Kereta Pagi

Setahun terakhir pagi sangat berarti bagi saya. Pagi akan menentukan apa yang akan terjadi pada diri saya dalam sehari. Dan kereta pagi adalah arena pertaruhannya…..

Sebelumnya yah seperti juga mahasiswa tingkat akhir yang kemudian sempat jadi pengangguran untuk beberapa saat, saya adalah makhluk nocturnal. Mirip kalong. Siang diisi kegiatan nir produktif sementara malam seperti gas pol mengerjakan ini itu. Tulisan lah, baca apa lah atau ya….sedikit-sedikit mbribik. Tapi semuanya berubah saat saya diterima kerja. Kerja kantoran jam setengah delapan pagi sampai jam empat sore.

Kerja di Jakarta rumah di Bogor. Otomatis saya menjadi penglaju atau bahasa kerennya, commuter. Kenapa gak nge-kost saja? Oh jika saya nge-kost otomatis dalam 24 jam saya bertemu Jakarta lagi Jakarta lagi. Buat saya terlalu banyak Jakarta itu gak baik.

Saya memilih menggunakan kereta. Lebih murah, relatif cepat (kalo pas gak ada gangguan) dan tempat naik turunnya dekat dengan tempat kerja. Dari stasiun Bogor, saya naik kereta pukul 5.25. Waktu perjalanan jika normal sekitar satu jam lebih 15 menit. Masih ada kesempatan mengaso sebentar di kantor. Saya tidak sendirian. Ada ribuan pekerja seperti saya yang menglaju dari Bogor ke Jakarta. Naik kereta juga. Jangan heran kalau saat-saat puncak kepadatan kereta bisa seperti kaleng sarden berjalan

Oh ya, saya menggunakan Kereta Rel Listrik Commuter Line AC. Bogor-Jakarta cukup 7 ribu perak saja. Kalau naik bis bisa hampir dua kali lipatnya dan bonus keringetan karena macet.

Naik kereta tiap kerja membuat saya jadi kenal sesama penglaju. Ternyata pola-pola komunikasi di KRL Commuter berbeda tiap jamnya. Sebelumnya, saya sempat menjadi penumpang tetap KRL Commuter pada jam-jam tertentu.

Penumpang-penumpang yang naik sebelum pukul 6 seperti saya umumnya adalah pengguna setia kereta. Didominasi pekerja kantoran atau mahasiswa. Mereka akhirnya saling kenal karena setiap hari bertemu di gerbong tertentu dan membentuk semacam kelompok di kereta.

Penumpang sebelum pukul 6 pun ada pola komunikasi yang berbeda juga. Penumpang yang naik kereta sebelum pukul setengah 6 seperti saya umumnya hanya tahu sama tahu. Kenal wajah karena tiap hari bertemu tapi umumnya enggan untuk mengobrol sepanjang jalan. Begitu kereta datang dan cari tempat duduk, mereka lebih banyak tidur. Mengganti kekurangan tidur karena harus berangkat pagi buta. Ya seperti saya.

Nah penumpang diatas jam-jam sibuk berangkat kerja (diatas pukul 8 pagi) biasanya bercampur. Antara mereka yang kerja siang, mahasiswa yang kuliah siang, pedagang yang mau kulakan di Jakarta atau pelancong. Jarang terbentuk kelompok.

Pun meski pola komunikasinya berbeda, saya dan ribuan pengguna kereta pagi lainnya mempertaruhkan nasib pada perjalanan kereta. Telat beberapa menit mungkin sudah biasa, tapi sedikit saja ada gangguan akibatnya bisa fatal. Kereta bisa berjam-jam terlambat. Sementara mesin absensi kantor tidak kenal belas kasihan. Ancamannya SP3 berujung pemecatan

Ada yang menyerah ada yang bertahan. Yang bertahan mencoba merubah jam berangkat kerja jadi lebih pagi. Pertimbangannya jika ada gangguan masih ada sedikit waktu tersisa untuk berpacu. Sementara yang menyerah, memilih pindah bekerja ke tempat yang setidaknya lebih terjangkau.

Ya, suka tidak suka, kami para penglaju tetap butuh kereta.

1/5/2011 07:24

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *