Rezeki Lagu Religi

ungu

Barangkali pekerjaan paling sulit di Indonesia adalah mencari definisi, termasuk mencari pengertian antara lagu religi dengan lagu rohani. Meskipun ujung pangkalnya sama, yakni soal puja puji pada Sang Pencipta, ada semacam tembok tinggi antar dua kubu.

Tidak ada patokan pasti untuk mengatakan lagu religi mutlak adalah lagu-lagu dalam ritus hari besar umat Islam. Begitu juga teori yang melandasi argumen bahwa lagu rohani adalah domain lagu-lagu gerejawi kaum Nasrani. Tapi bukankah semuanya bisa dijawab dengan Google saat frasa lagu religi merujuk pada Bimbo, Hadad Alwi, serta Opick, lagu rohani mengacu ke lagu-lagu paduan suara gereja.

Lagu Religi

Lagu Rohani

Karena saat ini bulan puasa, pembahasan akan dimampatkan pada lagu religi saja.

Sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, lagu religi sebagai sebuah entitas  bisnis justru berkembang lamban. Sejak merilis “Tuhan” pada 1976, Bimbo menjadi satu-satunya representasi grup musik yang membawakan lagu religi. Meski gambus dan qasidah sudah lebih dulu tampil (lewat Nasida Ria juga Rhoma Irama), namun Bimbo berhasil membawa lagu religi ke pasar yang lebih luas, juga lebih berkelas.

Bisa jadi kejumudan lagu religi tadi ada kaitannya dengan ketakutan Soeharto terhadap Islam, meski menjelang lengser dia berusaha merangkul tokoh-tokoh Islam. Tapi kita selalu ingat kata Cinta, basi madingnya udah siap terbit.

Begitu Soeharto lengser, pasar lagu religi sebagai tambang duit semakin nyaring. Album Cinta Rasul dari Hadad Alwi dan Sulis yang dirilis tahun 1999 berhasil terjual lebih dari satu juta kopi, yang menurut legenda urban menjadi album religi terlaris sampai saat ini. Sukses Hadad Alwi dan Sulis akhirnya dicium para sejawatnya. Mulai dari Opick sampai GIGI.

Opick berhasil menjual debut album Istighfar yang memajang hits single “Tombo Ati”  sampai 800 kopi yang sedikit banyak terbatu oleh twist mantan rocker dan preman yang tobat. GIGI sejak  album Raihlah Kemenangan tahun 2004 konsisten membuat album religi tiap bulan puasa, juga tur jelang berbuka yang disponsori sebuah perusahaan rokok.

Lepas dari segala cerita manis penjualan, lagu religi sebetulnya menghadirkan pemandangan menggelikan. Sosok-sosok yang selama sebelas bulan hidup begajulan, tiba-tiba tampil dengan rupa yang, inginnya, saleh dan bersahaja.

Jaket kulit dan celana jaring diganti gamis, piercing ditutupi sorban, dan wajah teler didempul supaya terlihat baru mendapat pencerahan hidup. Hasilnya seperti ini

2 Comments

  1. Adi Ankafia Reply

    secara khusus saya sangat menyukai kalimat ini :

    “Lepas dari segala cerita manis penjualan, lagu religi sebetulnya menghadirkan pemandangan menggelikan. Sosok-sosok yang selama sebelas bulan hidup begajulan, tiba-tiba tampil dengan rupa yang, inginnya, saleh dan bersahaja.”

    semacam sindiran manis yang membuat saya sebagai pembaca pada akhirnya tidak cukup kuat untuk menahan -setidaknya- senyum tawa nan halus…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>