Iyeeee….

Saya punya cara gampang menilai sesorang sebagai pemerhati musik. Bukan banyaknya koleksi CD atau plat. Atau bagaimana dia begitu paham luar dalam terhadap nama-nama band asing yang bahkan baru pertama kali saya dengar sesudah dia berbicara. Tapi coba tanyakan dia tentang beberapa nama yang melintang di ranah  pop mainstream Indonesia.

Premis saya sederhana. Saking sederhananya saya yakin pasti akan menimbulkan perdebatan. Pop Indonesia, apalagi yang masuk dalam gelombang arus utama, sangat dekat pada keseharian kita. Diputar setiap hari di radio dan televisi. Saking seringnya kita terpapar, seringkali alam bawah sadar kita ikut terbawa meski di lisan kita mati-matian mengelak.

Jadi kalau sampai sama sekali tidak tahu, saya boleh dong bilang kelewatan 😀

Jauh sebelum saya jadi fans Indonesian indie darling band Pure Saturday, sejak jabang bayi saya sudah mengkonsumsi musik pop arus utama Indonesia. Bapak saya pecinta Koes Plus, meski kini sisa-sisanya tak ada seiring raibnya koleksi kaset-kaset beliau saat mobil milik keluarga dilego. Sedang ibu saya adalah pendengar Ebiet G. Ade sambil sesekali diselingi Franky & Jane dan Rien Djamain. Sampai sekarang keduanya masih jadi pendengar lewat bentuk rekaman digital disela-sela pekerjaanya mengajar di sebuah pesantren.

Saat balita dan masih tinggal bersama keluaerga besar dari pihak ibu di Muntilan, saya sudah didengarkan musik-musik pop era 80an akhir. Mulai dari Michael Jackson, Roxette, sampai Trio Libels. Menginjak SD, kesukaan saya pada musik pop Indonesia makin menjadi. Selain radio dan televisi, yang saat itu masih memiliki program bagus seperti Video Musik Indonesia atau Delta, saya juga mulai diperbolehkan membeli kaset saat menginjak kelas 6. Sebelumnya oleh bapak saya tidak diperbolehkan. Alasannya, “lagu-lagu cinta”.

Adik ibu saya, karena saking akrabnya saya memanggil dia “mas”, adalah sosok yang mengenalkan saya lebih jauh pada keragaman musik pop Indonesia saat saya menginjak SMP. Saat itu dia tinggal bersama keluarga saya di Bogor karena melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia, Depok. Dia membawa seluruh koleksi kaset-kasetnya dari Muntilan. Dari dia, saya yang waktu itu referensinya hanya terbatas di Sheila On 7, Padi dan Dewa 19, diperkenalkan pada nama-nama seperti KLa Project, Java Jive, Jikustik,  serta Kahitna. Tapi gengsi saya yang terlalu tinggi saat itu mengatakan musik-musik seperti itu hanya cocok didengarkan kaum hawa. Terutama Kahitna. Mas saya tadi hanya bilang kalau suatu saat omongan saya akan berbalik.

Dan perkataaanya benar.

Saat SMA saya tiba-tiba suka Kahitna. Alasan utamanya sangat cheessy. Saat itu saya sedang penjajakan hubungan dengan seorang perempuan. Dan lagu-lagu Kahitna seperti jadi anthem maju ke medan perang.

Saya menyebut band yang formasinya Yovie Widianto (piano, keyboard), Mario Ginanjar, Hedi Yunus Carlo Saba (vokalis),Dody Is (bass),Harry Suhardiman (perkusi), D. Bambang Purwono (keyboard), Budiana Nugraha (drum), dan Andrie Bayuaji (gitar) ini sebagai band jujur.

Sejak muncul 24 Juni 1986 silam, band yang mencampur pop dengan jazz, fusion dan bubuhan sound etnik ini konsisten dengan lirik-lirik cinta yang renyah dan catchy. Begitu juga dengan penampilan mereka. Sekarang ini banyak band-band yang sepintas sangar, rambut gondrong dengan hiasan tindikan serta baju hitam-hitam tapi lagunya macam ini, ”buukaa hatimuuu…bukalah sedikit untukku..” Ibaratnya dari Jogja mau ke Semarang tapi menempuh arah ke Bangkalan dulu, jauh kemana-mana. Kembali lagi ke Kahitna lagi, jadi ya kloplah antara musik sama outfit. Dalam bahasa humasnya, ada image congruency, kesesuaian antara citra yang diharapkan muncul di mata publik dengan kenyataan sebenarnya.

Kahitna merintis karir musikalnya dari kafe-kafe di kota Bandung. Nama Kahitna sebetulnya adalah plesetan dari bahasa Sunda, dari awalan “ka” dan akhiran “na” yang mengiring kata bahasa Inggris, ‘hit”. Jika digabung jadi Kahitna artinya yang paling hit.

Dulu nama Trie Utami sempat masuk dalam line up vocal. Namun ketika merilis album pertama, Cerita Cinta yang dirilis tahun 1994, formasinya adalah Yovie Widianto (piano, keyboard), Roni Waluya, Hedi Yunus Carlo Saba (vokalis), Dody Is (bass),Harry Suhardiman (perkusi),D. Bambang Purwono (keyboard),Budiana Nugraha (drum), dan Andrie Bayuaji (gitar). Lagu andalannya adalah Cerita Cinta, yang juga kemudian membuat lengkingan kata ”Iyeeeeeeee…” menjadi ciri khas.

Album kedua dirilis dua tahun kemudian. Lewat lagu Cerita Cinta yang jadi awal bahasan dengan kawan-kawan saya tadi, nama Kahitna makin berkibar. Selain lagu ini, ada pula lagu Andai Ia Tahu yang dulu video klipnya selalu saya tunggu sebelum berangkat sekolah siang. Videonya lucu, talentnya Maudy “Zaenab” Koesnaedi yang yang dikagumi secara diam-diam oleh Dody Is.

Dua tahun berselang Kahitna merilis album Sampai Nanti. Sebelum album ini dirilis, Roni Waluya mengundurkan diri pada tahun 1997, tapi sepertinya yak terlalu jadi masalah. Sekarang Roni Waluya sudah mapan kerja di sebuah perusahaan asuransi selain kadang-kadang muncul sebagai presenter.

Lagu yang saya suka adalah Setahun Kemarin yang diciptakan oleh Carlo Saba. Lagu dan aransemennya sama-sama asyik. “Diujung jalan itu setahun kemarin, ku teringat ku menunggumu bidadari belahan jiwaku…”. Beda kan lagu cinta yang dinyanyikan sama anak SD tahun 90an sama anak SD jaman sekarang?.

Masuk millennium baru Kahitna merilis album Permaisuriku sebagai album keempat. Not bad but nothing special. Tiga tahun berselang, album the best dirilis.

Tidak berselang lama, tahun 2003 Kahitna melempar album Cinta Sudah Lewat. Kali ini ada tambahan tenaga di departemen vocal dengan masuknya Mario Ginanjar, jebolan Asia Bagus. Tahun 2006, Soulmate muncul sebagai album keenam disusul Tak Sekedar Cantik yang keluar di penghujung 2009.

Kalau dilihat dari personelnya, Kahitna termasuk band yang jarang gonta-ganti pemain. Mungkin karena tiap personel punya kesibukan sendiri-sendiri jadi mereka selalu merasa kangen setiap berkumpul. Ya kayak pacaran gitu lah, kalo lagi jauh kan bawaannya kangen terus hehehe. Vokalis Hedi Yunus moncer dengan album solonya, sudah ada tujuh album sampai sekarang. Yang paling diingat Suratku yang dirilis tahun 1995. “Kutahu pasti hatimu tau walau tak baca suratkuu…” Sekarang dia jualan pewangi tubuh untuk kaum adam. Hedi Yunus For Men.

Yovie Widianto dikenal sebagai penulis lirik handal, juga moncer mengorbitkan penyanyi macam Bening, Audi, Rio Febrian, Astrid, hingga Monita Tahalea. Dia juga punya proyek sampingan di Yovie and The Nuno yang dibentuk sejak 2001.

Bassis Dody Is juga punya kesibukan sebagai produser. Setelah menggarap Base Jam di album Bukan Pujangga dan Shaden, Doddy Is adalah orang dibelakang layar Kotak, band rock yang terkeenal setelah jadi juara di ajang Dreamband tahun 2004. Dan personel terakhir yang saya tahu punya sideproject yang tak jauh dari musik adalah gitaris Andrie Bayuadjie yang terlihat di Humania serta album Reborn-nya Indra Lesmana.

Ah, Kahitna membuat saya selalu merasakan indahnya cinta di setiap lirik lagunya…iyeeeeee

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *