Java Festival dan Impian Festival Musik yang Ideal

Java Rockin’ Land, pergelaran musik rock terbesar di Indonesia saat ini, tahun ini dibatalkan. Cukup mendadak karena sebelumnya tidak ada indikasi festival garapan Dewi F. Gontha serta EQ Puradiredja dari Java Festival Production ini gagal digelar.

Dalam siaran pers, alasan pembatalan adalah jadwal pada yang  bertepatan dengan penyelenggaraan festival-festival musik lain di Eropa, Amerika dan Jepang .

Penyelenggara tidak mau mengambil resiko festival ini akan sepi pengunjung yang berujung pemberitaan buruk di dunia internasional terhadap festival musik rock yang diklaim sebagai yang terbesar di Asia Tenggara ini.

Saya ingat pernah bertanya via e-mail dengan mas Wendi Putranto, editor saya di Rolling Stone Indonesia Online, perihal festival musik yang ideal di Indonesia. Saat itu saya ingin membuat tulisan rada serius tentang festival musik di Indonesia. Ya karena sibuk ini itu akhirnya malah lupa.

Dan saat Java Rockin’ Land tahun ini dibatalkan saya buru-buru membuka arsip di akun e-mail saya. Masih ada.

Lepas dari soal pembatalan tadi, Java Rockin’ Land adalah jawaban dari minimnya tontonan musik yang bermutu di Tanah Air. Indonesia mempunyai rekam sejarah panjang dalam dunia konser dan showbiz. Mulai dari Festival Summer  ’28 (Suasana  Meriah  Menjelang Kemerdekaan RI ke-28), konser Deep Purple di Stadion Utama Senayan tahun 1978, yang sering disebut sebagai ledakan musik rock di Indonesia, sampai  konser Metallica di Stadion Lebak Bulus tahun 1993. Sayangnya semuanya meninggalkan catatan buruk. Rusuh.

Ben O’ Hara, penulis untuk situs The Biz, situs berbasis di Australia yang  berkonsentrasi pada isu-isu industri musik, menuliskan alasan utama orang menyambangi konser musik. “For leisure, social or cultural experiences outside the normal range of choices or beyond everyday experiences,” tulisanya dalam artikel berjudul Why Events Fail.

Dan  Dewi Gontha, EQ Puradierdja, serta bos mereka Peter F. Gontha dari Java Festival Production mampu menjawab kegelisahan itu. Tengok saja semua festival gelaran mereka. Mulai dari Java Jazz, Java Rockin’ Land, sampai Soulnation semuanya sukses.

EQ Puradiredja, yang dulu pentolan grup musik Humania, pernah berkata kunci kesuksesan dia adalah menyenangkan semua pihak. Memang susah, dan dia serta timnya berhasil melakukannya.”Festival musik bukan semata-mata hanya untuk hiburan. Namun yang terpenting bagaimana kami berusaha menyamakan derajat musisi Indonesia dengan musisi luar dengan treatment yang sama,” kata EQ.

“Festival musik yang ideal sebenarnya gabungan dari venue yang nyaman dan aman, fasilitas publik memadai, line-up artis yang keren dan variatif, sistem tata suara dan lampu yang bagus serta tiket yang terjangkau,” jawab Wendi Putranto, editor saya di Rolling Stone Indonesia Online, di e-mail yang saya terima. Menurutnya Java Rockin’land hampir mendekati kriteria yang ideal tersebut sebagai sebuah festival rock internasional yang digelar secara profesional dan cukup tepat waktu.

Saya sendiri baru sekali menyambangi Java Rockin’Land. Tahun lalu, saat The Cranberries memekakkan langit Ancol. Sebelum berhasil membawa band idola saya ini, Java Rockin’Land sebelumnya sudah berhasil menggaet nama-nama seperti Mr.BIG, Helloween, Arkarna, Good Charlotte, 30 Seconds To Mars, sampai Smashing Pumpkins.

Selain tata suara dan lampu yang ciamik serta deretan band-band ternama, Java Rockin’land memberikan saya kebutuhan pokok saat menonton konser: aman dan nyaman. Tak ada misil-misil batu, sandal jepit, sampai botol minuman berisi urin berterbangan di udara. Tak ada bendera-bendera, maaf sebut merk, OI dan Slankers berkibaran tanpa ampun. Tak ada senggol-senggolan berujung rusuh. Tak ada penonton jebolan. Tak ada kekhawatiran dompet dan ponsel amblas disikat copet. Pun masih ada sedikit bonus: banyak mbak-mbak cantik hilir mudik tak khawatir disiuli penonton-penonton iseng.

Ini adalah ”layanan” setimpal untuk saya yang saat itu membeli tiket pre-sale seharga 250 ribu rupiah untuk sehari pertunjukan. Bandingkan saat saya menonton konser musik gratisan. Waktu yang molor. Was-was barang bawaan digasak. Juga siap-siap melarikan diri kalau-kalau ada penonton kampungan yang membuat rusuh.

”Konser gratisan memang sanggup membunuh industri pertunjukan karena penonton menjadi dimanja dan hanya menjadi sasaran empuk dari promosi produk saja, bukan untuk ikut mengapresiasi musik,” ujar Wendi.

Dengan harga tiket diatas rata-rata, paling tidak penonton bisa dididik. Kalau mau menonton konser dengan nyaman ya belilah tiket. ” Dengan harga tiket yang diatas rata-rata itu tadi maka para penonton yang datang memang diharapkan penggemar berat bandnya atau memang ingin menikmati suasana yang menyenangkan bersama teman-teman sambil menonton konser. Kecil kemungkinan para pencari keributan beraksi di sana. Mereka sudah membeli tiket mahal dan datang untuk ribut? Nggak mungkin sepertinya,”

Hal lain yang membuat Java Rockin’ Land, juga festival-festival musik  buatan kongsi mereka, sukses adalah mereka mampu menenuhi kebutuhan kelas menengah baru Indonesia. Kebutuhan mengaktualisasikan diri, jika merujuk pada Piramida Kebutuhan Abraham Maslow. Maka jangan heran kalau Java Jazz penuh berisi sosialita Ibu Kota, yang mungkin membuat budak-budak kulit hitam di New Orleans sana heran campur takjub. Atau mbak-mbak di Java Rockin’Land yang justru sibuk berfoto dengan latar belakang panggung saat musisi sedang tampil kemudian buru-buru menyebarkannya lewat jejaring sosial.

Ya, inilah konser musik kita hari ini. Suka tidak suka, Java Festival Production berhasil melakukannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *