[UNPUBLISHED] Ki Gendeng Pamungkas: “Mereka Belum Lahir Saya Sudah Rasis”

IMG_8075 (640x427)Paranormal Ki Gendeng Pamungkas (KGP) ditangkap polisi di kediamannya di kawasan Tegallega, Bogor, Jawa Barat pada Selasa (9/5) lalu. KGP ditangkap dengan tuduhan penyebaran kebencian berdasar Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA). KGP dianggap melanggar UU RI Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Pemicunya adalah video KGP yang beredar di dunia maya. Di video berdurasi 55 detik, KGP mengenakan topi pet warna hitam, jaket abu-abu dengan emblem bertuliskan Fight Against Cina! di bagian kanan, dan kaus hitam bertuliskan Front Pribumi. Di video itu, KGP berulang kali menyerukan perlawanan terhadap Cina, Cinaisasi, dengan imbuhan kata semisal keparat. Polisi menyita barang bukti sebuah ponsel, jaket dengan tulisan Fight Against Cina!, sebuah topi Front Pribumi, dan 67 kaus dengan tulisan anti Cina.

Sebetulnya tindak-tanduk KGP yang provokatif ini bukan barang baru. Bersama Front Pribumi, organisasi bentukannya, KGP sering memasang spanduk-spanduk bernada rasial di titik-titik strategi Kota Bogor dan memproduksi kaos-kaos dengan desain bermuatan senada. Tapi bukan itu saja yang membuat KGP dikenal. Sebelum ditangkap, KGP rutin menggelar konser metal, dalam istilahnya helaan, berskala cukup besar. Band-band pengisinya masuk kategori mewah. Mulai dari Jasad, NOXA, Down For Life, Burgerkill sampai eksponen black metal Norwegia, Gorgoroth, dan tentu saja band anaknya, Kedjawen.

Konser ini biasanya digelar di stadion Padjadjaran. Yang sudah-sudah, konser berjalan biasa-biasa saja sampai KGP menulis status di Facebooknya: “Ada 50 kaos anti-Cina untuk kalian dan akan diserahkan 10 Mei 2015 di Stadion Pajajaran Bogor. Kabar ini akan dihapus 10 Maret 2015 pk.00:00!!! Tks.”

KGP akhirnya terpaksa berhadapan dengan petisi online di Change.org yang ditandatangani lebih dari 6000 orang karena ia dianggap mempromosikan rasialisme melalui konser bertajuk Brutalize in Darkness yang digelar pada 10 Mei 2015 di Stadion Padjajaran, Bogor. Konser tetap berlangsung meski Down For Life dan Burgerkill memutuskan mundur. Namun dua headliner yang diimpor dari Norwegia dan Belanda, Gorgoroth dan Disavowed tetap melanjutkan aksinya. Dilaporkan tidak ditemukan adanya agenda kampanye rasisme pada konser tersebut.

Saya mendapat penugasan dari editor saya di Rolling Stone Indonesia, Wendi Putranto, untuk melakukan wawancara dengan KGP terkait silang sengkarut masalah ini, beberapa hari sebelum konser digelar. Sidang editorial memutuskan wawancara ini tidak dimuat karena Rolling Stone Indonesia tidak mau memberikan panggung bagi yang bersangkutan untuk menyebarkan agenda-agenda kampanye rasial anti Cina.

******

Ki Gendeng Pamungkas: “Mereka Belum Lahir Saya Sudah Rasis”

Ki Gendeng Pamungkas mengungkapkan latar belakang kampanye provokatifnya, hubungannya dengan warga keturunan Tionghoa di Bogor, awal mula gelaran konser-konser metalnya, persinggungannya dengan dunia mistik dan supranatural, sampai peran ibu dalam menentukan harga tiket masuk.

Soal kaus bermuatan rasial yang menjadi pokok persoalan, apa tanggapan Anda?
Itu kan setelah ramai di media sosial baru mereka ngomong begitu. Mereka sudah tahu kaos-kaos itu dipakai yang datang ke helaan saya kenapa baru ngomong kemarin? Kalau saya bilang tidak bijaksana karena tidak mendengar dari saya. Mereka sudah melihat saya seperti itu, kaosnya seperti itu. Saya tidak pernah teriak rasis, tapi saya perlihatkan dengan kaos. Ada isu kalau saya akan bagi kaos anti Cina di acara besok, itu tidak akan saya lakukan.

Tapi selama ini banyak penonton yang memakai di helaan Anda?
Betul, dan saya nggak nyuruh. Kaos itu kan dibagikan kemana-mana. Begitu kemarin mencuat kasus itu, komunitas metal di Eropa, Amerika dan Australia minta ke saya dan saya kirimkan karena mereka mau pakai kalau ada event metal di negaranya.

Soal petisi online yang akan menuntut Anda ke Kementerian Hukum dan HAM RI apa tanggapan Anda?
Ada petisi atau boikot saya nggak pernah pusing, saya ketawa saja. Syukurin lu buang-buang energi.

Anda pernah menyebut ada pihak yang tidak suka dengan Anda. Siapa?
Cina-cina yang pasti nggak suka. Apalagi plat nomor saya mobil saya begitu, B 666 KGP. Di semua rumah saya ada tulisan tidak menerima tamu orang Cina dan keturunannya. Saya nggak bisa mengubah keputusan saya dan saya nggak bisa ditekan. Apalagi sama kecoa-kecoa metal yang kelas coro. Di mata saya komunitas metal itu kelas coro. Tukang-tukang kuli bangunan, tukang ojek yang nggak ngerti apa-apa. Pendidikan politiknya pendek. Mereka belum lahir saya sudah rasis. Bapak mereka belum tahu politik saya sudah berpolitik. Itu yang mereka harus pikirkan.

Pernah punya masalah personal dengan warga keturunan Tinghoa?
Nggak ada. Saya hanya melihat fakta sejarah. Di mata saya orang Cina memang begitu kebanyakan.

Dengan jumlah warga keturunan Tionghoa yang cukup banyak di Kota Bogor, Anda cukup berani…
Nggak apa-apa. Saya tidak ganggu mereka, mereka jangan ganggu saya. Kalau ada yang bilang saya rasis itu orang tolol. Kalau ada yang bilang saya rasis terhadap Cina itu yang ngomong orang tolol. Saya memang rasis karena ini fakta sejarah walaupun tidak semua Cina harus saya benci karena karyawan saya ada orang Cina, di grup motor Harley saya ada orang Cina, di grup motocross ada orang Cina. Cina Bogor mah baik. Tadi pagi ada masalah kita ngobrol aja. Dia minta tolong ditagih preman Ambon. Saya temuin mereka. Saya bilang, “Ini daerah gua jangan bikin masalah.”  Akhirnya beres. Cina sama Cina karena premannya disuruh sama Cina. Saya gak ngerasa jadi beking, tapi saya ngerasa saya orang Bogor. Waktu ribut mereka di depan rumah saya. Saya marah karena saya Ketua RT. Itu saja masalahnya.

Anda tidak pernah bercerita soal hal ini di akun Facebook Anda?
Enggak (tertawa). Facebook kan dunia maya, dunia khayalan.

Petisi online juga menurut Anda hanya khayalan?
Harusnya mereka ingat dulu kasus Yusril Ihza Mahendra waktu zaman Orde Baru kirim petisi ke pemerintah pakai tanda tangan, disegel. Petisi kemarin kan di internet. Sanggup nggak anak-anak metal beli materai 6 ribu? Beli pulsa aja ngutang. Sebelum mereka lahir saya udah berpolitik keras karena saya konseptornya PDI Perjuangan.

Pernah ada tuntutan hukum soal materi kampanye Anda?
Kalau ada yang nuntut saya malah suka. Akan lantang saya teriaknya. Kaos saya beredar ke seluruh dunia. Dari dulu seperti itu. Ini duit saya, aspirasi saya. Fakta orang Cina di republik ini eksklusif. Pagar rumah  tinggi, dijaga anjing-anjing atau oknum TNI dan Polri atau oknum suku tertentu. Ini fakta. Kalau mereka Indonesia, mereka gak usah marah sama saya. Untuk apa marah? Orang suka bilang ke saya soal Bhinneka Tunggal Ika. Saya bilang persetan. Bhinneka Tunggal Ika itu dari Sabang smapai Merauke suku-suku di Indonesia. Nggak ada suku Cina.

Kenapa Anda memilih pesan-pesan yang cenderung provokatif dan tendensius pada etnis tertentu?
Republik ini gak bisa pakai kalimat dogma yang baik-baik. Republik ini 90 persen generasi mudanya udah tolol, dungu. Politikusnya udah masuk kardus. Akademisinya hanya bisa onani. Kita udah nggak bisa diomongin baik-baik, harus ditempeleng kepalanya, belah pakai palu, baru sadar  kalau negara ini terjajah. Saya melihat skill politik mereka, mereka ini tidak ngerti. Fans metal ikut-ikutan, ada grup-grupnya. Ada fans metal si ini, metal satu jari, jari tengah, atau jari kelingking. Saya tahunya jari kelingking untuk ngupil (tertawa). Ini kan aneh, ketika saya bertahun-tahun melakukan helaan dengan tiket murah kenapa baru sekarang ribut? Apalagi di Jakarta ada Metal Melawan Rasis. Saya tanya, ini apa-apaan. Buat saya atau siapa? Kalau buat saya, saya akan teriak lantang di acara  saya tahun 2016 besok.

Anda sudah sadar banyak pihak yang bakal bereaksi?
Hanya  mereka saja yang di Jakarta yang bikin ulah. Saya tahu orang-orangnya. Mau saya datangi tapi kata anak saya jangan. “Nama besar Ayah jangan jatuh,” kata anak saya. Man vokalis Jasad juga bilang, “Ki jangan diladenin. KGP mah namanya dikenal seluruh dunia, Presiden Amerika wae sieun ku ente (Presiden Amerika saja takut dengan anda).”

Helaan metal ini idenya datang dari mana?
Saya kan dulu penyanyi jalanan di Blok M. Masuk label susah. Kalau jadi pecundang, menjilat ke label-label milik orang Cina baru bisa. Saya nggak bisa. Era 70-an saya bermusik, baca puisi. Bulan Januari 2001 sampai Februari 2007 saya bikin festival pop setiap bulan di Bogor. Waktu itu kan saya support anak saya yang punya band pop. Belum ada kayaknya dalam sejarah tiap bulan ada festival band di Bogor. Begitu dia ke metal saya bikin metal sampai sekarang. Kalau anak saya bikin grup keroncong ya saya bikin festival keroncong. Masak saya support anak orang lain.

Kapan persisnya berubah format dari pop menjadi metal?
Tanggal 10 Mei 2007 waktu ulang tahun Front Pribumi. Waktu itu saya ngundang Netral, yang ngusulin anak saya yang sekarang bikin band black metal Kedjawen. Saya kan gak tau Netral, Jamrud, Boomerang, Edane. Band anak saya juga main. Dia nyanyi seperti gogorowokan (teriak-teriak). Begitu turun panggung, saya pegang kepalanya. Saya kira sakit. Kata Bagus Netral, “Memang metal kayak begitu, Ki.” Lalu ada yang seperti berkelahi waktu ada yang nyanyi. Saya loncat turun, saya pegangin sambil bawa pentungan polisi yang jaga. Massa bubar, tapi saya diliatin. Terus ada yang bilang, “Ki, kalo metal mah memang begitu jogednya.” Saya malu terus saya pulang. Saya cuma diliatin video sama anak saya. Ternyata memang begitu kalau konser metal, jogednya kayak berantem. Anak saya seneng. Bulan depan saya undang band metal dari Bandung. Saya lupa namanya.

Anda sendiri suka musik metal?
Demi Tuhan sampai sekarang saya nggak ngerti mereka nyanyi apa. Apa enaknya? Saya cuma ketawa aja. Saya cuma ngerti lagunya Gesang aja. Enak sampai sekarang  (tertawa).

Apa genre musik kesukaan Anda?
Blues. Ini sudah lima album, mau enam. Album religi tiga. Jadi ada sembilan album dirilis mandiri. Sekitar lima atau enam tahun lalu saya pernah buka iklan di Rolling Stone Indonesia.

*Catatan: Editor sudah melakukan pengecekan ke bagian iklan ternyata nggak pernah ada KGP memasang iklan di Rolling Stone Indonesia.

Bagaimana kriteria pemilihan band yang tampil di helaan Anda?
Saya selalu menampilkan band tergantung dari permintaan di Twitter saya. Saya tidak pernah ada pesan sponsor.

 

Anda sendiri yang minta?
Iya, jangan pernah ada sponsor dari manapun. Bergembira saja. Hura-hura.

Pernah ada proposal sponsorship yang masuk?
Pernah. Rokok, makanan, minuman energi, sama kartu prabayar. Nilainya ada 100 juta.

Anda tolak?
Mereka kan niatnya dagang.

Berapa biaya produksi tiap helaan?
Kalau di Taman Topi minimal 80 juta. Kalau di Stadion Padjadjaran 150 juta.

Untuk menutupi biaya produksi dari mana?
(Tersenyum) Itu rahasia Tuhan dan saya.

Sejauh ini dapat keuntungan?
Saya bilang ini sedekah edan gaya KGP. Gimana mau untung kalau Taman Topi habis 75 juta buat bayar band, sewa tempat, sama makan. Kembali dari tiket paling 2,5 sampai 3 juta.

Tiket selalu habis?
Kebanyakan gratis. Pada teriak-teriak, “Ki saya ngefans sama ini, Ki saya ngefans sama itu.” Udah lah gratis (tertawa). Saya punya prinsip kalau memberi jangan sampai ketahuan. Besok saja yang tiketnya 25 ribu saya dimarahin ibu saya karena harga tiket ibu yang nentukan. Ibu bilang kemahalan. Harusnya tetap sama, 10 ribu atau 15 ribu.

Bagaimana peran ibu Anda di produksi konser?
Tiap bikin helaan saya tanya ke ibu saya. Minta doa restunya, tiketnya harganya sekian. Ini saja ibu bilang kemahalan, padahal produksi saja hampai satu milyar. Saya bilang, sudah keburu dicetak  (tertawa)

Belajar mengelola event metal dari mana?
Saya tahunya cuma ngundang, bayar, main. Gak ada panitia. Saya ngundang band Indonesia, demi Allah gak pernah saya tawar. Gak pakai bayar DP. Hari itu saya telpon, dia kasih harga, hitungan menit saya transfer. Saya menghargai kegigihan metal sebagai sebuah perjuangan pembangkangan, pemberontakan. Tapi kenapa kemarin tiba-tiba anak metal jadi pecundang, jadi kayak bencong. Sebelum saya bikin acara metal, dukung band metal anak saya, saya baca dulu sejarah metal karena sebelumnya saya nggak tahu tentang metal. Orang tahunya saya nge-blues, country. Saya harus tahu sejarah supaya tidak bingung kalau ada yang tanya.

Band anak Anda dapat keistimewaan di helaan Anda?
Gak ada. Enak saja. Anak saya kerja di perusahaan saya, gaji juga di bawah karyawan karena dia baru bekerja 3 tahun.

Apa saja perusahaan Anda?
Ada di 21 SPBU di Jawa, Kalimantan, Sumatera. Juga usaha tambak ikan dan kapal. Saya juga punya tiga kafe di Bogor dengan live music.

Pernah ada sabotase dari pihak-pihak yang tidak senang dengan Anda?
Gak ada. Waktu ada kasus petisi polisi nelpon saya, Cina Bandung sama Jakarta juga nelpon. Ki Gendeng rasis dari tahun 1972, catatan kasus saya di intelejen polisi ada.

Tidak pernah ada keinginan dengan Pemerintah Kota Bogor supaya helaan anda jadi agenda resmi tahunan seperti Rock In Solo atau Kukar Rockin’ Fest?
Nggak. Pasti muatannya politis. Nanti disangka saya mau jadi Walikota Bogor. Nggak lah.

Kalau kerjasama dengan sesama penyelenggara?
Mungkin mereka tahu saya rasis. Harusnya kalau sama-sama penyelenggara kan bisa silaturahmi. Kalau bersatu kan hebat. Tapi ada jarak yang memisahkan, itu kroco-kroco yang mengadu domba. Metal kan satu. Dari Sabang, Merauke, sampai Amerika kan satu. Tapi kayaknya mereka musuhin saya, atau kroco-kroco mereka musuhin saya. Saya kepikiran kalau bisa bersatu ini gila. Solo ada Rock In Solo, Kutai Kartanegara ada Kukar Rockin’ Fest bikinannya si Rita (Rita Widyasari, Bupati Kutai Kartanegara), Jakarta ada Hammersonic. Kalau bersatu bisa sinting dunia. Saya kan gak ada tujuan politik.

Apa tujuan Anda dengan helaan-helaan ini?
Saya berharap di luar Bogor ada orang kayak saya. Punya duit, bikin acara metal tanpa sponsor dengan tiket murah, terus percaya jiwanya bahwa Tuhan akan mengganti di akhirat nanti.

Berarti tidak ada hubungannya waktu anda maju sebagai calon Walikota Bogor tahun 2008 silam?
Saya maju kan sebagai pemecah suara karena saya pro Diani (Diani Budiarto, pemenang Pilkada Kota Bogor tahun 2008 bersama Ahmad Ru’yat). Waktu itu saya nggak kampanye saja juara tiga, apalagi kampanye? Tujuan saya memang memecah suara. Termasuk ketika Bima Arya kemarin maju jadi Walikota, saya deklarasi untuk memenangkan Bima Arya karena saya punya pengaruh di Kota Bogor.

Itu mengapa Anda tidak mengeluarkan kesaktian sebagai paranormal waktu anda kalah di Pilkada Kota Bogor?
Saya mah nggak sakti. Itu kata orang saja.  Kalau haus saja saya minum (tertawa)

Kapan mulai tertarik dengan dunia supranatural?
Tahun 1968. Bapak saya waktu itu sakit nggak sembuh-sembuh padahal sudah berobat. Diduga karena kena santet. Makanya saya belajar santet buat ngobatin bapak saya. Bapak saya sembuh, akhirnya saya senang dengan dunia supranatural. Ketika belajar supranatural, saya sadar paranormal yang buka iklan 99,99% penipu. Makanya saya nggak pernah buka iklan.

Anda tidak buka praktek juga?
Tidak pernah. Boleh cek kliping majalah, saya gak pernah berubah. Ketika Bush (George W. Bush) mau dateng di Bogor tahun 2006, saya santet kalau dia mendarat di Kebun Raya. Akhirnya dia gak mendarat kan? Takut dia karena saya merasa melakukan tindakan benar, bukan membenarkan diri.

Asal-usul nama Ki Gendeng Pamungkas dari mana?
Mungkin saya bandel makanya ibu saya mangil saya Gendeng Pamungkas. Gendeng yang paling habis biar nggak bandel lagi. Ki itu bukan kakek-kakek  tapi singkatan kalau ingat. Jadinya kalau ingat orang gila yang paling bandel habis-habisan. Itu bisa-bisanya saya saja (tertawa). Kebetulan nama Gendeng Pamungkas itu keren. Ada huruf G tiga kali, itu saya ganti jadi angka 666 untuk plat mobil saya. Jadi gak ada hubungan angka setan (tertawa)

Nama asli Anda?
Isanmassardi.
Kalau Front Pribumi latar belakang pendiriannya bagaimana?
Gagasannya tahun 1972. Deklarasi pertama tahun 1978 di Yogyakarta. Ketertarikannya sejak saya kelas 1 SMP saya baca Serat Jayabaya. Di situ ada kalimat orang Cina tinggal sejodo, orang Jawa tinggal separo, orang pada kebingungan nanti akan ada huru-hara. Saya liat cuma ada sejodo Cina-Cina nasionalis, cuma bisa dihitung jari. Paling Rudi Hartono, Liem Swie King, Christianto Wibisono, Arief Budiman, Soe Hok Gie. Yang lain-lainnya buat saya semprul. Orang Jawa ilang Jawanya,  ini kita rasakan. Soeharto orang Jawa yang njawani. Makanya saya menghargai Bung Karno dan Pak Harto, selebihnya kesini amburadul.

Mulai jadi organisasi berbadan hukum sejak kapan?
Tahun 1983, dibentuk yayasan. Kedudukannya di Lampung

Anggotanya sampai saat ini ada berapa?
Yang terdaftar secara resmi, gak banyak lah, sekitar 14 ribu lebih sedikit. Mereka punya kartu anggota. Kalau simpatisannya mendekati tiga kali lipatnya. Saya tiap bulan keluar 150 juta untuk sablon kaos dan buat baju Front Pribumi untuk dibagi.

Rentang usia paling dominan?
Kalau simpatisan 20 tahun. Anggota resmi diatas 25 tahun.

Anggota dan simpatisan tersebar dimana saja?
Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Bali.

Bagaimana persyaratan untuk jadi anggota Front Pribumi?
Kamu mendaftar mendadak jadi anggota nggak bisa. Kamu harus ikut partisipasi dulu, misalnya tiap bulan bantu event, ikut kegiatan sosial. Saya liat kamu setahun atau dua tahun, baru saya kasih soal untuk diisi. Saya kasih 100 soal seputar kebangsan. Pertanyaannya tentang Pancasila, UUD’45, Bhinneka Tunggal Ika, dan Sumpah Pemuda yang menyangkut paham kebangsaan untuk masa depan. Anak ini nasionalis nggak.

Anda sendiri yang memeriksa jawaban?
Iya. Ada yang cari muka ke saya nulis “Cina bangsat” atau ungkapan rasis segala macam, saya gak akan terima. Itu berarti dia mengambil keputusan dalam keadaan marah. Saya ini pecinta Rasul. Saya ingin mengambil keputusan pada saat tenang, tidak membenci  satu sama lain, supaya keputusan saya mencapai titik keadilan kepada yang mendengar dan melihat.

Dengan anggota yang begitu banyak juga kemungkinan mereka tersinggung melihat anda dicaci, bagaimana anda memastikan anak buah Anda tidak melakukan tindak kekerasan?
Kan ada doktrin sebelum masuk. Ada garis komando. Patuh semua anak buah saya. Ada pelatihan di Surade, Sukabumi  di tanah milik saya. Pelatihan di laut, panjat tebing, paralayang, survival. Semi militer. Pihak TNI dan Polri tahu militansi anak buah saya. Pernah saya dengar katanya Seringai jelekin saya. Saya pengen ketemu sama Arian waktu Seringai main di Cibinong. Sekitar dua bulan lalu. Arian juga bingung karena gak jelekin saya. Arian bilang nggak, masak saya harus maksa bilang iya. Akhirnya ngobrol, salaman, foto bareng, pulang.

Waktu itu bagaimana Anda menjaga anak buah ?
Saya masih perjalanan dari Surabaya. Anak buah saya datang ke lokasi, bilang Seringai jangan pulang dulu. Saya pesan tidak boleh ada kontak fisik, tidak boleh menyentuh, jaga nama baik organisasi dan yang paling penting nama baik saya. Tapi di Facebook  penggemarnya kan ngomongnya beda. Saya tanya apa Arian jelekin saya di Facebook.  Dia bilang nggak. Saya ulang sampai tiga kali, dia bilang nggak. Ya sudah. Tidak ada kata kasar dan kontak fisik. Menurut saya ini bijaksana. Arian sebagai anak muda dia gentle. Apa lagi yang mau dipermasalahkan? Saya tidak mau cari kesalahan karena saya cinta Rasul.

Helaan metal memang jadi  kegiatan rutin Front Pribumi?
Karena saya hobi musik ya pribadi. Yang ngurus izin saya, makan minum saya, bayar band saya, semuanya yang ngurus saya. Karena saya gak punya EO jadinya EO-nya ya Front Pribumi. Banyak Cina yang nonton di helaan saya, cuma saya nggak mau ngomong aja. Biar waktu bicara. Banyak yang salaman, foto bareng.  Pernah ada tiga orang Cina dari Semarang yang nonton dan nemui saya. Satu anak muda yang punya showroom mobil. Mereka bilang, katanya KGP begini begini. Saya jawab, sekarang kamu liat gimana. Mereka malah bingung, tadinya serem mau datang tapi ternyata biasa saja. Yang pakai kaos juga biasa saja. Lalu foto-foto dan minta nomor HP saya. Saya bilang, saya bangga kalian datang dan ngeliat sendiri.

Kegiatan Front Pribumi lainnya apa saja?
Bakti sosial yatim piatu dan beasiswa.

Helaan ini memang hanya anda lakukan di Bogor saja?
Ya, karena saya di tinggal Bogor. Kalau di kota lain ya saya nyumbang saja jadi sponsor. Biasanya saya ngirim bintang tamu. Paling di spanduk ada nama saya dan Front Pribumi. MC-nya lalu ngomong, biasalah nama disebut. Biasanya nama saya dan Front Pribumi lebih besar dari sponsor lain.

Anda mengatur model sponsorship-nya?
Mereka yang buat. Lalu mereka kirim desainnya ke saya. Saya setuju, lalu saya kirim bandnya.

Front Pribumi ini nantinya mau Anda jadikan seperti apa?
Organisasi saja. Memangnya saya Nasdem? Partai politik kan bohong (tertawa). Kalau dibilang saya punya tujuan, saya punya. Saya pengen bilang supaya generasi muda untuk sementara golput saja sama partai politik.

Sampai kapan?
Sampai betul-betul pengelolaan negara dan parpol kembali pada jati diri sebagai warga negara Indonesia. Karena selama ini mereka bukan warga negara Indonesia  tapi warga negara parpol.

Menurut anda musik dan politik harus terpisah?
Harus, karena itu saya selalu bilang golput.

Dari semua yang Anda lakukan, apa yang ingin Anda capai?
Saya ingin menebus kesalahan politik dan spiritual.

Apa kesalahan Anda?
Bikin PDI Perjuangan. Nipu rakyat.

 

2 Comments

  1. Rheza ardi Reply

    Pernyataannya banyak kontradiksio interminis. Ga kuat baca sampe akhir sebenarnya. Muak. Haha. Megalomania ini orang keliatannya. Tapi gw baca sampe akhir juga ujungnya, cuma buat makin kuat mikir “mungkin pola pikir hitler begini juga dulu”

Leave a Reply to Rheza ardi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>