#LearnsToPop

Hanya karena mereka band mainstream, pop pula, kita jadi malu ngaku kalau kita suka lagu-lagunya….

Merasa seperti itu? Sama. Yah memang gara-gara si Komo lewat kita suka menutup-nutupi kenyataan kalau band mainstream itu busuk dan band so called indie itu keren. Padahal mainstream belum tentu jelek dan indie kadang juga ada yang busuk.

Well, saya tidak mau perdebatan ini berlarut-larut. Seperti FPI yang sungguh selo mengurusi Lady Gaga. Padahal lebih baik kita makan sarden Gaga supaya nutrisi tercukupi. Tapi mengapa saya meributkan ini?. Tak lain karena saya selo #ngomongopotoh

Ya, kekuatan band-band pop mainstream adalah kemampuannya menjerumuskan alam bawah sadar kita supaya tiba-tiba menyanyikan lagu mereka. Padahal kita benci setengah mampus. Siapa yang suka tiba-tiba bersenandung P.U.S.P.A bersama bang Charli atau bingung Mau Dibawa Kemana sama Rizal Armada? *meringkuk di pojokan.

Tapi memang untuk kasus yang berbeda tentu ada band-band pop mainstream yang punya materi lagu yang apik.

Oleh karena itulah saya mengundang tokoh-tokoh yang disebut-sebut oleh tim survei pimpinan Sony Tulung sebagai kaum hipster untuk menulis band/musisi pop mainstream. Saya mendapat wangsit dari Denmark untuk menamai kegiatan ini #LearnsToPop

Beberapa nama yang sudah berpartisipasi adalah :

  • Taufiq Rahman. Editor The Jakarta Post dan salah satu founder situs yang kini ramai diperbincangkan di sudut-sudut kafe dan warteg, Jakartabeat. Baginya definisi musik bagus adalah apa yang dimainkan The Walkmen, The Strokes juga Vampire Weekend. Tapi pria yang suka mengoleksi piringan hitam sampai piring nasi rames ini tiba-tiba ingin menulis…..sabar-sabar bioskopnya belum buka….Cherry Belle.
  • Nuran Wibisono. Penulis berbakat Jakartabeat.net yang hanya mengenal band-band hairmetal seperti Guns N Roses dan Motley Crue di kitab musiknya. Produk terbaik yang pernah dihasilkan Jember selain Anang Hermansyah itu menulis tentang Peterpan
  • Arman Dhani.  Salah satu dari sedikit mahasiswa Indonesia yang pernah dibimbing langsung oleh empu jurnalisme sastrawi Andreas Harsono. Hobinya berwacana mulai dari Karl Marx, Theodor Adorno, Chuck Norris hingga Rano Karno. Pria yang disukai pria dan wanita namun dibenci dosen pembimbing skripsi ini menulis kisahnya bersama Sheila On 7

Selain tiga nama tadi, saya juga sedang menebar tantangan kepada :

  • Adi Renaldi. Sarjana Sastra dari Jogjakarta. Mengagumi Ian MacKaye, Truman Capote, Walter Lippmann, dan Joseph Pulitzer. Fans berat Mastodon. Tapi dia tak kuasa untuk membendung godaan menulis ST 12
  • Idhar Resmadi. Muda dan terkenal. Sungguh gambaran pria ideal masa kini. Mantan Pemimpin Redaksi Ripple Magazine dan sempat menjadi jurnalis di Trax Magazine. Pernah menerbitkan satu buah buku Music Records Indie Label (Dar Mizan, 2008). Kak Idhar akan menulis Padi.
  • Harlan Boer : Duta besar indies Ibu Kota. Petinggi Jangan Marah Records yang menjadi rumah bagi Efek Rumah Kaca. Pernah tergabung dengan beberapa kelompok musik, di antaranya: Room V, Full of Shit, The Upstairs, dan C’mon Lennon. Fans berat Morissey ini akan menulis Dewa 19

Nah kalau you-you mau ikutan juga gampang. Tinggal pilih satu band/musisi pop mainstream Indonesia. Harus Indonesia ya soalnya otak saya mentok disitu. Yang dikontrak label gede plus rajin menyambangi kamu setiap hari di TV, radio, majalah sampai alam mimpi. Gak perlu sebut nama lah ya, kan udah pada gede semua. Jangan lupa kasih tagar #<nama kamu>LearnsToPop, kayak #BrotosenoLearnsToPop atau #RizieqLearnsToPop.  Follow juga Twitter saya di @masjaki. Gampang kan? semudah saya ngupil. Mau upil saya? Kalo gak mau cepet bikin tulisan !

2 Comments

  1. coratcoretadiitoo Reply

    Anj*********nnnggg*****. Bener banget. KAdang sok-sok-an malu mengakui. tapi giliran mereka main di TV, mulut ikutan nyanyi, kepala ikut geleng-geleng. Hahaha. Gw ikutan, ah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *