Bergaya dalam Bencana

Kamis (13/2) malam gunung Kelud di Jawa Timur bergolak. Abu vulkanik imbas erupsi terbawa ke angin ke arah barat, dan mulai menghujani langit Jogjakarta dan sekitar pada Jum’at (14/2) dinihari.

Jumat, seperti biasanya, adalah hari para pelancong untuk berlibur akhir pekan. Mencari suasana baru di kota lain yang tak terlalu jauh jaraknya untuk kembali lagi di Minggu malam. Dan akhir pekan kemarin tak seperti biasanya. Jogja, salah satu destinasi liburan akhir pekan favorit, jadi lautan debu vulkanik.

Bagi warga Jogja dan sekitar ini sudah biasa karena hidup mereka yang dekat dengan Merapi. Untuk para pelancong, ini mungkin pengalaman kali pertama sehingga perlu untuk mendokumentasikan kejadian langka ini.

***

Kita sampai pada era dimana konsep aku menjadi fokus utama dalam interaksi. Saya menduga ini terkait dengan kenaikan tingkat kesejahteraan yang ditandai dengan kemunculan kelas menengah baru. Konsep Hierarchy of Needs Abraham Maslow bisa menjadi pisau analisis yang berguna. Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, apalagi yang dibutuhkan kalau bukan aktualisasi diri?

Meski demikian, konsep Maslow tadi juga menimbulkan pertanyaan saat mereka yang belum terpenuhi kebutuhan akan keterikatan dan cinta (belongingness and love needs, baca: jomblo, bujang lapuk, apalah itu) juga sibuk mengaktualisasikan diri. Tapi saya sedang malas bicara soal cinta-cintaan dulu hehe.

Kebutuhan aktualisasi diri ini kemudian dijembatani dengan baik oleh keberadaan media sosial. Media sosial seperti menjadi liga kompetisi aktualisasi diri. Perolehan poin didapat dari jumlah like di Facebook dan Instagram, retweet di Twitter, atau repath di Path. Sayang, sampai sekarang saya masih belum menemukan siapa badan otoritas semacam PSSI atau FA di ranah sepakbola yang bisa menentukan juara di masing-masing liga.

***

Saat hujan abu di Jogja, saya sedang bersiap pulang ke Muntilan untuk menjenguk nenek saya yang sedang sakit. Akhir pekan pun saya habiskan di rumah sakit, toh kalaupun bisa keluar untuk sekedar cari angin yang didapat adalah tamparan abu vulkanik. Minggu (16/2) malam saya pulang menumpang kereta malam Bima dari stasiun Tugu, Jogjakarta.

Di Tugu saya melihat pemandangan khas Minggu malam. Wajah-wajah perantau rombongan PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad) dan pelancong akhir pekan. Yang disebut terakhir mudah saya kenali. Tas punggung, baju casual, tentengan oleh-oleh (biasanya Bakpia), dan aksen bicara luar daerah (yang terbanyak gue elu ala Jakarta dan sekitar)

Saya terpikir untuk mengetahui apa yang mereka lakukan di liburan akhir pekan yang tak biasa ini. Dan kemudian muncul ide riset selo yang dikerjakan dengan bimbingan dari Bandung Bondowoso Institute for Sistem Kebut Semalam.

***

Saya mencari foto-foto selfie para pelancong. Supaya mudah, pencarian saya batasi hanya di ranah Twitter (nek arep luwih akeh kene njaluk duite). Metode saya adalah melakukan pencarian dengan hashtag #jogja #tugu #malioboro #vacation dan #traveling.

Pola ini memudahkan dalam pencarian karena ini yang umum digunakan pelancong dalam mengunggah foto di akun Twitter mereka yang biasanya juga terhubung ke Instagram. Tugu dan Malioboro sendiri  adalah salah satu destinasi populer pelancong, yang hanya dibatin oleh warga Jogja dengan halah kene ki mbendino liwat kono mas.

Setelah mendapat obyekan (jilak bosoku koyo tukang ojek) saya melakukan verifikasi dengan melihat bio Twitter. Saya memastikan yang obyek riset ini adalah benar-benar pelancong, atau apes-apesnya ya yang baru sekali lihat hujan abu.

Beberapa tangkapan saya bisa disimak dibawah ini. Nama akun sengaja saya tutupi cat ireng dop meling-meling biar hidupnya tenang :

Asal                        : Tangerang Selatan

Lokasi foto             : Malioboro

12

 

Asal                        : Samarinda-Banjarnegara-Bali

Lokasi foto          :  Tugu

3

 

Asal                        : Wetan (East Indonesia)

Lokasi foto             : Malioboro

4

Asal                          : Balikpapan

Lokasi foto              : Tugu

5

Asal                        : Samarinda

Lokasi foto              : Jalan Solo (bedo dewe ki, indie!)

6

Mengenang “Sex In The School”

Sekitar 2 tahun lalu saya diminta kawan saya yang kini jadi dosen di kampus saya untuk mengisi kelas yang diampunya: Dasar-dasar Penulisan. Saya diberi tugas untuk menceritakan pengalaman menulis saya sebagai kontributor (ceileh…) untuk Rolling Stone Indonesia dan Jakartabeat.net.

Kelasnya penuh, mengingat ini kuliah wajib di jurusan saya. Saya jadi semangat, apalagi banyak dedek-dedek lucu hehehe. Waktu masuk sesi tanya jawab ada yang bertanya, “Pengalaman nulis masnya dimulai dari mana?”

Saya mendalami dunia penulisan, penulisan berita terutama, saat masuk ekskul jurnalistik saat SMA. Ekskul ini popularitasnya kalah jauh dibandingkan dengan bola basket, yang prestasinya di tingkat Kabupaten Magelang ternyata gak bagus-bagus amat tapi anak-anaknya aksinya sudah selangit. Tapi saya yakin saya akan mudah mendapat popularitas. Maklum saya gak ganteng-ganteng amat (waktu itu ya, sekarang sih beda), fisik gak gagah-gagah mata, dan pergi ke sekolah dengan angkutan umum, bukan dengan kendaraan yang jadi standar populer di SMA saya: motor bebek yang full variasi Posh.

Keyakinan saya didasari bahwa majalah sekolah yang dikelola lewat ekskul jurnalistik akan dibaca semua orang, dari guru sampai penjaga sekolah. Otomatis kalau saya nulis dan tulisan saya bagus orang akan mencari-cari siapa itu Fakhri Zakaria. Apalagi ada layanan titip salam di majalah, mau gak mau yang ingin nitip salam pasti akan mencari-cari saya kan?

 Oh ya, itu belum termasuk tugas saya yang lain lho sebagai dokumentasi kegiatan sekolah lewat kamera. Tinggal nenteng kamera, saya pasti dipanggil untuk dimintain motret cewek-cewek kece yang bagusnya juga senang difoto. Lumayan, punya negatif film (fotografi digital belum segila sekarang) yang bisa saya cetak sewaktu-waktu untuk tombo kangen.

Menginjak kelas 3, saya sudah tidak aktif di majalah sekolah tadi. Maklum sudah harus persiapan buat ujian akhir. Harus rajin belajar. Tapi kok ya gatel juga untuk nulis dan sekaligus menjadi terkenal. Waktu itu di Yogya dan sekitar ada penelitian Iip WIjayanto yang bikin geger. Dia bilang 97 persen koma sekian-sekian mahasiswi Jogja sudah tidak perawan.

Meski pun metode penelitiannya juga gak jelas (apakah mahasiswi tahun pertama atau mahasiswi S3 yang sudah punya anak?), tapi kok bikin penasaran juga. Apalagi saya dikasih pinjam buku karangannya yang berjudul “Sex In The Kost”. Ngeri-ngeri sedap juga isinya, meski saya kecewa karena laporan Iip gak seliar Freddy S. atau Enny Arrow.

***

Seperti biasa kalau bel tanda istirahat sudah menyalak, saya sudah ada di pole position untuk ngacir ke kantin. Sambil mulut sibuk mengunyah bakwan, telinga saya tekun menelan cerita kawan saya, sebut saja Asep, tentang isu beberapa siswi yang gosipnya sudah berbadan dua. Saya sih tadinya gak terlalu antusias, karena gosip itu sebetulnya juga sudah tersebar kesana kemari. Tapi yang bikin saya jadi terhipnotis adalah saat Asep bilang, “Aku meruhi dewe de’ e pas yangyangan ning sekolahan (aku melihat sendiri waktu mereka pacaran di sekolahan).”

Di kelas, saya sudah susah untuk konsentrasi. Sialan betul cerita Asep tadi. Efek terlalu banyak membaca “Sex In The Kost” akhirnya muncul: cerita ini harus ditulis. Besoknya dengan uba rampe semangkuk nasi soto, gorengan dan es teh manis, Asep pun saya tanggap untuk memutar kembali rekamannya. Asep mengajak kawan saya yang lain, yang juga senang mengintip aksi-aksi siswa saat kencan di sekolah.

Saya mewawancarai mereka kalau tak salah hampir seminggu di tempat dan waktu yang tak terlalu mencolok. Di parkiran motor saat jam kosong atau selepas pulang sekolah di kantin yang sudah tutup. Ampuh juga rupanya uang buka mulut yang saya berikan tadi. Mereka dengan rinci memetakan lokasi dan waktu-waktu prime time untuk main gila.

Setelah mendapat data-data yang cukup, saya harus menyiapkan segepok literatur supaya tulisan saya ini keliatan berbobot. Pegangan saya adalah buku “Pengantar Sosiologi” karya Kamanto Sunarto, pinjaman dari om saya. Bab yang saya jadikan rujukan adalah tentang perilaku menyimpang. Sedap.

Supaya tidak menimbulkan kecurigaan, teruatama dari om saya yang hobi ngintip kesibukan saya, saya mengetik saat rumah sedang sepi. Dokumen saya simpan di disket yang saya sembunyikan dengan rapih di sela-sela tumpukan buku-buku pelajaran saya. Hasilnya saya cetak saat seisi rumah sedang pergi ke acara hajatan. Beres. Sekarang tinggal mikir bagaimana distribusinya.

Saya sengaja hanya mencetak satu kopi saja. Pertama supaya unsur misteriusnya terjaga. Kedua, kalau ada masalah, saya bisa dengan mudah menarik dokumen tadi dan kemudian memusnahkannya. Oh ya, saya pakai nama samaran. Saya lupa, tapi yang jelas ada embel-embel Al-Maksumi yang saya juga bingung artinya apa karena tiba-tiba saja terlintas.

Terbitan tadi saya beri judul “Sex In The School”.

***

It’s the showtime. Karena misi pertama saya bikin terbitan ini adalah untuk menarik perhatian kecengan-kecengan saya di kelas 2, yang pertama kali saya kasih lihat tentu mereka. “Jangan disebarin, baca aja sendiri, jangan bilang saya yang bikin,” kata saya .

Bel pulang sekolah, apa yang saya harapkan tercapai. Kecengan-kecengan saya tadi memanggil-manggil nama saya. Mereka semua senang dan terhibur sekaligus nagih edisi kedua yang lebih menantang. Saya sok-sok an jual mahal.

Dua narasumber saya tadi lalu saya kasih giliran berikutnya. Mereka keliatan senang, bahkan menjanjikan cerita yang lebih gila lagi. “Sex In The School” kemudian bergulir cepat. Tiap saya lewat kawan-kawan saya memohon supaya diberi pinjam.

Saya menikmati saat-saat ini. Menjadi populer dan dicari banyak orang. Saya harus menyiapkan kejutan yang lebih gila lagi untuk berikutnya. Saya harus mendapat pengakuan dari pelakunya langsung!

Beberapa nama yang sudah lama berpacaran dengan teman sekolahnya sendiri sudah saya kantongi. Sekarang waktunya mengorek mereka. Sengaja saya milih yang cewek dulu karena biasanya cewek kan suka takut-takut untuk diajak nakal. Saya ingin membangun ketegangan di calon naskah saya nantinya.

Waktu buat wawancara tiba. Tololnya, saya menggunakan treatment yang sama saat mengorek kesaksian dari Asep. Pertanyaan pertama tanpa ampun langsung meluncur dari saya, “Kamu katanya pernah ngamar ya sama pacarmu?”

Efeknya sungguh di luar perkiraan. Responden saya tadi menangis dan berlari keluar kelas yang saya pakai untuk tempat wawancara. Gawat nih situasinya.

***

Apa yang saya takutkan akhirnya datang juga. Terbitan saya menimbulkan masalah. Responden saya tadi mengancam membocorkan proyek rahasia saya ini. Pilihan sulit. Kalau sampai ada intel dari guru BP dengar saya bisa kena masalah dengan sekolah. Apalagi saya sudah kelas 3 dan waktu itu sekolah sempat kesal dengan saya karena om saya (yang jadi wali saya selama SMA) memprotes dengan keras kebijakan sekolah yang menarik sumbangan pembangunan masjid untuk anak-anak kelas 3.

Akhirnya saya harus tunduk juga. Terbitan yang sedang berada di kecengan-kecengan saya (mereka pinjam lagi, katanya penasaran) segera saya tarik. Jam menunggu pulang adalah salah satu saat terlama dari hidup saya. Ingin rasanya segera pulang dan memusnahkan semua dokumen-dokumen saya.

Sampai di rumah, saya langsung membakar kopi terbitan. File naskah di komputer saya hapus permanen. Disket untuk menyimpan dokumen saya hancurkan dan saya buang ke tempat penampungan sampah dekat rumah.

Besoknya saya bertemu lagi dengan responden saya. Sesuai kesepakatan, saya menghentikan proyek gila ini. Syukurlah, pihak sekolah tak menyadap pembicaraan saya ini. Kalau sampai kejadian, entah bagaimana nasib saya.

Belakangan hari setelah duduk di bangku kuliah, saya mendadak sedikit bangga dengan aksi saya saat SMA. Saya bisa juga melakukan jurnalisme investigatif, meski dalam skala yang tentu jauh sekali dari apa yang sering dilakukan Tempo hehehe.

 

 

 

 

Perjamuan Kudus dari Sudut Muntilan

Arsitek asal Belanda F.J Ghijsels pernah bilang, “Simplicity is the shortest path to beauty“. Di Muntilan, perkataan Sinyo Londo tadi terbangun dalam seporsi Sop Empal.

Tampilannya amat bersahaja kalau tak mau dibilang terlampau sederhana. Hanya daging sapi goreng yang disuwir dipadukan bihun dan daun kol rebus yang diguyur kuah sop. Tak lebih dan tak kurang. Tapi suapan pertama adalah mendekati surga dan berikutnya adalah puncak segala kenikmatan dunia.

Bayangkan daging yang tekstur dan gurihnya begitu aduhai dipadu kuah sop nan hangat yang ya Tuhan amboi nian. Bihun dan daun kol rebus bukan sekedar tim hore namun menjadi kompatriot dalam aransemen rasa maha dahsyat ciptaan komposer bernama bu Haryoko. Sebagian lagi memanggilanya Yati, tapi bagi warga kampung saya nama mbah Lim yang lebih terkenal. Ah apalah arti sebuah nama. Saya sami’na wa atho’na sejak cecapan pertama.

Senin (20/5) kemarin saya diberi kesempatan oleh Gusti Allah lagi untuk meneguk hidangan surga itu. Sop Empal adalah bagian wajib dalam kunjungan agung ke Muntilan. Tiga puluh menit saya takzim dalam ritual. Seraya tak lupa mengirim foto ke tanah Norwegia sana, tempat kawan saya Mister Tuki berada. Balasannya, “Telek. Untung HP ku mati lagi murup saiki (Tai, untung HP ku mati baru hidup sekarang). Habis Lebaran gue geruduk dah tuh sop.”

IMG_20130410_10383521/5/2013 14.00. Postingan setelah absen gara-gara jetlag dalam perjalanan Jakarta-Muntilan-Solo-Muntilan-Jakarta lagi *nggaya*

Kaset Tak Sampai

Toko Kaset Kartika

Seminggu kemarin saya mengambil jatah cuti tahunan. Jatah waktu 5 hari saya gunakan untuk pulang ke kampung saya di Muntilan, dan juga kota tercinta Jogjakarta. Selama sepekan saya menghabiskan waktu dengan kegiatan-kegiatan yang mungkin dinilai tidak produktif oleh Jakartans: SELO.

Salah satu keseloan saya adalah mengunjungi toko kaset langganan, yang kini jadi satu-satunya, di Muntilan. Namanya toko kaset Kartika. Menyatu dengan toko mas dan arloji bernama sama. Letaknya di tengah kota Muntilan. Tepatnya di Jalan Pemuda, hanya beberapa langkah dari kelenteng Hok An Kiong. Pasti dilewati dalam perjalanan dari Jogja ke Magelang.

Seingat saya Muntilan punya 2 toko kaset. Satu lagi bernama toko kaset Jago. Tempatnya juga menyatu dengan toko mas dan arloji Jago. Mungkin kaset adalah barang mewah jadi letaknya disatukan dengan toko perhiasan hehe.

Saat saya SMA, tepatnya antara tahun 2002-2005, dua toko kaset ini adalah jujugan saya tiap bulan. Setiap mendapat uang hasil jualan koran bekas atau sangu dari pakde, saya segera menghabiskannya disini.

Untuk ukuran kota kecil seperti Muntilan, dua toko kaset ini lumayan lengkap koleksinya. Album-album terbaru dari artis-artis arus utama baik dalam dan luar negeri mudah ditemui. Kalau yang indie-indie agak susah. Harap maklum. Tapi album My Diary-nya punya Mocca sempat mampir lho.

Menginjak medio 2004-2005, keberadaan toko kaset ini terusik dengan maraknya counter-counter telepon selular yang menyediakan layanan pengisian koleksi lagu berformat mp3 yang tentunya ilegal. Juga lapak-lapak CD bajakan di pasar dan terminal Muntilan. Saya pun mulai beralih moda konsumsi ke CD. Saya ingat kaset terakhir yang saya beli disini adalah album Siang milik Jikustik.

“Udah gak ada,” kata Kokoh (panggilan orang Tionghoa untuk lelaki yang lebih tua) Hong, pemilik toko kaset Kartika sambil mengibaskan tangan. Saya memang ingin bertanya tentang nasib salah satu tempat favorit saya di Muntilan, selain terminal bis, yang boleh dibilang hampir sekarat.

Bayangkan. Rak kaset yang dulu sampai empat buah dan dipenuhi beragam koleksi kini tinggal ada dua. Itupun isinya koleksi lama yang menunggu untuk dimasukkan gudang atau dilego.

Dia lalu beranjak dari kursi malasnya untuk menemui saya. “Sudah males gak mau mikir,”. Tapi saya berhasil membuat penyuka musik blues ini untuk sedikit bicara tentang tokonya. Sila disimak

Koh, saya cari kaset Waldjinah kok gak ada yang baru ya? Adanya kaset lama. Sampulnya sudah mblawuk (lusuh)

Wah, sudah gak ada yang baru. Sudah 6 bulan gak disetori agen dari Semarang. Sudah mau saya tutup

Tapi ini masih dipajang koleksinya?

Daripada kosong. Mau diapakan?. Mau usaha lain juga apa? Ekonomi lagi sulit gini.

Mulai kapan Koh jualan kaset jadi sepi begini?

Mulai orang-orang pada kenal CD. Mulai gembos. Terus komputer. Sekarang kan gampang menuhi lagu dari komputer. Mau berapa lagu juga gampang

Lha kok gak coba jual CD ?

CD siapa yang mau beli? Paling murah 40 ribu, malah kalo yang barat sampe 220ribu. Dulu sempat ada yang nitip, tapi jualnya susah, ndak laku-laku. Saya bilang kalo nitip ya sini. Tapi aku ndak mau kalo suruh jualin (tertawa)

Kecuali CD yang sepuluh ribu dapat tiga itu. Itu wae pake nawar (tertawa). Kalau mau jual CD paling ya yang ilegal. Saya ndak berani ambil resiko. Nanti malah dicari-cari. Wong sudah mau pensiun.

Orang daerah kayak disini yo pada rewel. Dulu kaset masih disegel besoknya ditukar. Katanya suaranya jelek. Apalagi CD. Sulit.

Tapi di pasar Muntilan banyak, Koh?

Di pasar kan gampang. Habis ya tinggal kukut (tutup lapak). Lha disini kan toko. Sana juga katanya setorannya kuat.

Semua kaset disini asli, Koh?

Asli dong. Disini semua original. Kaset yang harganya cuma 5 ribu isinya suara burung juga original (tertawa)

Dulu mulai jual kaset tahun berapa, Koh?

Lupa. Sekitar 80an lah

Karena suka musik, Koh?

Ya karena duit to. Kan namanya usaha ya cari duit to? (tertawa). Jaman 80an kaset pas booming ya jualan kaset. Tapi anak sekarang gak kayak dulu. Kayaknya pada ngirit-ngirit kalo sekarang. Pada gak suka beli kaset.

Lha kalo Koh Hong sendiri suka dengar musik ndak?

Suka. Saya suka blues. Pokoknya semua blues saya suka.

Dulu kenceng-kencengnya jualan kaset taun berapa Koh ?

Lupa. 90an lah. Sampai harus indent ke agen. Kalo gak indent, cash bayar di depan ya gak dapet barang

Sampai sekarang yang cari kaset masih ada?

Ya jarang-jarang.

Yang dicari biasanya apa ?

Lupa. Macem-macem. Dulu waktu booming kaset masih ngikuti. Jadi tau maunya apa yang bagus buat dijual.

Gak coba ditawarin ke kolektor, Koh?

Kolektor itu susah. Rewel. Kalo kasetnya berseri kudu lengkap. Belum sama suaranya. Ini cuma habisin stok. Mungkin kalo gak ada yang mau beli lagi ya saya tutup. Apa situ mau mbeli semua? Saya kasih setengah harga (tertawa).

Saya lalu beranjak ke rak kaset. Melihat beberapa koleksi yang tersisa. Lihat, masih ada kaset album Nirvana Unplugged In New York dengan sampul kecoklatan tanda lusuh. Juga kaset Brandalisme, album ketiga milik The Brandals.Tapi yang saya pilih adalah OST. Ada Apa Dengan Cinta garapan Melly Goeslaw dan Anto Hoed.

Pertimbangan saya, ini adalah salah satu cetak biru OST film Indonesia selain album OST. Badai Pasti Berlalu. Album ini juga jadi pencapaian tertinggi Melly di bidang soundtrack film sebelum makin jatuh ke titik nadir setelah menggarap soundtrack semacam Bukan Bintang Biasa.

“Tinggal segini mbak kasetnya ?” tanya saya pada pramuniaga. “Habisin barang mas. Udah gak kulakan lagi, yang beli yo cuma sedikit,”.

Setelah membayar, saya beranjak ke toko Jago. Saat saya melewatinya bulan Mei kemarin, Jago masih menjual kaset. Namun saat saya menyambanginya untuk kedua kali, etalase kaset sudah diganti dengan etalase yang penuh berisi aneka rupa perhiasan.

Ah, saya tak kesampaian.

Pulang, Rumah dan Sebuah Kebingungan

Kapan balik Jogja, Jak ?
Jo, kapan mulih Muntilan ?
Kapan turu Sawangan, Ri ?
Kapan pulang  ke Bogor ?

Rumah adalah tujuan dari semua perjalanan. Ibarat bis malam, rumah adalah terminal atau pool terakhir. Rumah adalah tempat dimana semuanya berpulang. Tempat dimana kita pulang barang sejenak dari segala masalah sehari-hari di luar sana. Karenanya, rumah seharusnya lebih dari sekadar bangunan yang berfungsi sebagai tempat berteduh. Ada dinamika di dalamnya yang membuat rumah lebih dari sekedar susunan bata. Itulah kenapa ada istilah home not house.

Berbicara tentang rumah, seringkali saya dihadapkan pada pertanyaan yang saya sendiri kadang bingung jawabnya. “Rumah kamu dimana sih ?”. Saya bukan bermaksud mau mengaburkan identitas, tapi saya benar-benar bingung di mana tempat yang pas untuk disebut rumah tadi. Semuanya nyaman, semuanya mengasyikkan, dan semuanya adalah rumah bagi saya.

Jalan Kawedanan 11, RT 03/XI. Muntilan, Kabupaten Magelang 56411

Ini adalah rumah nenek saya. Simbah putri kalau bahasa Jawa. Terletak di tengah kota kecil Muntilan. Muntilan adalah sebuah potret kota yang tumbuh karena adanya jalan negara. Jalan raya Yogya-Semarang membelah kota tersebut.

Di jalan itu pula aktvitas perekonomian berjalan. Kawasan Pecinan merupakan pusatnya. Di sela-sela pecinan itu ada sebuah koloni keluarga Bani Abdul “Alim yang sejak taun kapan tau menghuni seruas jalan bernama jalan Kawedanan. Dinamakan demikian karena dulu ada kantor Kawedanan (pembantu Bupati) yang sekarang menjadi kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang.

Di ruas jalan inilah saya dibesarkan sampai tahun 1988 sebelum diajak boyongan ke tatar Sunda. Selepas lulus SMP tahun 2002 silam, saya memutuskan sekolah di Jawa. Begitu istilah orang Jawa Barat menyebut kawasan Cirebon ke timur jauh sana.

Saya tinggal lagi di rumah simbah. Di rumah simbah ini dulu ada pakde beserta keluarganya serta oom (mas tepatnya) saya yang waktu itu masih bujangan, yang tinggal bersama dalam satu rumah. Pakde saya kemudian pindah ke rumah barunya tahun 2007, dan oom saya yang menikah tahun 2006 pindah tahun 2008 kemarin. Lalu saya kuliah di Jogja, sebelum akhirnya setelah KKN bulan Agustus 2008 saya balik lagi menemani simbah yang sekarang tinggal berdua sama adik saya yang sekolah di tempat yang sama dengan saya dulu.

Yah kebetulan ibu saya memang sudah lama ingin pulang menemani simbah di hari tuanya, tapi ya karena ada beberapa alasan niat tersebut belum kesampaian. Sementara anak-anaknya dulu lah yang mewakili. Toh anak-anak simbah yang lain sibuk dengan keluarga dan pekerjaannya masing-masing. Meski begitu ada beberapa yang selalu meluangkan waktu untuk rutin menengok orang tua mereka.

Dusun Kiyudan, Desa Sawangan, Kabupaten Magelang

Fajar teman saya senang sekali diajak menginap disini. Sedangkan Awe teman saya yang lain ketakutan ketika kali pertama diajak bermalam. Rumah peninggalan bapaknya bapak saya ini terletak di sebuah dusun kecil di kaki gunung Merapi yang masih doyan batuk. Dulu ada sebuah orang sakti (gak tau deh di bidang apa), namanya Mbah Sayudha. Akrab dipanggil Ki Yudha. Ki Yudha ini kemudan beranak-pinak, keturunannya ya orang-orang di dusun ini. Sebagai penghargaan kepada Ki Yudha, dusun kecil itu dinamai Kiyudan.

Selepas kakek saya meninggal tahun 2002, rumah itu diwariskan ke bapak saya. Berhubung bapak saya belom bisa boyongan lagi kesana, rumah itu dipasrahkan perawatannya ke kakaknya. Tahun 2008, rumah tersebut diperbaiki. Tidak total sih, tapi paling tidak sudah layak buat ditinggali. Sebenarnya saya memang sudah lama ingin ngendon disini selepas KKN. Menikmati masa-masa pensiun kuliah dengan memproduktifkan diri untuk menulis skripsi dan memposting blog. Tapi karena simbah hanya berdua dengan adik perempuan saya, ya akhirnya saya bolak-balik. Pagi disini, lalu sorenya pulang ke rumah simbah. Atau kalau ada agenda ke kampus hingga sore ya saya menginap di rumah simbah. Atut bo malem-malem sendirian naek ke atas.

Jogja

Siap-siap bakal ga betah di rumah kalau sudah kena racun kota ini. Awalnya karena saya kuliah di Jogja dan tinggal di Jogja, di rumah salah satu kerabat ibu. Tapi entah kenapa lambat laun Jogja seperti menyihir saya. Setiap saya pulang ke Bogor, bahkan ke Muntilan sekalipun yang hanya 45 menit dengan motor, saya selalu merasa rindu. Rindu kesederhanaannya, kepolosannya, kenyamanannya, semuanya. Jogja adalah titik penting bagi hidup saya.

Selepas KKN saya memang tak lagi tinggal disini. Saya ngelaju dari Muntilan atau rumah atas tadi, begitu istilah saya menyebut rumah di Kiyudan. Setengah dari waktu dalam sehari saya habiskan di Jogja, separuh dari jumlah hari dalam seminggu saya habiskan di Jogja. Dan sudut ternyaman Jogja menurut saya ada di B-21.

B-21 adalah sekretariat Surat Kabar Mahasiswa  UGM “Bulaksumur”. Terletak di kompleks perumahan dosen UGM Bulaksumur yang teduh dan asri. Letaknya strategis, dekat dengan pusat keramaian seperti Boulevard UGM, Masjid Kampus, dan tentunya kampus saya di Fisipol UGM. Plus bocoran sinyal wi-fi dari tempat mahasiswa-mahasiswa Australia yang kuliah di UGM tinggal.

Inilah tempat yang sering saya anggap rumah meski dulu sebelum KKN saya numpang di tempat famili ibu saya tadi. Kalau garap tugas hingga larut saya memilih tidur disini ketimbang pulang dan ganggu kenyamanan.

Sebenarnya ruang di B-21 amat sempit, 3 kali 3 meter saja. Itupun masih dipenuhi dengan 2 komputer kugiran, dua lemari, dan benda-benda lain yang saya tak bisa bedakan apakah barang penting atau sampah karena saking berantakannya. Tapi entah kenapa saya betah sekali disini menghabiskan waktu.

Dulu kalau menginap disini saya ada beberapa teman. Bayu, Rieva dan Okky. Kami sering menggunakan komputer  di Bul (sebutan intim SKM UGM Bulaksumur ) yang seharusnya digunakan untuk keperluan penerbitan newsletter kampus, menjadi komputer serbaguna untuk : mengerjakan tugas kuliah tanpa perlu sewa komputer di rental, bermain game (Football Manager, Pokemon dan Counter Strike), mendengarkan musik, atau sekedar curhat dengan aplikasi buku diari elektoronik “Electronic Bul Uneq-uneq” atau E-Buneq.

Yah karena banyak waktu yang saya habiskan disini, saya melakukan tindakan yang sebenarnya illegal. Menjadikan B-21 sebagai kamar kos dadakan. Indikasinya, ada alat mandi, kain sarung, dan beberapa potong pakaian yang saya taroh di loker redaksi (divisi saya).

Komplek Darul Fallah RT 02/04, Ciampea, Bogor, 16001

Empat belas tahun adalah angka yang menunjukkan lamanya saya hidup disini. Tepatnya sampai saya pindah selepas lulus SMP. Sebelumnya selama enam bulan saya sempat tinggal di Sarongge, Puncak, Cipanas.

Sebenarnya hidup di Sarongge lebih enak. Rumah lebih bagus dengan kualitas lengkap mirip villa peristirahatan ditunjang pemandangan sekitar yang semakin memperkuat pameo bahwa Tuhan menciptakan alam Priangan sembari tersenyum. Hamparan kebun teh serta deretan bunga anyelir serta kukuhnya Gede-Pangrango adalah suguhan tiap hari.

Tapi saya membawa masalah disini, penyakitan tiap hari. Meler tanpa henti. Lagipula lingkungan sekitar sepi sekali, jauh dari tetangga. Dan sebelum cerita-cerita negatif lain menyusul di kemudian hari, akhirnya keluarga saya pindah ke sebuah perkampungan yang ada dalam sebuah pesantren pertanian.

Bapak saya dulu nyantri disini. Kemudian oleh para guru-gurunya dulu diajak untuk mengabdi disini. Kalo dengar cerita dulu pas awal-awal pindah saya lumayan terharu juga. Bapak saya merelakan kamera kesayangannya, Ricoh KR-5 yang dibeli sewaktu program pertukaran pelajar ke Jepang tahun 85 silam, untuk dijadikan bekal (baca : dijual). Uniknya kamera yang sama beberapa tahun kemudian saya pakai belajar fotografi. Kamera itu milik Dito, teman kuliah saya.

Pesantren Darul Fallah adalah pesantren berbasis pertanian yang bisa dibilang pertama di Indonesia. Terletak 12 kilometer ke arah barat kota Bogor, tepatnya arah menuju Banten, pesantren ini didirikan oleh beberapa tokoh yang punya nama, salah satunya (alm.) Moh. Natsir pada tahun 1960. Salah satu putri Buya Natsir ini juga tinggal disini, hidup dan menghidupi pesantren peninggalan orang tuanya.

Kontur tanahnya unik, berbukit-bukit dengan dua sungai besar, Cinangneng dan Ciampea, yang mengalir membelah kawasan ini. Mesjidnya terletak di sebuah bukit kecil yang sebagian di urug.

Secara garis besar kawasannya terbagi dua, atas (disebut Gunung) dan bawah. Kawasan bawah digunakan untuk bangunan sekolah, kantor pesantren, wisma tamu, rumah kaca (tanpa efek), warung koperasi, bengkel kayu dan mesin untuk praktikum santri, dapur umum untuk santri, asrama santri, serta rumah para pengurus pesantren dan mess karyawan.

Sedangkan kawasan atas digunakan sebagai lahan pertanian untuk praktek santri, kandang sapi perah dan sapi potong, laboratorium kultur jaringan, juga kawasan hutan rakyat. Di kawasan huatn rakyat ini ada bukit bernama bukit Darsa. Diambil dari nama Aki (kakek dalam bahasa Sunda) Darsa, salah seorang sesepu pesantren ini. Aki Darsa ini baik sekali, idola kami para anak pengurus pesantren. Kami sering main ke ruamhnya, diajari angklung dan suling Sunda. Juga sering diberi buah manggis dan kecapi. Aki Darsa lalu pindah ke kampung halamannya, kalau tidak salah di daerah Sumedang sampai akhir hayatnya.

Nah karena kontur yang unik tadi, waktu konfrontasi dengan Malaysia sedang panas-panasnya di tahun 60-an, tempat ini dijadikan kamp latihan para sukarelawan yang akan diterjunkan ke Malaysia oleh pemerintahan Soekarno. Sebelumnya pesantren ini ditutup dulu oleh Soekarno. Setelah kudeta tahun 1965, pesantren dibuka lagi. Kemudian dijadikan tempat bagi mereka-mereka yang dicurigai terlibat Gestapu.

Karena waktu itu kondisi pesantren hancur-hancuran setelah dipakai latihan perang, mereka-mereka inilah yang dikerahkan untuk membangun kembali pesantren, sekaligus “dibina” sebelum kembali ke masyarakat. Begitu kira-kira ceritanya.

Meski tinggal dalam lingkungan santri, saya sama sekali tak fasih ngaji. Hapal ayat kursi pun baru belakangan ini setelah disuruh oleh teman SD yang kemudian hari jadi pacar saya. Pendidikan formal mulai dari TK hingga SMP saya habiskan di sekolah negeri di luar pesantren ini. TK di dekat-dekat pesantren, SD dan SMP di kota Bogor yang berjarak 12 kilometer dari rumah.

Bapak dan ibu saya sampai saat ini  masih disini. Mencari bekal untuk menghabiskan waktu hari tuanya di rumah Kiyudan. Bapak saya masih sibuk ngurusin ini itu, proyek-proyek apa itu bantuan dari pemerintah yang berhubungan dengan pembangunan masyarakat desa .

Ibu juga mengajar matematika di sini setelah sebelumnya mengajar di SMU swasta di luar. Sekedar cerita, nilai saya untuk matematika dan pelajaran hitungan lain seperti Fisika, Kimia atau Ekonomi selalu pas-pas an. Tak pernah lebih dari nilai tujuh, sekali dapat angka merah, dan nilai-nilai ulangan harian yang di re mi fa sol adalah bukti kalau peribahasa air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan tidak sepenuhnya berlaku.

Adik saya yang pertama di Muntilan bersama simbah, dan adik bungsu saya menemani bapak dan ibu saya. Saya ? masih bingung mau pulang kemana. Semua rumah, semua nyaman, dan semua menyenangkan.

Siti Badriyah

Akses saya terhadap musik selama tinggal di kota Muntilan memang terbatas. Saya baru kenal band-banad “ajaib” selama kuliah di Yogyakarta antara tahun 2005-2010. Terbatasnya akses saya tersebut membuat saya selama SMA hanya tahu band-band pop dan…musisi campursari.

Selain toko kaset dan media cetak, radio adalah salah satu cara saya untuk tetap update. Di Muntilan saya tinggal di rumah nenek saya. Saya mendapat jatah kamar di bagian belakang rumah bersama mas (paklik saya)  yang waktu itu masih bujang. Kami menaruh radio tape.

Radio tape adalah hiburan bagi kami mengingat televisi berada di ruang publik sehingga kami tidak bisa sembarangan menguasai saluran televisi. Selain untuk memutar kaset-kaset dan CD koleksi bersama, radio tape ini juga jadi sarana mengakses stasiun-stasiun radio di seputaran Yogya-Muntilan.

Favorit kami bermacam-macam. Mulai dari Swaragama karena kebanggan mas saya sebagai almamater kampus biru sekaligus sarana mendekatkan saya ke kampus impian saat itu hahaha. Yasika, karena ada program khas tiap jam 9 malam, memori….., yang akhirnya curhatan-curhatannya cuma jadi bahan tertawaan kami. Ada juga GCD FM karena isinya lagu-lagu Indonesia.

Selain nama-nama tadi, kami juga radio-radio lokal seperti Merapi Indah dan Gemilang FM. Ya kami sering bosan juga dengar lagu-lagu pop. Nah dua stasiun radio itu sering memutar lagu-lagu campursari…

Favorit kami Cak Diqin, penyanyi campursari asal Solo. Lirik lagu-lagunya yang sedikit nakal membuat kami sering tertawa. Yah maklum lah lelaki. Siapa sih yang gak suka guyonan nyerempet-nyerempet saru begitu. Salah satu lagu favorit kami adalah Siti Badriyah.

Coba simak liriknya. Sangat membumi sekali dan sangat grass root.. Kisah percintaan Cak Diqin dengan Siti Badriyah yang punya warung di pasar. Cak Diqin gerah karena Siti Badriyah sering digoda pelanggan-pelanggannya yang kebanyakan kaum pria. Ya iyalah digoda wong dia kalau dagang pakai baju seksi.

Bagian yang paling suka adalah saat Cak Diqin jengkel dengan ulah pelangganya yang jajan macam-macam. Perlu paham bahasa Jawa dan otak sedikit ngeres buat tau arti dari tiap jajanan ini hahahaha.

Tapi setiap kami menyanyi-nyanyi lagu ini, nenek saya pasti melarang. Karena Siti Badriyah adalah nama adiknya. Duuhhh…ampun mbah ampun

Aku duwe pacar jenenge Siti Badriyah

Jaman disik ketemu ning pasar

Atiku berdebar-debar

 

Siti Badriyah dodol rames

Nganggone pakaian seksi-seksi

Si pelanggan dadine gemes

(bagian ini saya lupa dan gak nemu liriknya)

 

Aku ngerteni pelanggan sing njaluk kopi

Aku rodo kepiye ono pelanggan njaluk e tempe

Aku cemburu ono pelanggan njaluk e susu

AKu tambah cemburu ono pelanggan njaluk e pupu

 

Opo meneh yen ono juragan kebo lan sapi

Aku nelongso aku cemburu kowe ra reti


30/5/2012 12:57

Muntilan Punya Suara

Masa SMA saya yang dihabiskan di sebuah kota kecil bernama Muntilan tidak menghalangi saya untuk mengakses perkembangan terbaru di dunia musik Indonesia. Ehmm…maksud saya musik pop mainstream Indonesia.

Meskipun kota kecil, Muntilan mempunyai dua toko kaset yang cukup update koleksinya. Sekali lagi koleksi pop mainstream. Itu belum termasuk lapak CD mp3 bajakan di pasar dan terminal serta jasa pengisian mp3 ilegal di counter pulsa telepon seluler.

Dua toko kaset tadi, semuanya bernama toko Jago, semuanya nebeng  di toko emas dan arloji.  Dua minggu lalu saya sempat lewat didepannya. Toko tersebut masih ada dua-duanya meski koleksi kasetnya, catat sekali lagi koleksi kaset, tak sebanyak dan selengkap dulu.

Ada kios majalah yang menyediakan sumber informasi lengkap, terutama untuk majalah-majalah terbitan Gramedia seperti Hai. Ya saya menjadikan Hai sebagai referensi musik bagus, selain Kompas dan Suara Merdeka edisi Minggu. Kekurangannya cuma satu, warung internet saat itu sangat langka. Kalaupun ada kecepatannya bagai siput sedang encok. Seringkali saya harus ke Magelang bahkan sekali waktu ke Yogyakarta yang cuma setengah jam naik sepeda motor.

Untuk gelaran musik (diluar dangdut yang punya kerajaan sendiri), Muntilan cukup rajin. Ada agenda tahunan pentas band-band lokal, biasanya setiap menjelang 17an dan ulang tahun Polisi . Mayoritas kalo gak membawakan lagu-lagu Top 40 ya classic rock. Tempatnya di halaman kantor kecamatan Muntilan. Pun meski ini hiburan gratisan dan bau alkohol sedikit banyak bertebaran, tapi tak ada yang berani cari keributan. Maklum di komplek kantor kecamatan ini juga ada kantor polisi dan Koramil. Jadi ya silahkan pikir dua kali kalau mau cari gara-gara.

Kalau untuk pentas band-band besar, sepanjang saya di Muntilan (tahun 2002-2010) baru dua kali. Yakni Letto, pentas gratis dalam rangka milad pesantren pimpinan Mbah Mad Watu Congol serta Cokelat. Kalau yang terakhir ini berbayar. Mungkin karena letaknya nyelempit diantara Yogya dan Magelang, band-band nasional lebih suka menggelar pentas di Magelang.

Untuk tempat konser sendiri, sebetulnya Muntilan punya tempat-tempat yang cukup representatif untuk menggelar konser musik luar ruang. Selain kantor kecamatan, juga ada Lapangan milik Pemda Kabupaten Magelang serta lapangan milik pemerintah desa yang cukup besar di desa Gunung Pring dan desa Taman Agung.

Wilayah sekitar Muntilan juga cukup rajin membuat pentas musik, terutama kecamatan Mungkid yang jadi ibu kota Kabupaten Magelang. Yang paling sering adalah gig band-band punk dan metal. Nah festival tahunan band-band metal yang cukup prestisius adalah Borobudur Bising yang sudah menginjak tahun keempat. Tahun ini diselenggarakan pada Minggu, 27 Mei lalu di aula milik PDAM Kabupaten Magelang dengan menampilkan Siksa Kubur sebagai headliner utama. Seringai juga pernah tampil di lapangan Pemkab Magelang pada pergantian tahun 2008-2009.

Ah, saya jadi pengen nih ngajak temen-temen band independen main di kota-kota kecil seperti Muntilan. Musik bagus harus disebarkan, ya kan ya kan ya kan ?