Catatan Ringan Musik Indonesia Tahun 2015

Tinggal menunggu hitungan hari untuk menyobek kalender 2015. Selama 12 bulan ke belakang ada banyak peristiwa terjadi di industri musik Indonesia. Tentu bukan hal yang mudah untuk mencatat semua yang terjadi di industri yang digadang-gadang menjadi salah satu lini pengembangan industri kreatif Indonesia ini. Tapi dari yang sekian banyak itu, ada beberapa yang layak untuk dicatat. Silahkan untuk saling melengkapi.

Selamat jalan Denny Sakrie

Lepas dari keisengan untuk jahil kepadanya, saya tetap menaruh hormat atas konsistensi Denny Sakrie untuk mencatat dengan tekun dinamika industri musik Indonesia sampai akhir hayatnya. Sumbangan terpenting Densak adalah buku  100 Tahun Musik Indonesia (2015), Musisiku (bersama KPMI, 2007), Audiobook Chrisye Masterpiece (2007), serta Warkop: Main-main Jadi Bukan Main (bersama Rudy Badil, Indro, Budiarto Shambazy, Edy Suhardy, 2010).

(masih) Menunggu Kerja Bekraf

Lewat Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2015, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) ditetapkan kedudukannya per tanggal 20 Januari 2015. Secara struktural, Bekraf yang dikepalai oleh Triawan Munaf bertanggungjawab langsung kepada Presiden. Satu sisi, pembentukan Bekraf menandakan ketidakkonsistenan Jokowi melaksanakan janji saat kampanye yang akan membentuk kementerian khusus bidang ekonomi kreatif. Di sisi lain, struktur Bekraf yang bertanggungjawab langsung pada Presiden paling tidak bisa memangkas loket birokrasi jika masih disatukan di Kementerian Pariwisata, sebelumnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Namun sampai tutup tahun, Bekraf masih disibukkan urusan domestik seperti melengkapi struktur kelembagaan. Yah, sepertinya para pelaku industri musik harus bersabar. Oh ya, tagihan Konser Salam Dua Jari kemarin sudah dilunasi kan?

Musik Yang Baik

Tahun 2015 layak dicatat sebagai, meminjam judul album terbaru Sheila On 7 (sekarang mereka band indie lho), musim yang baik untuk musik yang baik. Nyaris tak ada jeda, album-album bagus keluar bagai rombongan bedol desa. Diawali Dosa, Kota, Kenangan  dari Silampukau yang  kejeliannya menuliskan kisah berjalan di kota sendiri membuat band-band folk lain tak lebih dari grup darmawisata ibu-ibu PKK, Constellation dari Stars and Rabbit yang semakin meneguhkan keistimewaan Yogya di ranah musik nasional (juga video klip “The House” yang menaikkan standar penggarapan video klip), Teriakan Bocah dari Kelompok Penerbang Roket yang meneruskan estafet rock begajulan bin ugal-ugalan sepeninggal The Brandals, sampai Taifun  dari Barasuara yang semoga menjadi pencarian terakhir pengembaraan musikal Iga Massardi. Penutupnya? Sulit untuk menyanggah kedudukan Sinestesia dari Efek Rumah Kaca. Pembaptisan Cholil, Akbar, dan Adrian menempati singgasana sakral: ngeluarin-album-apapun-pasti-bakal-dicari.

AMI yang Basi

Tidak ada ekspektasi apapun di perhelatan Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards tahun ini. Apalagi setelah melihat Stop Pembajakan yang diangkat jadi tema di perhelatan yang ke-18 ini. Seperti sayur lodeh semalam yang lupa dipanaskan; anyep. Namun kemenangan Tulus yang menyabet gelar di lima nominasi bergengsi seperti Artis Solo Pria Pop Terbaik, Pencipta Lagu Pop Terbaik, dan Album Terbaik, menjadi uppercut untuk pembesar-pembesar industri rekaman yang masih saja gagal beradaptasi di kondisi hari ini.

Isyana, Danilla, dan (masih) Raisa

Saat Tulus masih gagah perkasa bagai gajah sebagai solois pria terpanas saat ini, kancah solois wanita justru sedang bagi-bagi kue manis antara Isyana Sarasvati, Danilla, dan tentu saja, Raisa. Sulit untuk menentukan mana yang terbaik, tapi yang jelas publik tampaknya sudah bosan dengan kehadiran penyanyi yang cuma bermodal 2T:  tampang dan tetek.

Berharap pada nama lama

Berbeda dengan sektor solois wanita, sektor band rupanya masih sulit untuk menemukan nama baru yang benar-benar menonjol. Sejak Nidji, praktis tidak ada lagi musisi arus utama yang potensial mengundang massa. Bukti sahihnya terlihat di Soundrenaline, setidaknya di gelaran terakhir bulan September lalu di Bali. Tetap memegang teguh menampilkan musisi-musisi besar akhirnya menjadi bumerang bagi Soundrenaline saat regenerasi kemudian bergerak menuju titik stagnan. Slank, GIGI, /rif,  Dewa dan Sheila On 7 mungkin masih menjadi jaminan mutu, namun jika setiap tahun hanya menampilkan nama yang itu-itu melulu maka tidak ada bedanya Soundrenaline dengan pentas seni SMA yang asal memajang nama besar namun nihil konsep. Hanya skala produksinya yang lebih besar dan penonton yang lebih massif. Sebetulnya saya ingin memasukkan nama Superman Is Dead, tapi takut dimarahi drummer-nya kalau saya dengan sembrono bilang massa penggemar mereka kini nyaris menyamai militansi Slankers dan Wota JKT 48. Maaf ya, Bli JRX.

Indonesia rumah kita

Kemana sebaiknya musisi-musisi luar negeri pergi untuk mengais rezeki saat nama besar sudah tak ada lagi? Tentu Indonesia. Dari Air Supply yang melakukan tour dengan sponsor toko brownies sampai Arkarna yang manggung di kampanye Pilkada. Begini, mereka yang dulu harus menunggu dibelikan kaset oleh orang tua, kini dengan tenang tinggal meminta pramuniaga untuk membungkus boxset The Beatles, menggesek kartu kredit untuk memindah stereo set ke kamar tidur, bahkan mengundang Kahitna tampil di halaman belakang rumah untuk perayaan ulang tahun pernikahan. Makanya tidak mengeherankan kalau musisi-musisi kugiran seperti Michael Learns To Rock sampai David Foster menjadikan Indonesia tak ubahnya seperti studio latihan saking seringnya frekuensi undangan manggung. Siapa yang tidak tergiur dengan potensi keuntungan dari lakunya karcis yang dalam beberapa pertunjukan dijual diatas rata-rata.

Joey International

Tanpa lewat ajang pencarian bakat, tampil di Dahsyat, bahkan mendeklarasikan keberangkatan, Joey Alexander langsung mencuri perhatian dunia dengan menempatkan diri di dua nominasi Grammy Awards ke-58 kategori Best Jazz Instrumental Album untuk albumnya yang bertajuk My Favorite Things dan Best Improvised Jazz Solo untuk nomor “Giant Steps” yang juga diambil dari album yang sama. Tentu ceritanya akan berbeda jika Joey hijrah dulu dari Bali ke Jakarta, lalu meniti karir menjadi aktris cilik terlebih dahulu, lalu merambah dunia presenter, lalu main di sinetron kejar tayang, lalu jadi bintang iklan, lalu baru mencari peruntungan dengan produser luar negeri yang katanya kenamaan. Saya sedang tidak membicarakan Agnes Monica.

Blokir, blokir, blokir

Setelah menteri sebelumnya sibuk menjaring respon netizen perihal pentingnya internet cepat serta bingung menentukan mana saja situs web yang harus diblokir,  kali ini Kemenkominfo mulai bekerja sebagaimana mestinya: menutup situs musik illegal. Dari hitungan mereka, ada potensi kehilangan pendapatan negara sebesar 6,6 miliar rupiah per bulan dengan asumsi sartu lagu dihargai 7 ribu rupiah. Blokirnya sih oke, tinggal dipikirkan kedepannya akses dan kemudahan transaksi ke gerai-gerai musik online seperti iTunes, Deezer, Guvera dan sebagainya mengingat metode pembayaran lewat kartu kredit belum jadi hal populer buat #jajanrock. Juga yang paling penting tentu mekanisme hitung-hitungan royalti yang adil.

Tutupnya toko kami

Setelah Aquarius menutup toko legendaris mereka di Mahakam, Jakarta Selatan pada 2013 lalu, ritel musik terbesar Indonesia, Disc Tarra, akan menutup 40 gerainya dan tinggal menyisakan delapan gerai yang semuanya berlokasi di Jakarta. Langkah ini juga dilakukan oleh Duta Suara yang menutup cabang di dua pusat perbelanjaan ternama Jakarta dan tinggal menyisakan satu toko di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Sebetulnya  tutupnya toko-toko ini tinggal menunggu waktu saja. Kelambanan mengikuti tren konsumsi musik adalah konsekuensi logis. Tapi oleh media-media seakan-akan tutupnya toko kaset ini adalah kiamat industri musik nasional. Sepertinya mereka luput, saat ritel besar tutup kios-kios rekaman fisik di Blok M tidak pernah sepi, pun lapak-lapak di Instagram yang saban hari selalu ada “perang” hold. Ada ceruk pasar yang sebetulnya menggeliat namun tak diperhatikan.

Skena yang…..

Mengacu pada Perjanjian Panggung Bundar, tidak perlu berkomentar lebih jauh karena di era internet ini kita tidak boleh menghakimi. Tapi dipikir-pikir, maunya anak-anak skena, eh kancah itu apaan sih? Mulai dari mencari “musuh bersama” sampai yang terakhir soal polisi skena eh, kancah. Mending muter Sheila On 7 lagi lah, indie yang easy-listening. Kriukkk.

Selamat tahun baru 2016 bagi yang merayakan, selamat malam Jum’at bagi yang membutuhkan.

 

5 Comments

  1. Baiq Nadia Yunarthi Reply

    Ini yang udah kutunggu-tunggu banget! AAA MAKASIH UDAH BUAT <3 <3 nggak bisa lebih setuju lagi. Karena udah nonton mereka semua langsung, yang paling amazing masih Isyana. Samasekalinggakflat seperti rekamannyaaa x)

    Eh kamu belum masukin soal pertunjukan musik, Temennya Teteh kan abis manggung!!!

  2. Ryan Fanani Reply

    Bagus reviewnya, dan terbukti di Tahun 2016 ini. Band2 yg mas sebut diatas, gaungnya semakin membesar di tahun ini.
    Thanks masjaki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>