Inikah Album Debut Terbaik dari Band Indonesia?

wp_ss_20151012_0001

Dua album debut terbaik yang pernah ada di ranah musik pop Indonesia. Muncul dalam lini waktu hampir bersamaan saat era bulan madu rilisan fisik di penghujung abad 20.

Keduanya ditemukan oleh tangan dingin Jan Djuhana yang saat itu menjadi Artist & Repertoire Sony Music Entertainment Indonesia. Jan sebelumnya berjasa memperkenalkan KLa Project kepada publik saat konstelasi musik Indonesia saat itu terpecah dalam kubu Dewa 19 dan Slank.

Kedua album ini membuktikan bahwa Jakarta bukan segala-galanya untuk sukses.

Album pertama adalah sirine penanda Yogyakarta sebagai poros musik Indonesia. Selain membuka jalan bagi Duta, Eross, Adam, Anton dan Sakti, album s/t ini kemudian menjadi karpet merah untuk band-band Yogya lainnya tampil di kancah musik nasional, seperti Jikustik, Seventeen, hingga The Rain.

Nomor-nomor seperti “J.A.P”, “Dan”, “Berai”,  “Kita”, juga “Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki” menjadi etalase karakter musik Sheila On 7: lirik lugas, sound gitar gurih nan renyah, juga karakter pukulan drum peninggalan Anton yang sampai saat ini dirawat baik oleh penggantinya, Brian Kresnoputro.

Secara keseluruhan, album ini menggambarkan lika-liku remaja yang baru beres puber pertama di kehidupan pasca reformasi. Ada kesenangan mencari pacar di “J.A.P”, menikmati hidup bebas ala rembol di “PeDe”, sampai kegamangan melihat situasi sosial yang amburadul pasca chaos 98 yang terekam di “Bobrok”.

Sedangkan Lain Dunia tampil dalam karakter yang bertolak belakang. Album ini seperti remaja yang akan masuk fase usia 27 yang sudah matang namun masih menyisakan kebingungan pencarian jati diri. Ada tikung menikung bribikan di ‘Sobat”, kebimbangan melanjutkan hubungan pada ‘Sudahlah”, juga pemaknaan mendalam akan kekaguman di ‘Mahadewi”.

Fadli, Piyu, Ari, Rindra, dan Yoyo menjadikan Lain Dunia sebagai cetak biru musik Padi, setidaknya sebelum mereka hiatus sampai saat ini. Ada bangunan duet gitar Piyu dan Ari yang saling mengisi, pondasi lagu nan kokoh yang dibangun Rindra dan Yoyo, serta balutan vokal malas namun berkelas dari Fadly.

Dalam ranah yang lebih besar, Lain Dunia adalah kebangkitan Surabaya pasca AKA, Dewa 19, dan Boomerang. Secara khusus, album ini mengisi ceruk pasar khusus untuk mereka yang terlalu tua mendengar Sheila On 7, terlalu rapih untuk menonton Slank, terlalu kalem untuk begajulan bersama /rif, atau terlalu malas dengan kenjlimetan yang diawarkan Dewa 19.

Kalau menurut Anda bagaimana?

 

14 Comments

  1. Adi Reply

    Menurut saya album debut Netral masih rangking 1 di hati sebagai album debut lokal terbaik. Ramuan punk & gitar agak ngeblues sungguh ciamik di album itu :)

  2. win Reply

    Dua-duanya tenar pada masa remaja saya. namun yang meninggalkan ‘rasa penasaran’ hingga saat ini adalah Padi. Tidak mudah mencerna lirik-lirik band ini hanya dengan sekali dengar.

    Sungguh penggambaran yang jenius dari Mas Fakhri mengenai band Padi. Rock n roll namun tidak begajulan. Puitis namun tidak abnormal.

    Bravo untuk artikel yang membangkitkan nostalgia ini.

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Thanks sudah meluangkan waktu buat baca. Padi ini sedikit dari band yang sudah matang untuk memulai debutnya. makanya mereka bisa main-main dengan nyaman tanpa harus sempat merasakan masa ditinggalkan penggemar seperti Sheila On 7 pasca album Pejantan Tangguh. Sayang sekarang malah nasibnya gak menggembirakan.

  3. Adi Ankafia Reply

    terimakasih atas tulisan yang -seperti biasa mas bilang- renyah dan gurih… informasinya menambah wawasan mengenai sejarah musik Indonesia… dan periode terbaik Dewa 19 (secara komposisi musik dan tatanan lirik) adalah Bayi 19, Format Masa Depan, Terbaik Terbaik, dan Pandawa Lima…

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Kalau Dewa agak sulit buat saya menentukan mana yang terbaik antara Terbaik Terbaik dan Pandawa Lima. Terbaik Terbaik itu pencapaian tertinggi dari musikalitas Dewa 19 (selain meereka juga menggarap album itu pas kondisi lagi gitting ha!). Sedang Pandawa Lima itu paduan seimbang antara sisi eksperimental dan komersial dan berada dalam waktu yang tepat untuk rilis.

  4. Adi Ankafia Reply

    iya.. saya sependapat mengenai Terbaik Terbaik dan Pandawa Lima itu.. saya sebagai penikmat musik selalu mempunyai perasaan yang sama bahagianya antara ketika mendengar Terbaik Terbaik dan Pandawa Lima dengan Help dan Rubber Soul, misalnya… seperti yang mas biasa bilang : Gurih dan Renyah

  5. Ilham Sobat Padi Reply

    Bro, review 10 atau 20 band pop/poprock terbaik indonesia versi sampeyan, penasaran saya, selera musik kita hampir sama.
    Selain Padi, Musikimia perlu dibahas juga. Saya juga tumbuh di era So7 dan Padi berjaya.
    Next time, the best 10-20 band rock, indie dan aliran lain, terutama untuk lokal harus ada ulasannya…saya suka musik indonesia.
    Please, wahai masjaki, kabulkan asaku!
    PISS + PLUR ✌

  6. agus triyanto Reply

    Cerdass banget mas Fakhri mengulasnya. dan masa masa itu adalha masa SMA saya yang sangat Musicholic banget… hari hari selalu dihiasi lagu lagu itu baik lewat kaset pita maupun siaran radio. Thanks You are very briliant guy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>