When Mainstream Goes Indie

Setelah kemarin sibuk memprovokasi massa hipster untuk ikut program #LearnsToPop sekaligus menyelesaikan tulisan panjang tentang band favorit saya Pure Saturday untuk situs Jakartabeat.net, akhirnya saya bisa selo nulis lagi.

Beberapa waktu lalu saya membaca berita yang berseliweran di layar kaca. Salah satu band pop, D’ Masiv baru saja mengeluarkan album terbarunya, Persiapan. Saya sih gak penasaran karena gak minat sama musiknya. Apalagi waktu dengar single-nya yang berjudul Natural. Ah, Ryan cs. masih belum banyak berubah.

Justru faktor di luar sisi musikal yang membuat saya tertarik. Mereka akan menjual albumnya secara langsung ke penggemarnya. Kabarnya karena mereka puyeng menghadapi pembajakan.

Sebelumnya, GIGI pada tahun 2009 memutuskan untuk menjadi band independen. Lepas dari label sebelumnya Sony Music Indonesia. Kini mereka bernaung dibawah label bentukan sendiri, Pos Entertainment yang juga menaungi Tohpati, Lusi Rahmawati serta Omelette. Untuk keperluan distribusi mereka menggandeng label besar Universal.

Jika anda biasa bergaul dengan komunitas musisi independen, hal seperti ini bukan sesuatu yang baru.

Sistem penjualan langsung acap dilakukan musisi-musisi independen. Di setiap gig selalu ada lapak yang menjual album dan merchandise. Selain itu juga mereka menitipkan ke lewat distribution outlet. Mirip lah dengan pabrik kerupuk yang mengandalkan toko kelontong dan jaringan warung tegal untuk penjualan.

Yang jelas sih dengan metode seperti ini angka penjualan album bisa mudah diketahui. Tidak ada kucing-kucingan antara pihak label dengan musisi. Kalau yang ini sih udah jadi rahasia umum. Indikasinya gampang. Coba ada gak label gede yang mau ngasih akses ke publik tentang angka penjualan album mereka?

Sedangkan sistem titip edar seperti yang dilakukan GIGI sih kalo untuk musisi independen sudah sooooo yesterday. Metode seperti ini lebih menguntungkan si musisi, namun konsekuensinya mereka juga harus siap repot.

Purgatory sejak  tahun 2003 dengan bekerjasama dengan Sony Music Indonesia untuk distribusi album. The Brandals menitipkan peredaran album Audio Imperialis rilisan tahun 2005 di Warner Music Indonesia. Yang terbaru adalah Koil saat bekerjasama dengan Nagaswara untuk album Blacklight Shines On pada tahun 2010 lalu. Meskipun efek sampingnya Otong cs. harus rela berbagi panggung dengan Charli dan ST-12, tapi mereka bisa dapat exposure media yang kuat. Indikasinya mereka bisa wara-wiri di avara musik pagi.

Dengan cara titip edar, label praktis hanya bergerak di ranah distribusi materi saja mengingat mereka punya jaringan distribusi yang tentunya lebih kuat. Sedangkan soal produksi mutlak ada di tangan si musisi. Proses kreatif tidak lagi ada intervensi dari pihak label rekaman. Namun di sisi lain musisi juga harus bisa mengatur dirinya sendiri, mulai dari menentukan deadline produksi sampai kegiatan promosi.

Nah untuk musisi-musisi yang malas mengurusi dirinya sendiri, mereka lalu “menyerahkan” diri ke label untuk diasuh. Seperti babby sitter saja. Memang enak karena istilahnya si musisi tinggal rekaman dan manggung, tanpa dipusingkan soal tetek bengek produksi dan promosi. Tapi ingatlah, tak ada yang gratis di industri. Apalagi industri rekaman. Sekali musisi menyerahkan diri ke label, bersiaplah untuk diperkosa habis-habisan. Anda bisa membaca bagaimana label rekaman kini mempunyai strategi baru untuk diam-diam membunuh artisnya sendiri di tulisan Wendi Putranto ini.

Jadi apa kesimpulannya? Yang jelas jalur independen dengan segala kurang lebihnya terbukti menjadi rumah yang nyaman bagi para musisi. Jadi jangan pesimis kalau suatu saat nanti musisi-musisi arus utama yang sering masuk daftar hinaan itu akan ramai-ramai jadi independen.

Harapan saya sederhana. Mereka bikin musik bagus seperti musisi-musisi independen pendahulunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *