Hasief Ardiasyah: “07 Des itu Puncak”

Jawaban tadi keluar dari Hasief Ardiasyah, Associate Editor Rolling Stone Indonesia, saat saya minta untuk memilih album Sheila On 7 yang jadi favoritnya. Kami berbincang di kedai pizza langganannya di daerah Kemang, Jakarta Selatan setelah gagal masuk venue konser Sheila On 7 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta awal bulan Juni lalu gara-gara penonton yang membeludak dan tak terkendali. Sedikit mengenang, pada tanggal 7 Desember tahun 2001 silam Sheila On 7 yang saat itu masih diperkuat drummer Anton Widiastanto dan gitaris Saktia Ari Seno mulai masuk studio merekam album yang jadi penutup dari era one million copies band. Saya pernah mengulasnya di sini.

Untuk band sebesar Sheila On 7, bukan perkara sulit untuk mencari tulisan mengenai sepak terjang mereka. Namun mencari tulisan yang secara konsisten mampu mengungkap hal-hal baru dari Duta, Eross, Adam, dan Brian, itu yang sulit. Tulisan-tulisan Hasief di Rolling Stone, total sampai saat ini ada empat tulisan panjang, selalu memberikan kesegaran serta menyajikan cerita yang berbeda dari yang ditulis media manapun. Secara pribadi, tulisan terakhir yang dimuat pada edisi Februari lalu menjadi favorit saya karena berhasil memberikan jawaban paling jujur seputar keluarnya Anton dan Sakti.

Adanya kedekatan personal yang terjalin lama memberi nilai lebih dari tulisan-tulisan Hasief. Soal itu, Hasief pernah menulis di akun ask.fm-nya yang saya kutip sepenuhnya:

“Saya baru pindah ke Indonesia tahun 1993, sebelumnya saya tidak tahu apa-apa tentang musik Indonesia. Setelah tinggal di Indonesia pun, saya tidak terlalu menyimak musik lokal selain apa yang muncul di TV dan radio. Teman-teman sekolah saya suka Slank atau Dewa 19, saya tidak terlalu tertarik.

Lalu ada Sheila On 7. Saya pertama kali tahu tentang mereka sebelum albumnya keluar, yakni karena sempat surat-menyurat dengan seorang teman dari masa kecil di London. Dulu keluarga kami bisa dibilang sangat akrab sebagai sesama orang Indonesia di sana, lalu terpisah saat keluarga saya pindah ke Arab Saudi dan mereka pulang ke Yogyakarta. Beberapa tahun setelah pindah ke Jakarta, saya kepikiran untuk kontak lagi dengan teman lama saya itu, dan dalam proses itu dia bercerita tentang band temannya yang akan mengeluarkan album dan menjadi besar.

Bahkan di umur segitu saya sudah skeptis, karena sejak kapan ada band di Yogyakarta yang meledak? Biasanya mereka harus pindah ke Jakarta atau Bandung. Dewa 19 yang berasal dari Surabaya pun harus pindah ke Jakarta dulu agar sukses. Tapi ketika kasetnya keluar, saya membelinya dan ternyata suka lagu-lagunya. Lalu ternyata Sheila On 7 meledak melebihi ekspektasi, dan saat teman saya itu sempat ke Jakarta, kebetulan Sheila On 7 juga akan tampil di Jakarta juga. Jadi kami menonton mereka bersama-sama di Lamborghini Cafe, Taman Ria Senayan. Sebelum Sheila On 7 main, ada band pembuka asal Surabaya yang berada di perusahaan rekaman sama dan juga akan mengeluarkan album debutnya dalam waktu dekat. Nama band itu adalah Padi, dan mereka punya cerita kesuksesan tersendiri.

Sejak itu saya menggemari Sheila On 7. Antara lain karena punya ikatan emosional lewat sahabat saya itu, dan juga karena musiknya memang bagus. Tak banyak band di Indonesia yang bisa bertahan selama ini dan tetap menghasilkan karya bagus yang bukan sekadar pengulangan dari apa yang pernah mereka buat.”

Kepada saya, Hasief mengungkap awal mula interaksinya dengan Sheila On 7, proses kreatif dibalik tulisan-tulisannya, sampai penilaian tentang quote Lester Bangs yang jadi kredo suci di ranah jurnalisme musik.

Selain faktor elu kenal dan akrab dengan mbak Sheila yang namanya jadi inspirasi buat nama band, apa yang membuat Sheila On 7 spesial?

Sheila On 7 itu band Indonesia pertama yang ada rasa kepemilikan bahwa “Ini adalah band gue.” Gue baru pindah ke Jakarta tahun 1993, dan musik Indonesia yang populer di tahun-tahun segitu kayak Java Jive, Kahitna, GIGI, atau Dewa 19. Nggak tahu kenapa, gue nggak pernah begitu tertarik dengan mereka dan musik Indonesia secara keseluruhan sampai tiba-tiba ada Sheila On 7. Mungkin karena faktor Sheila juga yang akhirnya bikin jadi penasaran, tapi kemudian waktu dengar sendiri ternyata enak.

Kalau gue karena sama-sama orang Jawa. Gue sekolah di lingkungan yang mayoritas Sunda dan sering di-bully gara-gara kalo ngomong masih kerasa medoknya. Ketika Sheila On 7 muncul gue ngerasa ngomong medok tetep keren dan gue bangga karena akhirnya stereotype orang Jawa di televisi gak cuma jadi bahan lawakan. Elu sendiri pernah ada dalam satu fase bosen dengerin lagu-lagu mereka?

Gak juga sih. Sewaktu mereka baru keluar album pertama gue lumayan sering nonton mereka setiap waktu mereka manggung di Jakarta. Pertama kali main di Lamborghini Café, opening act-nya Padi yang baru akan ngeluarin album. Lalu pernah juga pas acara di Kemang mereka pertama kali bawain “Bertahan Disana” tapi akhirnya malah keluar di album Jalan Terus tahun 2005. Mereka mungkin gak inget lagi momen itu tapi masih gue inget terus. Pas album kedua sampai ketiga gue agak jarang nonton selain di televisi, tapi tetep suka musiknya. Pernah nonton ketika mereka bermain di Stadion Lebak Bulus untuk pentas seni SMA Tarakanita, sekitar era album Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Saat itu Anton absen dan posisi drummer digantikan Kiki dari Esnanas, tapi secara keseluruhan kurang memuaskan dan tak pernah nonton mereka lagi sampai 2005, ketika Brian sudah menjadi additional drummer. Karena gue suka dengar banyak musik bahkan sebelum bekerja di majalah musik, nggak pernah ada saatnya hanya mendengar mereka terus. Tapi setiap mereka ada karya baru, gue selalu tertarik untuk mendengar. Gue nggak pernah ada masa-masa malu mendengar atau mengaku sebagai penggemar Sheila On 7. Bahkan sebelum bergabung di Sheila On 7, Brian pernah cerita harus bersembunyi saat membeli album 07 Des karena takut diledek teman-temannya yang bermain jazz.

Gue pernah soalnya. Pas SMP waktu pergaulan lagi demam nu-metal ala Limp Bizkit dan Linkin Park , gue meminggirkan sementara album-album Sheila On 7. Kalau interaksi pertama elu dengan mereka sebagai jurnalis kapan?

Wawancara pertama pas ikut tur Jalan Terus di Sumatera sekitar tahun 2005. Sempat memperkenalkan diri sebagai penonton waktu mereka manggung pertama kali di Jakarta sebagai temannya Sheila. Pernah juga nonton Tiket, kenalan sama anggotanya, tuker-tukeran nomer telepon terus dari situ kenal sama Brian. Nah, pas Brian ikut sama Sheila On 7 jadi merasa punya temen, lah.

Siapa personil yang paling deket sama elu?

Brian, karena dia orang Jakarta dan kenal sebelum dia masuk Sheila On 7. Tapi masing-masing personel punya hal-hal yang nyambung untuk ngobrol. Nah, waktu launching album Menentukan Arah tuh gue inget banget. Waktu itu acaranya naik kereta ke Bandung bareng Sheila On 7 dan wartawan-wartawan lain, dengan berangkat dari Gambir. Gue berdua sama fotografer Ludmila Gaffar. Kami kurang akrab sama wartawan lain karena kurang nyambung aja sama mereka, cuma sepanjang perjalanan di saat ada waktu senggang, Sheila On 7 lebih sering nongkrong sama kami berdua karena mungkin nyaman atau merasa lebih seperti temen ngobrol, sementara sama jurnalis-jurnalis yang lain kayak ada jarak antara artis dan media walaupun semuanya makan siang semeja.

Di album Menentukan Arah elu nulis liner notes-nya, gimana prosesnya?

Mas Anton Kurniawan, manajer mereka saat itu, yang minta.

Pertimbangannya apa?

Lupa (tertawa). Waktu itu cuma disuruh nulis aja. Terus gue minta pendapat masing-masing personel buat tiap lagu terus gue rangkum.

Saat elu melakukan tugas jurnalistik apa elu ngaku sebagai fans mereka?

Kayaknya sudah jelas bahwa gue menggemari musik mereka.

Menurut elu kedekatan antara jurnalis sama musisi sebagai narasumber sah-sah aja kalau mengacu ke pendapatnya Lester Bangs yang jadi semacam patokan suci di jurnalisme musik?

Menurut gue Lester Bangs udah nggak relevan lagi buat zaman ini. Setidaknya nggak pernah relevan bagi gue dan apa yang gue lakukan.

Kenapa?

Karena butuh pendekatan berbeda untuk mendapatkan cerita. Dia kan pendekatannya lebih ke antagonis, nggak mau berteman demi menjaga kemurnian penilaiannya terhadap karya, ya sah-sah aja. Cuma menurut gue pada kenyataanya ketika kita berada di dunia yang sama, mengagumi karya orang-orang ini, bisa lebih mengenal orang-orang di baliknya adalah hal yang tak terhindari. Bukan berarti gue nggak bisa bersikap kritis sama mereka, tapi dengan kedekatan ini bisa tahu lebih dalam soal proses yang menghasilkan karya, ketimbang hanya menilai dan nyinyir dari jauh. Seringkali pertanyaan dan kritik yang lebih keras justru bisa disampaikan ketika lebih kenal dengan orangnya, dan mereka pun akan lebih bisa menerimanya dibanding saat dihujat orang tak jelas di Twitter. Kalau dikaitkan dengan pekerjaan, berarti bisa menghasilkan cerita-cerita yang lebih menarik juga.

Gimana elu memposisikan diri?

Gue mencari cerita yang menurut gue menarik untuk disampaikan ke publik, itu saja.

Dari empat tulisan panjang tentang mereka yang udah dimuat di Rolling Stone favorit elu yang mana?

Gue sih yang paling bagus waktu pertama dan terakhir. Yang pertama itu tulisan pas ikut tur Jalan Terus itu karena akhirnya gue kenal sama mereka. Gue bisa wawancara satu persatu dan otomatis bisa ngasih perspektif yang luas dibanding wawancara band rame-rame. Ketika wawancara individu mungkin kerja gue jadi lebih banyak, tapi ada banyak hal yang bisa terungkap. Gue bisa ngobrol sama Eross pandangannya soal insiden meninggalnya fans di GOR Saburai Lampung tahun 2000, sampai dia nangis. Itu pengalaman yang gua harapkan sebagai orang yang gue baru belajar sebagai jurnalis. Itu salah satu kelebihan menjadi jurnalis musik, karena bisa ngobrol lebih dalam sama orang-orang yang karyanya gue kagumi.

Kalau yang terakhir selain kenyataan bahwa tulisan elu jadi cover issue?

Setelah sekian lama gue kenal mereka gue masih bisa nangkap hal-hal yang belum terungkapkan. Lagi-lagi sama Eross. Soal bagaimana latar belakang keluarga broken home ngaruh ke lagu “Lapang Dada”.

Gue juga dapat penjelasan menyeluruh soal keluarnya Anton dan Sakti yang menyeluruh di tulisan itu.

Yah mungkin akan lebih baik kalau gue bisa ngobrol sama orangnya juga, cuma belum ada kesempatan.

Bagaimana cara elu mencari sudut pandang baru di tulisan tentang mereka?

Nggak ada yang spesifik. Gue selalu coba baca apapun yang ada tentang mereka sejak terakhir wawancara. Yang pasti gue nggak ingin mengulangi apa yang pernah gue bikin dan harus sadar ada orang yang belum pernah baca tulisan gue sebelumnya. Jadi gue berusaha bikin tulisan gue segampang mungkin dibaca tanpa mengulangi apa yang udah ada.

Penugasan Sheila On 7 selalu jadi jatah elu?

Gue nggak pernah minta, cuma karena gue yang paling dekat dan paling mendalami ya akhirnya gue ditugasin.

Apa album yang jadi favorit elu?

Kalau gue masih 07 Des. Bagi gue itu puncak dari mereka sebagai band dari sisi komersial dan eksperimental. Album pertama sudah bagus, walau mereka masih baru dan masih hijau. Album kedua itu penyempurna yang sebelumnya, nah album ketiga itu bener-bener banyak hal mengejutkan yang  nggak gue duga. Tiba-tiba semua anggota bikin lagu dan nyanyi, lalu “Seberapa Pantas”  seperti gabungan beberapa lagu dalam satu.

Lagu favorit di album itu?

“Seberapa Pantas”, “Tentang Hidup”, “Hingga Ujung Waktu”.

Gue masih megang Pejantan Tangguh karena mulai ngerasa jenuh sama string section di tiga album sebelumnya. Dan gue merasa tanpa Pejantan Tangguh mungkin Sheila On 7 gak punya satu fase penting dalam karier bermusik mereka.

Kalau Pejantan Tangguh sisi eksperimentalnya kejauhan,nggak diimbangi sisi komersial. Album-album selanjutnya lebih aman lah, nggak seberani yang dulu. Tapi gue ngerti sih. Gue nggak pernah ngomong apa mereka trauma dengan Pejantan Tangguh tapi kerasa juga. Sebagai band yang albumnya kejual jutaan kopi terus tiba-tiba berhenti begitu aja, dan mereka drop-nya lumayan drastis. Setelah itu ada 507, baru perlahan-lahan naik lagi. Wajar kalau mereka nggak macam-macam.

Apa yang membuat Sheila On 7 masih bertahan saat band-band seangkatannya sekarang bernasib tidak menggembirakan?

Yang pasti mereka masih produktif dan menghasilkan karya bagus seperti “Betapa” atau “Hari Bersamanya”. Memang sudah tak mendominasi industri musik seperti dulu, tapi itu cukup untuk memicu regenerasi penggemar yang kemudian juga menyukai lagu-lagu yang lama. Mungkin telah terjadi pergeseran selera juga, di mana yang tadinya sempat anti-Sheila On 7 karena jenuh terhadap overexposure mereka justru menjadi rindu dan lebih bisa mengapresiasi musik mereka, apalagi jika dibandingkan dengan apa yang menjadi populer di industri musik Indonesia sekarang. Selain itu, mereka juga masih punya semangat dan etos kerja tinggi. Mereka sudah pernah mengalami saat di atas menjadi band sejuta kopi dan di bawah saat tak ada yang mau melirik mereka. Jadi mereka lebih bisa mengapresiasi apa yang mereka sudah punya dan tak ingin menyia-nyiakannya. Coba sebutkan, siapa lagi band besar seangkatan mereka yang rela menyetir sendiri dari Jogja ke Jakarta demi manggung? Itu hanya salah satu dari sekian banyak kiat mereka dalam bertahan di sana dan jalan terus.

WP_20151204_001

3 Comments

  1. Anggara Reply

    Ingat setahun yang lalu membaca tulisan mas Jaki tentang 07 Des dan walau dengan sedih tapi kemudian ikhlas mengamini, S07 bukanlah lagi band mega bintang nasional.Mereka “hanya” band berkualitas dari Jogja yang masih setia dicintai penggemarnya di seantero Nusantara. That’s what important.

    Tapi ternyata Gusti Allah berkehendak lain. Tahun 2015 justru menjadi “ressurection” buat Sheila On 7. Tetap konsisten menyandang titel bergengsi sebagai “Raja Pensi”, meledaknya hits Lapang Dada, diganjarnya mereka dengan 3 penghargaan di People’s Choice Award 2015, hingga tampil memukau di panggung-panggung besar seperti Soundrenaline, Java Jazz Festival, Konser Cinta Musik Indonesia, hingga AMI Awards 2015. Tahun 2015 benar2 menjadi Musim Yang Baik buat band kesayangan saya ini.

    Kini saya menanti mas, gebrakan mereka di tahun depan.Menurut saya strategi mereka bermain ” aman” di Menentukan Arah sampai Musim Yang Baik sudah tepat. Menarik kembali penggemar lama, menumbuhkan banyak penggemar baru. Saatnya sudah untuk keluar dari zona aman, untuk kembali berkarya maksimal, mungkin tidak “segila” di album favorit saya Pejantan Tangguh, tapi lebih ke 07 Des yang menurut mas Hasief (dan saya setuju), merupakan keseimbangan yang baik antara “being experimental and being commercial”. Apalagi kini mereka menjadi band indie, sehingga porsi kebebasan berkarya tentu menjadi lebih besar (CMIIW).

    Masa “santai” itu sudah selayaknya selesai. Saatnya membuka episode ketiga dari perjalanan para pejantan tangguh ini. Jalan terus! :-)

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Saya sebetulnya agak kecewa dengan album terakhir karena mereka terlalu biasa di level yang “mau-mengeluarkan-apapaun-pasti-fans-beli”. Cuma saya berbaik sangka bahwa mereka sedang menyimpan cadangan energi. Saya pernah bertanya ke Eross apakah akan membuat album semodel Pejantan Tangguh lagi. “Tinggal tunggu mood-nya saja,” kata dia. Artinya kemungkinan-kemungkinan itu ada. Apalagi mereka tinggal di Jogja, dengan lingkungan bermusik yang akomodatif dan didukung orang-orang yang punya kecintaan serta kemampuian kerja yang luar biasa. Dari beberapa kali ngobrol, arah kesana sudah ada, tapi mereka memang bukan band yang ngoyo (kalau dibandingkan dengan apa yang dilakukan Endank Soekamti, misalnya). Jadi ya kita tunggu saja.

      Terima kasih sudah membaca dan berkomentar.

  2. Nadia Reply

    Pantes tarifnya lumayan murah makanya sering off air. Salut deh konsisten bermusik utk bersenang2 selain buat cari uang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>