Ngabaso! Nu Lada!

Meskipun saya orang Jawa tulen, tapi separuh umur saya yang *rahasia demi kemaslahatan bangsa* ini dihabiskan di tanah Sunda. Tepatnya di Bogor.

Lamanya berinteraksi dengan urang Sunda membuat saya sedikit banyak tahu kebiasaan mereka. Salah satunya nongkrong tiap sore atau istilahnya ngaburu beurit disingkat ngabuburit atau cari sore. Istilah ini sebetulnya berlaku umum untuk segala aktivitas nongkrong di sore hari selepas kerja. Mulai cuma sekedar kumpul melepas lelah atau sekalian cari jodoh. Tapi dalam beberapa tahun belakangan ngabuburit adalah seluruh aktivitas yang dilakukan untuk menunggu waktu berbuka di bulan Puasa di hampir seluruh tempat di Indonesia.

Salah satu yang sering dilakukan saat ngabuburit, terutama oleh kaum wanita Sunda, adalah jajan. Dan jajanan yang paling laris adalah bakso, atau di lidah Sunda, baso. Saya masih belum mengerti kenapa ragam penganan yang asalnya dari Tiongkok ini bisa jadi primadona.

Di kampung dekat rumah saya, setiap sore paling tidak ada dua tukang bakso yang mangkal. Tiap saya lewat Sabtu atau Minggu sore dalam rangka panggilan dinas (baca: wakuncar), si mamang bakso tadi selalu dipenuhi eneng-eneng, teteh-teteh, eceu-eceu, emak-emak hingga nini-nini yang ngabaso. Semuanya terlihat menikmati betul bola si mamang. Eh…maksud saya bulatan baso racikan si mamang. Dengan kuah merah hasil eksperimen saos botolan murahan dan bibir megap-megap kepedesan, lupakan dulu lah soal kebersihan dan kesehatan.

Baso! Nu lada! (Bakso! Yang pedas!)

28/5/2012 22:10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *