Terheran di Tehran (Part. 1)

Bayangan saya hanya nuklir. Selebihnya saya serahkan pada Yang Kuasa.

Februari kemarin saya kembali dikirim kantor ke luar negeri.  Sebelumnya tahun kemarin saya dapat kerjaan untuk mewakili kantor di eksibisi tahunan di Thailand. Maap lebih tepatnya jadi seksi serbaguna selama pameran.

Kali ini saya dikirim lagi. Yah saya sih berharap dikirim kemana begitu. Amerika Serikat lah, Inggris lah, Jepang lah, Australia pun boleh. Tapi saya justru dikirim ke medan perang. Ya medan perang.

Saat kondisi Timur Tengah lagi panas-panasnya pasca blokade Selat Hormuz oleh Iran, saya malah disuruh kembali mewakili kantor dalam pameran internasional di negerinya Ahmadinejad itu. Di Tehran, ibu kotanya. Bersama saya ada bu Clara. Guru besar Institut Pertanian Bogor yang juga ikut pameran.

Jika waktu ke Thailand saya senang sekali, maklum pertama kali keluar negeri, kali ini saya justru senang campur khawatir. Khawatir apakah bisa pulang utuh atau tinggal nama doang. Apalagi reputasi Tehran juga gak bagus-bagus amat sebagai kota yang layak disinggahi. Ketika saya buka situs Lonely Planet, deskripsinya adalah kusam, polusi dan debu dimana-mana. Polisi-polisi palsu berkeliaran mencari mangsa. Alamak.

Kekhawatiran itu makin menjadi saat selama beberapa hari panitia tidak memberi kabar soal akomodasi dan tiket saya. Jangan-jangan bener udah perang. Tapi malamnya saya dikirimi tiket pesawat bolak-balik Jakarta-Doha-Tehran dan Tehran-Doha-Jakarta. Tak lupa panitia juga memberi semacam information  notes tentang Tehran dan Iran.

Mulai dari makanan. Pecinta kambing silahkan menemukan surganya disini. Selama empat hari saya makan siang dengan kambing, kambing dan kambing. Nasi kebuli dengan kambing tepatnya. Kambingnya empuk dan gak prengus. Dan saya gak merasa pusing-pusing. Hebat!.

Lalu soal pakaian. Khusus wanita, semua diwajibkan memakai penutup kepala dan baju panjang. Kemudian dijelaskan etika dan tata krama. Ciuman, pelukan dan jabat tangan antar pria dan wanita di muka umum haram hukumnya. Saya gak tau kalo yang muhrim. Tapi kalo cipika- cipiki sesama pria gak apa-apa. Tradisi pria-pria Iran tiap bertemu mereka saling meleuk sambil menempelkan pipi. Sekali di kanan, sekali di kiri lalu kembali ke kanan sambil disertai suara kayak orang ciuman. Ketika saya hendak pulang saya juga dikasih cipika cipiki sama Abbas, sekitar 25 tahun, yang jadi LO untuk delegasi internasional. Geli juga pas kena pipinya yang jenggotan, untung lumayan ganteng…#loh

Terakhir panitia mewanti-wanti supaya bawa pakaian musim dingin karena disana pas lagi musim dingin. Suhu rata-rata 2 derajat celcius dan malam kadang turun salju. Hah???. Bukannya negara Timur Tengah terkenal panas dan gersang. Ternyata saya sok tahu meski selama SMP dan SMA nilai Geografi saya ehm…gak pernah kurang dari 8.

Iran mempunyai iklim kontinental. Sejuk di musim gugur dan semi, panas di musim panas (cetooo!!!) dan dingin bersalju di musim dingin. Saat saya kesana sedang musim dingin yang telat. Maklum pemanasan global. Saya bawa sweater, pullover, jaket (pinjem bapaknya pacar yang pernah sekolah di Taiwan), kupluk dan sarung tangan untuk baju perang. Cuma saya lupa….saya alergi dingin atau bahasa Skotlandia-nya…biduran.

Singkat cerita setelah urusan paspor beres, saya segera ciao ke bandara. Saya pakai paspor biru jadi ga perlu pake visa tapi kudu ada surat pengantar dari Sekretariat Negara. Untuk yang pake paspor ijo sendiri ada fasilitas Visa On Arrival untuk 14 hari, biayanya kalo ga salah EUR 52. Kalo ngurus di Kedutaan Iran di Jakarta waktunya sekitar dua minggu.

Pesawat jam 5 sore tapi cabut dari kantor di bilangan Gatot Subroto jam 2. Yah yang tau macetnya Jakarta kan Cuma Yang Diatas.

Sampai di bandara rada ketar-ketir. Bukan apa-apa saya bawa koper yang isinya materi pameran. Pertama, saya takut over-baggage. Kedua saya bawa materi pameran yang kadang gak lolos di screening tapi saya udah ada surat pengantar dari kantor, dari Kementerian Luar Negeri RI dan Kedutaan Besar RI di Tehran. Jadi aman. Antrian imigrasi pun cepet. Ya iyalah counter khusus paspor biru githu loohhh hahahahaha.

Pesawat jatah untuk saya adalah Qatar Airways. Untuk Jakarta-Doha pake tipe Airbus A330-300. Setelah saya ubek-ubek di forum penerbangan, kelebihan maskapai  ini adalah fasilitas hiburannya yang segambreng dan makanan yang enak (tapi untuk etape ini gak sepenuhnya bener). Kekurangannya (no offense yah) Qatar Airways relatif murah dari pesaingnya seperti Emirates dan Etihad. Makanya maskapai yang home base-nya di Doha International Airport ini jadi langganan para TKI yang tingkahnya “ajaib”. Selain itu, transitnya di Doha. Saya baca lagi di forum penerbangan, fasilitas buat penumpang transit gak sebagus kayak di Changi, Suvarnabhumi ato tetangganya, Dubai. Tapi ya sutra lah. Gratisan kok kakean cangkeman….

Saya kebagian duduk di aisle,padahal pengen window seat. Sebelah saya pria Arab. Naluri buruk saya dia baru ninggalin istri hasil kawin kontraknya di Cisarua. Sebelum dia nanya macem-macem saya udah utak atik  IFE, in-flight entertainment-nya yang dikasih nama Oryx. Beda dengan IFE Garuda yang gak terlalu lengkap dan up to date, si Oryx ini koleksinya lengkap betul. Yang saya suka si Oryx sudah bisa dioperasikan sejak pesawat masih di darat dan cuma ada jeda kalo pas pengumuman. Beda dengan Garuda yang baru bisa idup kalo pesawat udah sampai titik ketinggian dan mati setengah jam sebelum landing.

Hal pertama yang saya sikat. Koleksi lagunya. Waaawwwww. Ini gila sekali. U2, Queen, R.E.M, Guns N Roses, The  Cure, The Police serta sedikit Radiohead dan Coldplay saya masukin playlist untuk menemani saya di sesi Jakarta-Doha yang akan ditempuh selama kurang lebih 8 jam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Beberapa saat setelah pesawat dalam kondisi stabil, kru kabin membagikan kartu menu. Saya lupa milih apa, yang jelas makanan untuk sesi Jakarta-Doha gak enak. Daging sapinya hambar, sayurannya udah kelewat lembek kelamaan direbus, lalu dikasih sejenis salad dengan krim yang rasanya amit-amit. Alhasil saya cuma habisin roti dan puding coklatnya. Tidak lama amenity kit berupa kaos kaki, pasta gigi, sikat gigi, penutup mata dan sumbat kuping dibagikan.

Harusnya saya tidur untuk mengurangi jet-lag tapi kenyataanya saya malah sibuk liat-liat film yang bagus. Setelah minta air putih dan jus jeruk bolak balik (katanya sih buat ngurangin jetlag juga) saya nonton film. Tidur-tidur ayam. Tidur beneran. Bangun-bangun tinggal sekitar dua jam  lagi sebelum mendarat di Doha. Dikasih makan lagi dengan menu…yang sama!

Sebelum antrian toilet jadi panjang, saya bergegas cabut dari kursi. Cuci muka, sikat gigi, semprot-semprot wangi-wangi sambil ngembat beberapa tisu basah, siapa tau berguna. Pesawat bersiap mendarat di Doha. Enaknya, di bagian belakang amplop tiket ada penjelasan untuk penumpang transit dan transfer selama mereka di Doha. Tinggal cocokkan warna amplop tiket dengan papan petunjuk di bandara.

Begitu mendarat whuuussshhhhh…kulit terasa ditusuk, telinga sakit karena hembusan angin malam khas daerah gurun yang dinginnya ampun-ampunan. Doha International Airport gak pake garbarata, jadi penumpang diangkut pake bis satu-satu. Jadi selain bandara, Doha International Airport juga cocok jadi terminal bis. Tinggal nambah calo yang teriak-teriak Jogja Jogja Jogja ne mas ….

Setelah mencocokkan warna amplop tiket, saya ikut barisan penumpang transit. Kembali melewati security check. Naroh tas lagi, naroh dompet dan ponsel lagi, buka sabuk lagi. Apakah di wajah saya ada goretan dosa hah?.  Setelahnya saya langsung ke ruang tunggu. Penerbangan ke Tehran masih dua jam lagi. Dan saya tidur karena ngantuk dan bosan….

Kalau transit disini dan punya duit banyak saya sarankan masuk ke lounge aja deh. Makan sambil tidur-tiduran atao internetan. Disini hiburannya cuma dua. Liatin pesawat di apron ato belanja di Duty Free Shop (walalu efeknya bukannya terhibur malah jantungan karena duit abis). Koneksi wi-fi  pun lemot banget (ato saya ya yang gaptek?).

Saya lalu tidur-tidur ayam dan gak sadar pas liat pengumuman udah final call….Modyar

Sik yo aku kesel, sesuk dilanjut meneh. Dadah baby…baby kingkong

5/5/2012 15:06

5 Comments

  1. konveksi tas anak di jakarta Reply

    An intriguing discussion is definitely worth comment.
    I do believe that you ought to publish more on this subject matter, it may not be a
    taboo subject but usually people don’t speak about such subjects.
    To the next! Cheers!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *