Eross pasti akan maju. Kalau tidak naik ke rig panggung, dia akan pamer skill diatas tumpukan speaker. Malam itu dengan menenteng gitar Squier signature-nya, dia memilih opsi kedua.

WP_20150418_024

“Ini lagu untuk membuktikan seberapa pantas kalian jadi Sheila Gank,” kata Duta sebelum memulai “Tentang Hidup” . Lagu ini bukan jajaran hits single Sheila On 7. Secara personal, nomor ini adalah salah satu favorit saya di album 07 Des.

Mood-nya mengingatkan pada “Dan” di album pertama. Lirik awal akhirnya semua terjadi juga yang ku takutkan yang ku elakkan menggambarkan penyesalan akan kesalahan yang tak diinginkan seperti yang ada  di “Dan”. Namun jika sebelumnya Eross sebagai penulis bersedia untuk di-caci maki dan di-lupakan agar tokoh kamu kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala, maka disini ia tak ingin meredup dan membeku. Entah disengaja atau tidak, isian string section pada bagian bridge  menjadi melodi gitar Eross di intro “Hari Bersamanya” di album Berlayar.

Selanjutnya adalah aksi lawak ala Srimulat di “Lapang Dada”.  Eross sudah menggeber intro saat Duta tiba-tiba membelokkan arah ke “Ambilkan Bulan”, “Mudah Saja”, sampai “Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki”.

Brian meninggalkan drum set, Deni dan kru yang lainnya wara-wiri di  panggung sambil memasang wajah pura-pura panik. Sistem tata suara berulang kali mengisyaratkan adanya gangguan. Saya tidak tahu apakah ini bagian dari paket pertunjukan atau memang kerusakan. Aksi ini ini menjadi gimmick panggung Sheila On 7 belakangan ini. Sudah berulang kali dilakukan, namun tetap saja penonton terkecoh dan terhibur.

Nomor penyengat adrenalin “Melompat Lebih Tinggi” mau tak mau akhirnya menjadi penutup. Menyisakan “Buka Mata Buka Telinga” serta “Sebuah Kisah Klasik” yang seharusnya jadi lagu yang tepat untuk berpisah.

Setelah aksi Eross memainkan gitar dari balik punggung dan menciptakan noise dari efek gitarnya, Sheila On 7 pamit undur diri. Tidak ada encore. Semuanya gara-gara durasi. Entah siapa yang salah. Rundown yang tak beres atau polisi yang senang betul berulah jika menyangkut izin keramaian.

WP_20150419_003

***

Suasana di backstage sudah penuh orang. Situasinya agak kacau karena ada panitia, jurnalis, sampai fans yang entah dari mana bisa menelusup masuk tenda. Tidak ada barikade serta minimnya petugas keamanan membuat beberapa fans bisa lolos. Yang bisa masuk langsung bergerilya menodong satu demi satu personil untuk foto bersama. Yang ketahuan petugas keamanan hanya bisa teriak-teriak mencari perhatian. Berharap salah satu personel mau keluar atau sekedar membalas panggilannya.

Ada satu fans yang berharap bisa masuk tenda. Setelah jurus memohon pada panitia tidak berhasil, dirinya mengeluarkan kartu mahasiswa salah satu universitas negeri di Semarang, Jawa Tengah. “Tolong mbak udah jauh-jauh dari Semarang,” ujarnya. Triknya berhasil. Saking senangnya, saat harus meninggalkan tenda dia berulang kali salah jalan.

Wis yuk, ngelih (Sudah yuk, lapar),” kata Duta. Mobil jemputan belum juga datang. Panitia masih sibuk mengatur fans yang makin lama makin sulit diatur. “Kalian ini satu dituruti malah minta semua. Diturutin foto tapi masih rese,” ujar Duta pelan. Untuk beberapa saat teguran Duta ini bisa membuat mereka tertib. Tapi begitu mobil jemputan datang dan personil keluar, ceritanya kembali sama.

“Mas Duta foto bareng sama anakku sebentar mas”

“Mas Eross foto dulu dong”

“Liat sini mas Adam”

“Mas Brian kesini dong”

Kalau sudah begini Deni yang harus turun sebelum situasi tak terkendali. “Kasih jalan. Sudah kasih jalan dulu.”

Setelah berhasil keluar, mobil menuju sebuah rumah makan khas Sunda. Adam langsung meminta karyawan rumah makan untuk mencarikan siaran langsung sepak bola. Dia ingin menonton Barcelona versus Valencia. Duta langsung sibuk dengan sambungan telepon. Brian mengunggah beberapa dokumentasi konser ke Instagram. Dari Instagramnya, saya baru tahu ternyata drummer pemilik tenaga badak ini datang ke Bogor dengan menumpang kereta Commuterline dari kediamannya di Jakarta. Sementara Eross meminta diantarkan kembali ke hotel untuk ganti pakaian.

Selain personil, kru, dan teman-teman dekat, sesi makan malam telat itu juga diikuti oleh pemenang kuis Beruntungnya Aku Sehari Bersama Sheila On 7.“Idenya dari Bapak e,” kata Ibeng Aprilio, entah apa hubungan kerabatnya dengan Kevin Aprilio, yang dipasrahi sebagai seksi sibuk untuk kuis ini.

Kuis ini diadakan di kota tempat Sheila On 7 manggung. Sesuai namanya, pemenang akan diberikan kesempatan mengikuti seluruh rangkaian produksi konser Sheila On 7. Pemenang tidak selalu berdomisili di lokasi konser. “Waktu manggung di Malang, ada salah satu pemenang dari Bekasi. Dia minta waktu 15 menit buat ambil keputusan karena besoknya sidang skripsi. Setelah 15 menit dia bilang ‘Oke mas aku ikut’, “ jelas Ibeng.

Selama sesi makan malam ini para personil sibuk menandatangani semua proposal memorabilia. Termasuk Adam yang meja makannya penuh dengan berbagai menu. Malam itu dia memesan sup iga dan sate, juga sempat mencicipi nasi goreng pete,  yang membuatnya jadi bahan gunjingan personil lain.

Satu demi satu berbagai memorabilia mendapat tanda tangan. Mulai dari CD, kaos, tas, sampai helm. Ya helm. Mungkin kalau ketemu petugas patroli yang sesama Sheila Gank, helm ini akan menjadi helm tangguh atau helm yang baik. Saya juga ikut meminta legalisir untuk CD album Musim Yang Baik, setlist konser tadi, juga kaset 07 Des milik istri saya yang tak jadi ikut.

Deni lalu meminta semua yang hadir untuk foto bersama. Urutan pertama adalah para pemenang kuis, lalu teman-teman dekat mereka yang datang, dan terakhir semua yang hadir malam itu. Saya sudah siap untuk pamit saat Duta tiba-tiba memanggil saya. ”Ayo dewe foto sik. Foto sik karo sing duwe masjaki.com (Ayo kita foto dulu sama yang punya masjaki.com),” kata Duta. Njih, pak. Ckrek.

WP_20150419_001

9 Comments

  1. Budi Warsito Reply

    Wingi ndelok ono billboard gedhe nang cedhak pintu tol, So7 arep manggung nang mBandung. Moco tulisanmu iki Jak aku dadi pengen mrono, mengko awal Mei yen ra kleru.

  2. Tiwi Reply

    Jangan2 yang di GOR UNY tgl 25 April kemaren juga dipotong setlist-nya… Berakhir dengan perasaan nanggung… Rasane aneh…

  3. Siskha Miranda Reply

    Mas, maaf.. Januari 2013 sheila on 7 ada jg konser di gor padjajaran bogor. Jadi bukan kali pertama setelah 15 tahun:)

    1. Fakhri Zakaria Reply

      OK thanks informasinya, tapi pertama kali Sheila On 7 main di Bogor ya di GOR Pajajaran tahun 2000 di event yang saya sebutkan itu, waktu saya masih kelas 2 SMP. Sumbernya? dari vokalisnya langsung :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>