Hantaman Palu buat Pasha Ungu

 

Sigit Purnomo Syamsuddin Said baru-baru ini menyemprot bawahannya. Sigit Purnomo, yang lebih dikenal dengan nama panggung Pasha Ungu, berang karena anak buahnya di pemerintah kota Palu bertindak kurang ajar menertawakan dirinya di panggung perdananya sebagai inspektur upacara sekaligus Wakil Walikota Palu.

Pasha yang biasanya dengan mudah jadi komandan koor massal Ungu Cliquers kini harus menghadapi audiens yang berbeda yakni Korpri-ers. Kalau dulu setlist konser bisa diubah dengan jamming-jamming seenak jidat, kini ada tata keprotokolan dalam upacara yang harus dipatuhi. Jika sebelumnya salah lirik adalah hal biasa, sekarang salah ucap bisa fatal akibatnya.

Tertawanya PNS-PNS pemerintah kota Palu sesungguhnya adalah tertawa yang mewakili kita semua atas segala jungkir balik partai-partai politik berebut remah-remah recehan kekuasaan. Kikuknya Pasha di debutnya sebagai pejabat publik menunjukkan urusan suksesi tak lebih dari sekedar bagi-bagi bancakan.

Pasha, yang rekam jejak aktivitas politiknya bagai bayang semu, hanyalah contoh kecil malasnya partai politik mengurusi kaderisasi dan pendidikan politik bagi kader-kadernya. PAN yang jadi kendaraan politik Pasha seperti mengiyakan saja sindiran publik sebagai Partai Artis Nasional dengan menempatkan Pasha yang mengaku sebagai kader sejak tahun 2013 di partai bentukan Amien Rais tersebut.

Syahwat politik membuat Pasha meninggalkan Ungu, band yang menjulangkan namanya dari pemuda culun asal Donggala menjadi bidikan empuk jurnalis infotainment ibu kota. Coba-coba kirim album demo di Pilkada Kota Palu bulan Desember silam membuahkan hasil. Pasha terpilih menjadi Wakil Walikota mendampingi Hidayat dengan dukungan kendaraan politik PKB dan PAN. Saat ini belum ada kejelasan bagaimana Pasha akan membagi tugas sebagai penghibur dan pelayan masyarakat secara bersamaan.

Selain faktor lahir di Sulawesi Tengah, belum ada catatan menonjol kegiatan Pasha dalam aktivitas terkait advokasi isu-isu publik di Palu atau Sulawesi Tengah pada umumnya. Kalau konser bersama Ungu tentu saja ada. Tapi kalau catatan konser jadi acuan buat pencalonan, Sodiq Monata pasti bakal maju duluan.

Di ranah lain, nyeburnya Pasha ke arena politik mengindikasikan kelesuan Ungu di industri musik sebagai tempatnya menggantungkan periuk nasi selama ini. Album susah dijual, konser seret sponsor, sampai serangan misil infotainment pasca kasus foto mesra bareng Angelina Karamoy. Daripada puyeng bareng Enda, Onci, Makki, dan Rowman, lebih baik Pasha coba-coba jadi penyanyi solo di festival Pilkada.

Selamat tinggal begadang di studio semalam suntuk, mata ngantuk mengejar penerbangan pagi untuk tur lintas kota, juga pipi lebam dihadiahi cubitan penggemar berat yang kelewatan. Duduk manis bersafari, tanda tangan dokumen, dan baca naskah sambutan hasil jungkir balik bawahan sudah menanti. Rekening gaji? Aman terkendali. Belum lagi lusinan proyek-proyek yang siap menunggu untuk dimainkan.

Ngomong-ngomong soal proyek, jangan-jangan lagu-lagu Ungu bakal ditetapkan oleh peraturan daerah sebagai pengganti “Kemesraan” atau “My Way” di panggung karaoke pejabat eselon kota Palu. Dan demi waktu yang bergulir di sampingmu…..

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>