Kapan Ngetan?

Lebaran tahun ini saya berencana pulang kampung. Ke Muntilan, di Jawa Tengah sana. Tahun lalu, sesuai kesepakatan di Republik Demokratik Ciomas, saya bakdha di keluarga istri saya di Ciomas, Bogor. Pertanyaan kapan pulang sudah ditanyakan sejak bulan puasa tinggal menunggu hitungan hari. Padahal baru beberapa bulan kemarin saya pulang ke Muntilan untuk urusan keluarga. Beberapa kali saya juga menyempatkan mampir kalau ada urusan pekerjaan yang lokasinya di dekat-dekat Muntilan.

Tapi pulang saat lebaran selalu punya sisi personal.

Berbeda dengan anak-anak muda Amerika yang sudah pada menculat pergi dari rumah begitu remaja, anak-anak Jawa masih punya hubungan dengan rumah dan keluarga setidaknya sampai mereka menikah. Makanya dikenal istilah sinoman utnuk anak-anak yang secara usia sudah dewasa tapi masih tinggal bersama orang tua karena belum nikah.

Nikah menjadi patokan kedewasaan anak-anak Jawa, juga tanda harus menapaki fase kehidupan baru. Salah satunya adalah pergi dari rumah dan mulai lepas dari ikatan-ikatan keluarga inti. Dan momen pulang saat Lebaran adalah upaya mengingat ikatan-ikatan tadi supaya tidak semuanya tercerabut.

***

Pos pembagian kue pembangunan yang tidak merata membuat orang-orang Jawa dari Muntilan, Sukoharjo, Boyolali, sampai Bondowoso ramai-ramai pergi ke arah Barat, tanah semua impian hidup dijanjikan: status pekerja tetap, rumah cicilan, gaji bulanan, sampai sepatu kets langka dan vinyl first pressing dalam kondisi mulus. Juga dalam beberapa kasus, untuk kabur dari ikatan keluarga dan menapaki fase hidup baru yang berbeda.

Kami menyebutnya sebagai Ngulon, pergi ke Kulon. Ke Barat.

Pergi ke Kulon adalah upaya peneguhan arti perjuangan hidup yang baru. Tulisan Wasisto Raharjo Jati di Tempo beberapa hari lalu menyebutnya sebagai  “transisi dari kelas masyarakat agraria menjadi kelas menengah perkotaan.” Kulon memang menyediakan semua yang tidak ada di tempat asal, dari urusan jasmaniah yang tampak di muka sampai ke pencapaian eksistensi diri. Sesuatu yang sulit dicari jika tetap berada di Wetan.

Wetan,merujuk ke pulau Jawa bagian Tengah menuju Timur,  adalah udik, kampung, asal tempat semua wujud asli ditanggalkan namun dirindukan saban tahun. Pulang ke Wetan adalah momentum untuk kembali sejenak ke wujud asli yang ditampilkan dalam ramai-ramai mengudap jajanan lokal, napak tilas ke tempat tumbuh dewasa, dan membungkus berupa cendera mata dari daerah asal.

Kami menyebutnya Ngetan, pulang ke Wetan. Ke Timur.

Ada beberapa lagu yang khusus saya pilih untuk bali ngetan besok. Nama-nama yang dipilih sebagian bessar memang wong-wong Wetan hehehe. Salam Tape Ketan!

“Yogyakarta” (KLa Project) : Pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu

“Kawan Aku Pulang” (Jikustik, Pongki dan Icha membawakan kembali di album Guitarfriend) : Demi senja dan secangkir teh hangat ku semnpatkan berkunjung pulang. Kawan aku pulang…

“Jalan Pulang” (Bangkutaman) : Semua kini tlah pergi. Semua yang pernah kucari. Siapa yang kan membuatku yakin?

“Di Sayidan” (Shaggydog) : Bila kau datang dari Selatan langsung saja menuju Gondomanan. Belok kanan sebelum perempatan teman-teman riang menunggu di Sayidan

“Perjalanan Ini” (Padi)

Ku layangkan pandangku smelalui kaca jendela dari tempat ku bersandar seiring lantun kereta

“Ingin Pulang” (Sheila On 7) : Sesaat mata terpejam tirai imaji membuka. Semakin ku terlelap semakin jelas hangat senyuman. Tak ingin terjaga sampai aku pulang

“Rindu Tebal” (Iwan Fals) : Sewindu sudah lamanya waktu tinggalkan tanah kelahiranku. Rinduku tebal kasih yang kekal. Detik ke detik bertambah tebal

“Pulang” (Dik Doank) : Dan tak kan ku tahan sekarang aku harus pulang

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>