Yang Selalu Terngiang

Penantian panjang lima tahun terbayar lunas dalam konser berdurasi tiga jam

Bagi saya, Pure People, sebutan bagi fans Indonesian indie darling band Pure Saturday, adalah contoh sekumpulan orang-orang sabar. Disaat banyak band-band baru bermunculan dengan exposure besar di media serta jadwal manggung rutin hampir tiap bulan, mereka menemui kenyataan bahwa Pure Saturday adalah tipikal band “malas”. Sejak meluncurkan album retrospektif Time For A Change Time To Move On pada 2007 silam, band yang sudah berkecimpung di scene musik independen Indonesia selama hampir dua dekade ini tidak jua merilis karya baru. Pun hanya sekedar single. 

Dan definisi “malas” bagi Pure Saturday terlihat jelas pada konser peluncuran album terbaru mereka, Grey. Indikasi pertama tiket langsung tandas hanya dalam waktu tiga hari sejak penjualan lewat ticket box dibuka pada 2 Mei lalu. Gila.

Bertajuk “Pure Saturday Grey Concert”, konser ini dihelat oleh G Production sebagai event paralel festival musik tahunan Djakartartmosphere. Mengambil tempat di lokasi nan prestisius di jantung ibu kota, Gedung Kesenian Jakarta (GKJ)  yang sudah kondang sejak zaman kolonial Belanda. Sebelumnya, nama-nama seperti KLa Project, GIGI, serta Naif pernah menggelar konser di gedung yang dibangun pada tahun 1821 ini.

Penampilan Pure Saturday didukung oleh nama-nama seperti Yockie Suryoprayogo dan Rektivianto Yuwono dari The S.I.G.I.T. Konser tunggal band besar di gedung bersejarah dengan kualitas akustik nan prima. Pasti ini akan jadi pengalaman mengesankan.

Set malam itu dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah pengenalan album terbaru. Sepuluh lagu dari album yang cikal bakalnya sudah ada sejak tahun 2009 dibawakan seluruhnya. Di Grey, Pure Saturday ingin mengajak pendengarnya untuk bersama-sama menyimak referensi musikal dari Satria “Iyo” N.B (vokal, gitar), Adhitya Ardinugraha dan Arief Hamdani (gitar), Ade Purnama (bass), serta Yudhistira Ardinugraha (drum).

Kalau anda mengira The Cure adalah kiblat tunggal, saya yakin setelah mendengar keseluruhan album ini anda akan sadar kalau tebakan anda salah besar. Lupakan dulu nomor-nomor penuh memori seperti Kosong atau Desire. Bersiaplah dengan aroma pekat progressif-rock ala Yes, Marillion, dan Genesis.

Konser dibuka dengan intro Centennial Waltzes dari komposer Johan Strauss lalu meluncur nomor penuh tenaga Horsemen.

Dalam konferensi pers, Iyo menuturkan bahwa album ini bisa disebut sebagai pembuktian dirinya sebagai vokalis band sebesar Pure Saturday. Dan malam itu Iyo membuktikan ucapannya. Bukan saja dari kualitas vokal yang meningkat, namun juga bagaimana dia menguasai panggung lewat aksi teatrikal dan pembacaan puisi yang semua idenya datang dari kepala sosok yang juga dikenal sebagai bassis dari band ugal-ugalan Teenage Death Star. Kehadiran virtuoso Yockie Suryoprayogo, yang juga turut andil atas keajaiban di lagu ini, menjadikan lagu ini punya daya magis.

Setelah Horsemen yang sedikit membuat telinga sedikit terkejut, Lighthouse meluncur seperti membawa pesan bahwa Pure Saturday tidak lupa dengan musik yang membesarkan mereka. Di nomor akustik Utopian Dream, mereka menggamit Rekti. Sayang karena mikrofon Rekti yang sedikit bermasalah duet Iyo dan Rekti ditimpali gitar dari Adhi pada malam itu tidak terdengar maksimal. Tapi yakinlah, lagu ini potensial dijadikan lagu saat gitaran di tongkrongan. Penutup di sesi pertama adalah nomor sepajang 8 menit lebih berjudul Albatross.

Sesi kedua adalah saat bernyanyi bersama. Dibuka dengan Elora, Iyo kembali ke “bentuk asli” setelah di sesi pertama tampil bak pantomim dengan kaos hitam ketat dan celana legging!. “Kami cuma ingin silaturahmi sambil menawarkan sesuatu. Secara sederhana,” kata Iyo sperti merendah sebelum memperkenalkan satu persatu personil Pure Saturday. Ah tapi rasanya hampir sebagian besar penonton di GKJ malam itu adalah mereka yang sudah kenal lama dengan Pure Saturday. Terbukti sebagian besar adalah wajah-wajah paruh baya yang masih mengenakan baju kerja. Menyusul kemudian Spoken, Coklat yang sebetulnya tak ada di setlist,dan Pagi. Berulang kali Iyo meminta juru lampu untuk mengidupkan lampu supaya penonton bisa terlihat.

Iyo lalu berjalan ke penonton. Meminta salah satu dari mereka bernyanyi. Dimulai dari Arian 13, vokalis Seringai dan kawan seperjuangan saat babat alas bersama-sama dengan PAS Band dan band Arian  terdahulu, Puppen. Lalu Pugar Restu Julian, vokalis The Dying Sirens, Bin Harlan, Anto Arief dari 70’s Orgasm Club serta Ryan Nobie dari Bottlesmoker. Tapi tak ada yang mau. Penonton lain mulai meneriakkan nama Suar Nasution, vokalis terdahulu Pure Saturday.

“Ah semuanya sama kayak gue. Gak ada yang bersuara merdu. Udahlah. Rek masuk Rek….,” teriak Iyo memanggil kembali Rekti. Kembali vokalis The S.I.G.I.T tadi masuk. Berduet membawakan Enough yang diambil dari album selftitled rilisan tahun 1996 lalu disusul Simple dan Desire.

Yockie Suryoprayogo kembali dipersilahkan untuk memamerkan jurus mautnya dibalik alat perangnya: Hammond XK3C, Fender Rhodes Suitcase, AccessVirus, KorgKarma, KorgM3, KorgMS2000 dan Steinway Piano. Memainkan Citra Hitam dari album Sabda Alam rilisan tahun 1976.  Semua mata tertuju pada sosok 58 tahun yang pernah mengisi band besar di negeri ini seperti God Bless, Kantata Takwa dan Swami. Standing ovation adalah penghargaan yang amat sangat pantas.

Nomor gelap Labirin menjadi klimaks malam itu. Menggandeng padua suara, lagu yang ada di album kedua, Utopia, tersebut terdengar sangat megah. Terlebih paduan suara tadi berubah menjadi paduan suara raksasa mengingat semua penonton ikut bernyanyi memenuhi langit-langit GKJ.

Selepas “drama” pamit sejenak, dua encore diluncurkan. Pertama lagu dengan intro khas Pure Saturday yang membuat nama Pure Saturday dikenal. Kosong. Penonton berharap Suar yang tampil ketika Iyo memanggil rekan duet. Tapi bukan Suar. Adalah Cholil Mahmud vokalis Efek Rumah Kaca. Aya tiba-tiba geli sendiri melihat pemandangan itu. Dulu saat kuliah saya berdebat dengan teman akrab saya. Siapa yang terbaik antara Pure Saturday dengan Efek Rumah Kaca.

Konser malam itu ditutup dengan Buka. Lagu dari album ketiga Elora tersebut seakan meneguhkan mengapa band “malas” macam Pure Saturday ini masih saja dinanti. Seperti yang mereka bilang dalam lirik Buka, “Kita tak sendiri…”

16/5/2012 23:07

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *