5 Daur Ulang Lagu Indonesia Terburuk

Daur ulang, cover version, apalah namanya itu sebetulnya punya niatan baik. Bagaimana memoles karya lawas menjadi lebih segar dan kekinian. Ada yang diniatkan sebagai sebuah penghargaan untuk musisi idolanya ada pula yang dijadikan sebagai strategi dagang.

Poin yang terakhir ini didasari kenyataan bahwa mendaur ulang lagu adalah pilihan menjanjikan. Soleh Solihun pernah menulis Ahmad Dhani layak dapat hadiah Kalpataru karena “kepeduliannya” soal mendaur ulang lagu-lagu lama ciptaannya.

Musisi-musisi baru yang belum punya nama yang  biasanya menggunakan metode ini. Tanyakan kepada Audy, Ello, dan Vidi Aldiano bagaimana awalnya mereka dikenal. Semua lewat lagu daur ulang. Bahkan kadang lagu daur ulang tadi lebih dikenal daripada lagu aslinya, seperti saat Sixpence None The Richer mendaur ulang There She Goes dari The La’s.

Karena baru-baru saja saya menyaksikan di televisi sebuah interpretasi asal-asalan dari karya seorang legenda, saya gatal untuk menuliskan Daur Ulang Lagu Indonesia Terburuk. Oh ya daripada  anda misuh-misuh sama saya soal pilihan ini, mending bikin daftar versi anda sendiri. Yyyyuuukkkkkkkk…..

Yogyakarta (KLa Project, didaur ulang oleh Ungu)

Diniatkan sebagai bentuk tribute untuk salah satu pembaharu khazanah musik pop Indonesia. Sayangnya Katon, Lilo dan Adi melakukan kesalahan fatal menyerahkan signature song mereka ini kepada Ungu. Dan Pasha cs. membuat lagu yang masuk dalam 150 Lagu Indonesia Terbaik versi Rolling Stone Indonesia ini mendadak loyo. Yogyakarta yang penuh warna tiba-tiba berubah menjadi monokrom. Cuma sendu, sendu dan sendu.

Sephia (Sheila On 7, didaur ulang oleh Tangga)

Sephia adalah tonggak bagi munculnya lagu-lagu bertema selingkuh di Indonesia lewat selamat tidur kekasih gelapku. Suasana gelap-gelapan dibangun dengan baik sejak intro. Namun Tangga sukses membuatnya jadi penuh warna-warna norak lewat, terutama lewat rap Kamga yang tidak pada tempatnya.

Ada Cinta (Bening, didaur ulang oleh SM*SH)

Aslinya, ini adalah lagu cantik yang dinyanyikan oleh perempuan-perempuan cantik. Tetapi mendadak semuanya berubah ketika para lelaki cantik ini melakukan make up ulang. Rumpiiii deh cyiiinnn.

Pergilah Kasih (Chrisye, didaur ulang oleh D’Masiv)

Lagu ciptaan Tito Soemarsono yang dinyanyikan oleh Chrisye ini saya catat sebagai salah satu lagu perpisahan terbaik. Saya menikmati  momen-momen  yang sebetulnya sedih dalam lagu ini karena aransemen musik yang cantik serta vokal melenakan dari Chrisye. Terlebih juga, videoklip lagu ini yang digarap oleh Jay Subiyakto adalah videoklip Indonesia pertama yang masuk MTV Asia tahun 1989 silam.

Ketika D’Masiv menyanyikannya kembali, saya justru ingin segera berpisah dengan lagu ini.

Kebebasan (Singiku, didaur ulang oleh Cinta Laura)

Apa yang bisa diharapkan dari penyanyi aji mumpung yang berbahasa Indonesia secara benar saja masih gelagapan?

Jangan buru-buru misuh lagi. Ketika anda baca daftar ini saya sedang menyiapkan 5 yang terbaik. Sabar ya. Kan lagi puasa 🙂

12 Comments

  1. Adiitoo Reply

    tapi ya, mas. menurut kita kan buruk, nih. tapi, kenapa si pemilik lagu tetap memberikan karya mereka ke musisi yang sebenarnya ga bagus2 amat ketika lagu itu di daur ulang sama mereka? duh, ngerti maksud saya, ga? *susah mengutarakannya*.

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Oke saya jawab sepengetahuan saya.

      Dalam kasus ini murni kepentingan bisnis. Label berperan gede disini. Jadi soal siapa yang nyanyi dan gimana outputnya lupain dulu deh.

      Kejam? Iya, tapi ini dibenarkan kok. Kasusnya Tangga, mereka ga perlu ijin dulu buat nyanyiin lagunya So7. Kenapa? Karena mereka satu label.

      Label punya hak buat eksploitasi master rekaman artisnya dalam jangka waktu sesuai yang ada di kontrak. Imbalannya, si artis tadi dibiayain produksi albumnya, dibikinin video klip, dipromosiin, dsb.

      Beberapa artis lalu memilih jalan yang sama-sama menguntungkan. Mereka produksi dengan biaya sendiri, baru distribusi diserahkan ke label. Ini dianggap lebih menguntungkan. Samsons yang mempopulerkan ini meski sebelumnya band-band independen ydah lama make.

      Artikel ini mungkin bisa ngebantu ngejelasin gimana sistemnya http://www.robinmalau.com/bagaimana-band-bisa-memutus-kontrak-dengan-major-label/

  2. moonzha Reply

    Mungkin… kita perlu menghargai karya orang lain…. belum tentu yang buruk akan selamanya buruk… dan yang bagus akan selamanya bagus… 🙂

    nice article…

  3. Rafael Yanuar Reply

    Tiap dengar lagu Yogyakarta-nya KLa Project, bawaannya pasti kangen Jogja. Padahal kata Jogja cuma disebut sekali di liriknya. Maaf, komentarnya di luar topik =).

      1. Pria Biru Reply

        Tidak pernah tinggal di Jogja, hanya masih ada simbah di Delanggu dan Sragen..ke Jogja hanya kunjungan kerja dan masih selalu berharap bisa kembali ke Jogja…hehe

  4. Nadia Reply

    Temen saya malah taunya lagu pergilah kasih itu emang dr d’masiv heehe…
    Btw dlm semalam saya sudah melahap banyak artikel terutama ttg sheila on 7 wkkkkk…
    Dgn menskip bagian2 istilah musik yg saya g tau. Apalah itu string2 sya g mudheng hehehe. Dan klo dipaksa baca bagian itu malah njelehi. Intinya saya suka sheila on7 krn easy listening. Wes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *