Tahun 2017, Tahun Konser dan Festival?

Efek Rumah Kaca, Konser Sinestesia

Efek Rumah Kaca, Konser Sinestesia. Sumber foto http://irockumentary.club/photo-gallery/efek-rumah-kaca-konser-sinestesia/

Semalam kawan saya Nuran “Rose” Wibisono mewawancarai saya perihal prediksi industri musik Indonesia di tahun depan. Saya kira hanya obrolan biasa, seperti diskusi  soal bumbu yang cocok untuk masak ikan gabus. Ternyata malah dimuat di media tempatnya bekerja. Sialan, tapi tak apa lah sedikit menaikkan gengsi hehehe. Selengkapnya silahkan disimak di tautan ini.

Saya memperkirakan tahun depan akan ada banyak musisi berani melakukan konser tunggal. Sebelumnya menggelar konser tunggal masih menjadi barang mewah. Produksi dan konsep acaranya harus lebih serius ketimbang main di acara off-air regular seperti pensi atau festival musik. Namanya tunggal artinya highlight ya di musisi yang bersangkutan doang. Otomatis ekspektasi penonton pun meningkat, apalagi kalau harga tiket yang dibandrol umumnya lebih tinggi.

Saya kira kita harus berterima kasih pada Efek Rumah Kaca yang menggelar konser Sinestesia di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki pada 13 Januari silam. Rombongan troubadour yang dipimpin Cholil itu pada akhirnya membuat standar baru dalam produksi konser. Harga tiketnya mungkin agak diatas rata-rata. Tapi apalah artinya kalau setimpal dengan dengan penagalaman audio visual yang mencengangkan.

Setelahnya berturut-turut Stars and Rabbit, Frau, Shaggydog, sampai Senyawa menggelar konser tunggal. Bahkan lokasi yang sebelumnya terkenal elit dan tak sembarang musisi bisa manggung, seperti Gedung Kesenian Jakarta, kini semakin jadi jujugan. Laporan di harian Kompas edisi Kamis, 29 Desember menyebut salah satu faktornya adalah harga sewa yang semakin terjangkau.

Tren konser tunggal ini juga tak hanya di Jakarta. Di Surabaya, Silampukau menggelar konser tunggal di Gedung Cak Durasim pada 18 Agustus. Silampukau menampilkan sepuluh repertoar yang ada dalam album Dosa, Kota dan Kenangan dalam formatnya yang paling orisinil yang melibatkan kawan-kawan musisi yang pernah turut campur dalam pembuatan album tersebut. Menurut kawan saya Ayos Purwoaji, kami pernah menulis laporan tentang Lokananta, belum pernah ada band asli Surabaya yang berani membuat konser tunggal dan tiketnya tandas tak bersisa.

Saya berharap di tahun 2017 mendatang kecenderungan ini semakin banyak. Saya rasa publik di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya kini semakin mengapresiasi karya musisi dengan mau membeli tiket pertunjukan. Mestinya hal ini juga dibarengi dengan peningkatan kualitas produksi dari pihak musisi dan tentunya penyediaan fasilitas-fasilitas penunjang dari pihak-pihak yang terkait.

Bagaimana dengan festival musik? Saya memperkirakan untuk tahun depan penyelenggaraan festival musik masih akan didominasi pemain-pemain lama. Katakanlah Java Jazz, Hammersonic, Soundrenaline, We The Fest, Rrrec Fest sampai yang terbaru Synchronize Festival. Akan ada adu konsep dan line-up, seperti saat Nasida Ria yang jadi pamungkas Rrrec Fest “diadu” dengan penampilan Soneta Group yang jadi highlight Synchronize Festival. Oh ya kabarnya Megadeth sudah confirmed main di Hammersonic tahun depan, kita tunggu saja yang lainnya.

Cuma sepertinya penyelenggaraan di Jakarta sedikit banyak akan “terganggu” dengan pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta yang panasnya sudah terasa dari sekarang. Mungkin ini jadi pertimbangan penyelenggaraan konser dan festival musik baru akan kembali menggeliat selepas pencoblosan. Atau promotor mungkin mencari lokasi-lokasi alternatif, seperti halnya waktu Jamiroquai manggung di Sentul, Bogor karena besoknya adalah hari pencoblosan Pemilu 2009.

1 Comment

Leave a Reply to Emeraldine Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>