Pancaselo

Kata Obbie Mesakh masa-masa  paling indah adalah masa-masa di sekolah. Tapi buat saya, masa-masa paling indah adalah masa-masa berkuliah. Karena hanya saat kuliah saya merasakan kenikmatan tertinggi bagi seorang manusia. Selo. Selo apa itu selo.

Semakin hari, semakin bertambah usia, ke-selo-an kini jadi kemewahan. Pagi bekerja, siang bekerja, malam masih bekerja. Kerja, kerja dan terus bekerja. Akhirnya muncul  mata kuliah Hubungan Kerja dimana saya dapat nilai A di mata kuliah yang dosen dan mahasiswanya selo sekali . Ah selo sekali saya bisa bercerita hingga kesana. Pak Prapto, anda sungguh selo sekali dapat promo gratis di warung saya. Catat itu pak!

Jadi singkatnya selo bisa diartikan sebagai  kondisi dimana Siti Tuti Susilawati Sutisna dengan selonya mengganti nama menjadi Sania dan bernyanyi dengan selo.

Santai….santai saja..a..masih banyak  waktu tersisa….

Dan di hari Seloso. Hari dimana manusia sedang selo-selonya. Saya membuat Pancaselo, terinspirasi dari Awe dan Tuki.

Wisata Komplek Dosen

Meski aktivitas keseharian saya ada di Bulaksumur, mulai kuliah sampai nongkrong dan nginap di sekretariat Bulaksumur Pos, saya belum pernah mengelilingi dengan niat komplek ini. Di hari Minggu, selepas saya dan Awe gagal mengibuli panitia premiere Sang Pemimpi di 21 Ambarrukmo Plaza, saya mengajak Awe dan Nadia, yang saat itu mau kerja bakti membersihkan sekretariat Bulaksumur Pos, untuk wisata keliling komplek dosen. Niat dan selo sekali.

 Mulai dari jajan di warung Bu Siti yang harga makanannya di luar nalar karena saking murahnya lalu minta izin buat manjat pohon rambutan milik salah satu penghuni dan diakhiri dengan pesta rambutan yang ternyata kecut seperti bau keteknya Awe.

Nunggu Bus

Ketika skripsi tak juga selesai, jauh dari rumah dan pacar ditambah jatah bulanan menipis, salah satu hiburan saya adalah pergi ke terminal bus. Setiap sehabis Ashar saya jalan ke terminal bus Muntilan yang ramai pemberangkatan bus antar kota. Melihat bus-bus yang bagus-bagus. Tapi hati saya selalu sedih setiap ada bus jurusan ke Bogor lewat. Ingin berteriak kapan ini akan berakhir.

Saking frustrasinya, saya pernah beberapa kali setelah solat Subuh pergi ke perempatan dimana bus-bus dari arah Barat (Jabodetabek) lewat menuju tujuan akhir di Jogja. Berharap ibu saya tiba-tiba turun dan memberi asupan untuk beberapa bulan ke depan. Tapi yang ada malah mas-mas baru turun dari kulakan.

Republik Primata Management

PRESS RELEASE
1 Juni 2010

Awalnya bermula dari kenyataan bahwa industri musik dalam negeri belum memberikan tempat yang layak bagi talenta-talenta muda berbakat yang bergabung dalam The Oncils. The Oncils sendiri seperti yang banyak diberitakan di Lembar Kerja Sekolah (LKS) adalah band edukatif, solutif, religius dan serius yang konsisten mengkampanyekan pesan-pesan sponsor lewat aliran rock Freudian.

Namun bukan itu saja. Tanpa banyak tahu The Oncils merupakan kerja kolektif yang menampung ide-ide cemerlang anak muda lewat beberapa divisi. Pertama adalah The Dharma Wanita guna memaksimalkan potensi kaum perempuan di abad 21 ini. Programnya meliputi 10 program pokok PKK, diantaranya tata laksana sandang dan pangan. Kemudian adalah The Tata Usaha yang mana merupakan potret ideal kehumasan dewasa ini. The Tata Usaha turut mengambil peran dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis, dan juga melakukan kerja teknis komunikasi, utamanya penerbitan zine dan media relations.

Namun karena materi musik juga konsep manajemen band yang terlalu maju 212 tahun, mereka belum bisa berbicara banyak sekarang ini. Menurut Anwar, Riki, dan Moses selaku dedengkot The Oncils, mereka memang sengaja menunggu waktu tepat untuk merilis materi album. Setelah berkonsultasi dengan dokter Sadoso, album baru akan dirilis pada 21 Desember 2012 di Balai Sarbini, Jakarta. The Oncils memang sangat berhati-hati pada perilisan materi lagu karena pernah punya pengalaman buruk. Pada bulan puasa tahun kemarin rencananya mereka akan merekam EP Mendekat Tobat yang merupakan kumpulan lagu-lagu religi guna menyaingi kedigdayaan Opick dan Gigi di pasar lagu religi. Namun karena terlalu pede album itu justru gagal di pasaran. Ternyata penyebabnya karena kaset master rekaman digunakan oleh Riki untuk merekam lagu-lagu kesukaannya di tapedeck.

Sadar bahwa terlalu banyak musisi muda berbakat yang disia-siakan oleh label rekaman, The Oncils dengan bangga membentuk label rekaman sekaligus manajemen artis bernama Republik Primata. Pemilihan nama ini cuma asal tempel, tapi niatnya jelas: menyaingi Republik Cinta milik Ahmad Dhani. Selain berurusan dengan rekam-merekam lagu, Republik Primata juga mengurusi soal kontrak-kontrak (termasuk kontrak kos-kos an), pemasaran album dengan jaringan warung burjo se-nusantara, juga bertanggung jawab mengasuh artis-artis binaan. Meski tindakan ini dikecam membunuh karier artis sedikit demi sedikit oleh jurnalis sok tahu bernama Fakhri Zakaria, namun Republik Primata semata-mata menjalankan bisnis ini atas dasar keikhlasan. Keikhlasan untuk meraup rupiah sebanyak mungkin….

Musisi pertama yang mendapat kehormatan untuk merilis album bersama Republik Primata adalah Awe dan Dwi. Nama Awe sendiri sebelumnya memang dikenal sebagai manajer The Oncils namun kemudian mengundurkan diri karena merasa dirinya tidak punya kemampuan cukup untuk menangani band sebesar The Oncils. Sedang Dwi adalah kru panggung kesayangan The Oncils, dimana dirinya adalah gabungan dari roh 10 stage crew terbaik dunia.

Membawakan genre musik kamar yang berantakan, Awe dan Dwi menggabungkan kekuatan persuasif ala Harmoko, kedahsyatan teknik gitar-nya Sir Dandy, sedikit bumbu romantika cinta Charli Van Houten dan tentunya wajah rupawan dari produk impor Justin Bieber. Rencananya lagu-lagu akan dirilis dulu dalam bentuk single.“Biar para pembajak gak repot donlotnya, gan”, kata Awe. Pertama dilempar adalah Skripsi Setan Sekali. Anthem mahasiswa semster akhir ini dibekali video ciamik buah karya Haji Jeje. Silahkan cek di http://www.youtube.com/watch?v=OvHQONcbtGQ. Laporan TV One menyatakan RBT lagu ini baru 10. Tapi karena TV One sring ngibul, kami dari Republik Primata mendapat angka resmi dari Mabes Polri yang mengungkapkan 87765876 pengguna RBT Skripsi Setan Sekali.

Nantinya lagu-lagu tersebut akan dirangkum dalam CD fisik yang bisa ditemui di agen-agen bus malam antar kota antar propinsi terdekat dengan bonus sekaleng susu segar dari peternakan Awe Farmhouse.

Setelah membaca buku Music Biz-nya Wendi Putranto juga Making Music Your Business dari David Ellefson (bassis Megadeth) saya ingin serius mempraktekannya. Awalnya saya ingin membuat rumah bagi orkes qasidah kontemporer alternatif saya, The Oncils. Namun ternyata banyak teman-teman saya yang berbakat. Sia-sia jika mereka jatuh ke tangan yang salah.

