Apa Siapa masjaki

Penikmat musik sejak balita namun baru serius menjadi so called jurnalis musik sejak mengerjakan artikel tentang band idola sebagai tugas kuliah pada tahun 2008. Sejak saat itu mulai serius menulis musik walau masih beredar di orbit blog maupun notes Facebook.

Tahun 2009 naskahnya yang berjudul Nasionalisme Asyik Lewat Musik masuk dalam 20 Naskah Terbaik Kompetisi Esai Mahasiswa Tempo Institute. Tahun 2010 bersama Ayos Purwoaji mewujudkan mimpi besar. Menulis feature panjang tentang label rekaman milik pemerintah, Lokananta dan dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia. Tahun 2011 tulisannya tentang Bangkutaman, salah satu dedengkot scene independen Jogja, masuk dalam buku Like This: Kumpulan Tulisan Terbaik Jakartabeat Tahun 2010. Tahun 2012 blog barunya ini dinominasikan sebagai Blog Musik Terbaik AXIS Blog Awards 2012.

Saat ini menulis serabutan untuk berbagai media juga bekerja sebagai staf hubungan masyarakat di lembaga riset milik pemerintah kalo lagi selo.

47 Comments

  1. Fans Mas Jaki Reply

    Dear Mas Jaki,

    Melihat berbagai jajanan di warung mas jaki terus terang membuat saya tergiur. Saya menjadi teringat pengalaman hidup saya sebagai bocah SD dan SMP (yang satu ini lebih banyak meninggalkan kesan buruk di memori saya).

    Beberapa musisi yang mas angkat punya andil besar dalam pertumbuhan jiwa saya dalam bemusik. Kalau boleh saya ingin bercerita sedikit tentang metamorfosis selera musik saya, mohon dengan sangat untuk diizinkan, dan mohon dimaafkan bila terlampau panjang bak curahan hati yang galau. Saya berharap dari tulisan saya ini Mas Jaki bisa mencari tau korelasi antara kualitas musik dengan tingkat pendidikan dan kepribadian suatu bangsa. Sisi mana yang lebih berpengaruh terhadap sisi lainnya?

    Saya terlahir di keluarga penikmat musik. Ayah saya adalah penggemar sebuah band latin bernama Gipsy Kings sedangkan abang-abang saya adalah pecinta band-band rock lawas macam Deep Purple, Scorpions, Queen, Skid Row, dan sejenisnya. Mungkin bisa terbayang betapa kompleksnya musik-musik yang masuk ke telinga saya. Ya, saat teman saya bernyanyi Trio Kwek-Kwek, saya berceloteh “Take me to the magic of the moment… On a glory night”.

    Sejalan dengan waktu, tepatnya tahun 90an saya mulai mengenal jenis musik lain dari lingkungan saya. Karena saya tinggal di Indonesia Raya, maka lagu-lagu yang sering saya dengar ya tentu saja produk lokal. Jaman itu boleh disebut sebagai jaman keemasan musik Indonesia bagi saya. Bermacam band berskill tinggi tersaji bagi bangsa ini, sebut saja band besar seperti Dewa 19, GIGI, dan Slank, atau band-band yang menurut saya mempunyai citarasa bermusik yang tinggi macam Voodoo dan Protonema. Belum lagi penyanyi-penyanyi solo yang luar biasa macam Nike Ardila, Nicky Astria, dan lain-lain. Aransemen musik dan lirik-lirik yang ada saat itu seolah menunjukkan betapa bangsa ini sarat akan kualitas dalam seni, tidak kalahlah dengan musisi-musisi mancanegara (walaupun kalau boleh dibilang memang ada pengaruh dari keadaan musik secara global saat itu). Intinya saya sangat menikmati atmosfer musik saat itu.

    Menginjak SMP, terjadi serbuan besar-besaran dari musisi-musisi asing ke belantika musik kita yang ditopang oleh sebuah Saluran Televisi Musik. Memang bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Gelombang-gelombang pembaharuan terus diusung oleh band-band muda. Mereka terus mencoba menyegarkan musik-musik yang dianggap kuno dan menjenuhkan. Walhasil muncullah aliran-aliran macam Ska, Britpop, Britrock, Punk Rock, Punk Melodic, Hip Metal, Nu Metal, RnB, dan sebagainya. Sayapun mau tak mau ikut mengkonsumsinya, saya ingat saya suka sekali dengan Oasis, Limpbizkit, Linkin Park, Blink 182, Slipknot, dan berbagai band yang kalau saya dengarkan sekarang justru membuat dahi saya berkerut dan berujar “dafuq did I listen to”!?. Sedangkan di dalam negeri bermunculanlah band macam Sheila on 7 (saya berasumsi mas Jaki ini ngefans berat sama mereka, betul?), Padi, Bunglon, Tipe-X, Coklat, etc. Kondisi saat itu boleh dibilang waktu paling labil dalam hidup saya, baik dalam bermusik maupun dalam kehidupan sosial.

    Ketika saya sudah berbalut putih abu-abu, saya makin haus dengan jenis musik yang baru nan segar. Saya sudah mencari pemuas dahaga saya di dalam negeri, namun saya kecewa. Kualitas musik kita perlahan mulai menurun, lagu-lagu yang ada mulai terlihat dibuat seadanya, sekedar memuaskan selera konsumen. Masyarakat kitapun terkesan malas mencerna bait-bait syair yang sulit (mungkin karena sudah pusing mikirin kondisi ekonomi, BBM kan naik gila-gilaan waktu itu). Kebanyakan yang beredar hanya berkisar cinta-cinta yang menjemukan. Semakin sedih saya ketika melihat band-band pujaan saya dahulu mulai berjatuhan, hilang satu persatu, yang masih adapun mengekor dengan keadaan saat itu, walhasil saya hanya bisa menghormati mereka dengan karya-karya fenomenal mereka. Saya ambil contoh Dewa 19 (Dewa), coba mas Jaki bandingkan Album Terbaik-terbaik mereka dengan Album mereka yang berjudul Laskar Cinta. Mereka memang sempat menumbuhkan harapan saya ketika mereka mengeluarkan Bintang Lima, namun ya entah mengapa itu justru menjadi album penutup mereka bagi saya, selanjutnya saya coret.

    Selepas SMA saya sudah tidak mengikuti lagi perkembangan Musik Indonesia, berbagai lagu yang terlampau mendayu-dayu dan syair-syair tanpa mutu serta berbahaya bagi psikologis bangsa ini, menjadi alasan saya. Mungkin terkesan mengeneralisir, saya minta maaf, saya rasa masih ada musisi-musisi tanah air yang patut diacungi jempol, namun saya rasa mereka akan sulit berkembang andaikan mereka tetap idealis dengan kemampuan mereka. sebut saja Balawan, sekitar tahun 2006 atau 2007 saya sempat dibuat terpukau ketika saya diajak oleh teman saya menonton pertunjukannya di Gedung Kesenian Jakarta. Beberapa teman musisi saya malah menggantung alat musik mereka dan beralih menjadi pekerja kantoran akibat tetap berpegang teguh pada filosofi bermusik mereka.

    Demikian tulisan ini saya buat. Kiranya Mas Jaki tidak berkeberatan saya membuat sedikit kekacauan di Warung Mas Jaki. Saya mengharapkan respon dari Mas Jaki.

    1. Warung Mas Jaki Reply

      Sebelumnya saya ucapkan terima kasih bung/seus mau mampir ke warung saya. Saya justru senyum-senyum malu. Warung masih seumur jagung udah ada yang sudi mampir. Tapi aduh itu nama akun nya…berlebihan sekali hehehehe….

      Yah seperti yang anda tahu, warung saya memang berisi catatan-catatan mulai yang gak serius sampai yang rada serius tentang hal-hal yang saya suaki. Terutama sekali musik. Yah, tidak ada kenikmatan selain kita mengerjakan apa yang kita suka dan diapresiasi oleh khalayak bukan?

      Karena bung/seus bercerita panjang lebar dan memukau, saya akan balas dengan panjang juga. Sama seperti bung/seus, perkenalan saya dengan musik dari orang tua. Bapak dan ibu saya guru di pesantren. Saya besar di lingkungan pesantren. Tapi orang tua saya sedari kecil mencekoki saya dengan lagu-lagu mulai Koes Plus, sedikit Panbers, Franky dan Jane Sahilatua, sampai yang dominan, Ebiet G. Ade. Saya sampai sekarang juga masih heran kenapa mereka tidak memberi saya asupan lagu religi (nasyid/qasidah), tapi tak apa. Saya malah bersyukur. Sementara pakde dan paklik saya mengenalkan saya pada nama-nama seperti Iwan Fals hingga Phil Collins

      Masa-masa pra-puber (tsaaahhhh….) sebagaimana anak jaman, sebagaimana era 90an dimana MTV jadi kitab suci dan Video Musik Indonesia jadi undang-undang menentukan lagu yang bagus, saya mengkonsumsi lagu-lagu mulai dari Base Jam, Kahitna, Padi, Cokelat, Dewa 19, sampai ya…you got this point mates, Sheila On 7 (kenapa saya suka Sheila On 7? sabar ya, nanti saya bakal tulisan panjang setelah saya nonton konser ulang tahun mereka bulan depan….)

      Jaman SMP saya lagi seneng-senengnya denger classic rock macam Queen dan Scorpions. Mulai suka Java Jive dan Jikustik. Beli kaset Linkin Park dan penasaran dengan Tasya (bingung kan ? hehehe). Pas SMA karena saya pindah sekolah agak ke ndeso, akses musik saya terbatas pada toko kaset yang rilisannya gak terlalu up-date

      Turning point-nya terjadi saat saya kuliah tahun ketiga. Waktu itu saya pas lagi nyantai di kampus. iseng saya buka-buka file temen saya yang lagi gak tau kemana. Saya iseng buka folder Pure Saturday dan dassss…gila efeknya. Saya suka, saya penasaran. pengemnbaraan saya akhirnya membuka saya pada satu dunia baru. Ya, dunia dimana saya suka. Jurnalisme, eh berlebihan ah…, menulis musik :). Saya merasa sudah menemukan apa yang saya cari. Saya berkarya (dalam hal ini nulis), karya saya diapresiasi, dan ya…saya bisa kenal dan dikenal orang termasuk bung/seus ini. Yah namanya orang, siapa sih yang gak pengen dikenal hehehehe…

      Yah untuk soal antara idealisme dan jualan, di Indonesia kita emang gak bisa banyak berharap dua sejoli itu bisa akur. Segala macam doktrin “indie” ato “mainstream” gak ngaruh. Semuanya balik pada kecerdasan si musisi. Toh akhirnya waktu yang bakal membuktikan. Absurd memang situasinya, tapi itu kenyataan. Ini butuh diskusi panjang bung/seus. kalo berkenan kita bisa ngopi-ngopi ato chatting via ym, ID saya sarajevo_night

      Well, sekali lagi saya ucapkan terima kasih mau mampir dan menulis kesan pesan. Bener-bener saya tersanjung bung/seus

      Salam,
      Jaki

  2. Warung Mas Jaki Reply

    Oh ya saya lupa jawab, soal korelasi kualitas musik dengan kepribadian bangsa ya?. Saya pernah baca ciri negara yang maju adalah negara yang punya cetak biru jelas mengenai perkembangan dunia seni. So, berarti kita ngomong sistem. Soal kualitas kita skip dulu, tapi nanti bakal ketemu hubungannya karena saya bukan Rizal Armada yang terus tanya mau dibawa kemana hubungannya….

    Musik di Indonesia sekarang sudah jadi ladang kerja yang menjanjikan. Tengok berapa duit dari RBT, konser dan segala hal yang berhubungan. Tapi tunggu dulu, musik bukan sekedar itung-itungan duit kan? sebagai karya seni musik perlu media apresiasi. Dan itu yang masih belum jalan.

    Saya nuding pembajakan biang keroknya. Ini yang bikin semuanya jadi kacau. Situasi jadi sulit. Dan musisi juga manusia yang pasti juga mikir makan apa hari ini. Pilihannya sulit. Bikin musik tiga jari tapi bilang go to hell soal kualita ato bikin musik bagus tapi resikonya gagal dijual. Susah.

    Parahnya media makin menumbuhkan hal ini. Masyarakat gak dikasih pilihan. Tiap hari kita nonton musik yang itu-itu melulu di acara dengan format yang itu-itu juga. Lingkaran setan emang. Yah, masih suram lah…

    Salam dari jakarta yang cuacanya rada suram juga
    Jaki

  3. winny Reply

    wah, terimakasih saya haturkan pada mas awe dan 31 hari menulis sudah menghantarkan saya ke haribaan mas jaki.
    sering-sering gelontorin produk baru mas, biar saya betah jajan di sini. 😀

  4. @momipey Reply

    Wah, saya siang tadi ketik ‘perlengkapan musim dingin’ di google, hasilnya malah jajan di warung ampe tengah malem.. Ҩ(° ̯˚)Ҩ

    Hadeeeuh.. Tanggung jawab nih yang jualan!
    Bikin kecanduan!!

  5. kacanggaring Reply

    tadi saya nggugel “harapan jaya”… krn entah knp lagi kangen ama ini band.. eh nyasar di warung sampeyan… boleh juga sajiannya mas… cuma kurang seksi aja yg nganter kopinya… hihihi

  6. Jua Reply

    iseng aja browsing nyari lagu slank, eh malah jadi adem mangkal disini, hehe… nice blog, bahasanya nyante dan asyik, persis seperti obrolan lagi nongkrong di warung tapi tetap punya makna.. jiaah ;p

  7. Eleanor Lou Reply

    Hallo Mas Fakhri
    saya baru dua kali mampir ke sini. icip-icip baca, bagus ternyata. ringan tapi terstruktur dan patut dipertimbangkan. saya terkesan, dan langsung memutuskan langganan.

    saya penggemar musik ambient post-rock, new wave, dan trance segala aliran.
    saya jarang mendengarkan musik lokal kecuali KLA project, Homogenic, Float dan Pure Saturday (sesekali The Panas Dalam). pas baca tulisanmu tentang Ahmad band, Padi, SO7, dkk bikin saya penasaran dan rela mlipir ke Jatinegara-Senen-Blok M buat nyari kaset/cd bekas original. saya nemu Padi album Lain Dunia dan Tak hanya Diam, Dewa 19 album Pandawa Lima dan Terbaik Terbaik, dan Padhyangan Project.(yang sampulnya monyet pake bow tie)
    selesai mendengarkan dan menyimak, jadi mikir, kok musik mainstream lokal saat ini lumayan jauh tertinggal dibanding era dasawarsa lalu, terutama dari segi lirik,
    *saya setengah gak percaya kalo Ahmad Dhani yang nyiptain Neng Neng Nong Neng tuh Ahmad Dhani yang sama yang bikin Suara Alam. yang satu cheesy, yang lain classy.

    baca tulisanmu tentang Noah, saya dua pertiga bersyukur mereka bangkit lagi, setidaknya konstelasi musik yang tadinya dipenuhi boyband2/girlband2 (yang sebagian besar karbitan, ga bisa nyanyi, joget sekenanya dengan kostum aneka rupa) dan band2 melayu one/two hit wonder bergeser. sepertiganya lagi kurang bersyukur, sebab Ariel cs rentan jadi konsumsi infotainment yang hanya tertarik pada kehidupan pribadi, bukannya bakat dan kreativitas mereka dalam bermusik.

    oh iya, saya suka tulisanmu yang mengomentari warga Jakarta ketika pulang ke kampung halaman. saya jadi malu, karena benar adanya. terutama bagian kampungan. mungkin asap knalpot, debu jalanan, pengawet/pemanis/pewarna buatan dalam makanan/minuman serta tumpukan tenggat pekerjaan yang dihadapi tiap hari berdampak besar pada perilaku kami sehingga jadi lupa diri.
    maaf ya.

    ditunggu tulisan2 menggugah lainnya :)

    Salam dari Selatan Jakarta.

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Terimakasih Elen (boleh saya panggil begitu?). Wah ternyata ada beberapa selera musik kita yang beririsan. Kegemaran saya sama band-band tadi sih karena saya tumbuh bersama mereka dari kecil hehe. Terima kasih sudah menginspirasi untuk cari kaset/CD bekas ke Jatinegara. FYI yang baru dan masih tersegel masih bisa ditemui di Duta Suara Sabang kok.

      Buat kita yang dulu besar di era 90an, melihat musik Indonesia hari ini ya cuma bisa nelen ludah. Tapi ya memang begitulah siklus. Tiap era perlu satu musisi “avant garde” buat mendobrak stagnansi. Kayak 80an punya Fariz RM ato 90an punya KLa, Dewa, Slank. So7, dsb. Khusus Ahmad Dhani ya…lebih baik dia bubarkan Dewa 19 saja. Silahkan bikin lagu sekelas nengnengnongneng tapi jangan bawa nama Dewa 19 hahaha.

      Untuk surat saya buat Jakartans ya sama-sama saling menghargai lah intinya. Toh saya juga cari makannya di Jakarta hehe.

      Terima kasih ya sudah mampir dan mau langganan. Salam dari balik meja warung :)

      1. Eleanor Lou Reply

        saya biasa dipanggil Elle :)

        iya, sewaktu kecil beranjak remaja dulu, saya lebih suka lagu2 grup lawas, semata karena mudah dinyanyikan dan liriknya nempel (biarpun belum tentu paham maknanya) dan terbawa sampai sekarang.

        Duta Suara Sabang ya? coba nanti mampir kesana. siapa tau nemu barang bagus.

        menurutmu, siapa yang jadi musisi “avant garde” masa kini?
        saya ga banyak tau soal peta musik lokal sekarang (tentunya di luar chart mainstream televisi), menurut saya,, Santamonica dan White Shoes & The Couples Company kandidat yang berpotensi :)

        oiya, saya terkesan baca tulisan tentang Pure Saturday, saya jadi inget, mereka lah salah satu alasan kuat saya sekolah di Bandung dulu (haha)

        1. Fakhri Zakaria Reply

          Kalo untuk ranah independen sih ga perlu khawatir kehabisan stok. Kita dianugerhai bakat-bakat keren seperti yang tadi kamu sebutkan.

          Nah di arus utama nih yang sekarang susah. Kalopun ada eksposure medianya gak adil. Ini yang bedain dengan musik Indonesia dulu. Media kasih porsi berimbang. Publik dapet banyak pilihan. Makanya yang keluar pun beragam. Kompetisinya sehat. Masing-masing punya ciri khas. Gak kayak sekarang. Monoton.

          Terima kasih untuk apresiasinya di tulisan Pure Saturday. Itu salah satu band yang ngerubah hidup saya 

    2. Nadia Reply

      Setauku lagu nengnongnengnong bukan ciptaan ahmad dhani tapi ciptaan salah satu peserta audisi indonesian idol yg g lolos. Ahmad dhani beli lagunya

  8. erwin Reply

    Salam kenal mas, maunya guggling muntilan nemu blok sampeyan, baca postingan kaset tak sampai, terkenang muntilan ketika jaman SD s.d. SMP di muntilan, sampai akhirnya sekarang sudah jadi warga Jawa timur. Keep posting mas, nice share

  9. Merri Ikhasari (@Merrimerr) Reply

    tdk sengaja saya nemu blog ini hsl dr klik sana klik sini, lebih tepatnya sih kepo menurut tatanan bhs ank zaman skrg.haha,, saya cm penasaran & memutuskan utk meninggalkan coment dsini hny utk sekedar bertny, Apakah foto yg dipajang itu di warung sidosemi kotagede? maaf kalau slh.

  10. hendrowicaksono Reply

    Iseng nyari artikel tentang kenapa dulu peter pan bubar, malah nyasar ke blog masjaki. Tulisannya bikin betah baca meski kadang terlihat narsis kaya ahmad dhani, tapi emang bener adanya. Padahal deadline tugas saya lagi bejibun tapi malah asik bacain blog ini. Lanjut mas :)

  11. mitawakal Reply

    wah asik nih ada jurnalis musik.. saya sih bukan pecinta musik serius-serius amat, cuma senang dengar musik enak aja.. tapi kalau liat orang nulis tentang musik, seneng bacanya, seolah-olah musik ibarat ideologi bagi mereka, dan itu menarik..

    salam kenal dari Bandung

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Salam kenal juga…

      Terima kasih sudah menikmati. Saya mah seneng musik dan kebetulan seneng nulis aja hehehe. Belum sampe lah kalo ke ideologi, ideologi saya sih Pancasila hehehe

  12. salazar (@zar_la_sa) Reply

    masjaki adalah salah satu penulis yang saya segani, dia menulis secara ringan tapi membuat orang yang membacanya mampu mencerna hal yang sebenarnya pelik. Menurut saya itulah yang menjadi keistimewaannya, selain satu paragraf di bawah ini.

    Andaikan masjaki tidak pernah melintas dalam kehidupan saya, dapat dipastikan saya merugi. Karena sebenarnya hanyalah kufaku yang membuat saya dapat menikmati hidup sampai detik ini, dan harus diakui dengan sejujur-jujurnya bahwa masjaki lah yang mampu menunjukkan letak kemenawanan kufaku. Inilah keistimewaan masjaki yang lainnya: menyibak esensi dibalik tradisi.

    Dia laksana barometer musik indonesia yang tidak menyandra frekuensi, namun lebih memilih realitas-nya dipadukan dengan realitas pagi Jakarta agar kita bisa mendapat intisarinya. Saya bisa berkata apa lagi? Sungguh mulia seorang masjaki.

    Wasalam

  13. Zephanya Theza Reply

    postingan fb teman ttg bergaya dalam bencana massjaki menyasarkan saya ke warung ini, rasanya saya bakal ngangkring disini terus….

  14. @RanggaDjabs Reply

    Kesasar yang asyikk..
    Selera musik nya sama ternyata ya.. mungkin karena besar di thn 90’an kali yah..
    Lanjut mas..

  15. singolion Reply

    berkelana di dunia maya dan akhirnya mata tertambat di laman ini. berjam-jam saya membaca tulisan mas Jaki dan harus berterima kasih karena tulisan anda memperkaya khasanah pengetahuan musik saya.
    mampirlah ke blog saya: http://singolion.wordpress.com
    mungkin tulisan saya tak seindah tulisan anda karena saya tidak dilahirkan menjadi kuli tinta. Tapi, saya yakin, kita mengobarkan semangat yang sama, mencintai dunia musik Indonesia.

    1. masjaki Reply

      Wah terima kasih pak berkenan mampir. Kebetulan saya juga sering mampir ke blog panjenengan, tapi segan mau follow hehe. Saya senang akhirnya malah bisa ketemu disini. Pokoknya sama-sama bealajar dan melengkapi, demi musik Indonesia :)

      Matur suwun

Leave a Reply to @momipey Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>