I’m With The Band

Selama seminggu kemarin  saya belajar banyak hal tentang kecintaan terhadap band idola.

Ya seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya seminggu kemarin saya berkesempatan menonton konser tunggal dua band idola saya. Sekali lagi konser tunggal. Bukan konser yang hanya menampilkan band-band idola saya sebagai salah satu pengisi acara. Namun semuanya saya datang dengan kapasitas berbeda meskpun tetap tidak bisa lepas dari kenyataan bahwa saya adalah fans mereka.

***

Tahun 2007 adalah saat saya mengenal Pure Saturday. Secara tidak sengaja. Siang yang panas di kampus UGM Bulaksumur ditambah saya sedang bosan nongkrong di kampus membuat saya memilih ke sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bulaksumur Pos. Kondisi yang sepi karena anak-anak yang lain sedang jam kuliah (kecuali saya yang waktu itu malas kuliah dan ke kampus) membuat saya bisa leluasa mengutak-atik komputer milik bersama. Saya iseng membuka folder-folder titipan teman-teman saya. Sampai akhirnya saya secara random membuka folder milik Vando, sesama anak redaksi.

Karena kebetulan bosa dengan lagu-lagu itu melulu, saya iseng menaruh satu folder berjudul Pure Saturday (PS) di Winamp. Setelah itu kamu pasti tahu efeknya kan. Saya jatuh cinta pada mereka. Saya selalu bersemangat menceritakan PS pada teman-teman saya. Tambah semangat jika ternyata ada teman saya yang tahu. Sampai-sampai saya dibilang kamus berjalan soal PS.

Gig pertama saya dengan PS di Indiefest tahun 2008. Saat itu mereka jadi salah satu pengisi di acara yang diadakan di Jogja Expo Center. Saya mengetahuinya saat saya KKN, di warnet dengan kecepatan alamakjang di pedalaman Sleman. Eh gak telalu pedalaman juga sih. Supaya saya bisa nonton konser dengan tenang, sebagai koordinator bidang saya meminta semua laporan harus masuk ke saya H-2 sebelum konser hahahaha.

Hari H tiba. Saya memakai kostum bikinan sendiri. Kostum yang  dibuat ala kadar sebenarnya. Hanya kaos oblong dicat dengan cat minyak. Sudah pasti luntur kalau kena air. Tapi memang sengaja karena setelah konser itu saya akan menyimpan kaos tersebut. Tulisannya salah satu judul lagu PS. Langit Terbuka Luas Mengapa Tidak Pikiranku Pikiranmu. Sebetulnya dibuat untuk presentasi tugas mata kuliah tentang video mural, sekaligus…nyindir kecengan saya hahahahaha.

Selama konser saya mungkin jadi satu-satunya yang heboh sendiri. Bernanyi-nyanyi kegirangan sampai Iyo si vokalis dan gitaris Adhi senyum-senyum ke saya. Tapi sayang hanya empat lagu. Ya sudah saya pulang sebelum saya punya ide nekad saat melihat Iyo sedang santai minum bir kaleng di backstage. Berkejaran dengan satpam yang lengah saya sampai duluan di bibir barikade dan teriak memanggil namanya. Iyo tersenyum simpul dan berjalan ke arah saya. Salaman dan minta membubuhkan tanda tangan di kaos saya. “Mau tanda tangan yang laen gak ?,” yang dijawab saya dengan anggukan. Sayang kaosnya sekarang malah hilang 🙁

Saya lalu mencoba mendukung PS dengan cara yang saya bisa. Membeli album rilisan mereka yang masih ada, Time For A Change Time To Move On serta Elora. Datang ke konser mereka, juga membeli merchandisenya. Kaos PS pertama yang saya beli adalah seri Adalah Jejak dan Arah,. Meski agak kebesaran namun saya tetap memakainya ke kampus diiringi senyuman teman-teman. “Wah gila pakai kostum kebesaran nih…”. Kebesaran dalam dua arti hahaha.

Empat tahun kemudian saya berada di depannya dalam jarak tak lebih dari semeter. Saya dan PS bukan lagi sebagai penonton dan yang ditonton. Saya menulis dan PS adalah obyek tulisan saya. Konser Djakartartmosphere 2011 adalah saat dimana saya memberi dukungan untuk PS lewat cara yang berbeda dengan sebelumnya. Lewat tulisan.

***

“Woy piye kabarmu?Adikmu kok ra melu? Sesuk do nonton to ?,” (Hai gimana kabarmu?Adikmu kok gak ikut? Besok kalian nonton juga kan?). Duta, vokalis Sheila On 7, langsung tersenyum begitu saya menemuinya sebelum dirinya melakukan gladi resik untuk konser tunggal ulang tahun ke-16 mereka di Yogyakart kemarin. Dia masih ingat saya rupanya. Juga adik saya yang kebetulan Sheila Gank (sebutan untuk fans Sheila On 7). Padahal 13 tahun lalu saya hanya bisa terkagum-kagum mendengarkan mereka di kaset dan melihat penampilannya di layar kaca.

Saat itu, seperti juga remaja-remaja tanggung lain, saya menjadi penggemar Sheila On 7. Karena orang tua tidak mengijinkan saya beli kaset yang “isinya lagu-lagu cinta”, saya mencari kaset kosong dan merekam lagu Dan yang fenomenal itu di tape recorder.

Beruntung tidak berselang lama saya dapat tambahan duit dari kerjaan sampingan. Mengerjakan PR teman yang malas tapi tajir setiap minggu. Upahnya 20ribu. Pulang sekolah saya langsung ke toko kaset. Membeli album selftitled Sheila On 7 yang saat itu harganya kalau tidak salah 14 ribu. Sampai di rumah langsung saya putar di kamar. Yeahhhhh…saya sudah remaja hahahahaha. Faktor bahwa mereka adalah orang Jawa dan berasal dari Jogja yang dekat dengan kampung saya di Muntilan adalah alasan berikutnya.

Pun sebetulnya saya juga sempat malu menjadi penggemar mereka. Yah waktu itu sedang demamnya musik-musik hip metal dari Linkin Park dan Limp Bizkit. Selain itu teman sebangku saya di SMP juga gak suka saat dia tahu website Sheila On 7 saat itu bernama sheilasonic. “Apaan nih ngikutin Supersonic-nya Oasis,” katanya. Tapi di rumah sih tetep…..saya muter kaset Sheila On 7 lagi hahahaha.

Sampai tahun 2009. Kawan akrab saya yang sekarang jadi pengajar di Indonesia Mengajar, Ardi Wilda (AW) mengirim saya sebuah pesan singkat. Kira-kira isinya dia mau bikin film dokumenter untuk diikutkan seleksi Festival Film Dokumenter (FFD) . “Kita mau ngangkat Sakti ex. Sheila On 7, Jak. Dan sebagai fans kamu harus ikut, Jak”. Tawaran yang tanpa pikir panjang langsung saya iyakan.

Syuting pertama saya, AW, Yoggi dan Dwi sama-sama gugup. Kami akan mewawancarai band yang jadi idola saat kami remaja sampai hari ini. Tapi begitu kami bertemu Duta dan Eross semua kesan rockstar seolah hilang. Duta menemui kami setelah mengantar anaknya dengan VW Combi-nya. Hanya memakai kaos dan celana pendek dan besendal jepit. Selesai acara dia malah mengajak kami main Play Station. Sementara Eross juga menemui kami dengan wujud yang sama dengan Duta. Satu yang kami sesali, saking gugupnya kami lupa minta foto bareng padahal sudah berangan-angan sejak tahap pra-produksi hahahaha.

Sakti jelas berubah. Semua tahu dia kini aktif dalam kegiatan agama. Tapi saat syuting di kediamannya, dia sempat mengomentari kaos Pure Saturday yang saya kenakan. “Pure Saturday masih ada ya?,” tanyanya. Film kami gagal lolos kurasi FFD. Tapi kami yakin, inilah salah satu capaian terbaik kami. Setidaknya semasa kuliah.

Saya lalu bertemu lagi saat mereka manggung di pensi sebuah SMA di Bogor tahun lalu. Kali ini saya mewawancarai mereka untuk Rolling Stone Indonesia Online seputar album ternayar mereka, Berlayar. Saya mengajak adik saya untuk mengambil foto. Duta masih ingat saya, sementara Adam sedikit bertanya kenapa saat penggarapan dokumenter itu dia tidak diajak wawancara mengingat dia sahabat Sakti. Yah jujur sih kami lupa. Tapi pertimbangan kami saat itu adalah faktor Duta dan Eross sebagai frontman.

Setelah wawancara itu adik saya juga sering mengabarkan ke saya kalau Duta sering menanyakan kabar saya. Maklum adik saya juga sering menyambangi markas mereka untuk mengurusi teman-temannya yang ingin menjadi anggota Sheila Gank.

Dan sejak mendengar kabar mereka akan menggelar konser ulang tahun, saya memutuskan untuk menonton. Ternyata belum ada yang meliput konser ini. Saya pun mengajukan diri ke editor saya di Rolling Stone Online mas Wendi Putranto . Sayang sekali kalau konser ini tidak diliput mengingat kiprah mereka di industri musik Indonesia. Kebetulan juga ada editor lain, mas Hasief Ardiasyah yang akan meliput konser ini untuk tulisannya di majalah.

Saya kemudian berkesempatan mewawancarai mereka. Minus Adam yang tengah melakukan sound check. Saya menangkap mereka sudah sangat dewasa. Jauh dari kesan “ringan” seperti lagu-lagu mereka.  Hasil wawancara dan laporan konsernya ditunggu saja ya 😀

***

Jangan anggap pekerjaan meliput konser band idola itu enak. Justru sebaliknya. Saya harus meredam ego saya sebagai fans agar bisa menghasilkan tulisan yang seobyektif mungkin. Saya akui saya masih sulit melakukan itu. Yah walaupun juga sangat membantu untuk dapat tanda tangan eksklusif di setlist hahahaha. Tapi sekali lagi ini susah.

Semalam, ketika baru masuk venue konser saya terkesima banyaknya Sheila Gank yang sudah memadati Grand Pacific Hall, tempat konser berlangsung. Ketika Duta cs. memulai penampilan, mereka berteriak kencang, ikut menyanyi dengan antusiasme tinggi. Saya hampir saja menangis saat itu melihat bagaimana band idola saya sangat dicintai penggemarnya disaat banyak band-band baru bermunculan. Tetapi saya buru-buru sadar bahwa saya saat itu sedang bekerja.

Juga di akhir konser. Seperti biasa saya berburu setlist dan dapat. Saya sebetulnya ingin melegalisir setlist tadi. Ijin ke panitia atau ikut mas Hasief ke backstage. Tapi saya ingat pesan editor saya di Jakartabeat yang mengutip perkataan Lester Bangs. Begini kutipannya

“You cannot make friends with the rock stars. That’s what’s important. If you’re a rock journalist: first, you will never get paid much. But you will get free records from the record company. And they’ll buy you drinks, you’ll meet girls, they’ll try to fly you places for free, offer you drugs. I know. It sounds great. But they are not your friends. These are people who want you to write sanctimonious stories about the genius of the rock stars…”

Tapi yang jelas saya bangga bisa mendukung band idola saya. Dengan cara yang saya bisa.

Judul diambil dari judul buku I’m with the Band: Confessions of a Groupie karangan Pamela des Bares, gruopie yang pernah mengencani Frank Zappa, Jimmy Page hingga Mick Jagger.

20/5/2012 15:05

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *