Lagu-Lagu Buat Anakku

17903487_10212500242678286_7931561965532540522_n

Saya baru saja jadi bapak. Anak saya perempuan, lahir hari Senin Pon waktu langit seperti menumpahkan semua  isi airnya di Bogor. Saya ingin sedikit berbagi cerita perjalanan sampai ke fase ini.

Bulan Desember 2012 saya mengakhiri masa lajang setelah tiga tahun pacaran dgn Ibu è, panggilan baru untuk istri saya Rahajeng Nurwidyastuti setelah jadi ibu. Kami pacaran selama tiga tahun. Bagi saya, tahun ketiga adalah penentuan untuk melangkah ke tahapan yang lebih serius (baca: nikah) atau bubar jalan sekalian. Oh ya, kalau anda termasuk golongan yang menabukan pacaran sebelum menikah, silahkan berhenti membaca sampai disini.

Konsep pernikahan bagi saya bukan sekadar legalitas agama dan negara untuk bobok bareng sambil telanjang bersama pasangan. Pernikahan adalah soal komitmen dan tanggung jawab. Komitmen untuk hidup bersama dengan segala kekurangan dan kelebihan. Juga tanggung jawab atas peran-peran yang kemudian muncul: sebagai suami, istri, bapak, ibu, dan seterusnya. Tiga tahun pacaran kami rasa sudah cukup untuk mengenal satu sama lain dan mulai untuk membicarakan pembagian tanggung jawab, walaupun setelahnya tentu saja masih sering terjadi friksi-friksi.

Setelah menikah pembicaraan tentang anak tentu saja mengemuka. Di Indonesia, menikah berarti satu paket dengan memiliki keturunan. Pilihan untuk tidak memiliki keturunan atau sekadar menunda punya keturunan bukan hal yang populer, meski bagi saya hal-hal tersebut adalah hak personal.

A man’s home is his castle. Sebagai kepala keluarga, tentu saya ingin memastikan keluarga saya hidup layak. Tentu hal tersebut bisa terwujud salah satunya dengan menyediakan satu hunian yang cukup. Mengapa hunian jadi salah satu hal krusial? Buat saya ini adalah satu bagian dari tanggung jawab sebagai kepala keluarga, suami, dan bapak sekaligus. Memastikan keluarga saya punya tempat berteduh, tidur, berinteraksi, yang pantas . Memungkinkan menerapkan nilai-nilai ideal hidup berkeluarga dengan intervensi seminimal mungkin bila dibandingkan saat hidup menumpang orang tua.

Hal lain yang tak bisa dipungkiri adalah kekhawatiran apakah saya bisa mengemban amanah membesarkan anak dengan baik. Jujur saja, saat awal-awal menjalani pernikahan masih ada rasa ingin menikmati kehidupan khas pemuda tanggung: main ke sana ke mari, menghabiskan waktu dengan hal-hal selo, dan semacamnya. Seperti belum siap saja kalau tiba tiba mak brojol istri saya melahirkan anak. Tapi lebih daripada itu ada semacam ketakutan yang terbawa sejak masa kecil. Saya mengalami hidup susah saat dibawa pindah orang tua dari Muntilan ke Bogor di usia balita. Rumah tinggal awal kami lebih mirip kandang sapi. Pernah saat kesulitan keuangan, kami sekeluarga hanya makan bakwan gandum tanpa sayuran untuk mengganjal perut.

Saya pernah baca di buku diktat waktu kuliah kalau trauma dan ketakutan masa kecil akan membentuk pola komunikasi saat ini. Bisa jadi ketakutan-ketakutan itu membuat saya merasa belum ingin buru-buru punya anak. Paling tidak kalau sudah punya rumah dan pendapatan yang cukup untuk hidup layak sekeluarga. Memang ada ungkapan tenang saja rezeki sudah diatur, tapi seingat saya membiarkan keluarga kelaparan dan hidup dalam kesulitan bukanlah hal yang berpahala.

Setelah punya rumah, pendapatan juga stabil, pertanyaan tentang anak kembali hadir. Sebelumnya pertanyaan-pertanyaan tadi sudah berseliweran mulai dari orang tua, kerabat, tetangga, sampai pihak yang sebetulnya tak kenal-kenal amat.  Periksa dokter, ikut program kehamilan yang cukup menguras dompet, sampai minum ramuan ini itu yang katanya-katanya sudah kami lakoni, tapi tanda strip dua belum juga muncul di testpack. Segala macam komentar dari yang sifatnya mendukung, kaget, penasaran, sampai nyinyir kami nikmati seperti nasi.

Waktu pulang kerja kemalaman di bulan puasa tahun 2016 kemarin entah kenapa tiba-tiba batin saya bilang, “Oke, sepertinya saya sekarang siap punya anak.” Di pagi hari terakhir Ramadhan, istri saya mendadak  iseng mencoba testpack yang sebelumnya hanya dibiarkan berdebu di pojok lemari. Dua garis. Kami coba dengan membeli testpack yang lebih baik, dua garis tadi semakin jelas.

Saya cuma bengong. Setelahnya dokter kandungan adalah teman baik kami.

Sebelum hamil, kami sudah menyelesaikan pembicaraan yang seringkali memicu perdebatan bunda-bunda netizen yang budiman: dokter lelaki atau perempuan, di bidan atau rumah sakit, kalau di rumah sakit harus rumah sakit Islam atau umum, sampai normal atau lewat bedah. Kami hanya ingin anak dan ibunya lahir dengan lancar dan sehat, apapun dokternya, tempatnya, dan metodenya.

Kejutan datang di bulan keempat. Posisi ari-ari menutupi jalan lahir bayi, tapi dokter bilang untuk tunggu sampai bulan kedelapan. Tunggu punya tunggu, si ari tak juga bergerak naik alias plasenta previa. Kami dirujuk sampai Jakarta, keputusannya si jabang bayi harus dibantu keluar lewat pembedahan untuk meminimalkan resiko buat ibu dan bayinya.

Alhamdulillah, pembedahan berjalan lancar meski dokternya terlambat gara-gara mobilnya sempat terjebak banjir. Masuk ruang operasi pukul tiga sore, eh begitu saya tinggal sebentar untuk sholat ashar saya dinyatakan resmi jadi bapak. Oh ya dokter kandungan kami laki-laki dan anak saya lahir di rumah sakit yang dulunya adalah rumah sakit Katolik di Bogor. Alasannya simpel: dokternya menyenangkan dan pihak rumah sakit sangat membantu untuk pengurusan klaim BPJS.

Sembilan bulan disambung 45 menit di depan ruang operasi mungkin masa menunggu paling ajaib. Senang, gelisah, cemas, you name it. Level berikutnya dari menunggu sidang skripsi dan jawaban waktu melamar calon istri. Sampai akhirnya bertemu kesibukan-kesibukan baru: ganti popok bayi (catatan terbaik saya adalah lima menit, tanpa si bayi menangis), memandikan, atau mengajak jalan-jalan pagi. Jangan tanya bagaimana jam tidur kami setelah bayi lahir karena ngeteng tidur is mandatory.

Ada beberapa lagu yang menjadi soundtrack selama menjadi suami, suami siaga, sampai jadi bapak. Agak susah menemukan tema-tema lagu yang spesifik bercerita tentang relasi anak perempuan dengan bapaknya. Lebih banyak yang bercerita tentang hubungan bapak dan anak lelaki, seperti “Nak” dari Iwan Fals atau “Father and Son” milik Cat Stevens. Ini daftarnya:

“If God Will Send His Angels” (U2)

Ada momen waktu pertahanan diri runtuh saat komentar-komentar soal anak yang belum hadir kami rasa mulai kelewat batas. Waktu itu saya bertanya pada istri saya, apakah kita masih menikmati pernikahan ini? Yang bisa lakukan selain berusaha adalah selalu mencoba berpikiran baik bahwa si jabang bayi akan hadir saat waktu tepat. Saat rumah sudah layak huni, saat jalan raya Ciomas yang seperti sungai dikuras bisa mulus saat dilewati motor setiap pergi kerja. Semuanya kemudian datang satu demi satu, termasuk jalan Ciomas yang dibeton hehehe.

Nobody else here baby
No-one else here to blame
No-one to point the finger
It’s just you and me and the rain.

Hey, if God will send his angels
And if God will send a sign
And if God will send his angels
Would everything be alright?

“Daughter” (John Mayer)

Lagu sederhana tentang pesan kepada orang tua untuk menjaga anak perempuannya. Yang membuatnya spesial, lagu ini dibuat oleh seorang playboy kelas kakap. Yah ujung-ujungnya sih supaya dia dapat gadis baik-baik. Dasar lelaki.

Fathers, be good to your daughters
Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers
So mothers be good to your daughters too

“Sebelum Kau Terlelap” (Dewa 19)

Tidak berbicara secara langsung mengenai hubungan bapak dan anak, tapi lagu ini sering kali saya gumamkan waktu dapat shift malam menggendong bayi yang bangun karena popoknya minta diganti. Lagu paling lembut diantara letupan eksperimental di album Pandawa Lima. Saya paling suka dengan sound drum Aksan Sjuman.

 “Generasi Patah Hati” (Sheila On 7)

Lagu “Generasi Patah Hati” di album Pejantan Tangguh seperti menunjukkan Sheila On 7 sudah berhadapan dengan fase hidup yang berbeda ya?

Eross: Waktu lagu itu dibikin aku belum married. Duta yang sudah married dan anak-anak kru juga mulai menikah. Mereka bercerita ternyata punya keluarga itu punya tanggung jawab. Seorang laki-laki setelah menikah mereka pasti punya visi berbeda. Dan itu aku rasain. Atmosfernya di Sheila On 7 udah mulai berubah. Kita nggak semuanya bujang lagi. Disitu aku dapet kata-katanya, “Ku bekerja siang dan malam…”. Kita tur siang dan malam di perjalanan buat anak dan istri bahagia.

Selengkapnya http://rollingstone.co.id/article/read/2012/05/25/1924959/1095/q-and-a-sheila-on-7

“Adia” (Sarah McLachlan)

Nama anak perempuan kami Adia. Sudah cukup jelas dari mana inspirasinya.

 

4 Comments

  1. Zunanto Reply

    Selamat mas!!, eh pak 😀 hehe
    Semoga putrinya, Adia menjadi anak yg sholihah, aamiin :)

    Salaam buat bu Rahajeng *padahal rung kenal*

  2. Nadia Reply

    Barakallah mas. smoga ananda adia menjadi anak dan wanita sholihah.

    btw bulan dan tahun pernikahnnya sama Desember 2012 dan sama2 pernah rasain nyinyiran orang krn belum punya anak. sya dan suami nunggu2 hampir 2 tahun alhamdulillah sekarang anak kami sdh dua tahun :)

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Wah terima kasih ya mbak. Semoga anaknya selalu sehat dan bahagia. Hikmagh menunggu anak paling tidak membuat kami tidak melakukan “kesalahan” orang-orang yang selalu tanya kapan, kapan, dan kapan hehehehe. Gak enak soalnya

Leave a Reply to Nadia Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>