Tiga Tanda Band Semenjana

semenjana /se·men·ja·na/ a menengah; sedang

Jika industri musik diibaratkan rimba belantara, maka band-band ini masuk dalam kelas penghuni yang nasibnya tidak bagus-bagus amat. Dibilang mengenaskan tidak juga, namun dikatakan kariernya cemerlang rasanya jauh panggang dari api.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan musik mereka. Beberapa punya materi yang lumayan segar meski ada satu dua yang masuk kategori medioker. Tapi ya namanya juga bisnis, materi bagus tak cukup tanpa dukungan promo jor-joran bukan?. Dan satu lagi yang penting. Kejelian menangkap momen.

Tahun 1999 idola-idola musik yang ada lagi pada berantakan. Slank lagi kacau, Dewa vakum, GIGI tinggal Budjana sama Armand. Kalau aku bilang momennya pas dan materinya juga bagus

(Achdiyat Duta Modjo, Vokalis Sheila On 7)

Tanpa harus melongok lebih dalam, sebetulnya ada tiga tanda mudah menentukan apakah sebuah band layak masuk ke dalam kategori semenjana.

Baru dua atau tiga album penuh sudah membuat album The Best

Sebetulnya tidak ada patokan pasti kapan seharusnya album The Best dibuat. Tapi rasanya terlalu gegabah baru dua atau tiga album sudah buru-buru membuat album kumpulan terbaik tadi. Memang sudah yakin dua atau tiga album sudah cukup merangkum pencapaian terbaik dalam karier sebuah band? .

Wong Dewa 19 dan Sheila On 7 saja harus nunggu sampai empat album penuh sebelum mengeluarkan album The Best, eh kok Wayang baru tiga album sudah bikin album The Best.

Ganti nama

Apalagi yang diharapkan dari band yang air play di radio dan televisi minim serta tawaran off air seret?. Bubar? Terlalu gegabah, masih jadi sarana cari makan. Solusi gampangnya? Ganti nama band. Ada yang setelah ganti nama malah jadi sukes dalam penjualan. Seperti Armada yang dulunya bernama ehm..Kertas Band. Tapi ada juga yang setelah nama tak ada perubahan. Stagnan. Macam Domino yang berubah jadi Govinda.

Personil punya side job diluar core musik

Ini lucu. Personil yang punya side job tadi justru malah lebih terkenal daripada saat berkarier sebagai musisi. Seperti jadi pelawak. Contohnya? Suduh cukup jelas. Stinky dan Andre Taulany-nya.

Tapi tenang dulu saudara-saudara. Meski semenjana, band-band tadi setidaknya punya derajat lebih baik walaupun hanya dikenal sepintas lalu. Ada yang cuma modal satu single, satu buah lagu doang, muncul di televisi, ehhh…lalu tiba-tiba hilang tanpa jejak. Ini nista. Dan ini kenyataan hari ini. Pait!

Note: Kalo ada yang mau nambahin silahkan lho 🙂

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *