Pulang, Rumah dan Sebuah Kebingungan

Kapan balik Jogja, Jak ?
Jo, kapan mulih Muntilan ?
Kapan turu Sawangan, Ri ?
Kapan pulang  ke Bogor ?

Rumah adalah tujuan dari semua perjalanan. Ibarat bis malam, rumah adalah terminal atau pool terakhir. Rumah adalah tempat dimana semuanya berpulang. Tempat dimana kita pulang barang sejenak dari segala masalah sehari-hari di luar sana. Karenanya, rumah seharusnya lebih dari sekadar bangunan yang berfungsi sebagai tempat berteduh. Ada dinamika di dalamnya yang membuat rumah lebih dari sekedar susunan bata. Itulah kenapa ada istilah home not house.

Berbicara tentang rumah, seringkali saya dihadapkan pada pertanyaan yang saya sendiri kadang bingung jawabnya. “Rumah kamu dimana sih ?”. Saya bukan bermaksud mau mengaburkan identitas, tapi saya benar-benar bingung di mana tempat yang pas untuk disebut rumah tadi. Semuanya nyaman, semuanya mengasyikkan, dan semuanya adalah rumah bagi saya.

Jalan Kawedanan 11, RT 03/XI. Muntilan, Kabupaten Magelang 56411

Ini adalah rumah nenek saya. Simbah putri kalau bahasa Jawa. Terletak di tengah kota kecil Muntilan. Muntilan adalah sebuah potret kota yang tumbuh karena adanya jalan negara. Jalan raya Yogya-Semarang membelah kota tersebut.

Di jalan itu pula aktvitas perekonomian berjalan. Kawasan Pecinan merupakan pusatnya. Di sela-sela pecinan itu ada sebuah koloni keluarga Bani Abdul “Alim yang sejak taun kapan tau menghuni seruas jalan bernama jalan Kawedanan. Dinamakan demikian karena dulu ada kantor Kawedanan (pembantu Bupati) yang sekarang menjadi kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang.

Di ruas jalan inilah saya dibesarkan sampai tahun 1988 sebelum diajak boyongan ke tatar Sunda. Selepas lulus SMP tahun 2002 silam, saya memutuskan sekolah di Jawa. Begitu istilah orang Jawa Barat menyebut kawasan Cirebon ke timur jauh sana.

Saya tinggal lagi di rumah simbah. Di rumah simbah ini dulu ada pakde beserta keluarganya serta oom (mas tepatnya) saya yang waktu itu masih bujangan, yang tinggal bersama dalam satu rumah. Pakde saya kemudian pindah ke rumah barunya tahun 2007, dan oom saya yang menikah tahun 2006 pindah tahun 2008 kemarin. Lalu saya kuliah di Jogja, sebelum akhirnya setelah KKN bulan Agustus 2008 saya balik lagi menemani simbah yang sekarang tinggal berdua sama adik saya yang sekolah di tempat yang sama dengan saya dulu.

Yah kebetulan ibu saya memang sudah lama ingin pulang menemani simbah di hari tuanya, tapi ya karena ada beberapa alasan niat tersebut belum kesampaian. Sementara anak-anaknya dulu lah yang mewakili. Toh anak-anak simbah yang lain sibuk dengan keluarga dan pekerjaannya masing-masing. Meski begitu ada beberapa yang selalu meluangkan waktu untuk rutin menengok orang tua mereka.

Dusun Kiyudan, Desa Sawangan, Kabupaten Magelang

Fajar teman saya senang sekali diajak menginap disini. Sedangkan Awe teman saya yang lain ketakutan ketika kali pertama diajak bermalam. Rumah peninggalan bapaknya bapak saya ini terletak di sebuah dusun kecil di kaki gunung Merapi yang masih doyan batuk. Dulu ada sebuah orang sakti (gak tau deh di bidang apa), namanya Mbah Sayudha. Akrab dipanggil Ki Yudha. Ki Yudha ini kemudan beranak-pinak, keturunannya ya orang-orang di dusun ini. Sebagai penghargaan kepada Ki Yudha, dusun kecil itu dinamai Kiyudan.

Selepas kakek saya meninggal tahun 2002, rumah itu diwariskan ke bapak saya. Berhubung bapak saya belom bisa boyongan lagi kesana, rumah itu dipasrahkan perawatannya ke kakaknya. Tahun 2008, rumah tersebut diperbaiki. Tidak total sih, tapi paling tidak sudah layak buat ditinggali. Sebenarnya saya memang sudah lama ingin ngendon disini selepas KKN. Menikmati masa-masa pensiun kuliah dengan memproduktifkan diri untuk menulis skripsi dan memposting blog. Tapi karena simbah hanya berdua dengan adik perempuan saya, ya akhirnya saya bolak-balik. Pagi disini, lalu sorenya pulang ke rumah simbah. Atau kalau ada agenda ke kampus hingga sore ya saya menginap di rumah simbah. Atut bo malem-malem sendirian naek ke atas.

Jogja

Siap-siap bakal ga betah di rumah kalau sudah kena racun kota ini. Awalnya karena saya kuliah di Jogja dan tinggal di Jogja, di rumah salah satu kerabat ibu. Tapi entah kenapa lambat laun Jogja seperti menyihir saya. Setiap saya pulang ke Bogor, bahkan ke Muntilan sekalipun yang hanya 45 menit dengan motor, saya selalu merasa rindu. Rindu kesederhanaannya, kepolosannya, kenyamanannya, semuanya. Jogja adalah titik penting bagi hidup saya.

Selepas KKN saya memang tak lagi tinggal disini. Saya ngelaju dari Muntilan atau rumah atas tadi, begitu istilah saya menyebut rumah di Kiyudan. Setengah dari waktu dalam sehari saya habiskan di Jogja, separuh dari jumlah hari dalam seminggu saya habiskan di Jogja. Dan sudut ternyaman Jogja menurut saya ada di B-21.

B-21 adalah sekretariat Surat Kabar Mahasiswa  UGM “Bulaksumur”. Terletak di kompleks perumahan dosen UGM Bulaksumur yang teduh dan asri. Letaknya strategis, dekat dengan pusat keramaian seperti Boulevard UGM, Masjid Kampus, dan tentunya kampus saya di Fisipol UGM. Plus bocoran sinyal wi-fi dari tempat mahasiswa-mahasiswa Australia yang kuliah di UGM tinggal.

Inilah tempat yang sering saya anggap rumah meski dulu sebelum KKN saya numpang di tempat famili ibu saya tadi. Kalau garap tugas hingga larut saya memilih tidur disini ketimbang pulang dan ganggu kenyamanan.

Sebenarnya ruang di B-21 amat sempit, 3 kali 3 meter saja. Itupun masih dipenuhi dengan 2 komputer kugiran, dua lemari, dan benda-benda lain yang saya tak bisa bedakan apakah barang penting atau sampah karena saking berantakannya. Tapi entah kenapa saya betah sekali disini menghabiskan waktu.

Dulu kalau menginap disini saya ada beberapa teman. Bayu, Rieva dan Okky. Kami sering menggunakan komputer  di Bul (sebutan intim SKM UGM Bulaksumur ) yang seharusnya digunakan untuk keperluan penerbitan newsletter kampus, menjadi komputer serbaguna untuk : mengerjakan tugas kuliah tanpa perlu sewa komputer di rental, bermain game (Football Manager, Pokemon dan Counter Strike), mendengarkan musik, atau sekedar curhat dengan aplikasi buku diari elektoronik “Electronic Bul Uneq-uneq” atau E-Buneq.

Yah karena banyak waktu yang saya habiskan disini, saya melakukan tindakan yang sebenarnya illegal. Menjadikan B-21 sebagai kamar kos dadakan. Indikasinya, ada alat mandi, kain sarung, dan beberapa potong pakaian yang saya taroh di loker redaksi (divisi saya).

Komplek Darul Fallah RT 02/04, Ciampea, Bogor, 16001

Empat belas tahun adalah angka yang menunjukkan lamanya saya hidup disini. Tepatnya sampai saya pindah selepas lulus SMP. Sebelumnya selama enam bulan saya sempat tinggal di Sarongge, Puncak, Cipanas.

Sebenarnya hidup di Sarongge lebih enak. Rumah lebih bagus dengan kualitas lengkap mirip villa peristirahatan ditunjang pemandangan sekitar yang semakin memperkuat pameo bahwa Tuhan menciptakan alam Priangan sembari tersenyum. Hamparan kebun teh serta deretan bunga anyelir serta kukuhnya Gede-Pangrango adalah suguhan tiap hari.

Tapi saya membawa masalah disini, penyakitan tiap hari. Meler tanpa henti. Lagipula lingkungan sekitar sepi sekali, jauh dari tetangga. Dan sebelum cerita-cerita negatif lain menyusul di kemudian hari, akhirnya keluarga saya pindah ke sebuah perkampungan yang ada dalam sebuah pesantren pertanian.

Bapak saya dulu nyantri disini. Kemudian oleh para guru-gurunya dulu diajak untuk mengabdi disini. Kalo dengar cerita dulu pas awal-awal pindah saya lumayan terharu juga. Bapak saya merelakan kamera kesayangannya, Ricoh KR-5 yang dibeli sewaktu program pertukaran pelajar ke Jepang tahun 85 silam, untuk dijadikan bekal (baca : dijual). Uniknya kamera yang sama beberapa tahun kemudian saya pakai belajar fotografi. Kamera itu milik Dito, teman kuliah saya.

Pesantren Darul Fallah adalah pesantren berbasis pertanian yang bisa dibilang pertama di Indonesia. Terletak 12 kilometer ke arah barat kota Bogor, tepatnya arah menuju Banten, pesantren ini didirikan oleh beberapa tokoh yang punya nama, salah satunya (alm.) Moh. Natsir pada tahun 1960. Salah satu putri Buya Natsir ini juga tinggal disini, hidup dan menghidupi pesantren peninggalan orang tuanya.

Kontur tanahnya unik, berbukit-bukit dengan dua sungai besar, Cinangneng dan Ciampea, yang mengalir membelah kawasan ini. Mesjidnya terletak di sebuah bukit kecil yang sebagian di urug.

Secara garis besar kawasannya terbagi dua, atas (disebut Gunung) dan bawah. Kawasan bawah digunakan untuk bangunan sekolah, kantor pesantren, wisma tamu, rumah kaca (tanpa efek), warung koperasi, bengkel kayu dan mesin untuk praktikum santri, dapur umum untuk santri, asrama santri, serta rumah para pengurus pesantren dan mess karyawan.

Sedangkan kawasan atas digunakan sebagai lahan pertanian untuk praktek santri, kandang sapi perah dan sapi potong, laboratorium kultur jaringan, juga kawasan hutan rakyat. Di kawasan huatn rakyat ini ada bukit bernama bukit Darsa. Diambil dari nama Aki (kakek dalam bahasa Sunda) Darsa, salah seorang sesepu pesantren ini. Aki Darsa ini baik sekali, idola kami para anak pengurus pesantren. Kami sering main ke ruamhnya, diajari angklung dan suling Sunda. Juga sering diberi buah manggis dan kecapi. Aki Darsa lalu pindah ke kampung halamannya, kalau tidak salah di daerah Sumedang sampai akhir hayatnya.

Nah karena kontur yang unik tadi, waktu konfrontasi dengan Malaysia sedang panas-panasnya di tahun 60-an, tempat ini dijadikan kamp latihan para sukarelawan yang akan diterjunkan ke Malaysia oleh pemerintahan Soekarno. Sebelumnya pesantren ini ditutup dulu oleh Soekarno. Setelah kudeta tahun 1965, pesantren dibuka lagi. Kemudian dijadikan tempat bagi mereka-mereka yang dicurigai terlibat Gestapu.

Karena waktu itu kondisi pesantren hancur-hancuran setelah dipakai latihan perang, mereka-mereka inilah yang dikerahkan untuk membangun kembali pesantren, sekaligus “dibina” sebelum kembali ke masyarakat. Begitu kira-kira ceritanya.

Meski tinggal dalam lingkungan santri, saya sama sekali tak fasih ngaji. Hapal ayat kursi pun baru belakangan ini setelah disuruh oleh teman SD yang kemudian hari jadi pacar saya. Pendidikan formal mulai dari TK hingga SMP saya habiskan di sekolah negeri di luar pesantren ini. TK di dekat-dekat pesantren, SD dan SMP di kota Bogor yang berjarak 12 kilometer dari rumah.

Bapak dan ibu saya sampai saat ini  masih disini. Mencari bekal untuk menghabiskan waktu hari tuanya di rumah Kiyudan. Bapak saya masih sibuk ngurusin ini itu, proyek-proyek apa itu bantuan dari pemerintah yang berhubungan dengan pembangunan masyarakat desa .

Ibu juga mengajar matematika di sini setelah sebelumnya mengajar di SMU swasta di luar. Sekedar cerita, nilai saya untuk matematika dan pelajaran hitungan lain seperti Fisika, Kimia atau Ekonomi selalu pas-pas an. Tak pernah lebih dari nilai tujuh, sekali dapat angka merah, dan nilai-nilai ulangan harian yang di re mi fa sol adalah bukti kalau peribahasa air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan tidak sepenuhnya berlaku.

Adik saya yang pertama di Muntilan bersama simbah, dan adik bungsu saya menemani bapak dan ibu saya. Saya ? masih bingung mau pulang kemana. Semua rumah, semua nyaman, dan semua menyenangkan.

8 Comments

  1. ramadhantriwijanarko Reply

    hahaha, kenapa ya mas jak kalau orang sunda terutama orang jakarta kalau bilang daerah jawa tengah atau jawa timur bilangnya “pulang ke jawa ya?” padahal mereka juga dipulau jawa tinggalnya.heheh

        1. Fakhri Zakaria Reply

          Doakan yo mbak, aku lagi mengasah Inggrisku sik. Sopo reti iso sisan deal-deal an ro bule-bule bos rekaman besar ben imperium bisnis musik sing lagi kurintis bakal moncer

  2. Radian-bengkulu Reply

    Mhn bantuanya tmn2 muntilan-salam.aku lg cari tmn ku dl di salam,bagi yg kenal cewek nama :ANA(UNAH),RONDIYATI domisili di ngluwar salam harap hubungi aku di 087801613599.ada hal penting yg pengen aku sampaikan pd mreka. Aku khilangan kontak 4thn yg lalu. Please bantuanya. Radian-bengkulu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *