Rapuhnya Konser Kami

Bagi pecinta musik konser ibarat naik haji. Konser adalah pembuktian para musisi atas segala yang mereka lakukan selama di studio dan mereka promosikan di media. Sementara bagi penikmatnya, konser menjanjikan pengalaman audio visual, juga status sosial kalau dalam konteks sekarang, yang tidak akan ditemui dalam sekeping CD atau yah…file hasil download.

Jauh sebelum banjir konser melanda  dalam setahun terakhir, Indonesia mempunyai rekam sejarah panjang dalam dunia konser dan showbiz. Mulai dari Festival Summer  ’28 (Suasana  Meriah  Menjelang Kemerdekaan RI ke-28), konser Deep Purple di Stadion Utama Senayan tahun 1978 (yang sering disebut sebagai ledakan musik rock di Indonesia), konser Metallica di Stadion Lebak Bulus 1993 (konser berujung kerusuhan massal yang membuat Indonesia sempat di-black list di dunia showbiz) sampai ajang tahunan yang saat ini tengah hype  seperti Java Jazz Festival atau Java Rockin’land.

Tapi dimanakah kita bisa mendapat dokumentasi audio dan visual yang memadai (baca: video) untuk konser-konser tadi?. Sulit kalau tidak mau dibilang tidak ada. Saat Arian 13 membantu Scott McFadyen dan Sam Dunn mencari  footage  konser Metallica di Lebak Bulus ke RCTI, SCTV dan MTV Asia untuk kepentingan penggarapan dokumenter Global Metal , hasilnya nihil. Di akun Multiply-nya Arian bercerita di SCTV dia mendapati footage yang sudah rusak, di MTV Asia vokalis Seringai tadi pulang dengan tangan hampa. Sementara di RCTI, Arief Suditomo justru menuduhnya sebagai  sebagai agen negara Barat untuk mempropagandakan keburukan bangsa Indonesia. Justru Lars Ullrich yang menyimpan video konser tersebut di gudang rumahnya.

Faktor teknologi seringkali menjadi semacam pemakluman. Jelas sekali. Saat Amerika sudah sampai bulan kita masih antri bahan bakar. Tapi apakah ini akan terus jadi pemakluman saat di YouTube saya dengan mudah menemukan Jimi Hendrix saat tampil ive di Woodstock tahun 1969 sementara mencari video saat Netral tampil di Jakarta Alternative Festival tahun 1996 (yang mendatangkan Foo Fighters, Sonic Youth, dan Beastie Boys) seperti mencari sebatang rambut di kepala Bagus Netral. Tidak ada.

Yah memang harus dimaklumi saat remaja-remaja di belahan bumi lain menggunakan kamera DSLR canggihnya untuk membuat dokumentasi video konser, remaja-remaja kita masih melihatnya sebagai kalung penambah gaya bermerek Canon atau Nikon saat nonton konser.

Dan bahkan untuk konser dalam festival musik sebesar dan se-hype Java Jazz Festival atau Java Rockin’ Land saya hanya bisa menikmati sepotong-sepotong di layar kaca dalam jam tayang yang tidak manusiawi. Tak ada video dokumentasi resmi yang bisa saya nikmati meski saat saya menyaksikan Dolores O’ Riordan cs. dari awal sampai akhir kamera bergerak terus menyorot salah satu alasan kenapa saya memimpikan bisa menginjakkan kaki di Irlandia itu. Yang ada kamera video yang  dioperasikan lewat jimmy jib itu nyaris mencium kepala saya.

Sampai beberapa hari lalu saya menerima sebuah DVD konser. Live At Djakartartmosphere 2011. Sebuah video dokumentasi dari festival tahunan yang sudah berjalan untuk kali ketiga. Festival yang misinya mulia. Menjadi panggung bagi musisi berbeda generasi. Konsernya sendiri sudah berlangsung pada tanggal 22 Oktober tahun 2011 kemarin. Menghadirkan legenda lintas generasi seperti Yockie Suryoprayogo, Pure Saturday, Koes Plus, The Brandals, Keenan Nasution, Sarasvati, Mergie Segeers serta Endah & Rhesa.

Saya tidak hendak mereview video ini. Lebih dari itu, video ini adalah sedikit asa dari usaha mengumpulkan arsip-arsip musik Indonesia yang terserak, khususnya dalam segi pertunjukan musik. Memang harus diakui dunia showbiz di Indonesia masih menyisakan PR besar meski dalam beberapa tahun terakhir panggung-panggung konser ramai kedatangan musisi dari manca negara. Selain isu kerusuhan yang datang dan pergi bagai hantu Jelangkung, dokumentasi konser yang memadai dan bisa diakses publik dengan mudah masih luput dari perhatian. Mungkin karena kini sulit membedakan antara reporter dengan penonton konser. Sama-sama berebut momen terbaik dan sama-sama melaporkan. Bedanya yang satu melaporkan lewat media massa, yang satu menunjukkannya lewat media sosial.

Melalui surat elektronik yang dikirimkan kepada saya, Ferry Dermawan, produser dari video berdurasi 100 menit ini mengaku pembuatan video dokumentasi adalah agenda tak terpisahkan dari sejak Djakartartmosphere dihelat untuk kali pertama pada tahun 2009. Saat itu bahkan sudah disiapkan untuk tayang di salah satu stasiun televisi swasta. Tapi karena kendala di perjanjian, niat tadi urung dilakukan. “Maklum saat itu yang kita pikirkan acara lancar dan semua senang,” katanya.

Agenda dari Djakartartmosphere tadi seperti jawaban atas kegelisahan minimnya dokumentasi konser yang memadai di Indonesia. “Saya tuh seringkali geregetan saat riset tentang musisi era dahulu. Dokumentasi musik di Indonesia bisa dibilang berantakan. Generasi saya hanya bisa mendengar cerita betapa gilanya aksi panggung AKA, GodBless, momen-momen penting panggung Koes Plus dan beberapa peristiwa penting lainnya,” kata Ferry panjang lebar.

Saya tidak bisa tidak untuk mengamini. Sama seperti Ferry, saya hanya bisa menerka-nerka dalam pikiran saat ibu saya bercerita bagaimana kota sekecil Muntilan yang ada di lereng Merapi, yang hanya ramai sampai jelang Magrib oleh lalu lalang bus antar kota Jogja-Semarang, mendadak ramai nyaris semalam suntuk saat Rhoma Irama dan Soneta Group manggung medio 70-an.

“Melihat fungsi dokumentasi saja. Sesederhana untuk mengakses informasi masa lampau saja,” kata Ferry saat saya tanya apa tujuan jangka panjang perilisan DVD konser ini. Tapi untuk saya pribadi itu bukanlah hal yang sederhana. Video ini bisa jadi salah satu penanda. Minimal saya punya bukti otentik saat besok saya bercerita pada anak saya bagaimana bapaknya tergila-gila dengan Pure Saturday.

2/5/2012 08:40

Dimuat juga di http://jakartabeat.net

4 Comments

  1. Ochaoch Reply

    Meskipun saya tidak berkalung Canon atau Nikon atau apalah itu namanya, saya selalu pengen punya dokumentasi yang menjadi bukti otentik kalau saya sudah menonton konser (hahaha!). Alhamdulillah telepon seluler dekade ini sudah canggih. Tapi salah satu alasan yang bikin orang-orang males (atau segan, atau gengsi) mengacung-ngacungkan gadget (terutama handphone) dan merekam konser adalah…adanya stigma yang menganggap bahwa orang-orang yang mendokumentasikan itu sama dengan alay. Malesi to jek 😐 Salahnya dimana coba? Menurutku yang alay itu justru yang mengacungkan handphone tinggi-tinggi dengan sudut 45 derajat dan diarahkan ke mukanya.

  2. Warung Mas Jaki Reply

    Nah itu tuh fenomena HP Ngacung. Satu sisi ganggu, ganggu banget malah. Aku ki meh nonton konser su, ra nonton HP-mu!.

    Pas kemaren aku nonton Cranberries…Cranberries cha yang nyanyi Linger itu loooh, sampe ada Galaxy Tab ngacung-ngacung buat rekam konser. Pernah aku baca pas Good Charlotte maen akustik gitu di Hard Rock Bali, si Joel Madden sampe minta itu HP-HP diturunin. Tapi menurutku cha, kalo emang dia niat banget bikin dokumentasi, dia bakal tau kok gimana buat ngerekam via HP tanpa ganggu penonton lain (pengalaman pribadi…). Ato kali sengaja diacungin biar gak kecopetan ya? ah mbuh lah hahahahahaha

  3. Sumayya Reply

    Ngomong-ngomong Cranberries di JRL. Aku yang waktu itu galaunya level ditinggal gebetan nikah mengubek-ubek YouTube dan menemukan fancam yang bagus banget. Kethoke wong iki niat banget mau ngerekam konser soale bawa-bawa kamera lensa zoom panjang dan dia shoot dari belakang. Udah gitu kualitasnya HD.

Leave a Reply to Warung Mas Jaki Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *