Terheran di Tehran (Part. 2)

Jadi sebelumnya saya ketiduran  nunggu transit di Doha dan tau-tau sudah final call. Bagaimana bisa? Mosok saya seteledor itu? Tentu tidak….

Pertama saya ada di posisi depan layar flight information display. Kedua ada pengumuman buat penumpang yang bakal diumumkan berkali-kali di flight sebelum flight saya. Jadi saya pede dong buat tidur ayam. Toh saya bangun 30 menit sebelum boarding dan jalan ke gate yang sudah ditentukan. Dan terpampanglah besar-besar disana. Final call…..Bu Clara yang terjaga tidak mendengar pengumuman apapun selama tadi menunggu.

Akhirnya kami jadi penumpang terakhir di pesawat Airbus A-320 yang akan melayani rute Doha Internatiolan Airport (DOH) – Imam Khomaeni International Airport (IKA), Tehran. Efeknya, sudah duduk paling belakang sendiri (kalo ini emang sudah begitu dari Jakarta), bagasi kabin pun penuh semua sehingga backpack saya harus ditaruh di bawah kursi. Beruntung kursi bagian tengah kosong. Seperti di penerbangan sebelumnya, fasilitas kelas ekonomi untuk penerbangan berdurasi dua jam ini hampir sama. Ada in-flight entertainment,bantal, selimut,makanan (cuma sekali), tapi minus amenity kit.

Kalin ini saya malas ngoprek si Oryx lagi. Paling sekedar masukin beberapa lagu dari U2 dan R.E.M untuk temen tidur. Pramugari lalu membagikan makan. Dan untuk etape kali ini makanannya enak banget-banget. Pokoknya endaaannng s. taurina. Ada roti croissant, lalu satu roti cane, buah potong, sejenis sereal berwarna putih dan hidangan utamanya nasi kebuli. Ekspektasi saya, makanan di pesawat apalagi kelas ekonomi rasanya biasa aja. Tapi kali ini Qatar Airways seperti menonjok saya. Nasi kebulinya enak sekali, Kambingnya empuk, tak bergajih dan tak bau prengus. Serealnya juga enak dan manis kayak saya. Cuma saladnya yang baunya kayak minyak tanah terpaksa saya skip.

Setelah kenyang saya tidur setelah sebelumnya menyiapkan diri dengan baju perang. Sweater ditumpuk pullover tak lupa kupluk dan sarung tangan. Oh ya kafiyeh supaya leher hangat. Toh saya gak takut dicap teroris oleh kain khas Arab yang dipopulerkan oleh Yasser Arafat itu.

Sejam sebelum mendarat, efek duduk paling belakang terasa. Antrian toilet mulai mengular nyaris sampai tengah. Belum lagi toilet yang bisa digunakan cuma satu. Ditambah ada wanita, sepertinya asal Turki, berisik bukan main. Mungkin kebelet. Eh pas mbak pramugari ngecek toilet yang gak bisa dipake tadi jebul cuma pintunya ketutup rapet banget.

Jam saya lambatkan tiga jam lebih lambat dari Waktu Indonesia Barat. Dari jauh sudah terlihat lampu kota Tehran. Pesawat medarat mulus di Imam Khomaeni International Airport. Yak anda betul, nama bandara ini diambil dari nama Pemimpin Revolusi Iran pada kurun 1978-1979 . Saya kutip sedikit dari Wikipedia ya revolusi ini memiliki keunikan tersendiri . Tidak seperti berbagai revolusi di dunia, Revolusi Iran tidak disebabkan oleh kekalahan dalam perang, krisis moneter, pemberontakan petani, atau ketidakpuasan militer.  Revolusi ini justru berhadapan dengan kekuasaan monarki Shah Reza Pahlevi yang tiran, yang didukung penuh kekuatan militer.

Begitu menginjakkan kaki di bandara yang teletak sekitar 30 KM dari Tehran ini, kesan angker terasa. Pertama, rata-rata bandara di Timur Tengah mengharamkan ambil foto. Kedua, ini Iran bung. Benar saja, tentara bersepatu lars ada di tiap sudut bandara yang mulai dibangun tahun 1979 sebelum pecah Revolusi  Islam Iran. Awalnya bandara ini didesain oleh kosorisum dari Amerika Serikat.  Modelnya mengacu ke bandara di dallas sana. Namun setelah pecah revolusi, pembangunan mandeg. Proyek lalu diteruskan dengan memberdayakan sumber daya dari Iran sendiri dengan pengawasan konsultan dari Prancis.

