Warung Kurang Ajar

Benar kata Mamah Dedeh, jangan selalu tertipu tampilan luar. Eh ini yang bilang mamah Dedeh bukan sih? ah pokoknya mamah lah…

Seringkali pertimbangan kita makan di warung adalah harganya yang murah ketimbang makan di resto gedongan. Apalagi kalau warungnya adalah warung kaki lima. Lupakan soal higienitas. Love is cinta. Lapar is ngelih.

Tapi lambat laun warung-warung ini sering kurang ajar.

Dulu waktu kecil di Muntilan saya punya warung langganan untuk cari sarapan. Tetangga-tetangga saya juga. Menunya sih sederhana. Tapi ini rasanya endang s taurina alias enak sekali tak terkira.

Lambat laun kelezatan warung ini semakin terkenal. Bukan hanya warga sekitar warung yang jadi langganan, tapi juga dari luar kota. Sebagian besar juragan-juragan bermobil kinyis-kinyis.

Kalo dulu tiap makan disana disambut riang gembira sama yang punya warung, sekarang sebaliknya. Mbesengut. Boro-boro disapa, ditegur saja tidak. Bukan cuma saya, tapi juga tetangga-tetangga saya yang sering beli sarapan disitu. Ya memang kami memang tidak beli dalam jumlah banyak seperti juragan-juragan itu yang sekali makan bisa berpiring-piring lauk. Kami cuma beli secukupnya untuk sarapan pagi.

Perlakuan berbeda diberikan untuk juragan-juragan. Senyum manis gak pernah lepas. Layanan cepat dan tangkas. Sementara kalau kami membeli pas bareng mereka ya harus rela nunggu giliran kesekian bonus wajah mbesengut tadi.

Mungkin pelayannya kasihan pada kami. Sehingga mereka berbaik hati melayani kami saat juragan-juragan tadi belum datang sarapan. Tepatnya setelah selesai solat Subuh sebelum pukul setengah 6 pagi. Porsinya pun diberi sedikt bonus. Tapi si pemilik warung lama kelamaan tau. Warung pun ditutup rapat-rapat.

Dengan makin banyaknya pilihan sarapan pagi, sekarang kami mikir dua kali beli di warung kurang ajar itu.

26/5/2012 22:22

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *