The Incidental Nasi Kapau Trip

Minggu (3/7) lalu ponsel saya mendadak dipenuhi notifikasi dari tiga grup WA kantor. Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain meninggal dunia di Rumah Sakit MMC, Jakarta  jam 4 sore karena sakit. Setelah mengunggah pernyataan resmi di web dan kanal media sosial dan mengirimkan beberapa update untuk media, masuk pesan dari atasan saya: saya diminta ikut ke Pasaman, Sumatera Barat, kampung halaman tempat jenazah akan dimakamkan. Packing kilat, pamit ke anak yang rewel karena baru imunisasi (maaf nduk, besok bapak belikan tongseng deh), saya lalu ke kantor.

Esoknya, Senin (4/7) dilakukan pelepasan resmi oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dan Menteri Dalam Negeri. Sampai di bandara Minangkabau Int’l Airport jam 1 siang, dilakukan pelepasan secara resmi oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat. Tidak menunggu lama, jenazah segera diberangkatkan ke Pasaman sebelum senja.

Dari bandara ke Pasaman jarak tempuhnya empat jam berkendara. “Kalau pakai vorijder lebih cepat ya, uda?,” tanya saya pada pengemudi. “Itu sudah dikawal mas, biasanya lima sampai enam jam!”. Pasaman berada di ujung utara  Sumatera Barat, berbatasan langsung dengan Sumatera Utara. Sumber pendapatan utama kabupaten Pasaman berasal dari tanaman pangan dan perkebunan kelapa sawit.

Selama empat jam jarum speedometer nyaris tak pernah turun dari angka 80 km/jam. Berhenti sebentar untuk buang air, pedal gas kembali diinjak. “Sebentar lagi jalannya berkelok mas,” kata pengemudi setelah lepas dari Simpang Ampek, pusat kota Pasaman,  menuju kanagarian Simpang Tonang, kecamatan Duo Koto.

Trek kelokan paling ekstrim yang pernah saya lewati adalah saat menyisir punggung danau Toba dari dari Samosir ke Siborong-borong lewat Pusuk Buhit lepas Maghrib. “Ah paling sama saja,” batin saya. Tapi saat melibas jalur Pusuk Buhit kecepatan sedikit manusiawi. Sementara ke Simpang Tonang tak ada kata ampun selain gas dan gas. Dan kelokan tadi seperti tak habis-habis. Seperti menantang kejumawaan saya. C’mon big mouth, hit me as you can.

Pemandangan indah pedesaan Minang di cuaca mendukung berganti mata yang dipaksa terpejam, mulut merapal doa supaya tak masuk jurang, dan tangan yang siaga memegang plastik kalau-kalau perut keluar jackpot. Padahal kami menyisir lereng  gunung Talamau yang sore itu sedang syahdu-syahdunya. Ngarai-ngarai tinggi dengan persawahan siap panen di sela-selanya. Termasuk pose ikonik surau kecil di tengah sawah bernaungkan pohon kelapa. Kalau saya musisi, pasti sore itu sudah jadi satu lagu! Jangan tanyakan foto. Berusaha tetap melek sepanjang perjalanan saja sudah menjadi pencapaian.

Sampai di Simpang Tonang jam sudah menunjuk angka lima. Setelah disholatkan warga kemudian sambutan dari Bupati Pasaman, pemakaman dilakukan setelah sholat Maghrib. Sesuai tradisi, setelah jenazah dimakamkan, warga kemudian bersama-sama mendoakan di depan kuburnya. Suasananya bercampur antara duka, syahdu, dan ya harus diakui mistis juga. Tahlil yang lamat-lamat dalam suasana surup di pekuburan desa, ditingkahi bunyi hewan-hewan nokturnal.

Setelah selesai rombongan kami pamit.  Tapi keluarga meminta untuk beramah tamah sebentar sembari menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Saya kembali penasaran dengan konsep penyajian hidangan di momen kematian.

IMG_7451 - Copy

***

Sepanjang pengetahuan saya, ada beberapa pendapat mengenai hidangan dalam takziyah atau melayat. Ada yang membolehkan berdasarkan riwayat bahwa saat Ja’far bin Abi Thalib gugur di medan perang, Nabi Muhammad S.A.W menyuruh para sahabat untuk menyiapkan makanan untuk keluarga Ja’far, namun bukan untuk makan dan minum para tamu yang melayat. Sementara jika hal tersebut dilakukan oleh keluarga almarhum, maka termasuk perbuatan dilarang sesuai hadist riwayat Ibnu Majah yang berbunyi “Kami menganggap berkumpul di rumah keluarga mayit dan membuatkan makanan (yang dilakukan oleh keluarga mayit) setelah penguburan termasuk dalam katagori meratapi mayit (yang dilarang)” Wallahu a’lam bish-shawabi.

Hidangan yang disajikan kepada kami berupa nasi ramas atau nasi putih beserta lauk pauk pelengkap. Pilihan lauknya adalah daging dan ampela ayam yang dimasak ala kalio atau rendang setengah jadi dengan kuah yang masih encer namun sudah memiliki jejak karameliasi bumbu. Lalu ada telur ayam dengan bumbu balado. Juga yang menarik perhatian adalah sajian ikan air tawar, kemungkinan ikan mujair. Ikan ini sebelumnya dikeringkan menjadi dendeng, namun tanpa bumbu gula kelapa sebagai pengawet alami. Setelah jadi dendeng, ikan dimasak dalam bumbu balado dengan potongan kasar cabe merah yang cukup generous. Hidangan ini semuanya dimasak di tungku berbahan bakar kayu yang dinilai punya tingkat panas yang lebih akomodatif untuk peresapan bumbu ketimbang kompor gas. Tungku “dadakan”nya bahkan masih belum dibereskan sehingga membuat saya penasaran bagaimana mereka menyiapkan semua hidangan ini.

IMG_7456 - Copy

“Semua yang memasak adalah tetangga, bahan-bahannya juga dari mereka,” kata Henry, staf pemerintah kabupaten Pasaman yang turut dalam upacara pemakaman. Menurutnya hal tersebut sudah jadi tradisi. Warga secara spontan akan menyumbang apapun yang mereka punya, entah berupa barang atau tenaga sebagai juru masak. Tradisi ini mirip di pedesaan Jawa. Saat kakek saya dari pihak bapak meninggal, tetangga secara spontan bergotong royong menyiapkan pemakaman. Mulai dari mengurus jenazah sampai menyiapkan makanan untuk keluarga almarhum, tamu, dan tetangga yang membantu proses penguburan.

Saat perjalanan menuju Bukittinggi, tempat kami menginap sebelum bertolak ke Jakarta, saya kembali mendapat temuan menarik. Ternyata Pa’Un, sopir yang mengantar kami tidak mau makan sajian yang dihidangkan di rumah almarhum. Alasannya karena tradisi melarang pihak yang bukan termasuk tamu takziyah untuk menyantap hidangan yang disajikan. “Saya merasa bukan tamu, hanya mengantar saja, jadi saya tidak boleh makan,” kata Pa’Un.

***

DSC_0778 - Copy

Sarapan di Novotel Bukittinggi sama sekali tidak menarik minat saya. Apalagi kalau bukan gara-gara iming-iming bos saya, pak Isrard, yang asli Bukittingi. “Mau mampir ke Los Lambuang?,” tanyanya singkat. Sebuah pertanyaan yang sepertinya tak perlu lama memikirkan jawabannya. Saat mulai masuk pelataran foodcourt masakan khas Kapau itu, spontan saya mengucap salam, “Assalamu’alaikum ya penghuni surga…”. Pak Isrard melihat saya kebingungan menentukan pilihan lapak mana yang akan kami masuki. “Sudah pilih saja sembarang, enak semua kok.” Perintah yang tak perlu dibantah jika melihat rekam jejak lidah Minang yang sangat-sangat selektif pada makanan, selain tentunya kenyataan belio atasan saya hahahaha. Akhirnya kami memilih warung milik Hj. Ana.

DSC_0770 - Copy

Los Lambuang yang di di Pasa Ateh Bukittinggi adalah pilihan terbaik untuk mencoba hidangan nasi ramas yang berasal dari Kanagarian Kapau, kecamatan Tilatang Kamang, kabupaten Agam ini. “Orang-orang Kapau lebih memilih berdagang nasi di Pasa Ateh Bukittinggi yang lebih dekat dijangkau daripada ke pusat kota Agam,” kali ini penuturan sejawat saya di kantor yang diimpor langsung dari Bukittinggi, Meira Sabila. Nasi Kapau terkenal pilihan bumbu-bumbunya yang lebih royal serta beberapa menu spesifik yang hanya dibuat koki-koki asal kanagarian yang bersisian dengan Bukittingi ini.

Salah satunya adalah gulai cubadak ala Kapau. Campuran nangka muda, lembaran utuh daun kol, dan kacang panjang yang dipotong lebih panjang dari ukuran umum ini dimasak dengan bumbu gulai yang sedikit bercita rasa asam sehingga lebih segar dari gulai-gulai kebanyakan. Juga ada gulai tambunsu yang wujudnya berupa potongan usus sapi dalam porsi yang bikin klenger berkat isian telur dan tahu yang direbus dalam usus lalu dimasak dalam bumbu gulai.

Menu lain yang khas adalah rendang ayam. “Buat orang Minang, masak rendang daging sapi itu sudah template sehingga kurang bernilai ekonomi kalau dijual untuk sesamanya,” kata Meira lagi. Rendang ayam ini kemudian dilengkapi potongan-potongan kecil singkong goreng. Menurutnya lagi, semata-mata karena singkong lebih awet dari kentang.

Berbeda dengan layout warung nasi Padang dengan piring-piring tumpuk aneka lauk di etalase, pedagang nasi kapau menaruh dagangan dalam baskom-baskom besar di atas meja yang lebih rendah dari penjualnya. Pembeli tinggal  memilih lauk, dan uni penjual akan menggunakan centong-centong bertangkai panjang untuk menciduk lauk dari baskom. Dalam satu prosi nasi Kapau, penjual akan memberikan setangkup nasi, gulai cubadak, kemudian disirami dengan beraneka macam kuah.

DSC_0773 - Copy

Pagi itu saya memilih makan dengan menu dendeng kariang. Dendeng daging sapi digoreng dalam minyak panas sampai garing kemudian dibubuhi bumbu balado dengan cabai dan bawang merah yang digerus kasar. Rupanya begitu menantang. Cabainya tak ikut program pengetatan anggaran, seperti di beberapa rumah makan masakan Minang yang biasa saya sambangi di Jakarta. Suapan pertama, kadar kebahagiaan saya mendadak naik drastis. Suapan kedua, saya berdoa semoga para pedagang di Los Lambuang ini diberi umur panjang. Suapan ketiga spontan saya bilang ke Pak Isrard, yang sedang berusaha menghabiskan seporsi gulai tambusu, “Pak apa sekiranya kita bisa buat semacam workshop atau diseminasi teknologi di Bukittinggi?” Kurang ajar memang tapi apa boleh bikin namanya juga usaha.

DSC_0775 - Copy

Daging dendengnya meski garing namun tak perlu usaha lebih untuk dikunyah. Masih terlacak kegurihan air kelapa, tanda daging-daging ini sangat puas dengan paket relaksasi berendam air kelapa dan rempah. Pun cabai cabai yang jadi rekan seperjuangan bukan asal memajang rasa pedas. Ada kegurihan berkali-kali lipat setiap suapan. Bawang dalam bumbu baladonya cukup menonjol. Saya suka sekali dengan aftertaste seperti ini.

Sayangnya kami tak bisa lama-lama. Kami harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam untuk kembali ke bandara Minangkabau Int’l Airport. Kami sempat mampir di rumah peninggalan orang tua pak Isrard. Tipikal rumah berarsitektur art deco khas medio 1950-an. “Waktu jaman PRRI rumah ini sempat kena tembakan pesawat-pesawat TNI, tapi bekas-bekasnya sudah tertutup waktu rumah ini direnovasi,” katanya. Sekarang rumah itu ditempati kakak pak Isrard. Kami berbincang sebentar sambil menikmati secangkir teh Bendera. Teh produksi Siantar ini bisa dibilang wajib seduh di setiap rumah makan masakan Minang. Kalau agak bosan dengan aliran nasgitel, teh dengan aroma pandan ini bisa jadi alternatif.

Setelahnya adalah perjalanan pulang seperti yang sudah-sudah.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>