Nih saya dapet gambar lengkapnya dari sini

Saya lalu menemani bu Clara dulu untuk mengurus visa on arrival. Agak lama disini karena petugasnya entah kenapa selalu memasang wajah tak ramah. Terlebih ada rombongan MTQ dari Indonesia yang bingung karena tidak membawa surat pengantar dari KBRI di Tehran. Mereka hanya membawa surat pengantar dari instansinya yang ditulis dengan…bahasa Indonesia. Yang bikin saya jengkel, si petugas berkumis itu main lempar saja paspor bu Clara. Tidak ada sopan santunnya. Atau apakah itu adat sini. Prosedur berikutnya menanti. Antri imigrasi.

Bu Clara lolos dengan mudah. Giliran saya yang rada bermasalah. Saya pakai paspor biru (paspor dinas). Sesuai perjanjian diplomatik antar kedua negara, pemegang paspor biru seperti saya tidak perlu visa untuk jangka waktu kunjungan selama 14 hari. Saya yakin saja dong. Si petugas imigrasi tadi kebingungan, menanyakan mana visa saya. Saya jelaskan tentang perjanjian diplomatic tadi sekaligus saya keluarkan surat undangan dari penyelenggara pameran di Tehran serta pengantar dari KBRI di Tehran dan kementerian Luar Negeri RI.

Si mas imigrasi tadi lalu manggil kawannya. Berbicara dengan bahasa Parsi yang saya tak tahu artinya. Saya lihat mereka menunjuk daftar negara-negara yang bebas visa dengan paspor dinas. Begitu ketemu nama Indonesia, stempel langsung didaratkan. Selamat datang di Tehran.

Masalah belum kelar. Di bagian custom bawaan saya kembali bermasalah saat dipindai. Dimintalah saya untuk membongkar koper segede alaihum gambreng. Saya sih maklum saja karena ada materi pameran berupa mesin penghancur jarum suntik yang berbahan besi. Dibongkarlah koper segede alaihum gambreng di depan petugas berbadan sebesar kulkas. Mereka cek satu-satu. Saya jelaskan sambil bawa surat-surat sakti tadi. Begitu baca mereka langsung ramah. Apalagi tau saya dari Indonesia. Dianggap saudara.

Begitu beres, saya dapat pelajaran lagi. Jangan mudah percaya dengan orang Iran….

Saya dijemput oleh panitia. Selain itu pihak KBRI juga megutus staff-nya untuk menjemput. Ketidakberesan pertama mulai tercium. Saya dan bu Clara mengira panitia menyediakan van ukuran besar mengingat bawaan kami yang lumayan banyak. Tapi ketika kami mengikuti si panitia tadi mereka berjalan ke pangkalan taksi. Mas David, staf KBRI tadi bertanya,”Kalian mau membawa dengan taksi?,”. Sebelum si panitia menjawab mas David sudah mengajak kami ke van milik KBRI beserta panitia yang bingung sendiri tadi.

Ketika kami meninggalkan bandara, kemacetan Tehran sudah menyergap. Kami sampai disana hari Sabtu. Di Iran, Sabtu dan Minggu adalah hari kerja, sementara “akhir pekan” mereka adalah Kamis dan Jum’at. Kami lalu turun di hotel. Saya kaget karena nama hotelnya tidak sesuai dengan informasi yang diberikan panitia. Tapi si panitia tadi menyuruh kami untuk masuk ke kamar. Ya masuk ke kamar. Saya dan bu Clara ditempatkan dalam satu kamar.

Belum juga hilang kekagetan kami, ditambah capek yang berujung ke jetlag, tiba-tiba panitia menelpon ke kamar. Saya yang sedang membongkar tas buru-buru sipat kuping begitu panitia bilang kami salah hotel. Nah bener kan tebakan saya….

Kami dibawa ke hotel yang jaraknya tak jauh, tapi dengan fasilitas dibawahnya. Tapi ya cukup nyaman lah meski banguannya tergolong bangunan lama. Namanya Hotel Azadi. Fasilitas sih standar. Ada pemanas ruangan tentunya. Setelah masing-masing dapat jatah kamar saya bergegas ke kamar untuk mandi air panas sekaligus tiduran barang sebentar karena sesuai jadwal hari itu adalah loading material pameran dan pembukaan.

Tapi tapi tapi….baru saja buka koper telpon kamar kembali berdering. Kami ditunggu lima menit lagi untuk ke venue. Menghadiri pembukaan oleh presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Brengsek….

Dilanjut sesuk yo, aku kesel e. Dadah baby…bay kingkong

8/5/2012 22:52

7 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *