Pekerja Tangguh

 

Ra valid iki set list e,”  kata Eross Candra saat menandatangani setlist yang saya sodorkan. Malam itu, Jum’at (26/2), Eross juga Duta, Adam, dan Brian baru saja menyelesaikan konser tunggal Sheila On 7 yang digelar sebuah stasiun televisi swasta di Rolling Stone Cafe, Jakarta Selatan.

Konser berdurasi satu setengah jam itu dibandrol dengan harga tiket 180 ribu dan sudah tandas dua hari sebelumnya. Antrian masuk mengular sampai bibir Jalan Ampera Raya dan semakin menambah kepadatan di jalan yang memang sudah langganan macet saban Jum’at sore.

Mahal atau murahnya harga tiket  itu relatif. Yang jelas, rentang usia penonton malam itu didominasi di angka 25 tahun ke atas. Sebagian besar  adalah pekerja yang ingin melepas penat sembari memutar kisah klasik bersama Sheila On 7. Indikasinya dari stelan khas pakaian kerja yang tak sempat diganti. Beberapa lagi datang bersama istri, anak, dan bahkan mengajak orang tuanya. Terlihat jelas kalau mereka adalah generasi yang tumbuh besar dengan lagu-lagu Sheila On 7.

Kembali ke set…list. Eross bukan sedang protes soal setlist yang tak sesuai prosedur. Toh mereka juga yang jadi otak dibalik ketidakvalidan setlist. Dalam setlist tertulis 12 judul plus satu medley. Dengan katalog album studio nyaris selusin, ditambah penonton yang sudah lulus ujian hapalan lirik, menyusun repertoar konser tentu bukan perkara sulit. Termasuk juga untuk jamming-jamming dadakan.

Sampai “Lapang Dada” yang jadi urutan ke-9 mereka masih patuh pada urutan lagu. Setelahnya mereka mulai gatal. “Baru jam 10, masih lama. Kalau biasanya penonton yang minta we want more kali ini bandnya yang minta,” kata Eross. Tapi karena terlalu gatal, Eross malah melakuan kesalahan menyetel nada gitar di intro “Tunjuk Satu Bintang”. Duta sebagai frontman hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepala. “Harap maklum orang tua,” katanya.

Setelah  itu semuanya berjalan mulus.  Lagu-lagu yang bukan termasuk jajaran hits single satu demi satu ditampilkan. Ada “Perhatikan Rani”, “Temani Aku,”  “Saat Aku Lanjut Usia”, “Generasi Patah Hati”, sampai “Kau Kini Ada”. Lagu-lagi tadi berseling-selingan dengan nomor-nomor yang sempat jadi langganan airplay di radio dan televisi pada masanya seperti “Pria Kesepian”. Termasuk juga sumbangan dari album terbaru Musim Yang Baik. Lagi-lagi Duta harus meminta maaf kepada penonton. Kali ini Brian yang berulah. Drummer dengan tenaga badak itu melakukan kesalahan saat memulai “Canggung”. “Ganti saja bandnya,” kata Duta.

Set malam itu mendaulat “Sebuah Kisah Klasik” yang biasa jadi penutup. Tapi seperti biasa, penonton meminta lebih. Duta, Eross, Adam, dan Brian dibantu additional  keyboardist Ferry Efka dan Vicky berbaik hati memberikan “Bila Kau Tak Disampingku” sebagai encore.

***

Sariawan membuat Duta sempat meminta maaf ke penonton jika penampilannya malam itu kurang maksimal. ”Lambeku isine mung idu tok (Mulutku isinya ludah semua) ,” keluh Duta sambil melegalisir setlist. Saya berjanji bertemu dengannya di hotel tempatnya menginap selepas bubar konser. Ada titipan oleh-oleh dari istri saya yang tak bisa ikut hadir. Seplastik penuh buah-buahan yang jadi buah tangan rupanya langsung berguna malam itu. Pelajaran moral: jangan pernah meremahkan naluri seorang istri.

Walau sariawan, Duta masih bisa meniup part harmonika di “Selamat Datang” meski setelahnya ia terlihat menahan sakit. Penonton pun maklum, sebagaimana mereka bisa berlapang dada melihat Eross dan Brian bergantian melakukan kesalahan di panggung. Sepertinya tidak ada ekspektasi lebih selain bernyanyi bersama Sheila On 7, seperti yang dikatakan Duta di tengah-tengah konser. “Malam ini terlihat orang-orang yang sering nonton Sheila On 7, kita gak ada ekspektasi apa-apa selain bisa- nyanyi bareng sama-sama,” katanya.

Mungkin karena tak ada ekspektasi macam-macam, konser malam itu berjalan santai dan intim dari konser-konser mereka yang pernah saya tonton. Bahkan jika dibandingkan dengan konser ulang tahun ke-16 mereka pada tahun 2012 silam sekalipun. Duta santai saja mencela dan menoyor Eross. Termasuk dengan santainya membacakan pesan-pesan sponsor dengan nada setengah meledek. “Ayo yang mau datang ke acara ulang tahun, buat ketemu artis-artis. Ketemu artis lho, kalo kita-kita kan bukan artis.” Dia juga berkali-kali mengambil ponsel penonton untuk melayani keinginan berfoto bersama. Eross dan Adam hobi sekali bertukar blocking panggung. Brian tentu sulit kemana-mana. Dia menjaga baik pukulannya yang penuh tenaga sembari memberikan porsi bertutur bagi gaya permainan Anton Widiastanto yang digantikannya.

Secara khusus  mereka memberikan apresiasi  bagi para pekerja yang malam itu datang melepas penat lewat “Generasi Patah Hati”. Diambil dari album Pejantan Tangguh, Eross mengaku terinspirasi dari kehidupan personel lain dan kru yang harus meninggalkan anak dan istri selama tur. “Waktu lagu itu dibikin aku belum married. Duta yang udah married dan anak-anak kru juga mulai menikah. Mereka bercerita ternyata punya keluarga itu punya tanggung jawab. Seorang laki-laki setelah menikah mereka pasti punya visi berbeda. Dan itu aku rasain. Disitu aku dapet kata-katanya, ”Ku bekerja siang dan malam agar istriku bahagia semoga kelak anak kita hidup selayaknya,” katanya saat saya wawancara dalam satu kesempatan.

Memang benar, menikah membuat visi berbeda. Termasuk saya yang harus lekas pamit karena istri sudah menunggu di rumah, meski dicegah Duta dengan bercanda. “Wis rasah nek-neko, nyambut gawe wae sing tenanan nggo anak bojo (Sudah gak usah macam-macam, kerja yang benar untuk anak istri),” kata Eross sembari mengantar sampai depan lift.

 WP_20160226_007

15 Comments

  1. meidoo Reply

    saya yang nonton sepulang kerja niatnya cuma nyanyi dan jingkrakan. Dan niat saya terlaksana, jadinya gak ngeliat ke-tidak-valid-an di stage.. yang ada malah ke-tidak-valid-an di sebelah saya, seorang bapak ngombe-ngombe. Meriah ahahahaa

  2. Ilham Sobat Padi Reply

    Mas, tolong bahas 10 atau 20 band pop/poprock terbaik indonesia versi sampeyan, penasaran saya, selera musik kita hampir sama.
    Selain Padi, Musikimia perlu dibahas juga. Saya juga tumbuh di era So7 dan Padi berjaya.
    Next time, the best 10-20 band rock, indie dan aliran lain, terutama untuk lokal harus ada ulasannya…saya suka musik indonesia.
    Please, wahai masjaki, kabulkan asaku!
    PISS + PLUR ✌

  3. Ilham Sobat Padi Reply

    Mas, review 10-20 band pop/poprock terbaik indonesia versi sampeyan, penasaran saya, selera musik kita hampir sama.
    Selain Padi, Musikimia perlu dibahas juga. Saya juga tumbuh di era So7 dan Padi berjaya.
    Next time, the best 10-20 band rock, indie dan aliran lain, terutama untuk lokal harus ada ulasannya…saya suka musik indonesia.
    Please, wahai masjaki, kabulkan asaku!
    PISS + PLUR ✌

  4. Ilham Sobat Padi Reply

    Selain Padi, Musikimia perlu dibahas juga. Saya juga tumbuh di era So7 dan Padi berjaya.
    Next time, the best 10-20 band pop/poprock, indie dan aliran lain, terutama untuk lokal harus ada ulasannya…saya suka musik indonesia.
    Please, wahai masjaki, kabulkan asaku!
    PISS + PLUR ✌

  5. sasha Reply

    bener tiket mahal memang relatif buat kebanyakan orang, dan yang paling saya kagumi adalah, berapapun harga tiketnya tetapi itu untuk melihat apa yang selami ini disukai, pasti kebeli, : )

  6. Anggara Rizki Reply

    Wis, kalo urusan menulis artikel tentang SO7 dan konser2nya, Mas Jaki paling top dah 😀

    Ingat banget sama konser ini, salah satu anugerah terindah yang muncul sehari setelah ulang tahun saya yang ke 30, membuat jutaan rasa nostalgia yang mengharu biru muncul di dada. Buat saya SO7 adalah salah satu yang terbaik dalam urusan aksi panggung. Senyum ramah, fun, humbleness, dan keterlibatan seluruh personel yang tampil benar2 sebagai sebuah band. Beda dengan band tetangga yang cenderung gloomy (memang karakter lagu2 bandnya sih), terkesan elit, dan didominasi vokalisnya yang membuat saya berpikir seandainya personel lainnya gak ada pun mungkin nggak terlalu ngaruh..hehehe..

    Berhubung udah janji ngajak anak main ke playground bareng istri, akhirnya gak nonton langsung dan lihat via streaming internet aja. Itu aja udah puas poll banget, apalagi datang langsung ya? Terlebih begitu paginya buka Youtube sudah ada SheilaGank yang upload video fullnya, makin indahlah minggu pertama di usia kepala tiga ini :-)

    Sekarang saya tinggal menunggu gebrakan band ini selanjutnya, terutama album baru mereka dalam ranah indie. Kalau ada satu yang kurang dari mereka yang saya rasakan adalah betapa tidak ambisiusnya mas- mas dari Jogja ini. Sebagai penggemar kadang greget ingin melihat mereka go international dan dilihat lebih banyak pasang mata, karena saya yakin kualitas mereka sudah super layak untuk berkiprah lebih jauh lagi.

    Tapi entahlah, mungkin kalau mereka go international justru akan banyak masalah yang datang. Mungkin para personel band ini justru bisa bahagia karena keadaan mereka yang sekarang. Jauh dari gosip, punya keluarga yang harmonis, punya begitu banyak fans yang mencintai mereka, dan bisa selalu dekat dengan orang- orang yang mereka kasihi. Sebagai pengagum salah satu band (sedikit di antara sekian banyak) yang punya tanggung jawab moral sebagai figur publik dan mampu ngasih contoh yang baik buat fans, saya justru lebih gak rela kalau ketenaran yang menjulang justru membuat mereka tidak lagi apa adanya dan berakhir tidak bahagia.

    Yah, apapun itu, doa saya selalu untuk Sheila On 7. Menuju usia 20 tahun, semoga band asal Jogja ini semakin matang dalam bermusik, menjalani hidup, dan tentunya tak pernah berhenti membuat kami pendengarnya tersenyum bahagia.

    Jalan Terus! :-)

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Dalam satu kesempatan saya pernah bilang ke Duta, “Sheila ki dadi band kok ketok males buanget to? web ra tau diupdate, channel Youtube ra duwe (belakangan mereka bikin Shela On TV), ning Twitter jarang ngetwit. Gemes e kene ki.” Dia cuma senyum dan bilang, “Yo mlaku alon-alon lah”.

      Mereka sudah melewati semua siklus hidup band: tak dikenal-sejuta kopi-nyaris bubar dan seterusnya. Lalu mau apalagi? Memang faktor Jogja, juga fanbase yang loyal, membuat mereka sudah dalam tahap tak terlalu ngoyo lagi. Toh tiap minggu jadwal manggung pun selalu ada.

      Kita memang tidak tahu sampai kapan mereka bertahan. Tapi yang jelas mereka mengajarkan satu hal penting utuk membuat satu band tetap bertahan: bikin lagu bagus dan sisanya bersenang-senang.

      Oh ya, kita seumuran hehe

      1. Anggara Rizki Reply

        Panteesss..seleranya sama..hehehe

        Yah begitulah, kadang sebagai fans saya agak “egois” juga, ingin yang lebih lagi, walaupun seperti kata mas mereka sudah hampir melalui semua siklus band papan atas. Dan mereka mungkin bahagia dengan kondisi mereka sekarang. Cuma ya kalo boleh pesen..mbok yaa..websitenya diupdata..mosok news feed terbarunya masih ngabarin proses pembuatan album Musim Yang Baik sudah selesai..hehehe..

        BTW saya langsung subscribe lho mas Jaki pas Sheila On TV muncul di Youtube..tapi ya itulah belum update lagi sampai sekarang. Padahal kalo diseriusin bagus itu, bisa menjaring banyak fans baru. Usul saya sih diisi footage2 pas konser, atau kalau bisa sesekali share konser full mereka yang ProShot, kayak yang dilakuin Sounds From The Corner untuk konser SO7 di Soundrenaline Bali. Dijamin lariss maniss..alias subscriber melimpah dan jadi sumber pendapatan baru 😀

        Oia, saya kadang agak greget aja karena walaupun faktanya SO7 menjadi band satu-satunya di Indo yang mampu mencetak hat trick untuk tiga album perdananya, tetapi penjualan maks per albumnya masih kalah sama band tetangga yang meraih 3 juta kopi. Seakan ga rela, dan masih bermimpi dan berkhayal kelak mas- mas Jogja ini bisa menjulang lagi dan menembus 5 juta kopi..hehehe..bisa heboh itu, di masa album fisik nasibnya udah hancur lebur kayak gini 😀

        1. Fakhri Zakaria Reply

          Saya pernah usul ke Duta supaya nyuruh fans bikin semacam gig report di setiap konser, apalagi dulu kan sempat ada program sehari bersama itulah. Pasti banyak yang mau lah walaupun tidak ada honorarium penulisan hehe. Saya sendiri menawarkan diri siap dikaryakan melakukan penyuntingan naskah-naskah yang masuk.

          Dia bilang kalau semuanya sudah siap, termasuk infrastruktur webnya, wacana tadi akan dilaksanakan. Saya juga diminta nunggu saja setoran naskah. Tapi ya itu, lagi-lagi harus bisa-bisa berlapang dada hehe.

          Yah ternyata ini memang penyakit klasik band-band Jogja sih. Letto salah satunya. Coba baca wawancara ini https://www.caknun.com/2016/letto-tidak-vacuum-dan-bukan-cleaner/
          Kotanya santai, fansnya apresiatif, lha mau ngapain lagi selain cukup bikin lagu bagus saja tanpa perlu mikirin gimmick-gimmick penjualan lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>