 Jika Ahmad Dhani punya Republik Cinta Management, atas dasar kesetiakawanan dan keseloan saya mendirikan Republik Primata Management. Kenapa Primata? Simpel saja kita semua masuk ordo Primata kan?

Jikalau selo anda bisa melihat aktivitas Republik Primata Management yang saat ini sedang vakum karena kucuran dana dari Edi Tansil Foundation dikorupsi Anas.

Menyusuri Rel Mati Jogja-Semarang

Awalnya dari tugas Sinematografi. Karena saya dan Awe selo disaat anggota yang lain libur Lebaran, kami memutuskan menyusuri rel mati Jogja-Semarang. Untuk tahap awal kami akan menyusuri rute sepanjang Magelang sampai Ambarawa.

Awalnya saya ingin perjalanan ini seperti perjalanan Che Guevarra dan Alberto Granado di Amerika Selatan sana. Tapi jadinya malah seperti Kadir dan Doyok. Dari jam berangkat yang molor (jam 9 berangkat dari Muntilan dan jam 9 Awe baru bangun dari rumahnya di Jogja ), lalu kabur dari pemilik mobil Innova yang spionnya kami senggol dengan masuk ke terminal yang sedang ramai, sampai jadi tontonan pengguna jalan saat nekat mengambil foto logo PT KAI yang ada di tebing jalan di daerah Jambu, Ambarawa. Dear PT KAI, please note this!

Belum cukup. Kami menginap di rumah milik almarhum kakek yang diwariskan ke bapak saya. Ya sejujurnya sayapun takut menghabiskan malam disitu. Tapi yang membuat saya lebih takut adalah kenyataan berbagi ranjang bersama Awe. Mau tau apa yang kami lakukan untuk mengusir rasa takut? Mengaji bersama? Salah. Kami justru membicarakan cewek-cewek seksi di kampus. Untung demit penunggu rumah tidak panas dengar obrolan kami yang menjurus saru. Mungkin sedang cuti hari raya.

Lomba Danone

Jadi kami iri pada teman kami yang bisa ke Eropa setelah menang kompetisi simulasi bisnis dari Danone. Saya, Awe, Yogi ingin melakukan hal serupa setelah melihat poster pengumumannya di kampus. Strategi kami susun segara. Begini kira-kira situasinya

Jaki: Wah kurang 2 meneh. Sopo ki ?

Yogi : Kemas wae, de’e pinter nek presentasi

Jaki : Siji meneh kudu cewek tur pinter basa Inggris.  Bosen aku lanangan kabeh

Awe : Depe wae. Ngesoul banget bocah e

Yogi: Ojo, mengko konflik kepentingan ro Kemas  

Jaki : Iyo mengko malah ra mlaku

Awe lalu dengan brilian mengusulkan nama. Andrea. Mahasiswi Ekonomi. Sudah pasti jago bahasa Inggris karena dulu sekolah di Belgia. Saat itu Andrea adalah pacar Kemas. Klop

Jaki: Wah bener, Andrea mesti pinter nek itung-itungan

Yogi: Iyo mengko pas presentasi Andrea wae sing ngomong. Dewe gawe presentasine

Awe: Wah iki ceto menang iki. Aku, Jaki, Yogi, ro Kemas sing gawe konsep komunikasi. Andrea bagian ngitung ro presentasi. Dream team iki cah. Wah aku wedi menang e

Jogja mendadak cerah hari itu. Bayangan Eropa di depan mata. Bahkan kami sudah meributkan bagaimana cara buat paspor, visa serta baju-baju untuk menyesuaikan iklim Eropa. Kami lalu ke kampus, bermaksud mencari tahu informasi lengkap tentang lomba tersebut di fasilitas internet gratis di perpustakaan. Ada anak angkatan bawah yang sedang asyik browsing kami usir. Alasannya kepentingan mendesak.

 Baru saja masuk ke situs resmi lomba tersebut yang berbahasa Inggris kami langsung bengong. “Iki artine opo, cuk?” . Impian ke Eropa langsung amblas. Bayangan akan Menara Eiffel langsung berganti menjadi Tower Air Fisipol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *