Konser Gratis? Udah Dong Plis

Setahun terakhir bisa dibilang adalah bulan madu bagi pecinta konser musik. Artis-artis luar negeri datang ke Indonesia seperti main ke rumah teman. Dari nama-nama seperti  Justin Bieber, Katy Perry, Foster and The People sampai yang bikin dahi berkenyit-kenyit seperti The Pains of Being Pure at Heart atau Toe. Itu belum yang masih tunggu antrian mulai dari Dream Theatre, Lady Gaga sampai Morissey.

Biar kata BBM melambung tinggi (tapi batal lagi), tiker konser musisi-musisi manca nagari tadi selalu laris bagai bakwan. Antrian tiket konser Lady Gaga, yang tiket paling murahnya 465 ribu, panjangnya seperti antrian beras raskin. Maklum kelas menengah baru.

Kondisinya berbeda ketika memperbincangkan konser musisi lokal. Perbedaaanya seperti membandingkan Sultan Djorghi dengan Sutan Bhatoegana.  Antusiasmenya mendadak seperti kerupuk diguyur kuah bakso. Melempem booo….

Entah karena makin banyaknya artis luar negeri yang konser di Indonesia atau ada hal lain.  Tapi saya merasakan beberapa tahun terakhir ini konser musisi dalam negeri seperti sedikit dilupakan. Dugaan saya, ini karena banyaknya konser gratisan yang banyak diselenggarakan perusahaan rokok dan telco yang memang terkenal punya anggaran promosi jor-joran.

Perusahaan-perusahaan tadi bisa dengan mudah menggratiskan orang satu stadion untuk nonton konser band seperti Slank, Dewa, atau Ungu yang bayarannya terkenal tinggi. Gratis tis tis. Eh gak juga ding, masih kudu bayar parkir, beli minum, atau ngeganti HP yang apes kena copet. Oke skip.

Tidak ada yang salah dengan konser gratis. Toh saya juga sadar kok masyarakat kita masih banyak yang masih bingung untuk makan tiga kali sehari. Mereka juga butuh hiburan kan?. Tentu kurang etis kalau masih menambah beban mereka untuk mencari hiburan murah. Untuk kasus ini, konser gratis dihalalkan.

Nah yang jadi masalah adalah habit yang muncul dari konser gratis yang frekuensinya akhir-akhir ini terlalu sering. Keseringan dan banyak salah sasaran. Wendi Putranto pernah bilang di bukunya konser gratis adalah salah satu tanda kiamat industry musik Indonesia. Saya setuju. Bukan cuma karena dia editor saya di Rolling Stone Indonesia, tapi konser gratis juga akhirnya membuat masyarakat tidak memberikan penghargaan layak. Ah saya sudah menduga anda bakal kembali mengajukan argumen kondisi sosial ekonomi kan?. Oke saya jawab.

Sekali lagi, untuk masyarakat yang masuk SES C (buka lagi diktat kuliah kalo gak ngerti), konser gratis memang sudah sepatutnya. Mereka butuh akes hiburan murah. Tapi untuk mereka yang bisa dengan mudah membayar 30ribu untuk secangkir kopi ato 150 ribu untuk selembar kaus oblong, saya rasa mereka perlu malu kalau masih saja bertanya di fanpage atau twitter, “Gratis gak om?” atau merengek-rengek ke panitia,”bagi free-pass dong…”. Ohhhhh, Sutan Bhatoegana mungkin bakal menertawakan anda bung. Pait bung, pait….

Saya masih punya excuse kalau yang diminta adalah band-band dengan pendapatan besar seperti Ungu atau Wali. Toh mereka bisa jualan lewat RBT, jadi bintang iklan, main film atau nongol di sinetron kejar tayang. Saya paling jengkel kalo band-band independen yang diperlakukan seperti itu oleh so called fans. Kalau ada bata mungkin bisa saya lempar mereka yang ngemis-ngemis di fanpage. Eh tapi sayang ding monitor komputer saya.

Musisi independen menurut saya adalah orang-orang yang jujur dalam bermusik. Mereka hidup untuk musik, bukan menjadikan musik sebagai penghidupan.  Jika berbicara sumber pendapatan, musisi-musisi independen praktis hanya mengandalkan manggung serta penjualan CD dan merchandise sebagai sumber asap dapur. Belum ada kan musisi independen yang kaya dari RBT?.

Selain itu, konser gratis tidak  mendidik penonton untuk mempunyai etika selama menonton. Sebagian besar ujung-ujungnya rusuh. Mereka yang ada di konser gratisan tidak bisa dibedakan antara yang memang niat nonton konser, sekedar iseng lewat, atau memang datang untuk punya niat rusuh. Sulit untuk melakukan screening kepada penonton. Jangan heran kalau botol minuman keras, botol plastik air mineral, sandal jepit, hingga batu bertebaran di udara. Sedikit senggolan bisa berujung ke kerusahan. Liar dan brutal.

Saya punya pengalaman. Waktu itu di kampung saya di Muntilan ada konser Letto di lapangan sepak bola desa. Sekitar tahun 2007 atau 2008 saya lupa. Gratis, dalam rangka milad (ulang tahun) Pondok Pesantren Mbah Mad Watu Congol. Konser berlangsung selepas adzan Isya’. Muntilan kota kecil, wajar masyarakat begitu antusias, apalagi gratis. Saya nonton karena ingin melihat Letto secara live karena album mereka bagus. Pertama datang suasana ramai. Penonton datang mulai dari balita sampai orang tua. Dengan berjalan kaki, kendaraan pribadi sampai datang ramai-ramai dengan truk. Lagu pertama suasana masih 86. Lagu kedua mulai dorong-dorongan. Lagu ketiga ada bau alkohol samar-samar. Lagu keempat botol-botol mulai beterbangan. Lagu kelima saya memutuskan pulang. Untung konser lancar, kalau rusuh satu kota bisa mendadak terjaga. Maklum kota kecil.

Edukasi publik memang sulit tapi harus. Industri ini sudah jadi ladang hidup. Sangat menyakitkan kalau gara-gara segelintir perusuh di konser, dunia showbiz khususnya serta industri musik Indonesia pada umumnya harus kembali tertatih. Karena pada akhirnya yang bakal senang juga kita sendiri….

4 Comments

    1. Warung Mas Jaki Reply

      Yah yang jadi masalah di tulisan ini kan frekuensinya keseringan banget jon. Kalo keseringan efek buruknya publik males nonton konser berbayar. Itu yang jadi soal jon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *