Asa dari Indomaret

Setia Band aja mas. Lagi promo. Bagus lagu-lagunya…

Kalau anda mengira obrolan tadi terjadi di toko kaset dan CD seperti Disc Tarra, anda salah besar. Obrolan itu terjadi semalam. Saat saya sedang membeli susu di….Indomaret. Ya Indomaret. Si mbak kasir tadi menawarkan CD album terbaru Setia Band, band bentukan Charli selepas dia lepas dari ST 12, saat saya hendak membayar CD yang saya beli. Dheg-dheg Plas. Album peralihan dari Koes Bersaudara ke Koes Plus seiring masuknya Murry menggantikan drummer sebelumnya, Nomo Koeswoyo.

Sebelumnya, saya juga pernah membeli CD di jaringan peritel waralaba yang sudah ada sejak tahun 1988 ini. Album Tribute To KLa Project. Saya dapatkan dengan harga 35 ribu. Pun sebelumnya Indomaret juga sudah lama menjual CD dan kaset . Kebanyakan band-band Top 40 yang tengah popular, kompilasi lagu anak-anak atau album karaoke. Mirip seperti yang dilakukan oleh jaringan department store asal Amerika Serikat, Wal-Mart. Namun musisi yang secara resmi menjadikan Indomaret sebagai jalur distribusi tunggal sepengetahuan saya ya baru KLa Project. Langkah Indomaret kemudian diikuti kompetitornya, Alfamart, yang memegang distribusi album kompilasi Bebi Romeo Mega Hits.

Banyak yang masih menganggap aneh dengan pola distribusi album seperti ini. Saya sendiri awalnya agak “gengsi” juga beli CD di tempat saya biasa belanja kebutuhan rumah. Tapi dalam masa penjualan album fisik yang kondisinya sudah sinting ini, distribusi album ini adalah plihan jitu. Jelas sekali, Indomaret mampu menjangkau hingga tingkat desa sekalipun lewat regulasi pembangunan mini market nan absurd. Paling tidak materi sebagus album Dheg-dheg Plas ini bisa dinikmati sampai pelosok. Selain itu, sebagai penyedia kebutuhan pokok sehari-hari, Indomaret pasti ramai didatangi ketimbang toko kaset dan CD. Yah asal penempatan produk dan promonya bisa sama dengan promo susu bayi atau minyak goreng, pasti banyak lah yang tertarik membeli. Saya yakin.

17/5/2012 6:30

16 Comments

  1. Manunggal Kusuma Wardaya Reply

    Deg Deg Plas memang album peralihan Koes Bers menjadi Koes Plus, akan tetapi harap diingat bahwa PLUS di sini bukan saja karena masuknya Kasmuri, melainkan juga masuknya Totok Adjie Rachman, yang jadi bassplayernya. Kelak kemudian, Totok digantikan Yok di volume selanjutnya. Jadi, Yok K adalah pendatang baru di Koes Plus.
    Salam

        1. Fakhri Zakaria Reply

          Iya, di Indomaret Volume 2 juga ada. Dijual terpisah. Tapi sepertinya pramuniaga-nya gak tau berhargaya album-album tadi. Kurang gigih buat nawarin, gak kayak pramuniaga KFC :p

          1. Manunggal Kusuma Wardaya

            ada yang memang harus ditawarkan, dan ada yang tidak, jadi bukan soal mereka tahu berharga atau tidak suatu album. Kalaupun berharga sedangkan itu di luar job description mereka, nggak ada pengaruh buat salary mereka juga ngapain mereka nawarin, ya nggak. Koes itu sekedar konsinyasi aja, sedangkan CD2 KFC memang bagian dari produk KFC. Saya tadi di Indomaret cukup gigih ditawari CD Gamma, walau saya enggak mau.

          2. Fakhri Zakaria

            Saya setuju soal itu. Memang polanya beda antara Indomaret dan KFC. Ya memang pilihan penuh resiko untuk distribusi CD lewat jaringan ritel seperti Indomaret.

            Satu sisi ini pola nggak umum dan beberapa menganggap pola seperti ini membuat nilai dari album tadi “turun kelas”. Teman-teman saya gengsi lho masuk Indomaret untuk sekedar beli album ini. Tapi kalo dikembalikan ke jaringan distribusi, siapa yang bisa menyangkal kekuatan penetrasi pasar Indomaret?

  2. Manunggal Kusuma Wardaya Reply

    Saya nggak tau ini resmi atau tidak, tapi bahkan Teuku Wisnu saja jualan semacam VCD (atau CD ya) lewat Pom Bensin (saya menjumpai “tawarannya” di sebuah Pom Bensin di kawasan Magelang beberapa hari lalu. Nah teman anda yang gengsi itu (semoga mereka pada baca) tantang saja untuk beli Koes Plus di record shop. Kalau masih ada, harganya 50 ribu kok, bedanya dengan Indomaret, di record shop (Disc Tarra misalnya) ada bookletnya, dan kalau tidak salah covernya agak keras, nggak soft seperti Indomaret yang bandrolnya hanya 20 ribuan. Kalau mereka enggak mau beli juga, berarti bukan soal gengsi, tapi sebagai dalih ogah beli fisik, penyakit umum hampir semua generasi sekarang, dan generasi masa lampau yang mau praktis dan murah doang.

    Saya sendiri nggak merasa perlu yang 50 ribu itu, toh kisah Koes Plus dan album ini sudah lebih cukup dari tahu.
    Oh ya saya menulis beberapa hal soal Koes Plus di wordpress saya ini:
    http://nadatjerita.wordpress.com/
    Kalau anda ketik KOES PLUS di search engine, akan ketemu beberapa tulisan.
    Salam

  3. Fakhri Zakaria Reply

    Soal Teuku Wisnu itu resmi kok mas. Saya juga nemu spanduknya di SPBU di Kuningan, Jakarta. Soal album Koes Plus, bagusnya, temen-temen saya yang gengsi tadi begitu tau kalo album Koes Plus tadi dijual di record store dengan gimmcik yang lebih wah, mereka lalu berbondong-bondong beli. Kebetulan mereka memang kolektor album fisik terutama plat.

    Kalo buat saya pribadi sih apapun itu poila distribusinya, rilis ulang album-album semacam album Koes Plus tadi langkah yang sangat menggembirakan ditengah kacaunya pengarsipan musik dalam negeri. Ngenes aja tiap masuk record store bisa dengan mudah nemu boxset Queen misalnya.

    Terima kasih link blognya. Saya follow sekalian kalo ada info album-album Koes Plus. Kebetulan yang ngefans berat itu bapak saya. Dulu koleksi kasetnya lumayan lengkap sebelum raib gara-gara mobil keluarga dijual dan semua koleksi kasetnya ada disitu.

    Salam,

  4. Manunggal Kusuma Wardaya Reply

    yaya, untuk Teuku Wisnu saya tadi tidak begitu yakin, maklum hanya sekilas melihat waktu mengisi bensin, dan itu lebih aneh lagi karena jualan musik di tempat jual minyak petrol. Bisa juga mereka kalau memang gengsi beneran untuk cari rilisan Sublime Frequencies, kan ada tuh, dibundel volume satu dan dua dalam satu CD, rilisan Amerika. Termasuk juga Koes Bersaudaranya sekalian, bundel album Guilties dan Domba. Volume 1 Koes Plus dirilis dengan cover seperti adanya Piringan Hitam dengan harga yang superterjangkau sebenarnya jauh lebih parah dari sekedar mimpi menjadi nyata. Hampir tak terbayangkan akan terjadi. Saya sendiri yang sudah ada dobel kasetnya (baik yang bundel volume 1 dan 4 serta bundel volume 2 dan 3) maupun plat vinyl nya yang pula dobel (ada dua volume 1), masih beli setidaknya 5 keping volume ini juga volume 2 nya. Sayang aja item nan ikonik ini dilewatkan..

  5. chris Reply

    wah menarik percakapannya…numpang nanya ada data gak hasil jualan KLA Project, Koes Plus, Bebi romeo dll yg lewat indo/alfa mart ? Kalau yg lewat KFC kan su luar biasa besarnya, yg saking luar biasanya mereka suka ngumumin kalau Band ini, Band itu dan Band anu berhasil jual 500rb cd dalam waktu 3 bulan. Bayangkan jual cd sebanyak itu di tengah kondisi industri musik (jualan karya musik secara fisik) yg luar biasa sulit dalam waktu cuma 3 bulan

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Data penjualan album musik, mau itu yang dirilis oleh label rekaman konvensional (Sony, Musica, Warner dsb.), label rekaman independen, juga yang model seperti KFC sulit diakses sama publik. Ini udah rahasia umum. Ga ada hitungan pasti album laku berapa. Cuma ada misalnya album So7 laku sekian keping lalu dapet platinum, tapi gak ada angka detail. Hal ini dilakukan salah satunya untuk ngehindarin pajak

  6. Tomy Reply

    Kalo saya pertama dan tekhrair kali naik kereta api, saat ada walimahan salah satu takmir masjid di Blitar, saat itu kondisinya belum sebagus sekarang ini (seperti cerita ente) hasil pembenahan dari PT. KAI, dulu beli tiket langsung di stasiun, nunggu di pinggir rel, berdiri dengan kondisi penumpang bejubel, bahkan ada yang berdiri di dalam toilet, belum lagi pedagang asongan, .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *