Sheila On Their Best*

WP_20150507_002

Selama 19 tahun, Sheila On 7 hadir dengan bentuk yang sederhana. Sempat sedikit mencicipi kemegahan orkestra, bermain dengan keriaan unsur tiup, mereka akhirnya menemukan arah dan kembali dengan kekuatan empat departemen yang menjadi pondasi musik mereka.

Namun konsistensi ini juga dibarengi dengan upaya untuk mengajak pendengarnya tumbuh bersinar dan berpijar sesuai fase usia. Saat ini kita mungkin tidak lagi menemui teenage love song seperti “J.A.P”, intrik cinta segitiga di “Sephia”, atau kepedihan ditinggal kabur bribikan pada “Pria Kesepian”. Brian, Eross, Duta, dan Adam saat ini mengajak kita untuk bersama-sama “Lapang Dada” sembari “Buka Mata Buka Telinga” untuk menghadapi situasi yang “Canggung” sembari menunggu “Musim Yang Baik” bersama “My Lovely”.

Sejak 2012, saya selalu punya cara sendiri merayakan ulang tahun band idola saya ini. Jika pada dua edisi sebelumnya saya mengundang teman-teman untuk menulis pengalaman personal mereka dengan lagu-lagu Sheila On 7 juga memilih tujuh lagu Sheila On 7 favoritnya, kali ini saya ingin melihat Sheila On 7 dari kacamata sesama musisi. Musisi yang saya pilih mewakili setiap pos utama di bangunan lagu Sheila On 7. Mereka datang dari warna musik yang berbeda. Dari grunge, funk, indiepop, hingga jazz,  namun punya satu irisan yang sama.

Akhir kata, selamat ulang tahun untuk Sheila On 7. Tetap bersenang-senang dan membuat musik yang baik. Jalan terus!

Agib Tanjung (bassis Alterego,  jurnalis brilio.net)

Agib

Setahu saya, Adam dulunya bukan seorang bassis, tapi gitaris. Entah bagaimana ceritanya saya agak lupa (dulu Duta pernah cerita) Adam akhirnya jadi bassis sampai tulisan ini kalian baca.

Adam adalah sosok yang tak mau ribet sama permainannya sendiri. Dari cara main dan pemilihan sound bassnya. Penggemar gila Fender Precision itu kalau istilah Jawanya, sumeleh. Bukan main aman tapi karena kebutuhan lagunya sendiri. Bisa menjaga emosi dan memberi ruang yang nge-groove untuk sebuah lagu.

Bagi kalian penggemar Sheila On 7 tentu tahu lagu “Lihat, Dengar, Rasakan” (Kisah Klasik Untuk Masa Depan, 2000). Lagu lagu itu satu-satunya Adam bermain melodi di interlude-nya. Jujur saya pernah nyolong sedikit tema bass line-nya ke dalam sebuah lagu band rock Jogja yang pernah saya bantu.

Kalau mau ditanya part bass Adam mana yang favorit saya, mungkin ada di lagu “Generasi Patah Hati” dari album Pejantan Tangguh (2004). Saya jadi suka bass line-nya, karena saya pernah membawakan lagu itu bersama band sweet grunge kesayangan saya, Alterego.

Selain sound-nya unik, bagi saya bass line di part yang letaknya sebelum reff terasa hidup dan dominan jadi tema di lagunya. Saya sangat terkesan dengan lagu ini karena ketika didengarkan gampang, tapi setelah diulik ternyata susah juga. Saya baru sadar kalau jadi bassis itu harus sumeleh dan mainnya pakai hati yang nantinya disalurkan ke tangan. Tak perlu ribet soal bass line-nya, yang penting ‘”terasa”.

Saya ingat kata Adam ketika beberapa tahun lalu saya berkunjung ke rumahnya. Kami punya idola yang sama, Duff McKagan. “Delok wae kae si Duff, maine biasa tapi ketok istimewa dan nyeleneh tapi iso nge-groove banget (Lihat aja itu Duff, mainnya biasa tapi kedengaran istimewa dan antik . Bisa nge-groove banget),” begitu kira-kira kata Adam yang bikin saya manggut-manggut sambil mengelus-elus salah satu koleksi Fender Precision-nya. Ya, bagi saya Adam sama seperti Duff. Dia adalah pemain bass yang nge-groove. Mainnya biasa, tapi enak banget.

Perlu kalian tahu juga, demi tulisan ini terbit, saya rela tanya ke Adam lagi, kira-kira kapan dia mau solo bass lagi di lagu-lagu Sheila On 7 selanjutnya. Karena kebetulan dia cuma pernah membesut instrumen bass di album Bass Heroes tahun 2006 silam. Begini jawabannya:

“Menurutku bass itu adalah link dari perkusi ke instrumen bernada lainnya, seperti gitar. Bass ada di antara mereka, buat jagain mereka. Instrumen bass itu menurutku tidak lazim untuk solo. Kalau aku selalu lebih milih bikin bassline yang cocok dengan lagunya aja, ya yang cocok dengan Sheila On 7.”

“Memang di beberapa momen lagu, aku punya bassline yang unik, biar agak menonjol. Tapi aku selalu menyadari aku bukan pemain bass yang seperti itu. Aku kan dari dulu sampai sekarang aku bukan pemain bass yang super.

“Intinya, solo bass itu tergantung lagunya cocok opo ora (cocok atau tidak). Yang penting sekarang ya karena jualan, apapun yang kita aransemenin ya harus mendukung sesuai kebutuhan lagu itu.”

Kalau sudah begini saya mau berkata apa? Adam Subarkah cuma merendah. Bagi saya dia bassis super. Super sumeleh, tapi super nge-groove!

Anto Arief (gitaris 70’s Orgasm Club dan Musik Tulus, penggemar film)

Anto

Eross adalah gitaris blues rock paling berharga yang dimiliki dunia musik pop Indonesia. Karakternya begitu kuat sehingga hanya akan ada satu ikon gitaris yang sepertinya layak disematkan gelar satria bergitar.

Dengan gitar vintage-nya, ia bermain dalam grup musik pop. Membawakan lagu-lagu pop yang tanpa basa basi didominasi gitar (guitar driven) dengan isian gitar bernafaskan blues rock. Ditambah dengan aksi panggung tengil, pecicilan tidak bisa diam, melompat-lompat di panggung, memainkan solo gitar di belakang kepala, hingga naik ke atas speaker. Semua itu melengkapi definisi seorang satria bergitar versi saya. Dan gilanya, semua itu dilakukan sambil dipuja-puja penonton remaja wanita yang berteriak histeris.

Tanpa pretensi, Eross sebagai gitaris andal hadir sesuai porsinya dalam band dengan formasi gitaris tunggal. Ia begitu leluasa bermain reff-reff dan licks blues rock dengan cerdas sesuai kebutuhan aransemen musik Sheila On 7. Bisa sendu, melodius maupun galak sampai mampu merobek pantat Anda.

Semua itu dilakukan dengan tone gitar crunch khasnya yang dicapai dengan amplifier tabung yang di crankedup agar terdengar pecah (over driven). Volume amplifier gitarnya kencang sekali di atas panggung. Permainan blues rock Eross adalah hal lain. Seperti tidak habis-habis, nada pentatonik yang cuma lima not itu dieksploitasi dan dimainkan dengan pilihan nada-nada yang nakal, catchy, enak di telinga, dan bagi gitaris, mengundang rasa penasaran untuk diulik.

Album terbaru mereka masih saya dengarkan dengan frekuensi tinggi. Saya masih kagum bagaimana ia tetap bisa nyaman bermain licks gitar blues rock era 70-an di album ke-8 mereka, Musim Yang Baik. Album pop yang nyaman dengan membiarkan porsi gitar tetap besar di depan namun sederhana. Dan bicara permainan gitar Eross, berikut adalah beberapa lagu yang permainan gitarnya berhasil memikat perhatian saya:

“Satu Langkah” (Musim Yang Baik, 2014)

Bagian paling keren adalah solo gitar ber-phaser yang semriwing dan spacey. Terutama ketika Eross memainkan riff yang nge-chord sebelum masuk memainkan solo pentatonik blues yang simpel dan secukupnya.

“Buka Mata Buka Telinga” (Musim Yang Baik, 2014)

Perhatikan solo gitar crunch hasil respon yang baik pada ketukan drum dan dentuman bass dari drumer dan bassis yang bermain sangat funky. Bila anda adalah gitaris yang akrab dengan pentatonik blues dan part solo tidak terpancing untuk mengulik, saya tidak tahu harus berkata apa.

“Sekali Lagi” (The Very Best of Sheila On 7: Jalan Terus, 2005)

Ini adalah racikan maut. Bagaimana pada lagu bertempo lambat ini suara gitar sember Eross justru bisa berpadu dengan nyanyian sendu Duta serta ketukan groovy dari Adam dan Brian. Isian gitar pendek-pendeknya yang sendu juga bukti bagaimana sebuah solo gitar tidak melulu harus buruluk atau melengking.

“Melompat Lebih Tinggi” (OST.30 Hari Mencari Cinta, 2003)

Salah satu lagu paling kencang dari  Sheila On 7 yang anehnya bisa populer sehingga selalu dimainkan di panggung mereka. Solo gitar yang panas dan energik berhasil menyalak selaras dengan lagunya yang bertempo ngebut. Salah satu contoh signature tone Eross saat bersolo gitar yang begitu kriuk krenyes seperti rempeyek kacang.

“Seberapa Pantas” (07 Des, 2002)

Ini solo gitar dengan aransemen musik paling favorit. Dibuka dengan intro lick gitar meraung, dimuati dengan licks gitar blues yang menyempil di sudut-sudut lagu, ditambahi dengan solo gitar yang meledak-ledak dengan iringan string section yang sekejap bermain selaras dengan melodi Eross , dan ditinggalkan Eross sambil string-nya kembali mengiringi. Solo gitar dengan iringan paduan string tidak pernah semegah ini pada musik Indonesia.

Arif Kusuma (pernah menjadi drumer Lampukota dan Summer In Viena, pengajar)

Arif

Inilah beberapa kesan tentang part drum Sheila On 7 mulai dari album pertama hingga album terakhir dengan label yang telah membesarkan mereka. Ada semacam missing link di album ke-5 karena sejujurnya saya pernah tidak mengikuti band ini disaat mereka mengeluarkan album 507. Namun saya akan coba mengingat setiap album untuk Anda semua.

Dan…” (s/t, 1999)

Sambutan menarik dari Anton di bagian pendahuluan lagu setelah petikan gitar mengawali intro lagu hits ini, apalagi ketika bass masuk dan semakin menghidupkan lagu. Semua pasti mengiyakan, mulai adik-adik yang sedang les drum sampe mas-mas penggebuk drum di band Top 40,  jika ketukan di lagu ini menjadi salah satu yang enak untuk dimainkan beserta lirik yg sarat makna. Visual sinar dan pijar yang direpresentasikan menjadi lampu kuning lima watt dan lilin redup, jaket kulit kedodoran yang dipakai Duta, sampai model Davina Veronica yang awet muda, menambah alasan mengapa lagu ini selalu menjadi yang ditunggu di setiap penampilan show mereka.

Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki” (s/t, 1999)

Saya masih duduk di bangku SD ketika album ini dirilis. Paduan ketukan tom floor yang berakhir dengan snare drum, semakin terbayang jelas ketika melihat video klip saat Anton memainkan di dalam mobil dengan memukul sebuah meja kecil (atau cajon?). Keasyikan part drum ini tak terasa terbawa di ruang kelas saat dimainkan secara klotekan di atas meja kelas sampai tak sadar guru menegur.  Rangkaian drum di lagu ini juga saya pakai untuk melatih tangan menggunakan teknik memutar setelah sebelumnya selalu stuck di snare, bass drum dan hi-hat saja. Maklum otodidak.

Perhatikan, Rani!” (s/t, 1999)

Lagu yang jarang ada di setlist mereka saat live. Sebuah lirik penggambaran sosok Rani yang sedang berjuang demi masa depan cipta. Paduan suara perkusi dan drum menambah varian lain dari suara alat pukul di album pertama yang masih belum banyak ditemukan. Masih saya ingat, bagian intro saat memainkan ride cymbal terdapat variasi ketukan yang berbeda. Membuat penasaran untuk mencoba memainkan. Selebihnya, lagu ini menjadi penerus “Anugerah…”  serta “Dan…” untuk menjadi lagu yang enak untuk dimainkan part drumnya. Anggukkan kepala jika setuju.

Sahabat Sejati” ( Kisah Klasik Untuk Masa Depan, 2000)

Ini seperti membuktikan bahwa Sheila On 7 sudah menemukan set drum dan suara membran yang dikehendaki.  Set drum di album pertama yang awalnya masih seperti sederhana sudah berubah menjadi lebih rumit dan terlihat lebih gagah. Lagu yang awalnya menjadi favorit si vokalis ini, langsung menggebrak. Tempatnya pun tepat, side A urutan pertama. Bagian interlude gitar yang perlu skill diimbangi oleh sang penggebuk untuk menjadi pematah cibiran sebagai kategori band yang performanya buruk. Sayang, semakin kesini saya kurang menyukai suara genjrengan di bagian intro.

Bila Kau Tak Disampingku” ( Kisah Klasik Untuk Masa Depan, 2000)

Paduan irama snare dan tiga kali pukulan bass drum di awal lagu turut menjadi ciri lagu yang menjadi single pertama album ke-2 ini. Lagu ini juga menjadi awal pernyataan bahwa musik mereka sudah jauh lebih berwarna daripada album pertama. Sejujurnya, saya menyukai part drum ini karena lagu ini termasuk bahan belajar memainkan drum kala itu. Entah kenapa ada semacam ketertarikan terhadap part drum di lagu ini.  Ketika teman-teman saya mencekoki Dave Grohl, Matt Sorum, Chad Smith, Mike Portnoy, Travis Barker hingga Patrick Wilson, maka di sela-selanya masuklah lagu ini untuk diam-diam saya pelajari. Mungkin intro di awal tadi yang membuat tangan saya gatal ingin memainkannya.

Seberapa Pantas(07 Des, 2002)

Ada dua versi yang muncul di lagu ini saat dibawakan secara live, yaitu versi std dan versi extended. Setahu saya std adalah versi asli mirip dengan rekaman di album. Sedangkan extended adalah penambahan satu putaran di bagian intro dan solo drum Brian di bagian outro. Dari segi permainan drum, Brian memang masuk dengan ciri dia sendiri, walaupun dii beberapa part ciri khas Anton tidak diubah. Lagu ini sering masuk dalam setlist live show mereka.

Buat Aku Tersenyum” (07 Des, 2002)

Sungguh bukan karena saya terkena demam F4 dan Sanchai kala itu kalau lagu ini saya anggap unik karena isian drumnya “lucu”. Pukulan yang lucu saat bagian bait kemudian pukulan saat reff yang kembali mengingatkan kejayaan lagu “Kita” beserta segenap pemain sinetron Lupus Millenia. Saat lagu ini booming, Anton sering muncul dengan drum yang berstiker Ducati atau Bridgestone di bagian bass drumnya. Sempat bingung apakah dia di-endorse oleh merk tersebut. Namun tidak lama kemudian logo tersebut hilang. Seingat saya, Sheila On 7 baru menggunakan gambar cover album di bass drum ketika Brian masuk menyelamatkan mereka di album The Very Best of Sheila On 7: Jalan Terus (2005).

Melompat Lebih Tinggi” (Ost. 30 Hari Mencari Cinta, 2003)

Formulasi racikan baru dimulai dari lagu ini, tidak disangka saat ketukan intro. Bunyi drum seperti gemuruh backsound ketika MC sedang mengumumkan para pemenang. Ketukan Anton saat reff juga berciri buka tutup hi-hat. Saat interlude, drum menjadi satu-satunya yang dimainkan saat gitar sedang bermain solo walaupun hanya beberapa detik.  Agak jarang terjadi dalam sebuah lagu.

Untuk Perempuan” (Ost. 30 Hari Mencari Cinta, 2003)

Lirik lagu ini memang menyentuh perempuan yang bakal mekar di hati para lelaki yang akan menemukannya. Drum yang muncul di bagian tengah lagu menimbulkan grafik miring naik. Ketukan ganjil patah-patah di bagian reff akhir yang bersifat fade out menjadi satu formula baru setelah riangnya “Melompat Lebih Tinggi” dan murungnya “Berhenti Berharap. Lagu ini berhasil memudarkan kejenuhan formula di tiga album sebelumnya. Di beberapa waktu setelahnya, saat Eross dan Brian membidani lahirnya Jagostu, patahan drum ini seperti muncul kembali. Maka tak ayal jika Jagostu terkadang disamakan dengan Sheila On 7 di beberapa part termasuk lagu ini. Saya bahkan merasa “Mau Tak Mau” yang jadi hits single Jagostu akan lebih bernyawa jika dinyanyikan oleh Duta.

Pemuja Rahasia” (Pejantan Tangguh, 2004)

Beberapa lagu lama yang dimainkan lagi di era sekarang mendapat sentuhan dan polesan di beberapa bagian oleh Brian. Beat di bagian lagu  mengingatkan kejayaan “We Will Rock You”-nya Queen. Mengalami sedikit perubahan namun tetap wangun.  Selain part drum, sejujurnya kekuatan lagu ini ada pada gerakan tangan ke kiri dank e kanan Duta di setiap konser layaknya instruktur senam yang selalu diikuti penonton dengan antusias. Brian yang di beberapa bagian selo, selalu merekam dan mengunggah di Instagram miliknya.

Pejantan Tangguh(Pejantan Tangguh, 2004)

Sempat terkaget saat mendengar ketukan lagu ini. Mungkin karena tidak terbayang atau tidak seperti biasa. Suara string yang terlanjur melekat dirombak menjadi brass section, menimbulkan ciri yang berbeda haluan untuk kemudian disebut inovasi. Meskipun penjualan tidak selaris tiga album sebelumnya, album ini menjadi era pencapaian maksimal Anton dalam mengeksplor lagu. Saya mengagumi pilihan suara snare drum dan set drum yang ia tata.

Pemenang” (507, 2006)

Lagu yang turut menjadi salah satu official theme song Piala Dunia 2006 ini sepintas memang sedikit keluar dari jalur benang merah yang sudah dibuat oleh Sheila On 7. Mereka seperti sedang ingin menemukan jalan terbaiknya lagi setelah kehilangan dua sahabat sejatinya. Sheila On 7 mencoba meramu musiknya dengan masuknya Brian yang digadang-gadang memiliki skill mumpuni. Alhasil permainan  beat drum dan distorsi gitar jauh dari manisnya lagu-lagu yang tercipta sebelumnya. Ini bukan lagu favorit saya, namun dengan keberanian dan kebulatan tekad untuk jalan terus dan prestasi mewakili Indonesia di Piala Dunia, saya menjadikan beat-beat asing ini untuk terus dikunyah perlahan-perlahan agar masuk dalam daftar lagu terbaik Sheila On 7.

Terlalu Singkat” (507, 2006)

Kalau boleh memilih instrumen, mungkin saya lebih memilih keyboard Ferry Kurniawan saat mengiringi lagu ini. Namun bukan berarti departemen drum tidak enak. Tangkapan Brian saat menyambut intro manis yang sudah dibuat Ferry membuat keheningan lagu ini menjadi bertambah nganu. Drum di lagu ini memang simpel, namun saya tidak akan menyuruh lagi adek-adek les drum dan mas-mas Top 40 untuk mengomentari lagu ini enak untuk dimainkan. Karena hidup terlalu singkat untuk kamu lewatkan tanpa mencoba drum-drumanku…na-na-na-na-na-na-na-na-na-na

Yang Terlewatkan” (Menentukan Arah, 2008)

Jika diibaratkan makanan, part drum di lagu ini bak gudeg jogja yang selalu manis atau masakan padang yang terkenal pedas. Lagu ini bernafaskan part drum yang “Sheila banget”. Brian mencoba masuk dengan ciri dia tanpa meninggalkan Anton yang lebih dulu membangun pondasi. Maka sekali lagi patut diamini oleh seluruh penggebuk drum bahwa lagu ini enak untuk dimainkan. Pasti kan?  Sing uwis yo uwis.

Arah” (Menentukan Arah, 2008)

Lagu yang bertempo cepat ini sering menjadi backsound saat mereka akan naik panggung dalam show off air. Beat lagu agak sedikit mengingatkan pada lagu “Terimakasih Bijaksana” (07 Des, 2002) namun disini lebih bervariasi dan memiliki balutan suara yang tebal. Seperti “Buat Aku Tersenyum”, lagu ini juga menyumbangkan ciri khusus yang tercipta dari part drum di awal.  Good job!

Hujan Turun” (Berlayar, 2011)

Entah kenapa, saya sangat menyukai ketika sebuah lagu menjadi ciri tersendiri karena pilihan pukulan drum. Dan ini terjadi lagi di lagu ini. Alasan lain mungkin karena lirik yang kuat menjadikan lagu ini sesuai moody di kala hujan benar-benar turun di sudut gelap mata.

On The Phone” (Berlayar, 2011)

Sebenarnya mirip dengan komentar diatas, hampir sama malah. Pukulan drum buatan Brian mencoba menemukan alur dan cirinya di setiap lagu. Pukulan perkursi di bagian reff menambah lagu lebih hidup. Saya menyenangi pukulan Brian pada reff yang terdiri dari beberapa bagian dan disambung dengan ketukan drum yang bervariasi.

Di album terbaru mereka, saya menilai beberapa part lagu khususnya di bagian drum memang sudah berpadu dengan suara sampling atau drum elektrik. Sebuah formula yang cikal bakalnya sudah mulai terlihat di album “Menentukan Arah”.

Selamat Datang” (Musim Yang Baik, 2014)

Konsep 4pieces yang mengarah pada kesederhanaan isian materi tidak menyurutkan pendengar untuk berpikir sebelah mata dan sempit. Lagu yang ditujukan untuk para perantau atau yang sedang dimana saja ini tepat dipilih menjadi lagu pembuka. Siulan di intro ala Scorpions dan Guns ‘N Roses disusul dengan pukulan drum yang simpel nan dinamis menjadi lubang intip kecil untuk menjembatani materi lagu berikutnya. Simpel, sederhana dan tetap mengena.

Canggung” (Musim Yang Baik, 2014)

Sebelum akhirnya harus berlapang dada tidak menjadi pilihan label sebagai hits single, “Canggung” sudah beberapa kali disuguhkan dalam setiap penampilan mereka. Suara terompet di awal lagu mempertegas canggungnya tema lagu ini sekaligus mengingatkan pada ciri mereka di album ke-4. Ketukan santai bass drum di awal lagu dan tambahan permainan ride cymbal di tengah lagu serta beat saat masuk reff menjadi penanda meleburnya part drum dalam nada lagu. Murung canggung di awal dan tegas untuk menyatakan saat masuk dalam bagian reff. Ada dua lirik yang masuk dalam pernyataan si penyanyi di album ini, seperti kalimat langsung yang bernada. Yaitu ketika mempertanyakan “apa yang salah dengan lagu ini” saat di “Lapang Dada” dan “ku akhiri saja lagu ini” sebagai penutup “Canggung”.

Diwa Hutomo (penyanyi)

Diwa

Entah kenapa ketika mendengar grup band bernama Sheila On 7, saya langsung terbersit lagu “Tertatih”, “Kita”, “Dan…”, “Berai”, serta “Perhatikan, Rani!”. Ya, lagu-lagu tersebut ada di album mereka yang perdana, kalau saya tidak salah sekitar akhir tahun 1999. Kenangan masa remaja saya yang ketika itu masih duduk di kelas 1 SMP tiba-tiba hadir. Kenangan saat saya mengumpulkan uang jajan dan sedikit merengek pada ibu untuk menambahkan kekurangan untuk membeli kaset itu membuatnya sukses menjadi koleksi kaset pertama saya.

Betapa cintanya saya dengan kaset tersebut. Desain yang sederhana dengan foto-foto para personil yang masih sangat culun membuat Sheila On 7 menjadi band yang saya kagumi karena kesederhanaanya. Eits, tapi tidak dengan lagunya!

Lagu mereka pada album pertama tersebut sangat kaya dari sisi aransemen. Tiap lagu memiliki karakter, tidak ada kesan menye-menye dan cheessy. Karakter vokal Duta  tegas dan sangat jauh dari kata fals walaupun tidak banyak improvisasi yang dia ciptakan. Ya, kesederhanaan yang membuat saya tidak bosan mendengarkan seluruh lagu di album tersebut. Terbukti dari seringnya saya putar kaset tersebut dengan Walkman kado dari ayah saya kala itu.

Berbicara tentang lagu favorit, saya sungguh tergila-gila dengan “Dan…”. Pada kala itu, saya tidak terlalu mengambil pusing soal liriknya yang bertemakan patah hati. Maklum dulu ibu belum membolehkan saya pacaran.  Tapi yang saya pahami, liriknya sangat tegas dan maknanya sangat dalam. Seorang laki-laki harus merelakan dirinya terhina demi kebahagiaan kekasihnya dan mengikhlaskan keadaan yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Sedap.

Saya hafal betul urutan lagu, bahkan sedikit cacat produksi di lagu “Perhatikan, Rani!” Ada sedikit mleyot di tengah-tengah lagu. Saya pikir kaset saya saja yang rusak, namun setelah saya dengarkan dari kaset teman saya, hal itu terjadi juga. Mungkin hanya Tuhan yang tahu apakah semua kaset seperti itu atau hanya beberapa, tapi cacat itu justru ngangeni.

Melalui tulisan ini saya ingin mengatakan kalau saya tumbuh bersama album pertama ini. Begitu lekat kenangan yang hadir dan tidak bisa terlupa. Selamat ulang tahun Sheila On 7, semoga karya-karyamu tetap menginspirasi banyak orang lewat kesederhanaanmu.

*Post-scriptum: Saya sadar judul ini menyalahi tata bahasa, tapi kadang ada keindahan dalam ketidakberaturan.

3 Comments

  1. @nahar_gostu Reply

    Membaca websitemu tho mas, sirahku malah ngelu ik..
    Mboh kenapa ya?
    Memahami setiap komentar dari sudut musisi lain, makin nambah ilmu tentang musik. Setiap judul yang disampaikan kudune disetel maneh ben paham.

    Cheers mas zaki. Makasih infonya.
    Aku belum sempet nulis di http://www.mrgostuquwh.blogspot.com tentang so7, insya Allah aku cuma bakal ngisi tulisan tentang komunitase.

  2. Pingback: Eross Candra (Sheila on Their Best) | Korduroy 70

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>